Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara Eosen Formasi Batu Ayau Cekungan Kutei Atas Bagian Barat Di Daerah Murung Raya Dan Sekitarnya, Kalimantan Tengah Suryanegara, Yoga; Wardhani, Vijaya Isnania; Sunardi, Edy
Bulletin of Scientific Contribution Vol 17, No 1 (2019): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1199.043 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v17i1.20953

Abstract

Endapan batubara di daerah penelitian termasuk ke dalam Formasi Batu Ayau yang merupakan bagian dari Kelompok Tanjung pada Cekungan Kutei Atas bagian Barat. Diidentifikasi terdapat sebanyak 22 lapisan batubara dimana 4 (empat) lapisan batubara merupakan seam utama yaitu (dari bawah ke atas): seam B (1.05m), C (1.19m), D (1.43m) dan J (1.44m). Deskripsi megaskopis lapisan batubara: berwarna hitam yang didominasi pita terang (bright) – sangat terang (very bright), pecah blocky – concoidal, dan abundant cleat. Berdasarkan analisa maseral, batubara Eosen ini dapat diklasifikasikan sebagai tipe Vitrinite A. Rank batubara di daerah penelitian adalah low – medium volatile bituminous – semi antrasite (Rv: 1.75 – 2.0 dengan VM-daf: 13.78% – 28.14%) dan memiliki kualitas batubara metalurgi dengan CSN 8.5. Fasies sedimen pembawa batubara berupa perselingan fasies batupasir dengan batulanau dengan sisipan lapisan batubara. Fasies batulanau sisipan batubara diinterpretasikan merupakan endapan rawa yang dipengaruhi oleh aktivitas limpas banjir sedangkan fasies batupasir merupakan tipe endapan channel dan point bar. Kedua fasies sedimen ini diendapkan pada lingkungan fresh water atau sistem lingkungan pengendapan fluvial dengan pola meandering dan/atau braided system yang dipengaruhi oleh floodplain. Lingkungan pengendapan ini terbagi menjadi empat siklus sekuen lingkungan pengendapan fluvial. Berdasarkan analisa kualitas conto diketahui bahwa proses coalification batubara secara vertikal dikontrol oleh proses burial depth dan secara lateral dikontrol oleh adanya struktur geologi yang diidentifikasi sebagai bagian akhir dari Adang Flexure serta oleh adanya intrusi batuan beku Sintang yang tidak tersingkap ke permukaan. Kata kunci: Batubara Eosen, Type, Rank, Batubara Metalurgi, Fluvial System, Coalification.
POTENSI HIDROKARBON FORMASI AIR BENAKAT, LAPANGAN ‘CA’, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN Prawoto, Adycipta Anis; Firmansyah, Yusi; -, Nurdrajat; Sunardi, Edy
Bulletin of Scientific Contribution Vol 13, No 1 (2015): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1117.452 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v13i1.8392

Abstract

Field ‘CA’ located in the South Sumatra Basin with an area of 6433 Km2. This study aimed to evaluate the hydrocarbon potential of Air Benakat Formation. Based on the results of the petrophysical analysis from well HA, BA, PA, RI and SE show the results are : Vsh cut off 0.34, Phie cut off 0.136 and SW cut off 0.59. Determination of reservoir netpay performed on HA well, that have thick of netpay 14.638 meters. The results of picking seismic horizon are time and depth structure maps of Air Benakat Formation and Gumai Formation. The map was made for determining lead in the research area. Calculation of estimated hydrocarbon reserves in the research area shows the value of OOIP is 345 MMBO.
TEKTONIK DAERAH MUARA TEBO PROPINSI JAMBI -, Iyan Haryanto; -, Ismawan; -, Faisal Helmi; -, Edy Sunardi; -, Oeke Sobarin; Indah Putri, Yunita Rossa
Bulletin of Scientific Contribution Vol 6, No 1 (2008): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.404 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v6i1.8157

Abstract

Geological structure of Muara Tebo area was influenced by subduction between Eurasian and India-Australian Plates. Regional tectonic of this area dominantly yield an amount of fault structure with orientation Northwest-Southeast.Structural pattern of study area dominated by dextral strike-slip and thrust fault, with orientation Northwest-Southeast. The dextral strike-slip fault represent the first structure formed (Early Tertiary) which influenced by transtensional stress. Further, on Neogene Tectonic period the structures influenced by tranversional stress system which affecting inversion. This late tectonic yield an amount of thrust fault.
PENGARUH SESAR CIMANDIRI TERHADAP MORFOLOGI DAERAH PADALARANG Haryanto, Iyan; Sunardi, Edy
Bulletin of Scientific Contribution Vol 12, No 2 (2014): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v12i2.8367

Abstract

Cimandiri Fault is a regional fault that stretching from Pelabuhanratu (Sukabumi) to end up in the complex area of Mt. Tangkubanprahu – Mt. Burangrang (Subang - Northward of Bandung). Regional fault has been widely studied, but there are differences of opinion, especially regarding the type of shift.This study aimed to examine all aspects relating to Cimandiri Fault, especially along the segment Tagokapu-Cibogo (Padalarang-Citatah), so that can be known about the type of the fault. Steps and methods of research, among others, to analyze the landscape through satelite image, make observations, descriptions and measurement of geological structure elements, data processing by program using "dip" and "Paleostress" softwares. Cimandiri fault lines along the segment Tagokapu-Cibogo, can be recognized from various aspects, among others, from the aspect of geomorphology characterized by differences in the shape and elevation of the hills; from stratigraphical aspects there are contact between rock formations of different ages; from fold structure aspects there are found standing upright rock layers; and from the aspect of fault outcrop, there were indications that the fault is generally associated with horizontal fault. From the results of the analysis showed that the lineament of Cimandiri Fault along Tagokapu-Cibogo segment, controlled by a reverse fault and normal faults that formed in different tectonic period.
VULKANISME DAN KARBONAT UMUR MIOSEN DI DAERAH BANJAR-PANGANDARAN, JAWA BARAT Haryanto, Iyan; Ilmi, Nisa Nurul; Adhiperdana, Billy G.; Fauziely, Lili; Sunardi, Edy
Bulletin of Scientific Contribution Vol 16, No 2 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2494.618 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v16i2.17293

Abstract

Daerah Banjar-Pangandaran merupakan bagian dari Zona Pegunungan Selatan yang sebagian besar disusun batuan volkaniklastik Formasi Jampang. Batuannya didominasi oleh breksi, tuf dan batupasir kasar. Seluruhnya membentuk morfologi perbukitan sedang hingga terjal, dengan punggungan berarah barat-timur. Di bagian tepi dari lereng perbukitannya, tersingkap batugamping yang berumur lebih muda, yaitu Formasi Klapangunggal dan Formasi Pamutuan. Di lapangan tidak ditemukan kontak litologi, namun berdasarkan pada umur batuan yang menerus, serta kedudukannya di lapangan diduga keduanya memiliki hubungan stratigrafi yang selaras. Penelitian ini masih dalam tahap awal yang dilakukan hanya berdasarkan pada data singkapan. Analisis dilakukan dengan melakukan rekontruksi pola struktur (pola jurus), serta dipandu dengan interpretasi geologi melalui DEM.Hasil sementara menunjukan bahwa pertumbuhan carbonate mulai berlangsung ketika aktivitas volkanisma pawa waktu Miosen Bawah Berakhir. Pada saat itu di antara tinggian volkanik, memiliki lingkungan marin yang tenang dan dangkal, sehingga memungkinkan terbentuknya pertumbuhan carbonate. Di lihat dari peyebarannya, carbonate disimpulkan sebagai barrier kecil dan lainnya sebagai pitch reef.