Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Pemberdayaan kader kesehatan: pelatihan strategi manajemen perilaku pengasuhan anak Ati, Maria Prieska Putri Panglipur; Sakti, Ifa Pannya
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i1.37944

Abstract

Abstrak Kader kesehatan memiliki 5 sasaran keterampilan, salah satunya adalah bayi dan balita. Keterampilan tersebut berfokus untuk menjamin kesehatan fisik bayi dan balita. Serta stimulasi perkembangannya sesuai dengan usia. Pencapaian tugas perkembangan sesuai dengan usia anak merupakan kewajiban orangtua. Guna mencapai hal tersebut diperlukan manajemen perilaku yang tepat sehingga perlu peran kader kesehatan dalam menyampaikan strategi manajemen perilaku yang efektif. Kegiatan PkM ini dilaksanakan di Balai Desa Purwosekar pada 18-21 November 2025. Sasaran kegiatan PkM ini adalah kader kesehatan di Desa Purwosekar, Tajinan berjumlah 37 orang. Tujuan kegiatan PkM ini adalah meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kader kesehatan dalam menerapkan strategi manajemen perilaku dalam pengasuhan anak. Kegiatan yang dilakukan dalam PkM ini yaitu memberikan edukasi dan pelatihan, topik edukasi yang diberikan adalah konsep pola asuh anak dan manajemen perilaku dalam pengasuhan anak, sedangkan kegiatan pelatihan yang diberikan adalah penerapan strategi manajemen perilaku dalam pengasuhan anak. Metode pemberdayaan yang digunakan dalam kegiatan PkM ini adalah metode ceramah, diskusi dan simulasi. Hasil pengabdian masyarakat ini menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai rata-rata 3,8 (rentang 1-5) untuk penilaian pengetahuan pola asuh dan 4,4 (rentang 1-5) untuk penilaian pengetahuan manajemen perilaku, sedangkan untuk keterampilan menunjukkan peningkatan nilai rata-rata dari 56 menjadi 81. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan kader kesehatan dapat mendampingi orangtua anak untuk menerapkan strategi manajemen perilaku yang tepat. Kata kunci: anak; manajemen perilaku;  kader kesehatan;  pola asuh. Abstract Health cadres have five target skill areas, one of which focuses on infants and toddlers. These skills are aimed at ensuring the physical health of infants and toddlers as well as providing developmental stimulation appropriate to their age. Achieving age-appropriate developmental tasks is a fundamental responsibility of parents. To accomplish this, appropriate behavioral management is required; therefore, health cadres play an important role in delivering effective behavioral management strategies to caregivers. This community service activity was conducted at the Purwosekar Village Hall from 18 to 21 November 2025. The target participants were 37 health cadres from Purwosekar Village, Tajinan District. The objective of this community service program was to improve the knowledge and skills of health cadres in implementing behavioral management strategies in child-rearing practices. The activities carried out included education and training. The educational sessions covered topics on parenting concepts and behavioral management in child-rearing, while the training sessions focused on the practical application of behavioral management strategies in childcare. The empowerment methods employed in this program consisted of lectures, group discussions, and simulations. The results of this community service activity demonstrated an increase in knowledge, as indicated by an improvement in the mean score of 3.8 (range 1–5) for parenting knowledge and 4.4 (range 1–5) for behavioral management knowledge. In terms of skills, the mean score increased from 56 to 81. Through this community service activity, it is expected that health cadres will be able to assist parents in implementing appropriate behavioral management strategies in child-rearing. Keywords: children; behavioral management; health cadres; parenting practices.
Pemberdayaan Lansia dalam Penerapan Lima Pilar Diabetes Melitus di Puskesmas Tajinan Kabupaten Malang Monika Luhung; Ifa Pannya Sakti; Eli Lea Widhia Purwandhani
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 4 (2025): Volume 7 Nomor 4 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i4.16286

Abstract

ABSTRACT Diabetes mellitus is one of the chronic diseases that can lead to serious complications across all age groups, including the elderly. Various efforts have been made to prevent complications, such as patients' adherence to the five pillars of diabetes mellitus. It is crucial for elderly individuals with diabetes mellitus to have good knowledge as it forms the basis for their thinking and actions. Therefore, empowering the elderly to have a good understanding of the five pillars of diabetes mellitus is necessary. This community service aims to enhance the elderly's understanding of the five pillars of diabetes mellitus. The method used in this community service is empowerment of the elderly through education on the five pillars of diabetes mellitus, utilizing leaflets and PowerPoint presentations. The participants are elderly individuals with diabetes mellitus residing in the Tajinan Malang Community Health Center's service area, who are already members of the prolanis program totaling 25 people. The service activities consist of: 1. Preparation Stage: Obtaining permits, preparing materials, and questionnaires. 2. Implementation Stage: Starting with a pre-test followed by education on diabetes mellitus and its five pillars. 3.Evaluation Stage: Assessing the elderly's understanding using a questionnaire with 10 questions. Each correct answer scores 1point, incorrect answers score 0 points. The average scores of the pre-test and post-test are calculated to measure the improvement in the elderly's knowledge before and after the education. The results obtained from this community service project are as follows: Pre-test results: Knowledge categorized as Fair (60-75%): 44% (11 individuals); Knowledge categorized as Poor (≤ 60%): 56% (14 individuals), Post-test results: Knowledge categorized as Good (76-100%): 32% (8 individuals); Knowledge categorized as Fair (60-75%): 64% (16 individuals); Knowledge categorized as Poor (≤ 60%): 4% (1 individual). The average pre-test knowledge score showed that 56% (14 individuals) had poor knowledge. This improved significantly in the post-test, where the average knowledge score categorized as Fair increased to 64% (16 individuals). Continuous support and guidance for the elderly by the Tajinan Community Health Center's health cadres is essential. Keywords: Empowerment, Elderly, Five Pillars of Diabetes Mellitus     ABSTRAK Diabetes melitus merupakan salah penyakit kronis yang dapat menyebabkan komplikasi serius pada semua tingkat usia termasuk lansia. Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah komplikasi seperti ketaatan penderita dalam melaksanakan prinsip lima pilar diabetes melitus. Penting bagi lansia pengidap diabetes melitus mempunya pengetahuan yang baik karena menjadi dasar seseorang dalam berfikir dan bertindak, sehingga diperlukan pemberdayaan lansia agar mempunyai pemahaman pengetahuan yang baik tentang lima pilar diabetes melitus. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman lansia tentang lima pilar diabetes melitus. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah pemberdayaan lansia melalui edukasi tentang lima pilar diabetes melitus, dengan menggunakan media leaflet dan power point. Peserta adalah lansia diabetes melitus yang tinggal di Wilayah Kerja Puskesmas Tajinan Malang dan sudah menjadi anggota prolanis yang berjumlah 25 orang. Kegiatan pengabdian terdiri dari: Tahap pertama: tahap persiapan: mengurus perijinan, menyiapkan media dan kuisioner. Tahap kedua: pelaksanaan diawali pre tes dilanjutkan edukasi tentang diabetes melitus dan lima pilar diabetes melitus. Tahap ketiga: melakukan evaluasi terhadap pemahaman lansia, evaluasi menggunakan kuisioner berisi 10 butir pertanyaan dan memberikan skor 1 jika jawaban benar, skor 0 jika jawaban salah bobot, selanjutknya dihitung rata-rata pre tes dan pos tes untuk melihat peningkatan pengetahuan lansia antara sebelum dan sesudah edukasi. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu: pre tes pengetahuan kategori Cukup dengan nilai 60-75 % adalah 44 %(11 orang), dan pengetahuan kategori Kurang dengan nilai ≤ 60 % adalah 56 % (14 orang). Hasil posttest pengetahuan kategori Baik dengan nilai 76-100 % adalah 32 % (8 orang), Pengetahuan kategori Cukup dengan nilai 60-75 % adalah 64 % (16 orang) dan Pengetahuan kategori Kurang dengan nilai ≤ 60 % adalah 4 % (1 orang). Rata-rata hasil pretest:pengetahuan responden pada kategori kurang 56 % (14 orang), menjadi meningkat dengan rata-rata hasil posttest: pengetahuan responden kategori Cukup 64 % (16 orang). Perlu dilakukan pendampingan lansia secara berkesinambungan dari kader Kesehatan Puskesmas Tajinan. Kata Kunci: Pemberdayaan, Lansia, Lima Pilar Diabetes Melitus
Pemberdayaan kader kesehatan dalam penguatan kemampuan self management pada pelayanan Posyandu Desa Purwosekar Ifa Pannya Sakti; Maria Prieska Putri Panglipur Ati
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i2.38190

Abstract

AbstrakPosyandu sebagai layanan kesehatan berbasis masyarakat sangat ditentukan oleh peran kader, termasuk dalam kemampuan self management. Namun, hasil observasi di Desa Purwosekar menunjukkan bahwa seluruh kader belum pernah memperoleh pelatihan terkait self management, sehingga berisiko menurunkan efektivitas pelayanan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mengelola kegiatan posyandu secara mandiri, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan penerapan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP). Metode yang digunakan meliputi edukasi kesehatan, Focus Group Discussion (FGD), dan pelatihan penerapan self management. Kegiatan dilaksanakan pada 18–20 November 2025 di Balai Desa Purwosekar dengan melibatkan 37 kader kesehatan. Hasil evaluasi menunjukkan nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 72,1 (baik) menjadi 92,79 (sangat baik) dengan peningkatan sebesar 28,7%, dan seluruh kader berada pada kategori baik dan sangat baik. Selain itu, kemampuan penerapan self management mayoritas berada pada kategori baik (35,90%) dan sangat baik (51,28%), serta seluruh kader mampu menerapkannya dalam pelayanan posyandu secara mandiri tanpa pendampingan. Kegiatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas kader dan berpotensi menjadi model pemberdayaan yang berkelanjutan. Kata kunci: kader Kesehatan; posyandu; self management. Abstract Posyandu as a community-based health service is highly determined by the role of cadres, including in self-management skills. However, observations in Purwosekar Village indicate that all cadres have never received training related to self-management, thus risking reducing service effectiveness. This Community Service (PkM) activity aims to improve the knowledge and skills of cadres in managing Posyandu activities independently, directed, and sustainably in accordance with the implementation of the Integrated Primary Service (ILP) Posyandu. The methods used include health education, Focus Group Discussions (FGDs), and training in self-management implementation. The activity was carried out on November 18–20, 2025 at the Purwosekar Village Hall, involving 37 health cadres. The evaluation results showed an average knowledge score increased from 72.1 (good) to 92.79 (very good) with an increase of 28.7%, and all cadres were in the good and very good categories. Furthermore, the majority of cadres' self-management skills were in the good (35.90%) and very good (51.28%) categories, and all cadres were able to implement it independently in integrated health post (Posyandu) services without assistance. This activity has proven effective in increasing cadre capacity and has the potential to become a sustainable empowerment model. Keywords: health cadres; integrated health posts (posyandu); self-management.