Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

3. STUDI DAMPAK PROYEK FARMER MANAGED IRRIGATION SYSTEM (FMIS) TERHADAP ASPEK EKONOMI DI PROPINSI NTB Markum Markum; Bambang Dipokusumo; Lalu Sukardi
JURNAL AGRIMANSION Vol 3 No 2 (2003): JURNAL AGRIMANSION MEI 2003
Publisher : Department of Agricultural Social Economics Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agrimansion.v3i2.99

Abstract

ABSTRAK Tujuan studi adalah untuk melakukan penilaian sebelum dan sesudah adanya proyek FMIS khususnya yang berkaitan dengan aspek ekonomi dan biofisik dengan mengkaji beberapa parameter yaitu : produksi padi, nilai produksi, pendapatan, pengeluaran rumah tangga petani, pola tanam, dan perubahan tata guna lahan. Studi menerapkan metode deskriptif dengan menggunakan teknik survei, dan teknik Focus Group Discussion (FGD). Area studi mencakup seluruh kabupaten yang ada di Propinsi NTB, dengan mengambil sampel 90 Daerah Irigasi (DI) dari 149 DI FMIS yang ada di NTB. Untuk menguji dampak perubahan proyek FMIS digunakan uji T-test dengan tingkat kepercayaan 95 %. Hasil studi menunjukkan bahwa setelah masuknya proyek FMIS ada peningkatan produksi rata-rata 0,67 ton/ha per tahun. Pertambahan produksi tersebut rata-rata diperoleh dari musim tanam I (MT I) sebesar 0,43 ton/ha, dan pada MT II sebesar 0,23 ton/ha. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa meskipun secara matematik terjadi perubahan rata-rata produktivitas, namun dari hasil uji statistik menunjukkan tidak ada beda signifikan sebelum dan sesudah proyek FMIS baik pada MT I maupun pada MT II. ABSTRACT The objective of the study was to analysis an economic impacts influenced of the project of FMIS (Farmer Managed Irrigation System), focused impacts on sereval parameters : rice production, farmer income, and land use system. The study used a description method and used survey and Focus Group Discussion (FGD) techniques. A Study area covered all regions in province of NTB, by collecting data in 90 sample of the Area of Irrigations (AI), from all number of AI is 149. To analysis the impact of the project wether significant or not significant to the rice production was used t-test analysis by a significant level 95 %. The result of the study show that the project of FMIS had increased average rice production of 0.67 ton/year. The statistic analysis proved that improve of production, however, is not significantly different between post and pra project of FMIS.
3. PERSEPSI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT LOKAL DALAM PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI PULAU LOMBOK Lalu Sukardi; Dudung Darusman; Leti Sundawati; Hardjanto Hardjanto
JURNAL AGRIMANSION Vol 10 No 1 (2009): JURNAL AGRIMANSION APRIL 2009
Publisher : Department of Agricultural Social Economics Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agrimansion.v10i1.213

Abstract

ABSTRACT The general goal of this research is to define perception and participation of local community in Rinjani Montain National Park (RMNP) preservation. This research was conducted in five resorts of RMNP, those are Senaru, Santong, Stiling, Aikmel, and Sembalun resort. Data were analyzed descriptively, scoring (lickert scale), spearman correlation, and Contingen Valuation Methods (CVM). The result of this research showed that the communities perception is grouped into medium category. The community realized the function of RMNP is to protect them from flood, eroded, storm. They also knew that forest resources of RMNP has a high economic value. However, the economic pressure forced the communities to exploite the forest (incluing timber). On the other hand, the communities participatory on RMNP managment is low. Communities involvement in RMNP prservation need economic insentive and has positif relation to household income.
7. POTENSI DAN PELUANG PENINGKATAN PRODUKSI PALAWIJA DI KABUPATEN SUMBAWA Lalu Sukardi
JURNAL AGRIMANSION Vol 1 No 2 (2001): JURNAL AGRIMANSION MEI 2001
Publisher : Department of Agricultural Social Economics Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agrimansion.v1i2.222

Abstract

ABSTRAK Peningkatan produksi palawija menjadi salah satu prioritas di Kabupaten Sumbawa karena selain merupakan komoditas pangan utama, juga menjadi unggulan dan andalan untuk diekspor. Peluang peningkatan produksi dapat dilakukan baik melalui intensifikasi (peningkatan produktivitas pada daerah-daerah yang produktivitasnya masih di bawah rata-rata kabupaten) maupun ekstensifikasi (pemanfaatan lahan potensial yang belum tergarap). Hasil analisis menunjukkan bahwa potensi peningkatan produksi melalui kegiatan intensifikasi berturut-turut sebagai berikut : kedelai 613,58 ton, jagung 1.078,31 ton, kacang hijau 325,77 ton, dan kacang tanah 123,10 ton. Sedangkan potensi peningkatan produksi melalui kegiatan ekstensifikasi (dihitung berdasarkan dua pendekatan), yaitu : (1) berdasarkan produktivitas aktual berturut-turut : kedelai 13.006,84 ton, jagung 19.225,20 ton, kacang hijau 5.719,16 ton, dan kacang tanah 1.271,07 ton dan (2) berdasarkan produktivitas rata-rata berturut-turut : kedelai 12.981,95 ton, jagung 19.442,21 ton, kacang hijau 5.738,15 ton, dan kacang tanah 1.300,76 ton. ABSTRACT Increasing the second crop production is one of the first priority program in Sumbawa District, because this second crop is not only the main food commodities, but also the prominent and superior export commodities. The opportunity to increase the production could be achieved both through intensification (increasing production in the area that the productivity is lower than average of the district productivity) and extensification (the use of unutilized potential land). The results of the study show that the potency of increasing of production through intensification are as follows : soybean is 613.58 tones, maize is 1,078.31 tones, mung-beans is 325.77 tones, and peanut is 123.10 tones. Meanwhile, the potency of increasing of production through extensification program (counted based on two approaches), namely : (1) based on actual production : soybean is 13,006.84 ton, maize is 19,225.20 ton, mungbean is 5,719.16 ton, and peanut is 1,271.07 ton; (2) based on average productivity that indicate : soybean is 12,981.95 tones, maize is 19,442.21 ton, mungbean is 5,738.15 tones, and peanut is 1,300.76 tones.
STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA AGROINDUSTRI KERUPUK KULIT DI KECAMATAN MATARAM Shafina Monita Dzulaiha; Lalu Sukardi; Agus Purbathin Hadi
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 30 No 3 (2020): Jurnal Agroteksos Desember 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.796 KB) | DOI: 10.29303/agroteksos.v30i3.592

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk (1) mengidentifikasi kategori skala usaha agroindustri kerupuk kulit di Kecamatan Mataram, (2) merumuskan strategi pengembangan usaha kerupuk kulit. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Unit analisis dalam penelitian adalah produsen kerupuk kulit yang ada di Kecamatan Mataram. Penentuan daerah penelitian menggunakan metode purposive sampling yaitu dengan menentukan secara sengaja Karang Buaya di Kecamatan Mataram sebagai daerah penelitian. Penentuan jumlah responden dilakukan menggunakan metode sensus. Sumber data yang digunakan yaitu data primer dan sekunder. Jenis data yang dikumpulkan yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Analisis data menggunakan analisis SWOT untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pengembangan usaha kerupuk kulit dan analisis Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) untuk mendapatkan prioritas strategi alternatif yang akan dinilai setelah mendapatkan skor pembobotan dari SWOT. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa: (1) Usaha Agroindustri Kerupuk Kulit di Kecamatan Mataram termasuk ke dalam kategori “usaha mikro”. (2) Strategi pengembangan Agroindustri Kerupuk Kulit di Kecamatan Mataram adalah mempertahankan kualitas produk dengan melihat selera konsumen di pasaran, mempertahankan kualitas produksi kerupuk kulit sehingga mampu bersaing di pasaran, meningkatkan kinerja tenaga kerja dari internal keluarga untuk memaksimalkan hasil produksi, dan mengefisiensikan penggunaan bahan baku untuk menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi
ESTIMASI UMUR TEBANG VOLUME MAKSIMUM TEGAKAN DUABANGA (DUABANGA MOLUCCANA BL.) PADA HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH Wawan Darmawan1; Halimatus Sa’diyah2; Lalu Sukardi3
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 26 No 1 (2015): Jurnal Agroteksos 3 Desember 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.716 KB)

Abstract

ABSTRAK Duabanga (Duabanga moluccana Bl.) merupakan salah satu jenis tanaman unggulan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kayunya dapat digunakan untuk kayu pertukangan, bahan bangunan, dan furnitur. Jenis ini sudah banyak dikembangkan pada hutan rakyat di Pulau Lombok, karena riapnya relatif cepat. Untuk mengoptimalkan hasil yang diperoleh perlu dikaji daur atau umur panen yang tepat. Penelitian ini mengestimasi fungsi pertumbuhan dan mengestimasi umur tebang tegakan Duabanga berdasarkan volume maksimum. Penelitian ini dilaksanakan pada lahan milik masyarakat (Hutan Rakyat) di Desa Pemepek dan Desa Stiling Batukliang Kabupaten Lombok Tengah dengan pembuatan plot lingkaran pada sampel tegakan mulai umur 2-18 tahun, sebanyak 771 pohon, pada berbagai pola tanam. Tanaman Duabanga pada pola tanam monokultur memiliki fungsi produksi 0.0100179X2.59646636e-0.069543494X, fungsi Marginal Physical Product (MPP) dy/dx=0.026011248X1.59646636e-0.069543494X-0.00069668 e-0.069543X X2.59646636, fungsi Average Physical Product (APP) 0.0100179X1.59646636e-0.069543494X. Pada pola tanam tumpangsari dengan Keladi memiliki fungsi produksi 00.0125195X2.4411987e-0.0606503X, fungsi MPP dy dy/dx = 0.0305626X1.441198e-0.0606503X-0.0007593e-0.060650XX2.441198, fungsi APP 0.0125195X1.4411987e-0.0606503X. Sedangkan pada pola tanam tumpangsari dengan Kopi memiliki fungsi produksi 0.011156911X2.5298958e-0.0662579X, fungsi MPP dy/dx = 0.0282258X1.5298958e-0.0662579X-0.00073923e-0.0662579X X2.5298958, fungsi APP 0.011156911X1.5298958e-0.0662579X. Umur tebang Duabanga berdasarkan volume maksimum pada pola tanam monokultur adalah 23 tahun, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 0,302 m3/pohon, produksi pada akhir daur mencapai 6,95 m3/pohon. Pada pola tanam tumpangsari Keladi ketika umur 24 tahun, dengan pertumbuhan rata-rata 0,28 m3/pohon, produksi pada akhir daur sebesar 6,84 m3/pohon. Pada pola tanam tumpangsari Kopi terjadi ketika umur 23 tahun dengan pertumbuhan rata-rata 0,29 m3/pohon dan produksi pada akhir daur 6,77 m3/pohon. ABSTRACT Duabanga (Duabanga moluccana Bl.) Is one of the exellent commodities West Nusa Tenggara Province. Wood can product of this species for construction, building material, and furniture. The species has developed for people forest in Lombok Island, because the growth is relatively fast. This type has been developed in private forest on the island of Lombok, because growth is relatively fast. To optimize the results should be assessed recycling or proper harvest age. This study estimates the growth and function of estimating the age of felling stands Duabanga based on maximum volume. The research was conducted on the People Forest in the village of Desa Stiling Pemepek and Central Lombok with the manufacture of a circle on a sample plot stands from age 2-18 years, a total of 771 trees, in a variety of cropping patterns. Duabanga plants in monoculture has 0.0100179X2.59646636e-0.069543494X production function, the function Marginal Physical Product (MPP) dy/dx=0.026011248X1.59646636e-0.069543494X-0.00069668 e-0.069543X X2.59646636, function Average Physical Product ( APP) ) 0.0100179X1.59646636e-0.069543494X. At the intercropping pattern with Tuber has a production function 00.0125195X2.4411987e-0.0606503X,MPP function dy/dx=0.0305626X1.441198e-0.0606503X-0.0007593e-0.060650XX2.441198, fungsi APP 0.0125195X1.4411987e-0.0606503X APP function. While the pattern of intercropping with Coffee production function 0.011156911X2.5298958e-0.0662579X, MPP function dy/dx = 0.0282258X1.5298958e-0.0662579X-0.00073923e-0.0662579X X2.5298958, fungsi APP 0.011156911X1.5298958e-0.0662579X, Age logging Duabanga maximum volume based on monoculture is 23 years, with average growth of 0,302 m3 /tree, production at the end of the cycle reached 6.95 m3/tree. At tuber intercropping patterns when aged 24 years, with average growth of 0.28 m3/tree, production at the end of cycle of 6.84 m3/tree. Coffee intercropping pattern occurs when the age of 23 years with an average growth of 0.29 m3/tree and production at the end of the cycle of 6.77 m3/tree.
STUDI KOMPARASI PENDAPATAN USAHATANI KACANG HIJAU DAN KEDELAI DI DESA DESALOKA KECAMATAN SETELUK KABUPATEN SUMBAWA BARAT Fitri Noviana; Amiruddin Amiruddin; Lalu Sukardi
JURNAL AGRIMANSION Vol 23 No 2 (2022): Jurnal Agrimansion Agustus 2022
Publisher : Department of Agricultural Social Economics Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agrimansion.v23i2.1056

Abstract

This study aims to determine: 1) Comparison of the costs of mung bean and soybean farming in Desaloka Village, Seteluk District, West Sumbawa Regency, 2) Comparison of mung bean and soybean farming income in Desaloka Village, Seteluk District, West Sumbawa Regency, 3) Constraints faced by farmers. mung bean and soybean farming farmers in Desaloka Village, Seteluk District, West Sumbawa Regency. This study uses descriptive methods and data collection techniques using interview techniques. This research was conducted in Desaloka Village, Seteluk District, West Sumbawa Regency, which was determined by the Purposive Sampling method. Determination of respondents is done by the census method. The types of data in this study are quantitative data and qualitative data, while the data sources in this study are primary data and secondary data. Data analysis used cost, revenue and income analysis, comparative study used t-test, and used descriptive analysis to find out the constraints faced by farmers. The results showed that: (1) The production cost of mung bean farming in Desaloka Village, Seteluk District, West Sumbawa Regency was IDR 7.829.777/ha. Meanwhile, soybean farming production is IDR 7.323.626/ha. Statistically the production costs of mung bean farming with soybean farming are the same or not significantly different (Non-Significant); (2) The income of mung bean farming is IDR 4.554.223/ha, which is higher than the average soybean farming income of IDR 876.374/ha. Statistically, the income of mung bean farming with soybean farming is significantly different (significant); (3) Farmers' constraints in mung bean and soybean farming in Desaloka Village, Seteluk District, West Sumbawa Regency include: technical constraints, namely pests and weeds; the second is the socio-economic constraint, namely fluctuating prices, lack of capital and the third is the institutional constraint, namely the absence of counseling and less active farmer groups.
PROSPEK PENGEMBANGAN SAYURAN ORGANIK DI KOTA MATARAM Baiq Sri Wahyu H; Lalu Sukardi; Taslim Sjah
Ekosains Vol 7, No 03 (2015)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.855 KB)

Abstract

Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kualitas lingkungan hidup, perlu menggalakkan program yang bersinergi pada keempat pilar yaitu pro-growth, pro-poor, pro-job, dan pro-environment, antara lain dengan mengembangkan usahatani sayuran organik di lahan pekarangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prospek pengembangan usahatani sayuran organik di Kota Mataram baik dari sisi kelayakan finansial, maupun dari aspek penawaran dan aspek permintaan. Metode penentuan sampel yang digunakan adalah purposive sampling pada dua kelompok wanita tani (KWT), yaitu KWT Seruni dan KWT Handayani. Hasil analisis dari daerah sampel kemudian diestimasi untuk Kota Mataram.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) usahatani sayuran organik di Kota Mataram layak secara finansial; (2) luas lahan potensial di Kota Mataram adalah sebesar 645,07 ha dan luas lahan aktual sebesar 251,94 ha, sehingga masih ada peluang tambahan pemanfaatan lahan sebesar 393,14 ha (60,94%); (3) produksi sayuran organik per bulan di Kota Mataram sebesar 90,21 kg dan  jumlah potensinya sebesar 45.454,18 kg, sehingga masih ada peluang penambahan produksi sebesar 45.364 kg (99,80%); (4) jumlah ketersediaan sampah organik per bulan di Kota Mataram sebesar 2.723.467 kg dan jumlah yang sudah dimanfaatkan adalah sebesar 3.750 kg, sehingga ada peluang tambahan pemanfaatan sampah organik sebesar 2.719.797 kg (99,86%); (5) jumlah permintaan potensial sayuran organik per bulan untuk Kota Mataram sebesar 1.375.989 kg dan jumlah permintaan aktualnya sebesar 23.553 kg, sehingga masih ada peluang tambahan jumlah permintaan sebesar 1.352.436 kg (98,29%); (6) konsumen bersedia membeli sayuran organik sampai dengan kenaikan harga 7,62%; (7) peluang pasar sayuran organik di Kota Mataram masih besar yaitu 1.307.072 kg/bulan (97%).
OPTIMALISASI PENGGUNAAN SUMBERDAYA PERTANIAN PADA SISTEM PERTANAMAN JARAK KEPYAR DI DAERAH LAHAN KERING KABUPATEN LOMBOK TIMUR Ni Made Shanti Paramita Sari; Broto Handoko; Lalu Sukardi
Ekosains Vol 9, No 01 (2017)
Publisher : Program Studi ilmu Lingkungan, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.652 KB)

Abstract

Pertanian lahan kering diharapkan mampu memberikan andil yang signifikan terhadap pembangunan wilayah, salah satu komoditi yang dapat diusahakan di daerah lahan kering adalah jarak kepyar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pertanaman jarak kepyar, penggunaan sumberdaya domestik dalam pengembangan usahatani jarak kepyar dan menentukan alternatif sistem pertanaman jarak kepyar yang optimal di daerah lahan kering Lombok Timur. Data diperoleh dari wawancara dengan petani responden sebanyak 60 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pertanaman dalam usahatani Jarak Kepyar di Kabupaten Lombok Timur yaitu dengan sistem tumpangsari terhadap beberapa komoditi yang berbeda, yaitu: tumpangsari dengan jagung, tumpangsari dengan jagung dan kacang tanah, tumpangsari dengan kacang tanah, tumpangsari dengan kacang tanah dan kacang hijau, serta tumpangsari dengan jagung dan cabai. Dari hasil analisa solusi optimal dengan bantuan program QM (Quantitative Metode) maka disarankan untuk penanaman jarak kepyar ditumpangsarikan dengan jagung seluas 0,59 ha, ditumpangsari dengan jagung dan kacang hijau 0,22 ha, ditumpangsari dengan kacang tanah dan kcang hijau 0,07 ha, dan ditumpangsari dengan jagung dan cabai seluas 0,05 ha, sehingga dengan demikian akan memaksimalkan pendapatan petani sebesar Rp 6.360.969. Pemanfaatan Sumberdaya domestik dalam usahatani jarak kepyar di Kabupaten Lombok Timur tidak efisien ditunjukkan dengan nilai BSD (29.160,34) > NTR (11.858,26), sehingga pemenuhan permintaan akan lebih menguntungkan dengan mendatangkan produksi dari luar daerah Kabupaten Lombok Timur.
Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Petani Melalui Penerapan Sistem Integrasi Tanaman Pangan Dan Ternak Kambing Di Desa Paok Pampang Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur M. Yusuf; Muhammad Nursan; Lalu Sukardi; Fadli Fadli; Anna Apriana Hidayanti; Anwar Anwar; Eka Numinda Dewi Mandalika; Aeko Fria Utama FR; Rifani Nur Sindy Setiawan; Sri Mulyawati; Ni Made Nike Zeamita Widiyanti
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v4i2.4804

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan  masyarakat petani melalui pengembangan integrasi tanaman pangan dan ternak kambing. Metode pendekatan yang digunakan, yaitu teknik pengembangan masyarakat yang menekankan pembelajaran orang dewasa dengan melibatkan 10 orang anggota kelompok tani  sasaran. Secara umum pelaksanaan kegiatan pengabdian berlangsung dengan sukses dan lancar serta dapat dapat diterima dengan baik oleh kelompok tani sasaran. Selain itu, kegiatan pengabdian ini juga mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta terutama  yang berkaitan dengan:  (a) Aspek teknik, aspek sosial ekonomi dan lainnya  dari usaha integrasi tanaman pangan dan ternak kambing; (b) Teknik  pembuatan pupuk organik dari kotoran kambing dan aplikasi pupuk tersebut terhadap tanaman padi dan cabai; (c)  kemampuan manajemen kelompok dalam  upaya memanfaatkan potensi yang ada;  dan (3) Kegiatan pengabdian ini ikut mendorong semakin intensifnya komunikasi timbal balik antara perguruan tinggi dengan kelompok petani di Desa Paok Pampang Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur.
TINGKAT STABILITAS HASIL PRODUKSI JAGUNG DI NUSA TENGGARA BARAT Lalu Sukardi; Pande Komang Suparyana; Dudi Septiadi
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 33 No 1 (2023): Jurnal Agroteksos April 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agroteksos.v33i1.823

Abstract

Hasil produksi jagung di Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam dua dasawarsa terakhir (2001-2021) mengalami fluktuasi yang cukup tinggi, namun setelah digalakkan Upsus Pajale (mulai tahun 2015), koefisien keragaman hasil jagung cukup kecil, yaitu sebesar 4,556%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat stabilitas hasil produksi jagung di Provinsi NTB dalam kurun waktu 2015-2021 termasuk dalam katagori “stabil”. Meski demikian, secara spasial tingkat stabilitas hasil pada masing-masing kabupaten/kota cukup variatif dengan tingkat stabilitas hasil termasuk dalam kategori “sedang” dan “rendah”. Apabila tingkat keragaman hasil dapat diperkecil hingga 2,5 %, maka dalam kurun waktu 2015 – 2021, maka rata-rata hasil produksi jagung di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang dapat diselamatkan setiap tahunnya adalah sebesar 35.514,637 ton atau sekitar 2,011% dari total produksi