Perubahan gaya hidup remaja, khususnya pola konsumsi jajanan, berpotensi memengaruhi status gizi. Jajanan merupakan makanan yang dikonsumsi di luar waktu makan utama dan berkontribusi terhadap asupan energi harian. Konsumsi jajanan yang berlebihan tanpa diimbangi aktivitas fisik yang cukup dapat meningkatkan risiko gizi lebih. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola konsumsi jajanan dan status gizi pada siswa SMK Negeri 1 Kertajati. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional dan melibatkan 257 siswa kelas XI yang dipilih melalui metode consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pola konsumsi harian dan Food Frequency Questionnaire (FFQ), serta pengukuran antropometri untuk menentukan indeks massa tubuh (IMT) berdasarkan standar CDC 2000. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 55,3% responden memiliki frekuensi konsumsi jajanan jarang (3 kali/minggu), 57,2% memiliki jumlah konsumsi jajanan rendah (3 kali/hari), dan 44,4% termasuk kategori status gizi lebih. Jenis jajanan yang paling banyak dikonsumsi adalah jajanan berat (62,6%), diikuti camilan (57,6%) dan minuman (35,4%), sedangkan jajanan buah paling sedikit dikonsumsi (19,5%). Terdapat hubungan yang bermakna antara frekuensi konsumsi jajanan (p = 0,021) dan jumlah konsumsi jajanan (p = 0,004) dengan status gizi. Pola konsumsi jajanan yang tidak terkontrol merupakan faktor risiko penting terjadinya gizi lebih pada remaja.