Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Drag Queen Performers in Urban Pink Tourism: Community of People, Place, and Poverty Zuryani, Nazrina; Erviantono, Tedi; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
SOCIUS Vol 9 No 2 (2022): Jurnal Socius: Journal of Sociology Research and Education, Universitas Negeri Pa
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scs.v9i2.466

Abstract

Dramaturgi Cosplayer Crossdress di Surabaya, Jawa Timur Widiatmoko, Laurensius Andika Awang; I Gusti Ngurah Agung Krisna Aditya; Nyoman Ayu Sukma Pramestisari
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2024): November
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v2i2.2686

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya budaya populer Jepang yang masuk ke Indonesia yang kemudian menarik minat masyarakat Indonesia. Dengan masuknya budaya populer Jepang tersebut menghasilkan suatu kegiatan meniru karakter fiksi dari anime, manga, dan film yang biasa di sebut cosplay. Dalam cosplay sendiri terdapat genre crossdress cosplay (crossplay) yang merupakan kegiatan meniru karakter fiksi yang bertolak belakang dengan gender yang dimiliki oleh cosplayer. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan menganalisis bagaimana dramaturgi yang dilakukan oleh seorang cosplayer crossdress. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan studi kasus. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa pada front stage, seorang crossplayer berusaha untuk menampilkan karakter yang sedang diperankan dengan sangat profesional dan baik, dengan memperhatikan detail penampilan dan acara berkomunikasi nonverbal kepada penonton. Dalam tahapan middle stage, seorang crossplayer mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan seperti kostum, riasan wajah, dan sebagainya. Dalam tahapan back stage, seorang crossplayer akan melepas atribut cosplay mereka dan menjadi diri mereka sendiri tanpa menggunakan topeng, mereka menjadi laki-laki normal, menjalankan aktivitas normal, dan melakukan interaksi dengan orang lain secara normal seperti layaknya laki-laki pada umumnya.
Peran Yayasan “Metta Mama & Maggha” Dalam Upaya Menanggulangi Tindak Penelantaran Anak Melalui Program Rumah Aman di Kota Denpasar Damayanti, Ni Luh Putu Novi; Aditya, I Gusti Ngurah Agung Krisna; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 2 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.106

Abstract

The Main Purpose of this Research is to analyze the Role of Metta Mama and Maggha Foundation in order to overcome child abandonment in Denpasar City. This research uses a qualitative approach with descriptive methods and data collection techniques by using interviews, observation and documentation. The results obtained in this research are: (1) The Metta Mama and Maggha Foundation resolve acts of child abandonment in Denpasar City through a safe house program which starts from the pregnant mother with a different background in each case, the decision to continue life for the mother by providing whether their child will be allowed to be adopted or not. (2) The babies in the foundation will be taken cared with love and their growth and development will be monitored so that their growth is appropriate to their age. For babies who are allowed to be adopted, they will be prepared physically and mentally to start their new life with their new beloved family. Families who want to adopt also have legal steps and provisions that must be passed until the day the adoption can take place. This foundation emphasizes child abandonment within the city of Denpasar because desperate pregnant mothers have been rescued with their babies healthy and well. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Yayasan Metta Mama dan Maggha dalam upaya menanggulangi tindak penelantaran anak melalui program rumah aman di Kota Denpasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif serta teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah: (1) Yayasan Metta Mama dan Maggha menanggulangi tindak penelantaran anak di Kota Denpasar melalui program rumah aman yang dimulai dari sang ibu mengandung dengan latar belakang yang berbeda setiap kasusnya, keputusan untuk melanjutkan kehidupan bagi sang ibu dengan memberikan buah hatinya untuk diperbolehkan diadopsi atau tidak. (2) Bayi yang berada di yayasan akan rawat dengan kasih sayang serta diperhatikan tumbuh kembangnya agar pertumbuhannya sesuai dengan usianya. Bagi bayi yang diperbolehkan untuk diadopsi maka akan disiapkan secara fisik dan mental untuk memulai kehidupan barunya dengan keluarga barunya, keluarga yang ingin mengadopsi juga memiliki alur dan ketentuan hukum yang harus dilewati hingga hari adopsi dapat terjadi. Yayasan ini memberikan penekanan tindak penelantaran anak dalam lingkup kota Denpasar karena ibu hamil yang putus asa telah diselamatkan dengan bayinya secara sehat dan baik. Kata Kunci: Penelantaran, Anak, Yayasan
KEKERASAN SIMBOLIK DALAM ILUSI EMANSIPASI RUANG DIGITAL: (Urgensi Literasi Digital, Perubahan Struktural, dan Transformasi Kultural pada Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak) Nyoman Ayu Sukma Pramestisari
Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : D3 Perpustakaan FISIP UNUD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Digital transformation is often understood as an expansion of the public sphere that is democratic and emancipatory, enabling individuals to participate on equal terms without being constrained by conventional social hierarchies. However, this article advances a sociological critique of this assumption by demonstrating that digital space is not neutral, but rather operates as a social field that reproduces existing power relations and social inequalities. The central focus of this article is to explain how women and children are socially produced as vulnerable groups within digital spaces through mechanisms of symbolic violence that function latently and are socially legitimized. Employing a qualitative approach through a literature-based study, this article examines recent scholarship on online gender-based violence, children’s vulnerability within digital ecosystems, and the interrelations between technology, patriarchal culture, and structures of power. The analysis reveals that the vulnerability of women and children does not stem from biological differences, but from society’s failure to understand gender as a social construction distinct from sex as a biological condition. This conceptual misrecognition leads to the naturalization of subordination, the justification of control over women’s bodies and expressions, and the delegitimization of children’s experiences of violence. Drawing on Pierre Bourdieu’s theoretical framework, digital space is conceptualized as a social field in which symbolic capital is unequally distributed, while patriarchal habitus and gendered doxa shape social acceptance of such inequalities. Symbolic violence operates through language, representation, algorithms, and interactional norms that constrain the agency of subordinate groups without overt coercion. This article argues that digital literacy approaches that focus solely on individual responsibility risk reinforcing symbolic domination. Therefore, a critical sociological perspective is necessary to dismantle the illusion of digital emancipation and to reclaim digital space as an arena of equitable social participation. Keywords: Symbolic violence, Digital space, Gender-based inequality, Women, Children