Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

JUDI DARING DALAM PERGAULAN SOSIAL REMAJA KOTA DENPASAR Saputra, Bagus Dwi; Tamim, Imron Hadi; Mahadewi, Ni Made Anggita Sastri; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 4 No 1 (2024): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi fenomena judi daring di kalangan remaja di Kota Denpasar dengan fokus pada pengaruh pergaulan sosial. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-eksplanatif. Teori yang digunakan adalah teori kognitif sosial oleh Albert Bandura sebagai kerangka analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja terlibat dalam aktivitas judi daring karena pengaruh pergaulan sosial dari teman sebaya. Meskipun demikian, alasan individu untuk terus bermain judi daring dapat bervariasi, yakni sebagai hiburan semata, mencari keuntungan finansial secara instan, atau untuk menguji kemampuan analisis mereka terhadap data pertandingan, terutama dalam konteks judi olahraga. Hal ini menunjukkan bahwa pergaulan sosial memiliki peran penting dalam membentuk perilaku judi daring pada remaja di Kota Denpasar.
AKTIVITAS MEMANCING IKAN DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI WAKTU LUANG Pratama, Agus Elfa; Kamajaya, Gede; Nugroho, Wahyu Budi; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
JURNAL ILMIAH SOSIOLOGI: SOROT Vol 4 No 1 (2024): JISSOROT
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berfokus pada fenomena aktivitas waktu luang yang dimanfaatkan masyarakat untuk memancing ikan di Taman Pancing, Denpasar dan juga Dermaga Kedonganan, Kuta. Tujuan dari penelitian ini adalah memaparkan dan menganalisis pemanfaatan waktu luang yang digunakan masyarakat untuk memancing beserta relasinya terhadap berbagai aspek kehidupan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-eksplanatif. Teori yang dipilih sebagai pisau bedah dalam menganalisis penelitian adalah sosiologi waktu luang dari John Wilson. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa aktivitas memancing merupakan aktivitas waktu luang yang berkaitan dengan kesenangan dan ketenangan pribadi yang bersifat subjektif. Aktivitas memancing ikan yang dilakukan sebagai media rekreasi oleh masyarakat di waktu luang pada akhirnya memiliki relasi yang kuat terhadap beberapa aspek seperti pekerjaan, keluarga, siklus hidup dan stratifikasi sosial. Pekerjaan di sektor informal cenderung lebih leluasa beraktivitas memancing karena jam kerja yang tidak terlalu mengekang. Kemudian sesekali para pemancing mengajak anggota keluarga menghabiskan waktu luang bersama untuk melanggengkan aktivitas memancing. Perihal siklus hidup seseoarang berwaktu luang, dipengaruhi oleh faktor ekonomi, karir masa depan dan juga semangat muda. Selanjutnya stratifikasi sosial dalam aktitivas memancing lebih kepada bagaimana cara memancing dan juga peralatan yang cenderung mahal, memancing dengan media perahu ke tengah laut akan berbeda dengan memancing sekadar di pinggiran. Biaya akan jauh lebih mahal memancing dengan sarana perahu, diikuti dengan peralatan yang mahal pula dibandingkan dengan peralatan untuk memancing di pinggiran.
Tradisi Mebuug-Buugan Desa Adat Kedonganan pada Era Globalisasi Febriyantari, Ni Kadek; Punia, I Nengah; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.125

Abstract

This research focuses on the mebuug-buugan tradition, a tradition of self purification which has deep spiritual and sociological meaning. This tradition is carried out once a year on the Ngembak Geni ceremony. The aim of this research is to explain and analyze the meaning of the mebuug-buugan tradition, as well as to understand the mebuug-buugan tradition in depth from the people who participate directly. This research uses a research method with a qualitative descriptive approach. The theory that is the tool of analysis in this research is Alfred Schutz's phenomenological theory. The results of this research suggest that the mebuug-buugan tradition is a religious ceremony that has deep meaning for the people of Kedonganan Traditional Village. In the era of globalization, the mebuug-buugan tradition has undergone several reconstructions, but the essence and original values ​​of this tradition are still maintained. Efforts to maintain the authenticity of traditions and adapt them to modern contexts are a challenge faced by various cultures throughout the world in the era of globalization. The mebuug-buugan tradition reflects the local wisdom of the Kedonganan Traditional Village community. This tradition is not only a means of entertainment, but also has deep spiritual and social meaning, depicting the solidarity and togetherness of village residents and maintaining balance between humans and nature. Abstrak Penelitian ini berfokus pada tradisi mebuug-buugan yakni sebuah tradisi penyucian diri yang memiliki makna spiritual dan sosiologis yang mendalam. Tradisi tersebut dilaksanakan setiap 1 tahun sekali tepat pada hari raya ngembak geni. Tujuan penelitian ini untuk memaparkan dan menganalisis mengenai makna dari tradisi mebuug-buugan, serta untuk memahami tradisi mebuug-buugan secara mendalam dari masyarakat yang berpartisipasi secara langsung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teori yang menjadi pisau analisis dalam penelitian ini adalah teori fenomenologi Alfred Schutz. Hasil dalam penelitian ini mengemukakan bahwa tradisi mebuug-buugan merupakan upacara keagamaan yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Desa Adat Kedonganan. Pada era globalisasi, tradisi mebuug-buugan telah mengalami beberapa rekonstruksi, namun esensi dan nilai-nilai asli dari tradisi ini tetap dipertahankan. Upaya untuk menjaga otentisitas tradisi menyesuaikan dengan konteks modern merupakan tantangan yang dihadapi oleh beragam budaya diseluruh dunia dalam era globalisasi. Tradisi mebuug- buugan mencerminkan kearifan lokal masyarakat Desa Adat Kedonganan, tradisi ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam, menggambarkan solidaritas dan kebersamaan warga desa serta menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Kata Kunci : Mebuug-buugan, Fenomenologi, Nyepi, Makna Tradisi Mebuug- buugan
Pengaruh Perilaku Konsumtif Komunitas Penggemar NCT (NCTzen Bali) Terhadap Loyalitas Sebagai Penggemar Maheswari, Anak Agung Diah; Aditya, I Gst. Ngr. A. Krisna; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 4 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.133

Abstract

The K-Pop phenomenon makes it easy for fans to spend money to buy things related to their idols. K-pop fans easily spend money on their idols based on desire, pleasure, satisfaction, and to show their loyalty as fans. This behavior can be called consumptive behavior. This research aims to determine the influence of consumer behavior on loyalty among fans of the South Korean boygroup NCT. The sample in this research was 75 fans who were members of the NCTAZENBALI community. Data analysis techniques use Validity Test, Reliability Test, Classical Assumption Test, Simple Linear Regression Test, T Test, and Coefficient of Determination. The results of the tcount test at a margin of error of 5% show a consumptive behavior of 21,452. This means that there is a significant positive relationship between consumer behavior and someone's loyalty as an NCT fan in Bali. The strength of the relationship formed is at a very strong level with an R of 0.929. Meanwhile, the regression equation model obtained is Y = -6.709 + 0.364X. The resulting coefficient of determination is 86.3%, which is the percentage contribution of variable X to variable Y. Meanwhile the other 13.7% is explained by other factors. Abstrak Fenomena K-Pop membuat penggemarnya mudah mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu yang berkaitan dengan idolanya. Penggemar K-pop dengan mudah mengeluarkan uang untuk idolanya didasari oleh keingan berlebih, kesenangan, memberikan kepuasan, dan demi menunjukkan loyalitas mereka sebagai penggemar. Perilaku inilah yang dapat disebut sebagai perilaku konsumtif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perilaku konsumtif terhadap loyalitas pada penggemar boygroup asal Korea Selatan NCT. Sampel pada penlitian ini adalah penggemar yang tergabung dalam komunitas NCTAZENBALI sebanyak 75 orang. Teknik analisis data menggunakan Uji Validitas, Uji Reliabilitas, Uji Asumsi Klasik, Uji Regresi Linier Sederhana, Uji T, dan Koefisien Determinasi. Hasil pengujian thitung pada margin error 5% menunjukkan perilaku konsumtif sebesar 21,452. Hal ini memiliki arti bahwa terdapat hubungan yang signifikan positif antara perilaku konsumtif dan loyalitas seseorang sebagai penggemar NCT di Bali. Adapun kekuatan hubungan yang terbentuk adalah berada pada tingkatan yang sangat kuat dengan R sebesar 0,929. Sedangkan model persamaan regresi yang diperoleh adalah Y = -6,709 + 0,364X. Koefisien determinasi yang dihasilkan adalah sebesar 86,3% yang merupakan persentasi kontribusi variabel X terhadap variabel Y. Sementara itu 13,7% lainnya dijelaskan oleh faktor lain. Kata Kunci: Penggemar K-pop, NCT, Loyalitas, Perilaku Konsumtif
Friends With Benefit Dalam Perspektif Pertukaran Sosial Di Kalangan Mahasiswa Kota Denpasar Putri, Rismalia Anindra; Nugroho, Wahyu Budi; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 4 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.143

Abstract

This research focuses on the phenomenon of friends with benefits (FWB) among students in Denpasar City. The purpose of this study is to analyze and explain the Friends With Benefits (FWB) in the perspective of social exchange. The method used in this research is a qualitative approach with descriptive-explanatory type. The theory chosen as a scalpel in analyzing this research is the social exchange of George C Homans. The results show that the main motivations for individuals to engage in FWB are sexual fulfillment, physical attraction, and a sense of comfort without pressure to build a long-term commitment. Supporting factors include mutual trust, open communication, and a shared understanding of boundaries and expectations in the relationship. Furthermore, the meaning of FWB among students in Denpasar City is seen as a form of ordinary relationship in social interaction which is considered not a negative thing. In the social exchange perspective, FWB relationships are seen as transactions in which both parties gain benefits with minimal risk. Abstrak Penelitian ini berfokus pada fenomena friends with benefits (FWB) di kalangan mahasiswa Kota Denpasar. Tujuan penelitian ini adalah Menganalisis dan memaparkan terkait Friends With Benefits (FWB) dalam perspektif pertukaran sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif-eksplanatif. Teori yang dipilih sebagai pisau bedah dalam menganalisis penelitian ini adalah pertukaran sosial dari George C Homans. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi utama individu untuk terlibat dalam FWB adalah pemenuhan kebutuhan seksual, ketertarikan fisik, dan rasa nyaman tanpa tekanan untuk membangun komitmen jangka panjang. Hal-Hal pendukung yang ditemukan termasuk adanya rasa saling percaya, komunikasi yang terbuka, serta pemahaman bersama mengenai batasan dan harapan dalam hubungan tersebut. Lebih lanjut, pemaknaan FWB di kalangan mahasiswa di Kota Denpasar dipandang sebagai bentuk hubungan biasa dalam interaksi sosial yang dinilai bukan suatu hal yang negatif. Dalam perspektif pertukaran sosial, hubungan FWB dipandang sebagai transaksi di mana kedua belah pihak memperoleh keuntungan dengan risiko minimal. Kata kunci: friends with benefits, pertukaran sosial, mahasiswa
Pergeseran Fungsi Keluarga Pasca Perceraian di Kota Denpasar Wulandari, I Gusti Ayu Satria; Nugroho, Wahyu Budi; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 4 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.152

Abstract

This research aims to explain and analyze shifts in family functions after divorce in Denpasar City. The research method used is a qualitative approach with a descriptive research type. The theoretical analysis chosen as the scalpel in this research is the functional structural theory of Robert K. Merton. The research results reveal that internal factors and external factors of divorce shift family functions in Denpasar City. In internal factors and external factors of divorce, it is stated that internal factors consist of domestic violence, education, and age at marriage. Meanwhile, external factors are infidelity, economics, and negative relationships between each family member. Internal and external factors coincide in families experiencing divorce. Meanwhile, the function of families resulting from divorce shifts in the social life of families in Denpasar City. Of the eight family functions, seven family functions are still functioning positively, namely religious, love and affection, social and cultural functions, and one is experiencing dysfunction. This research describes the results of family function shifting positively and negatively. In functional structural theory three functional postulates are consisting of functional unity, universal functionalism, and indispensability, apart from that there is an explanation of the analysis of structural aspects and functional aspects, and what is dominant in this research is the structural aspect. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan serta menganalisis pergeseran fungsi keluarga pasca perceraian di Kota Denpasar. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Analisis teori yang dipilih sebagai pisau bedah dalam penelitian ini adalah teori struktural fungsional dari Robert K. Merton. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa faktor internal dan faktor eksternal perceraian menggeser fungsi keluarga di Kota Denpasar. Dalam faktor internal dan faktor eksternal perceraian disebutkan bahwa faktor internal terdiri dari adanya kekerasan dalam rumah tangga, pendidikan, usia dalam perkawinan. Sedangkan faktor eksternal yaitu perselingkuhan, ekonomi, dan pergaulan negatif setiap anggota keluarga. Faktor internal dan eksternal terjadi secara bersamaan dalam keluarga yang mengalami perceraian. Sedangkan fungsi keluarga hasil perceraian bergeser dalam kehidupan sosial keluarga di Kota Denpasar. Dari delapan fungsi keluarga terdapat tujuh fungsi keluarga yang masih berfungsi positif yaitu fungsi agama, cinta dan kasih sayang, sosial dan budaya, dan satu mengalami disfungsi. Dalam penelitian ini menjabarkan hasil fungsi keluarga menggeser secara positif dan negatif. Dalam teori struktural fungsional terdapat tiga postulat fungsional yang terdiri dari kesatuan fungsional, fungsionalisme universal dan indispensability, selain itu terdapat penjelasan analisis aspek struktural dan aspek fungsional, dan yang menjadi dominan dalam penelitian ini adalah dari sisi aspek struktural. Kata kunci: perceraian, fungsi keluarga, struktural fungsional.
Analisis Feminisme Postmodern dalam Film Barbie Live Action: Perlawanan terhadap Patriarki dalam Budaya Modern Novelia, Ruth; Zuryani, Nazrina; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 4 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.155

Abstract

This study discusses the depiction of patriarchal culture and women's resistance to patriarchal culture in the Barbie Live Action film, which is then analyzed using the perspective of Luce Irigaray's postmodern feminism, and analyzed using the Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki Framing method. This study aims to explain and analyze the elements of patriarchy and women's resistance in the Barbie Live Action film. This study uses qualitative research methods and framing analysis methods, with qualitative data sourced from primary and secondary data. The data that has been collected will then be analyzed using the framing method involving four main structures, namely syntactic structure, script structure, thematic structure, and rhetorical structure. Based on the data that has been presented, the conclusion that can be obtained is that in the Barbie Live Action Film, Barbie is no longer just a passive symbol of beauty, but becomes a strong agent of change. The film also features various female characters with diverse backgrounds, which shows that resistance against patriarchy is not uniform but multidimensional, so that this film can be said to reflect Irigaray's thoughts on the need to celebrate differences among women and form strong solidarity to fight domination. This film also reflects Irigaray's view that language and representation play an important role in the oppression of women. In addition to being entertainment, this film can also be used as an educational tool by packaging the narrative of resistance against patriarchy in an interesting and accessible form. Abstrak Penelitian ini membahas tentang gambaran budaya patriarki dan perlawanan perempuan terhadap budaya patriarki yang terdapat dalam film Barbie Live Action, yang kemudian dianalisis menggunakan sudut pandang feminisme postmodern Luce Irigaray, dan dianalisis menggunakan metode Framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan serta menganalisis unsur patriarki dan perlawanan perempuan yang terdapat dalam film Barbie Live Action. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan metode analisis framing, dengan data kualitatif yang bersumber dari data primer dan data sekunder. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis dengan metode framing yang melibatkan empat struktur utama, yaitu struktur sintaksis, struktur skrip, struktur tematik, dan struktur retoris. Berdasarkan data yang sudah ditampilkan maka simpulan yang dapat diperoleh yaitu dalam Film Barbie Live Action, Barbie tidak lagi hanya menjadi simbol kecantikan yang pasif, tetapi menjadi agen perubahan yang kuat. Film ini juga menampilkan berbagai karakter perempuan dengan latar belakang yang beragam, yang menunjukkan bahwa perlawanan terhadap patriarki tidaklah seragam tetapi multidimensional, sehingga film ini dapat dikatakan mencerminkan pemikiran Irigaray tentang perlunya merayakan perbedaan di antara perempuan dan membentuk solidaritas yang kuat untuk melawan dominasi. Film ini juga mencerminkan pandangan Irigaray bahwa bahasa dan representasi memainkan peran penting dalam penindasan perempuan. Selain sebagai hiburan, film ini juga dapat digunakan sebagai alat edukasi dengan mengemas narasi perlawanan terhadap patriarki dalam bentuk yang menarik dan mudah diakses. Kata kunci: Perlawanan perempuan, budaya patriarki, Film Barbie Live Action, feminisme Postmodern Luce Irigaray, analisis framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki
Perkawinan Kristen Tanpa Eksistensi Adat Batak Toba di Gereja HKBP Kota Denpasar Lumbantoruan, Naomi; Aditya, I Gst. Ngr. Agung Krisna; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 4 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.158

Abstract

This research aims to explain and describe the Batak Community's views on Christian marriage without the existence of Toba Batak traditional ceremonies at the HKBP Church, Denpasar City. The method required for this research is a descriptive qualitative approach. The theory that is used as a tool to obtain information in this research is the structural functionalism theory by Talcott Parsons using the action subsystem of the AGIL scheme, including adaptation, goal-attatment, interpretation and latency. The subjects of this research were married Toba Batak people, young people who were about to get married, pastors and elders of the HKBP Church in Denpasar City. The results of this research are that couples who carry out a Christian wedding ceremony but do not carry out the Toba Batak traditional wedding ceremony can be caused by economic factors, education, not getting the blessing or approval of both parents of the couple's family, differences in beliefs and cultural values. as well as ethics. Several couples from the Toba Batak community of the HKBP Church in Denpasar City were mostly due to spending a lot on Toba Batak traditional peak party activities, specifically dowry money. Apart from that, there are thoughts of today's young people who are of the opinion that marriage according to Christian beliefs is already valid or official through a marriage blessing in the Church, but according to tradition, the couple still has debts that must be paid off immediately in order to be recognized and prayed for as having entered into a legal marriage. This occurs because of the transition to modernization which results in a shift in a socio-cultural structure such as kinship, traditional philosophy, roles or functions and etc.
Rasionalitas Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah Kuliner dalam Penggunaan Qris di Kelurahan Sanur Agustinus, Yudha; Tamin, Imron Hadi; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 4 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.159

Abstract

This research focuses on the rationality phenomenon of culinary SMEs in using Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) in South Denpasar District, concentrating on the Sanur Village area, Bali. The aim of this research is to explain and analyze the rationality of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in using QRIS in South Denpasar District. The research method used in this study is descriptive-explanatory. The theory used as an analytical tool in this research is Max Weber's theory of social action. The results of this study reveal that culinary SMEs have their own motives for using QRIS. The motives of culinary SMEs in using QRIS vary, ranging from wanting to develop their businesses, adapting to the digital age, following customer demands, and having a habit of using digital payment tools. These motives become a driving force for culinary SMEs to start using QRIS. Furthermore, the motives of culinary SMEs can be identified through four types of actions proposed by Max Weber: instrumental rationality, value rationality, traditional action, and affective action. Abstrak Penelitian ini berfokus pada fenomena rasionalitas para pelaku UMKM kuliner dalam menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Kecamatan Denpasar Selatan, berkonsentrasi pada wilayah Kelurahan Sanur, Bali. Tujuan dari penelitian ini adalah memaparkan dan menganalisis rasionalitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kuliner dalam penggunaan QRIS di Kelurahan Sanur. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-eksplanatif. Teori yang digunakan sebagai pisau bedah dalam menganalisis penelitian ini adalah teori tindakan sosial yang dikemukakan oleh Max Weber. Hasil dari penelitian ini mengungkap bahwa para pelaku UMKM kuliner memiliki motif dan tujuan tersendiri dalam menggunakan QRIS. Motif-motif yang dimiliki para pelaku UMKM kuliner dalam menggunakan QRIS tersebut juga berbeda-beda mulai dari ingin mengembangkan bisnisnya, beradaptasi dengan perkembangan zaman yang serba digital, mengikuti permintaan pelanggan, dan adanya kebiasaan menggunakan alat pembayaran digital tersebut. Motif-motif tersebut menjadi sebuah dorongan bagi para pelaku UMKM kuliner untuk mulai menggunakan QRIS. Selain itu, motif-motif yang dimiliki oleh para pelaku UMKM kuliner tersebut dapat diidentifikasikan melalui empat tipe tindakan yang dikemukakan oleh Max Weber yaitu tindakan rasionalitas instrumental, tindakan rasionalitas nilai, tindakan tradisional, dan tindakan afektif. Kata kunci: UMKM, QRIS, rasionalitas.
Fenomena Balap Liar di Jalan Chairil Anwar, Kecamatan Bekasi Timur Achmad Kadi Perwiranegara Perwiranegara, Achmad Kadi; Kamajaya, Gede; Pramestisari, Nyoman Ayu Sukma
Socio-political Communication and Policy Review Vol. 1 No. 5 (2024)
Publisher : Lenggogeni Data Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61292/shkr.167

Abstract

This research focuses on the phenomenon of illegal racing on Chairil Anwar Street, East Bekasi District. The purpose of this research is to describe and analyze the phenomenon of illegal racing on Chairil Anwar Road, East Bekasi District. The research method used in the research is qualitative-descriptive. The theory used as a scalpel in analyzing this research is the subculture theory proposed by Dick Hebdige. The results of this study reveal that the phenomenon of illegal racing on Chairil Anwar Street, East Bekasi District is a form of freedom of expression by young people. The existence of this group seeks to realize this expression by young people. The freedom they have is applied or realized by modifying the vehicles they have. They create an understanding that is different from the general public, where the group uses motorbikes as a means of expressing themselves, while the general public interprets vehicles as a means of mobility. The process of reinterpreting the use of vehicles for wild racing actors is included in the concept of Bricolage, and the style used is a concept of homology for each individual who is part of this group. This creates a form of sub-culture or subculture that exists in society. ABSTRAK Penelitian ini berfokus pada fenomena balap liar di Jalan Chairil Anwar, Kecamatan Bekasi Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah memaparkan dan menganalisis fenomena balap liar di Jalan Chairil Anwar, Kecamatan Bekasi Timur. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif-deskriptif. Teori yang digunakan sebagai pisau bedah dalam menganalisis penelitian ini adalah teori Subkultur yang dikemukakan oleh Dick Hebdige. Hasil dari penelitian ini mengungkap bahwa fenomena balap liar di Jalan Chairil Anwar, Kecamatan Bekasi Timur merupakan suatu wujud bentuk kebebasan berekspresi oleh kaum muda. Keberadaan kelompok ini berusaha untuk mewujudkan ekspresi oleh kaum muda tersebut. Kebebasan yang mereka miliki diaplikasikan atau diwujudkan dengan memodifikasi kendaraan yang mereka miliki. Mereka membuat suatu pemahaman yang berbeda dengan masyarakat umum, para kelompok mengunakan kendaraan motor sebagai sarana mengekspresikan diri, sedangkan masyarakat umum memaknai kendaraan sebagai sarana mobilitas. Proses pemaknaan ulang terhadap pengunaan kendaraan bagi para pelaku balap liar tersebut termasuk kedalam konsep Bricolage. Adanya proses pemaknaan ulang terhadap kendaraan melahirkan sebuah kelompok Subkultur yang baru di kalangan anak muda di jalan Chairil Anwar, adanya subkultur ini mendapat presepsi yang berbeda bagi masyarakat, banyak masyarakat menganggap jika hal ini merupakan suatu kegiatan negatif yang dapat membahayakan orang lain. Kata kunci: balap liar, bricolage, homologi, subkultur.