Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

BISAKAH AKU PAKAI INI KE HANGOUT? KETIKA SEPATU BASKET MELANGKAH KE DUNIA KASUAL Muhamad Amar Ma’ruf; Agatha Dinarah Sri Rumestri; Laurensius Windy Octanio Haryanto
eProceedings of Art & Design Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

High cut basketball shoes are known for their superiority in providingoptimal stability for the user's feet. However, this safety feature often sacrificesflexibility of movement, which is a challenge for athletes. This problem is increasinglyrelevant with the finding that teenage male basketball athletes use basketball shoesnot only for sports needs, but also as a means of expressing themselves in the socialsphere known as athleisure. This phenomenon gives rise to the concept of "beauty ispain" in the male version, where they are willing to sacrifice comfort for appearance.To answer this need, high cut basketball shoes using design thinking method withadjustable collars were developed as a solution with a styling approach using brandarchetypes, namely The Ruler and outlaw archetypes, which then gave birth to theProject Monarch series and the Project Exile series. Keywords: athleisure, high cut, The Ruler, The Outlaw, brand archetype
Penerapan Alat Pilah Olah Sampah Mandiri Terintegrasi (PLASMA-T) untuk Pengelolaan Sampah di Desa Karanglewas Abednego Dwi Septiadi; Yudha Islami Sulistya; Nisrina Hanifa Setiono; Laurensius Windy Octanio Haryanto; Galih Putra Pamungkas
Masyarakat Mandiri : Jurnal Pengabdian dan Pembangunan Lokal Vol. 3 No. 1 (2026): Januari: Masyarakat Mandiri : Jurnal Pengabdian dan Pembangunan Lokal
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/masyarakatmandiri.v3i1.2842

Abstract

The waste problem in Karanglewas Village, Kutasari District, Purbalingga Regency, continues to increase alongside agricultural, trade, and MSME activities, while the management system remains conventional, without sorting, resulting in environmental pollution and limited landfill capacity. This community service program aims to implement the Integrated Independent Waste Sorting and Processing Tool (PLASMA-T) as an innovative solution that processes organic waste into compost and melts plastic waste into paving blocks that are useful and economical. The activities are carried out in stages, including problem identification, socialization, technical training, operational trials, evaluation of results, and the handover of the equipment to the Mitra Sejahtera TPS, with ongoing assistance so that the community can operate the equipment independently. The expected outcomes include a reduction in waste volume at the TPS, increased community awareness and skills in waste management, and the creation of new business opportunities through compost and paving block products. Thus, this program not only addresses environmental issues but also strengthens the village's circular economy and has the potential to serve as a model for other regions.
Rekomendasi desain sarana berdagang pada Pedagang Kaki Lima (PKL) berdasarkan persepsi konsumen Laurensius Windy Octanio Haryanto; Rahmania Almira
Jurnal Desain Vol 12, No 3 (2025): Jurnal Desain
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v12i3.28838

Abstract

Pedagang kaki lima merupakan pelaku usaha secara informal tetapi memiliki peran besar dalam penyediaan barang atau jasa dengan harga terjangkau serta meningkatkan perekonomian rakyat. Seiring dengan perkembangan zaman, terdapat berbagai jenis sarana dagang yang umumnya digunakan oleh para pedagang kaki lima yaitu gerobak, warung semi-permanen, kios, gelaran atau alas, jongko atau meja, dan food truck. Penelitian ini membahas tentang faktor-faktor yang mampu memengaruhi persepsi konsumen dalam memilih tempat untuk berbelanja berdasarkan jenis sarana berdagang kaki lima, sehingga dihasilkan rekomendasi desain berupa sarana berdagang yang baik berdasarkan persepsi tersebut. Faktor yang dibahas meliputi penampilan fisik, kebersihan, pengorganisasian, harga menu, dan layanan ke konsumen. Metode penelitian menggunakan double diamond dengan tahapan meliputi discover, define, develop, dan deliver. Penelitian membuktikan bahwa food truck memiliki penampilan paling menarik, rapi, bersih, kualitas layanan baik tetapi memiliki harga menu lebih tinggi dibandingkan jenis sarana berdagang lain. Dibutuhkan pengembangan desain pada sarana berdagang PKL berupa kios, gerobak, warung semi-permanen, jongko atau meja, dan gelaran atau alas. Rekomendasi desain yang diberikan meliputi pengembangan desain tampilan, kebersihan, dan pengorganisasian sarana. Penelitian ini dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk penelitian lanjutan terkait perancangan sarana berdagang untuk PKL.
Pemanfaatan Batok Kelapa sebagai Desain Kemasan Jenang Jaket Khas Banyumas Emmareta Fauziah; Krishnanda Raditya Mooduto; Rizna Eka Nursanti; Laurensius Windy Octanio Haryanto
Jurnal Desain Vol 10, No 1 (2022): Jurnal Desain
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v10i1.13241

Abstract

Kemasan merupakan daya tarik yang berperan penting dalam sebuah produk makanan. Masalah yang sering muncul pada usaha kecil menengah (UKM) oleh-oleh makanan di Kota Purwokerto adalah kemasan. Inovasi terhadap kemasan berdampak sangat signifikan bagi usaha oleh-oleh makanan contohnya besek yang digunakan untuk dodol Garut. Sejauh ini pemanfaatan batok kelapa sebagai kemasan jarang sekali dilakukan padahal material ini sangat berlimpah dan mudah ditemukan terutama di Purwokerto sama halnya dengan besek. Merancang kemasan makanan oleh-oleh yang inovatif untuk kemasan khas Banyumas yakni Jenang Jaket dirasa perlu dilakukan. Pemilihan material batok kelapa dalam perancangan kemasan juga didasari oleh salah satu bahan dasar Jenang Jaket yaitu gula kelapa asli. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara dan observasi yang dilakukan berdasarkan sudut pandang penulis dengan metode kualitatif. Data yang dikumpulkan kemudian menjadi acuan dalam perancangan kemasan batok kelapa. Perancangan diawali dengan membuat moodboard produk, melakukan positioning terhadap produk, membuat sketsa desain dan hingga hasil akhir pada penelitian ini adalah berupa purwarupa (prototype) kemasan. Setelah diperoleh purwarupa disadari bahwa masih perlu adanya studi lebih lanjut mengenai desain kemasan yang dirancang untuk mengetahui secara aplikatif dampak terhadap peningkatan nilai produk tersebut.