Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

BISAKAH AKU PAKAI INI KE HANGOUT? KETIKA SEPATU BASKET MELANGKAH KE DUNIA KASUAL Muhamad Amar Ma’ruf; Agatha Dinarah Sri Rumestri; Laurensius Windy Octanio Haryanto
eProceedings of Art & Design Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

High cut basketball shoes are known for their superiority in providingoptimal stability for the user's feet. However, this safety feature often sacrificesflexibility of movement, which is a challenge for athletes. This problem is increasinglyrelevant with the finding that teenage male basketball athletes use basketball shoesnot only for sports needs, but also as a means of expressing themselves in the socialsphere known as athleisure. This phenomenon gives rise to the concept of "beauty ispain" in the male version, where they are willing to sacrifice comfort for appearance.To answer this need, high cut basketball shoes using design thinking method withadjustable collars were developed as a solution with a styling approach using brandarchetypes, namely The Ruler and outlaw archetypes, which then gave birth to theProject Monarch series and the Project Exile series. Keywords: athleisure, high cut, The Ruler, The Outlaw, brand archetype
Penerapan Alat Pilah Olah Sampah Mandiri Terintegrasi (PLASMA-T) untuk Pengelolaan Sampah di Desa Karanglewas Abednego Dwi Septiadi; Yudha Islami Sulistya; Nisrina Hanifa Setiono; Laurensius Windy Octanio Haryanto; Galih Putra Pamungkas
Masyarakat Mandiri : Jurnal Pengabdian dan Pembangunan Lokal Vol. 3 No. 1 (2026): Januari: Masyarakat Mandiri : Jurnal Pengabdian dan Pembangunan Lokal
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/masyarakatmandiri.v3i1.2842

Abstract

The waste problem in Karanglewas Village, Kutasari District, Purbalingga Regency, continues to increase alongside agricultural, trade, and MSME activities, while the management system remains conventional, without sorting, resulting in environmental pollution and limited landfill capacity. This community service program aims to implement the Integrated Independent Waste Sorting and Processing Tool (PLASMA-T) as an innovative solution that processes organic waste into compost and melts plastic waste into paving blocks that are useful and economical. The activities are carried out in stages, including problem identification, socialization, technical training, operational trials, evaluation of results, and the handover of the equipment to the Mitra Sejahtera TPS, with ongoing assistance so that the community can operate the equipment independently. The expected outcomes include a reduction in waste volume at the TPS, increased community awareness and skills in waste management, and the creation of new business opportunities through compost and paving block products. Thus, this program not only addresses environmental issues but also strengthens the village's circular economy and has the potential to serve as a model for other regions.
Rekomendasi desain sarana berdagang pada Pedagang Kaki Lima (PKL) berdasarkan persepsi konsumen Laurensius Windy Octanio Haryanto; Rahmania Almira
Jurnal Desain Vol 12, No 3 (2025): Jurnal Desain
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v12i3.28838

Abstract

Pedagang kaki lima merupakan pelaku usaha secara informal tetapi memiliki peran besar dalam penyediaan barang atau jasa dengan harga terjangkau serta meningkatkan perekonomian rakyat. Seiring dengan perkembangan zaman, terdapat berbagai jenis sarana dagang yang umumnya digunakan oleh para pedagang kaki lima yaitu gerobak, warung semi-permanen, kios, gelaran atau alas, jongko atau meja, dan food truck. Penelitian ini membahas tentang faktor-faktor yang mampu memengaruhi persepsi konsumen dalam memilih tempat untuk berbelanja berdasarkan jenis sarana berdagang kaki lima, sehingga dihasilkan rekomendasi desain berupa sarana berdagang yang baik berdasarkan persepsi tersebut. Faktor yang dibahas meliputi penampilan fisik, kebersihan, pengorganisasian, harga menu, dan layanan ke konsumen. Metode penelitian menggunakan double diamond dengan tahapan meliputi discover, define, develop, dan deliver. Penelitian membuktikan bahwa food truck memiliki penampilan paling menarik, rapi, bersih, kualitas layanan baik tetapi memiliki harga menu lebih tinggi dibandingkan jenis sarana berdagang lain. Dibutuhkan pengembangan desain pada sarana berdagang PKL berupa kios, gerobak, warung semi-permanen, jongko atau meja, dan gelaran atau alas. Rekomendasi desain yang diberikan meliputi pengembangan desain tampilan, kebersihan, dan pengorganisasian sarana. Penelitian ini dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk penelitian lanjutan terkait perancangan sarana berdagang untuk PKL.
Pemanfaatan Batok Kelapa sebagai Desain Kemasan Jenang Jaket Khas Banyumas Emmareta Fauziah; Krishnanda Raditya Mooduto; Rizna Eka Nursanti; Laurensius Windy Octanio Haryanto
Jurnal Desain Vol 10, No 1 (2022): Jurnal Desain
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v10i1.13241

Abstract

Kemasan merupakan daya tarik yang berperan penting dalam sebuah produk makanan. Masalah yang sering muncul pada usaha kecil menengah (UKM) oleh-oleh makanan di Kota Purwokerto adalah kemasan. Inovasi terhadap kemasan berdampak sangat signifikan bagi usaha oleh-oleh makanan contohnya besek yang digunakan untuk dodol Garut. Sejauh ini pemanfaatan batok kelapa sebagai kemasan jarang sekali dilakukan padahal material ini sangat berlimpah dan mudah ditemukan terutama di Purwokerto sama halnya dengan besek. Merancang kemasan makanan oleh-oleh yang inovatif untuk kemasan khas Banyumas yakni Jenang Jaket dirasa perlu dilakukan. Pemilihan material batok kelapa dalam perancangan kemasan juga didasari oleh salah satu bahan dasar Jenang Jaket yaitu gula kelapa asli. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara dan observasi yang dilakukan berdasarkan sudut pandang penulis dengan metode kualitatif. Data yang dikumpulkan kemudian menjadi acuan dalam perancangan kemasan batok kelapa. Perancangan diawali dengan membuat moodboard produk, melakukan positioning terhadap produk, membuat sketsa desain dan hingga hasil akhir pada penelitian ini adalah berupa purwarupa (prototype) kemasan. Setelah diperoleh purwarupa disadari bahwa masih perlu adanya studi lebih lanjut mengenai desain kemasan yang dirancang untuk mengetahui secara aplikatif dampak terhadap peningkatan nilai produk tersebut.
Eksplorasi Limbah Uang Kertas Tidak Layak Edar dengan Metode Double Diamond, Studi Kasus: BI Purwokerto Rizna Eka Nursanti; Laurensius Windy Octanio Haryanto; Emmareta Fauziah
Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya Vol. 22 No. 1 (2023)
Publisher : LPPM, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/iptek_desain.v22i1.15357

Abstract

Tercatat Bank Indonesia Purwokerto telah menarik uang kertas dengan jumlah yang relatif cukup besar setiap bulannya. Masalah muncul ketika limbah ini terus bertambah sebelum limbah lama musnah/terurai atau termanfaatkan kembali. Pengolahan limbah uang kertas (selanjutnya disebut ‘utas’) Bank Indonesia Purwokerto sejauh ini adalah dengan dikubur dalam tanah di suatu area khusus dalam wilayah kerja. Dengan keteradaan yang kontinyu, limbah utas memenuhi persyaratan untuk dimanfaatkan sebagai material alternatif produk komersial. Aplikasi limbah utas sebagai material alternatif membutuhkan pondasi yang jelas terkait potensi dan batasan pemanfaatan untuk aplikasi dalam desain produk. Metode Double Diamond merupakan metode desain dengan 4 tahap yakni discover, define, develop dan deliver. Metode ini memungkinkan porsi penggalian permasalahan dengan dalam. Dari keseluruhan tahap didapat hasil yakni pengolahan limbah utas berwujud cacahan (shredded) dengan teknik fusing yakni penggabungan lembaran dengan proses pemanasan. Dengan menggunakan plastik kresek (plastic bag) sebagai lembaran pengikat, cacahan limbah uang kertas dapat dijadikan material lembaran. Metode fusing yang dianjurkan adalah metode fusing berlapis yakni pengikatan cacahan utas diantara lembaran plastic bag yang diulang pada bagian atas dan seterusnya hingga dicapai ketebalan, kekuatan, dan tampilan visual yang diinginkan. Sementara eksplorasi material lembaran tersebut yang telah dilakukan adalah melalui treatment cutting, gluing, coiling, sewing, woving, folding. Dari eksplorasi ini, dengan pencocokan karakter material dengan kriteria desain untuk pengembangan beberapa produk maka material utas diproyeksikan salah satunya untuk pengembangan produk pouch. It is recorded that Bank Indonesia Purwokerto has withdrawn relatively large amounts of banknotes every month. The issue arises when this waste continues to accumulate before the old waste decomposes or is reused. The current method of handling paper currency waste, referred to as "utas," at Bank Indonesia Purwokerto involves burying it in a designated area within the work area. With the continuous availability of waste utas, it meets the requirements for being utilized as an alternative material for commercial products. The application of utas waste as an alternative material requires a clear foundation regarding the potential and limitations of its utilization in product design. The Double Diamond method is a design method consisting of four stages: discover, define, develop, and deliver. This method allows for an in-depth exploration of the problem. The overall result obtained from these stages is the processing of shredded utas waste using a fusing technique, which involves the fusion of sheets through heating. By using plastic bags as binding sheets, the shredded paper currency waste can be transformed into sheet material. The recommended fusing method is the layered fusing method, where the binding of shredded utas waste is repeated between layers of plastic bags on the top and subsequent layers until the desired thickness, strength, and visual appearance are achieved. Meanwhile, the exploration of these sheet materials has been conducted through cutting, gluing, coiling, sewing, weaving, and folding treatments. From this exploration, by matching the material's characteristics with design criteria for the development of various products, the utas material is projected to be used, among others, for the development of pouch products.