Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Strategi Gerilya Raden Intan II Melawan Belanda di Lampung 1850-1856 Itsna Rohmatillah; Rahman Hamid, Abd; Agus Mahfudin Setiawan; Rohmatillah, Itsna; Hamid, Abd Rahman; Setiawan, Agus Mahfudin
JURNAL JAWI Vol 7 No 2 (2024): Media, Resistance and Social Harmony
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/jawi.v7i2.24775

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisa tentang strategi gerilya yang diterapkan oleh Raden Intan II dalam melawan kuasa Belanda di Lampung pada 1850-1856 dengan menggunakan metode penelitian sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi ini didorongoleh tiga faktor utama: pemanfaatan kondisi geografis Lampung (Gunung Rajabasa), keunggulan persenjataan Belanda, dan pembelajaran dari pengalaman para pendahulunya. Perlawanan ini berpusat di Gunung Rajabasa dengan benteng-benteng yang kokoh seperti Katimbang, Bendulu, Hawi Berak, dan Galah Sintok. Perlawanan ini berakhir akibat pengkhianatan Raden Ngarapat yang menjebak Raden Intan II untuk keluar dari daerah gerilyanya hingga kemudian dibunuh. Perlawanan Raden Intan II memberikan dampak signifikan terhadap kekuasaan Belanda di Lampung. Selama masa perlawanan Belanda tidak mampu sepenuhnya menguasai wilayah tersebut. Namun, setelah perlawanan Belanda dapat memperkokoh kekuasannya di Lampung. Bagi masyarakat Lampung kekalahan ini menandai runtuhnya kekuasaan marga dan hilangnya para pemimpin perjuangan.
Jaringan Maritim dan Islamisasi Demak abad XV–XVI Hamid, Abd Rahman
JURNAL JAWI Vol 8 No 1 (2025): Nusantara's Networks and Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/00202582766700

Abstract

Artikel ini menganalisa korelasi antara jaringan maritim dan Islamisasi Demak di Nusantara dengan menggunakan metode penelitian sejarah. Sumber sejarah yang digunakan berupa sumber-sumber lokal dan sumber asing. Hasil riset menunjukkan bahwa pertumbuhan Demak menjadi pusat politik dan dakwah Islam didukung oleh tiga faktor: letaknya yang strategis di jalur pelayaran Nusantara, kemerosotan Kerajaan Hindu Majapahit, dan peranan komunitas muslim dalam pelayaran niaga di pantai utara Jawa. Studi ini menemukan bahwa pengalaman Islamisasi Demak berbeda dengan Samudera Pasai. Kalau islamisasi Samudera Pasai digerakan oleh ulama dari luar Nusantara (Arab dan India), maka Islamisasi Demak digerakan oleh ulama Nusantara dari Jawa dan Sumatera. Dengan bimbingan ulama Nusantara, Sultan Demak memperluas jaringan kekuasaan dan Islamisasi di Pulau Jawa dan kawasan Laut Jawa, serta menghalau Kristenisasi Nusantara yang digiatkan oleh Portugis. Dari studi ini terbukti bahwa perkembangan jaringan maritim Demak dipengaruhi oleh Islamisasi dan sebaliknya terjadi Islamisasi di jalur perdagangan maritim oleh Demak. Pada akhirnya studi ini memberikan kontribusi pada pengayaan pengetahuan sejarah Islam Indonesia pada era kemajuan perdagangan maritim Nusantara abad XV–XVI. 
AKULTURASI BUDAYA TIONGHOA DAN ISLAM DALAM MASJID PACINAN TINGGI Azizah, Amaira; Salsabila, Wilda; Agesti, Shelfva; Darwin, Ade; Hamid, Abd Rahman; Setiawan, Agus Mahfudin
Historia Islamica: Journal of Islamic History and Civilization Vol 4 No 1 (2025): Historia Islamica
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/historia.v4i1.1469

Abstract

Masjid Pacinan di Banten merupakan salah satu masjid tertua yang dibangun pada tahun 1552 dan merepresentasikan akulturasi budaya antara Islam dan Tionghoa. Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai sosok pendirinya, beberapa sumber menyebutkan Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati sebagai tokoh penting dalam sejarah pembangunannya. Masjid ini dulunya terletak di kawasan permukiman Tionghoa Muslim dan menjadi pusat kegiatan keagamaan, bahkan pernah digunakan oleh Sultan Hasanuddin untuk salat Jumat sebelum mendirikan Masjid Agung Banten. Nilai historis dan budaya masjid ini tercermin dari arsitektur khas serta keberadaan dua makam yang menunjukkan keragaman identitas Muslim pada masa itu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka dan observasi lapangan untuk menggali nilai-nilai sejarah, budaya, dan simbol toleransi yang melekat pada Masjid Pacinan. Data diperoleh melalui analisis dokumen sejarah, literatur terkait, dan pengamatan kondisi fisik situs. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Pacinan memiliki makna penting sebagai simbol integrasi budaya dan toleransi umat beragama. Pelestarian masjid ini menjadi upaya strategis dalam menjaga warisan sejarah, memperkuat keberagaman, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya hidup berdampingan secara harmonis dalam masyarakat multikultural.
The Dynamics of Lampung Pepper Trade Network in 16th - 18th Century Hamid, Abd Rahman
Buletin Al-Turas Vol. 30 No. 2 (2024): Buletin Al-Turas
Publisher : Fakultas Adab and Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/bat.v30i2.39317

Abstract

PurposeThe purpose of this study was to analyze the dynamics of Lampung's pepper trade in regional and international networks in the 16th to 18th centuries with three focuses: Lampung's position in the Nusantara shipping routes, the pepper production system in Lampung, and Lampung's pepper trade network. MethodThis study used the historical method, which consists of four stages: heuristics (collecting historical sources), external and internal source criticism, interpretation, and historiography (writing history). The data sources used were local and foreign sources to explain the focus of the study. Results/FindingsThe results found that Lampung had an important role in developing the maritime trade network due to its strategic location on the Nusantara shipping route, especially after the Portuguese controlled the port of Malacca in 1511. Following this situation, Banten became a major international pepper port city in the Sunda Strait. The primary source of pepper was from Lampung. This activity formed four trade networks between Lampung and Banten, Palembang, Batavia (Netherlands) and Bengkulu (UK). Before the second half of the 17th century, the network was stronger with Banten and Palembang, but afterward, it shifted under the influence of Batavia and Bengkulu. All parties used all possible ways to get the Lampung pepper.   ConclusionThis study shows that Lampung pepper was a significant factor driving Lampung's history and contribution to regional and international trade networks over two centuries.
MENGUNGKAP KISAH TERSEMBUNYI: KARANTINA HAJI DI PULAU ONRUST 1911-1933 M Bagas Kurniawan; Mahfudin Setiawan, Agus; Hamid, Abd Rahman
Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 5 No. 01 (2024): Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/isnad.v5i01.9407

Abstract

Pada masa kolonial di Indonesia, ibadah haji dipengaruhi oleh faktor-faktor kompleks yang berhubungan dengan politik, sosial, dan kesehatan. Pemerintah memainkan peran penting dalam mengatur dan mengelola ibadah haji. Dari tahun 1911 hingga 1933, karantina di Pulau Onrust menjadi penting dalam mempersiapkan dan mengawasi jamaah sebelum perjalanan mereka ke Tanah Suci. Dengan menggunakan metode sejarah termasuk heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, dokumen dan buku arsip digunakan. Temuan mengungkapkan Pulau Onrust berfungsi sebagai tempat karantina untuk mencegah penyebaran penyakit di kalangan jamaah haji dan dari luar negeri. Selain tindakan kesehatan, karantina juga mempunyai implikasi politik dan sosial. Pemerintah kolonial Belanda memanfaatkannya untuk memperkuat kontrol atas haji dan menjaga stabilitas di Hindia Belanda. Selain itu, karantina mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap pemerintahan kolonial dan berdampak pada keyakinan dan praktik keagamaan komunitas Muslim.   Kata Kunci: Karantina haji; Kisah Tersembungi; Pulau Onrust
From History to Architecture: Speelwijk Fort: A Symbol of Dutch Dominance Over Banten Khabiba, Reisya Aulia; Azzahra, Vilza; Aimah, Nafatul; Hakim, Lukman; Fajrio, Reika; Hamid, Abd Rahman; Setiawan, Agus Mahfudin
Swarnadwipa Vol 9, No 2 (2025): SWARNADWIPA
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/sd.v9i2.4235

Abstract

This article examines the historical establishment of Fort Speelwijk as a symbol of Dutch and Banten Sultanate relations. The study aims to explore cultural acculturation and shifts in governance arising from their interaction. This research uses the historical method, including heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. Built in Dutch architectural style by Hendrik Lucaz Cardeel and named after Governor-General Cornelis Janszoon Speelman, the fort functioned as the VOC's representative office in Banten. The findings reveal cultural acculturation in construction techniques, including brick and coral stone reinforced with lime, reflecting the local concept of “Gawe Kuta Baluwarti Bata Kalawan Kawis.” Economically, the VOC’s tax imposition led to rising commodity prices, burdening locals and weakening the Sultanate’s economic sovereignty. Additionally, the study explores local myths surrounding the fort, such as the story of Catharina Maria Van Doorn. After its 1994 restoration, Fort Speelwijk emerged as a prominent historical and educational tourism site.