Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

COPING CAPACITY MASYARAKAT DAS GENDOL DALAM MENGHADAPI BENCANA ERUPSI MERAPI (Coping Capacity of Watershed Gendol Community in Facing The Merapi Eruption) Sri Rahayu Budiani; Siti Puji Lestariningsih; Priliani Gamayanti
Jurnal Manusia dan Lingkungan Vol 21, No 1 (2014): Maret
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jml.18518

Abstract

ABSTRAKErupsi gunungapi merupakan bencana yang potensial terjadi di Indonesia, salah satunya adalah Gunung Merapi di Pulau Jawa. Pada tahun 2010 terjadi erupsi Gunungapi Merapi yang termasuk paling dahsyat selama 10 tahun terakhir. Akibatnya, terjadi kerusakan di berbagai bidang seperti permukiman, pertanian, dan infrastruktur. Kerusakan terbesar terjadi di DAS Gendol, baik karena awan panas maupun lahar dingin. Dalam rangka menghadapi kemungkinan erupsi dimasa mendatang diperlukan analisis kemampuan masyarakat menghadapi bencana (coping capacity) untuk menyusun rencana strategis mitigasi bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat sumberdaya, kesiapan dan proses evakuasi, serta coping capacity masyarakat DAS Gendol dalam mengahadapi erupsi Merapi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik wawancara terhadap  28 kepala dusun sebagai sampel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumberdaya paling tinggi terdapat di KRB I di DAS Gendol, sedangkan yang terendah di KRB III. Hal ini dikarenakan kekurangan sarana transportasi dan informasi di KRB III. Lain halnya di KRB I, akses jalan, transporatasi, dan informasi lebih mudah dijangkau.Kesiapan dan berlangsungnya proses evakuasi yang paling baik terjadi di KRB II dan III karena zonasi tersebut paling rawan sehingga evakuasi dilakukan lebih awal dibandingkan KRB I yang dianggap aman. Kendala yag dihadapi saat evakuasi di KRB III adalah penempatan lokasi pengungsian. Berdasarkan sumberdaya dan kesiapan proses evakusi, kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana (coping capacity) yang paling tinggi terdapat di KRB II, sedangkan terendah justru di KRB III. Tingkat coping capacity rendah justru dusun-dusun yang berbatasan dengan Sungai Gendol, yang merupakan daerah rawan terkena dampak banjir lahar dingin. Dusun-dusun tersebut meliputi Dusun Banaran, Batur, Gading, Jelapan, Kejambon Lor, dan Ngepringan  ABSTRACTVolcanic eruption is potential disaster in Indonesia, for example is Mount Merapi in Java Island. In the 2010 occured the most powerful eruption of Merapi volcano over the last 10 years.as a result, there is damage in various areas such as settlement, agriculture and infrastructure. The greatest damage occured in the watershed Gendol, either because the hot clouds and cold lava. In order to face the possibility of the future eruptions required the analysis ability of communities facing disaster (coping capacity) to develop a strategic plan mitigation. This research aims to determine the level of resources, preparedness, evacuation process and coping capacity of communities in watershed Gendol to face the Merapi eruption. This research use quantitative methods with interview techniques. The respondent is the head of the village and it selected of 28 villages as the sample. The research results show that the highest resource was found in KRB I on Watershed Gendol, while the lowest in the KRB III. It because of the lack of information and transportation facilities in KRB III. It is different in KRB I, the access roads, transportation and information are more accessible. The best of the preparedness and the process of evacuation occurred in KRB II and III because it is the most vulnerable, so that the evacuation can be done earlier than KRB I which is considered safely. The constraints faced evacuation process in KRB III is the placement of evacuation. Based on the resource and the evacuation process readiness, the highest coping capacity is KRB II, while the lowest in KRB III. The low level of coping capacity found in hamlets that bordering the Gendol river, which is prone to cold lava flood affected areas. The hamlets include Banaran Village, Batur, Gading, Jelapan, Kejambon Lor and Ngepringan.
PEMETAAN TUTUPAN LAHAN SEBAGIAN WILAYAH KABUPATEN KULONPROGO MENGGUNAKAN CITRA RESOLUSI SPASIAL TINGGI DENGAN PENDEKATAN OBIA (OBJECT BASED IMAGE ANALYSIS) Erisa ayu waspadi putri; Siti Puji Lestariningsih; Ana Ariasari; Endi Ramadhani
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i2.61331

Abstract

The importance of land cover information in various planning circumstances results in high demand for such up-to-date information continuously. Remote sensing is a time and cost-effective technology that could provide such information. Remote sensing can be employed to derive numerous information from a distance without requiring direct contact with the object. The remote sensing data analysis simply demands field verification to produce scientifically admissible land cover maps. In the process, the analysis can be done with visual as well as digital analysis. In terms of digital analysis, the OBIA (Object-Based Image Analysis) technique could be deployed to synthesize land cover information in the form of maps. OBIA is a digital interpretation technique consisting of two processes named segmentation and classification which require a dominant role of interpreter. The study aims is apply OBIA in Pleiades imagery to produce land cover maps in parts of the Kulonprogo region. The accuracy of the produced map then be evaluated using the confusion matrix method and Kappa Index. The analysis reveals that OBIA is adequate in terms of providing accurate land cover maps using high spatial remote sensing imagery. The Overall accuracy and Kappa Index values of the resulting map reached 91.07% and 0.92. The results exhibit that the technique applied has a high level of confidence and could be scientifically accepted.Keywords: Accuracy Assessments, Land cover, OBIA, Pleiades.AbstrakPentingnya informasi tutupan lahan dalam berbagai bidang perencanaan mengakibatkan tingginya kebutuhan dan keterbaharuan informasi tersebut secara berkelanjutan. Penginderaan jauh merupakan salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk menyediakan informasi tutupan lahan secara time and cost effective. Penginderaan jauh dapat digunakan untuk menderivasi berbagai informasi tanpa harus ada kontak langsung dengan objek tersebut. Analisa data penginderaan jauh hanya memerlukan verifikasi lapangan untuk menghasilkan peta tutupan lahan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pada prosesnya, analisa tersebut dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik; baik secara digital maupun visual. Secara digital, derivasi informasi tutupan lahan dapat dilakukan dengan teknik OBIA (Object Based Image Analysis). OBIA merupakan teknik interpretasi digital yang terdiri atas segmentasi dan klasifikasi dimana dalam prosesnya, memerlukan peran interpreter yang cukup dominan.  Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tutupan lahan pada sebagian wilayah Kulonprogo menggunakan citra Pleiades dengan teknik OBIA. Terhadap peta hasil analisis OBIA, dilakukan perhitungan akurasi dengan metode confusion matrix dan perhitungan Kappa Index untuk mengetahui akurasi dari penerapan OBIA pada citra Pleiades. Berdasarkan analisa dan perhitungan yang dilakukan, diketahui bahwa OBIA mampu memberikan hasil yang akurat untuk interpretasi informasi tutupan lahan menggunakan citra penginderaan jauh resolusi spasial tinggi. Nilai overall accuracy dan Kappa Index yang mencapai 91.07% dan 0.92 menunjukkan bahwa hasil analisis tersebut memiliki tingkat konfidensi yang tinggi dan dapat diterima juga dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kata kunci: Uji Akurasi, Tutupan Lahan, OBIA, Pleiades
Kualitas Air Sumur Berdasarkan Lebar Jalur Hijau Mangrove Kelurahan Sedau Destiana, Destiana; Azahra, Siva Devi; Lestariningsih, Siti Puji
Journal of Forest Science Avicennia Vol. 6 No. 2 (2023): AGUSTUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/avicennia.v6i2.27309

Abstract

Biodiversitas vegetasi mangrove dan Lebar Jalur Hijau (LJH) mangrove memiliki peran yang sangat besar dalam memfilter air laut yang masuk kedaratan, dengan sistem perakaran yang kompleks dan lebar jalur hijau yang besar salinitas air laut yang tinggi dapat mengalami penurunan sehingga kemudian dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui kualitas air sumur berdasarkan lebar jalur hijau yang ada di Kelurahan Sedau Kota Singkawang. Metode penelitian menggunakan metode survei dengan penentuan titik secara purposive: stasiun 1 (mangrove LJH besar) dan stasiun 2 (mangrove yang memiliki LJH kecil), setiap stasiun dibuat titik-titik pengambilan sampel air sumur untuk kemudian dianalisis kandungan salinitas, pH air, suhu air, DO, TDS, tingkat kesadahan, dan kandungan nitrat. Secara umum dari tujuh parameter yang diamati hanya suhu dan nitrit yang menunjukkan nilai dibawah baku mutu air layak konsumsi yang telah ditetapkan Asiahoki77 terus berinovasi untuk memberikan pengalaman bermain yang terbaik bagi para penggunanya. Dengan antarmuka yang user-friendly dan fitur-fitur canggih, Asiahoki77 berhasil menarik perhatian banyak pemain dari berbagai kalangan. Dengan reputasi yang terus meningkat, tidak mengherankan jika Asiahoki77 menjadi pilihan utama bagi para pecinta judi online di Asia dan sekitarnya. oleh pemerintah sedangkan parameter pH, suhu, oksigen terlarut, TDS, dan kesadahan air sumur menunjukkan bahwa air tersebut layak dikonsumsi. Secara umum berdasarkan hasil yang ada air minum di wilayah tersebut masih aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat sekitar.
PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN KAWASAN HUTAN DI WILAYAH UPT KPH BENGKAYANG - WILAYAH RESORT PENGELOLAAN HUTAN (RPH) I DAN II TAHUN 2013, 2017 DAN 2021 Lestariningsih, Siti puji; Mulyono, Joko Tris; Widiastuti, Tri
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.59365

Abstract

The Forest Management Unit (KPH) Bengkayang is a forest management unit located in the province of West Kalimantan, consisting of three forest management resort areas (RPH): RPH Region I Suti Semarang, RPH Region II Lumar, and RPH Region III Siding. The observed decline in the function and potential of the forest aligns with the reduction of maintainable forest areas due to forest degradation resulting from activities such as large-scale logging for agricultural expansion, mining, and transmigration carried out by the local communities around the forest. The aim of this research is to analyze the changes in the forest area in UPT KPH Bengkayang, specifically in the RPH I and II regions, for the years 2013, 2017, and 2021. The research methodology involves remote sensing techniques with visual interpretation classification of Landsat 8 OLI and TIRS images. There are six land cover categories in UPT KPH Bengkayang, RPH I and II: secondary dryland forest, mixed cultivation of dryland and shrubs, shrubland, open land, water bodies, and rice fields. During the period from 2013 to 2017, a significant reduction occurred in secondary dryland forest, covering an area of 316.18 ha (1.89%), while mixed cultivation of dryland and shrubs increased by 415.97 ha (0.67%). In the period from 2017 to 2021, the largest reduction occurred in shrubland, amounting to 469.49 ha (82.06%), while mixed cultivation of dryland and shrubs showed the highest increase at 566.64 ha (0.96%).Keywords: Bengkayang forest management unit, Deforestation, Forest area, Land cover change, Landsat imagery.AbstrakKesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bengkayang merupakan unit pengelolaan hutan yang berlokasi di provinsi Kalimantan Barat, terdiri dari tiga wilayah resort pengelolaan hutan (RPH): RPH Wilayah I Suti Semarang, RPH II Wilayah Lumar, dan RPH III Wilayah Siding. Fenomena menurunnya fungsi dan potensi hutan sejalan dengan menyusutnya luas kawasan hutan yang dapat dipertahankan disebabkan oleh degradasi hutan akibat aktivitas seperti penebangan besar-besaran untuk pembukaan pertanian, penambangan, dan transmigrasi yang dilakukan oleh masyarakat di sekitar hutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perubahan luas kawasan hutan di UPT KPH Bengkayang wilayah RPH I dan II pada tahun 2013, 2017, dan 2021. Metode penelitian menggunakan teknik penginderaan jauh dengan klasifikasi interpretasi visual Citra Landsat 8 OLI dan TIRS. Enam kategori tutupan lahan di UPT KPH Bengkayang wilayah RPH I dan II meliputi hutan lahan kering sekunder, pertanian lahan kering campur semak, semak belukar, lahan terbuka, tubuh air, dan sawah. Selama periode tahun 2013-2017, terjadi penurunan signifikan pada hutan lahan kering sekunder sebesar 316,18 ha (1,89%), sementara pertanian lahan kering campur semak mengalami peningkatan mencapai 415,97 ha (0,67%). Pada periode 2017-2021, terjadi penurunan terbesar pada semak belukar sebesar 469,49 ha (82,06%), sementara pertanian lahan kering campur semak mengalami peningkatan tertinggi sebesar 566,64 ha (0,96%).Kata kunci: Kesatuan Pengelolaan Hutan Bengkayang, Deforestasi, Kawasan Hutan, Perubahan Penutupan Lahan, Citra Landsat.
Pemetaan Kerapatan Mangrove Berbasis NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) Menggunakan Citra PlanetScope Pada Sebagian Wilayah Konsesi PT. Kandelia Alam Putri, Erisa Ayu Waspadi; Lestariningsih, Siti Puji; Riyono, Joko Nugroho; Prihantarto, Wikan Jaya
Jurnal Laot Ilmu Kelautan Vol 5, No 2 (2023): Jurnal Laot Ilmu Kelautan
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jlik.v5i2.8180

Abstract

Hutan mangrove merupakan ekosistem unik yang memiliki peran penting bagi kehidupan makhluk hidup, sehingga menjadi objek menarik untuk dikaji. Namun eksplorasi terhadap ekosistem mangrove pada umumnya relative sulit dilakukan terutama oleh karena sulitnya keterjangkauan medan terutama pada ekosistem mangrove primer. Sehingga penggunaan penginderaan jauh dapat menjawab tantangan teresebut dimana teknologi tersebut dapat menderivasi berbagai informasi biofisik mangrove tanpa kontak langsung dengan objek. Salah satu informasi biofisik mangrove utama yang diderivasi melalui penginderaan jauh adalah kerapatan vegetasi yang merupakan salah satu indicator kondisi kesehatan, produktivitas, jumlah individu, maupun cadangan biomassa. Informasi tersebut dapat diperoleh dengan transformasi berbagai indeks vegetasi, termasuk NDVI (Normalized Difference Vegetation Index). Transformasi NDVI pada penelitian diterapkan terhadap citra PlanetScope beresolusi spasial 3 meter pada sebagian wilayah konsesi PT. Kandelia Alam. Hasil analisis indeks NDVI yang mengindikasikan vegetasi mangrove pada wilayah kajian tersebut berkisar antara 0.5 hingga 0.9, dimana semakin tinggi nilai indeks menunjukkan semakin tinggi pula kerapatan mangrove. Verifikasi hasil transformasi NDVI dilakukan secara kualitatif dengan membandingkan langsung menggunakan citra komposit warna asli dan semu. Berdasarkan rangkaian proses yang dilakukan, diketahui bahwa mayoritas mangrove pada wilayah kajian memiliki tingkat kerapatan sedang hingga tinggi. 
Perubahan Tutupan Lahan dan Kerapatan Vegetasi Mangrove di Kecamatan Siantan, Kabupaten Mempawah: Changes in Land Cover and Mangrove Vegetation Density in Siantan District, Mempawah Regency Puji, Siti Puji Lestariningsih; Destiana; Putri, Erisa Ayu Waspadi
PERENNIAL Vol 20 No 1 (2024): Vol. 20 No. 1, April 2024
Publisher : Forestry Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24259/perennial.v20i1.32987

Abstract

One of the mangrove forests in Mempawah Regency is located in Siantan District. Mangrove forests have ecological, social, and economic functions to support the lives of living things that live around them. The extent and density of mangrove vegetation are essential parameters to determine the condition of mangroves in Siantan District to recommend rehabilitation that needs to be pursued. Data were collected from Landsat 7 images in 2010 and Landsat 8 images in 2021 with guided classification and visual interpretation to obtain a map of changes in mangrove land cover in 2010-2021. Vegetation density was obtained through Landsat Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) analysis, divided into five density classes: very dense, dense, medium, sparse, and unvegetated. This study found that the secondary mangrove forests in Kecamatan Siantan decreased by 176.35 hectares during 2010-2021, turning into shrubs, open land, and plantations, especially in former pond areas. The most extensive deforestation turned 107.18 hectares of secondary mangrove forest into shrubs. Reforestation occurred during 2010-2021 amounted to 123.55 hectares. Natural or artificial bare land turned into 71.44 hectares of mangrove ecosystem. In 2010, the dense class dominated the mangrove forest density (60.03%) but decreased in 2021 (14.9%). A sparse class of density was not detected in 2010, but in 2021, the area of sparse density was 148.53 hectares, composed of shrubs and coconut plantations.
OPTIMASI SUMBER DAYA TUMBUHAN LOKAL MENJADI PRODUK DAUR ULANG YANG BERNILAI EKONOMI DAN RAMAH LINGKUNGAN Azahra, Siva Devi; Destiana, Destiana; Kartikawati, Siti Masitoh; Lestariningsih, Siti Puji
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 6 (2023): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i6.19803

Abstract

Abstrak: Desa Peniti Besar memiliki beragam sumberdaya tumbuhan lokal, antara lain kelapa (Cocos nucifera) dan pisang (Musa paradisiaca) yang merupakan komoditas andalan desa tersebut . Desa ini juga menghadapi permasalahan meningkatnya sampah kertas dari berbagai kegiatan masyarakat serta limbah berupa sabut kelapa dan batang pisang kering yang belum didayagunakan secara optimal. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan keterampilan baru kepada masyarakat untuk memanfaatkan limbah-limbah tersebut agar menghasilkan produk ramah lingkungan yang memiliki ciri khas, bernilai ekonomi, sehingga berpotensi untuk dikembangkan dan diolah menjadi produk unggulan desa yang ramah lingkungan yaitu berupa kertas daur ulang. Kegiatan pelatihan dan pendampingan dilakukan kepada 27 anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), diawali dengan pemaparan mengenai permasalahan limbah dan potensi pendayagunaannya, demonstrasi pembuatan kertas daur ulang oleh narasumber yang dilanjutkan dengan praktek oleh peserta, serta evaluasi pengetahuan dan keterampilan peserta sebagai output pelatihan. Topik yang tepat sesuai dengan permasalahan masyarakat danserta kemampuanmampunya peserta membuat kertas daur ulang secara mandiri mengindikasikan bahwa kegiatan ini berjalan dengan baik, dibuktikan dengan masing-masing peserta dapat dapat mencetak kertas daur ulangnya serta adanya peningkatan pengetahuan peserta terhadap topik pelatihan sebesar 43,7%k.Abstract: Peniti Besar Village has various local plant resources, including coconut (Cocos nucifera) and banana (Musa paradisiaca), the village's mainstay commodities. The village also faces the problem of increasing paper waste from various community activities and waste in the form of coconut fiber and dried banana stems that need to be optimally utilized. This service activity aims to provide new skills to the community to utilize these wastes to produce environmentally friendly products that have characteristics of economic value so that they have the potential to be developed and processed into environmentally friendly village superior products in the form of recycled paper. Training and mentoring activities were carried out for 27 members of the Family Welfare Empowerment (PKK), starting with an explanation of the problems of waste and its potential utilization, demonstration of making recycled paper by resource persons followed by practice by participants, and evaluation of participants' knowledge and skills as training output. The right topic according to community problems and the ability of participants to make recycled paper independently indicate that this activity is going well, evidenced by each participant being able to print their recycled paper and an increase in participant knowledge of the training topic by 43.7%.
PELATIHAN PENGOLAHAN DATA DAN PEMETAAN SEBARAN SPESIES TUMBUHAN INVASIF DI LINGKUNGAN TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA (TNBBBR) SINTANG Putri, Erisa Ayu Waspadi; Puji Lestariningsih, Siti; Ramadhani, Endi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Rafflesia Vol. 7 No. 1 (2024): April : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bumi Raflesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taman Nasional Bukit Baka Bukit merupakan kawasan konservasi yang dikelola dengan tujuan konservasi dan pelestarian keanekaragaman hayati. Salah satu masalah yang terdapat pada taman nacional dan memerlukan penanganan secara komprehensif yaitu penanggulangan penyebaran tumbuhan invasif yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman asli di kawasan tersebut. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertujuan untuk memberikan materi pelatihan pengolahan data dan pemetaan sebaran spesies tumbuhan invasif yang menjadi ancaman bagi keberlangsungan konservasi spesies-spesies utama dilindungi pada kawasan Taman Nasional. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui metode yang terdiri atas: perencanaan, sosialisasi dengan percontohan kasus, dan evaluasi. Sedangkan data utama yang digunakan dalam pelatihan tersebut berupa peta wilayah kerja TNBBBR dan data spasial contoh peta persebaran spesies invasif. Kegiatan pelatihan relevan dengan kebutuhan TNBBBR untuk mendukung kinerja dan mempermudah dalam mengatasi persebaran tumbuhan invasif. Peserta dapat memahami materi pelatihan yang ditunjukkan dengan keaktifan diskusi. Sebagai evaluasi diperlukan tindak lanjut kegiatan berupa pelatihan pemetaan dengan software dan data yang relevan.   Kata Kunci: pemetaan, olah data, tumbuhan invasif, taman nasional
Edukasi Pengolahan Air Bersih di Desa Simpang Kasturi Kecamatan Mandor Widiastuti, Tri; Roslinda, Emi; Astiani, Dwi; Latifah, Siti; Lestariningsih, Siti Puji
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 9 No 2 (2024): Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Universitas Mathla'ul Anwar Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30653/jppm.v9i2.589

Abstract

Desa Simpang Kasturi, Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak belum memiliki layanan jaringan pipa ledeng dari PDAM, tetapi memiliki air tanah yang cukup baik. Kebutuhan air harian menggunakan air sungai, sumur gali atau sumur bor. Air yang berasal dari sumur gali/bor secara fisik terlihat jernih, tidak berbau dan tidak berasa. Pada kondisi tertentu air sumur dapat berubah menjadi keruh, berwarna dan berbau, sehingga diperlukan pengolahan untuk mendapatkan air bersih. Tujuan PKM adalah edukasi masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan pengolahan air bersih dan melakukan pengolahannya secara mandiri. Kegiatan diikuti 20 peserta perwakilan masyarakat dari 4 dusun di desa Simpang Kasturi, yaitu dusun; Delan, Singkong Luar, Kasturi dan Bobor. Sistematika pelaksanaan PKM; pemberian materi dengan ceramah, praktek penggunaan perangkat pengolah air bersih, serta evaluasi. Metode yang diterapkan adalah metode penjernihan air sederhana dengan koagulan dan filtrasi. Kapur sirih, tawas dan PAC adalah koagulan yang digunakan untuk mengendapkan partikel terlarut. Air kemudian dialirkan ke tabung penyaring yang berisi batu zeolit, arang, ijuk dan pasir sebagai media filtrasi. Air yang keluar dari tabung filtrasi terlihat bersih dan jernih. Edukasi pengolahan air bersih berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang teknik pengolahan air bersih, meningkatkan pemahaman penggunaan bahan koagulan, bahan filtrasi serta meningkatkan ketrampilan pengolahan air secara mandiri. Simpang Kasturi Village, Mandor District, Landak Regency has no plumbing services from PDAM but has quite good groundwater. Daily water must use river water and dug or drilled wells. Water from dug/drilled wells physically looks clear, odorless, and tasteless. Under certain conditions, well water can turn cloudy, colored, and smelly. The aim of Community Service (PKM) is to educate the public to increase knowledge about clean water processing and carry out processing independently. The activity was attended by 20 participants representing the community from 4 hamlets in Simpang Kasturi village, namely hamlets; Delan, Singkong Luar, Kasturi, and Bobor. Systematic implementation of PKM; providing material with lectures and discussions, demonstrations and practice in using clean water processing equipment, and evaluation. The method applied is a clean water purification method using coagulants and filtration Betel lime, alum and PAC are coagulants used to precipitate dissolved particles. The water then flows into a filter tube containing zeolite stone, charcoal, palm fiber, and sand as a filtration medium. The water that comes out of the filtration tube looks clean and clear. Clean water processing education has succeeded in increasing knowledge about clean water processing techniques, understanding the use of coagulants and filtration materials, and improving skills in carrying out water treatment independently.
PEMBERDAYAAN BERBASIS GENDER MELALUI PEMANFAATAN SAYUR SEBAGAI MIE SEHAT DI KAMPUNG GAMBUT SIANTAN HILIR Hamkani, Hamkani; Nugroho, Waskito; Lestariningsih, Siti Puji; Laksono, Moyo Anggoro; Harahap, Reiki Nauli
PROFICIO Vol. 5 No. 2 (2024): PROFICIO : Jurnal Abdimas FKIP UTP
Publisher : FKIP UNIVERSITAS TUNAS PEMBANGUNAN SURAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jpf.v5i2.3723

Abstract

Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu upaya perbaikan kualitas hidup. Aktivitas pemberdayaan dapat dilakukan oleh para pihak, tidak terkecuali industri. PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Pontianak merupakan salah satu aktor yang terlibat dalam upaya pengembangan masyarakat di Kampung Gambut Siantan Hilir. Aktivitas yang dilakukan yaitu dalam bentuk pelatihan dan peningkatan kapasitas perempuan tani untuk dapat melakukan pengolahan sayur menjadi produk mie sehat. Pendampingan tersebut dilakukan sebagai upaya memberikan akses dan aset kepada masyarakat terutama perempuan sebagai kelompok rentan untuk dapat memperbaiki kualitas hidup dan meningkatkan kesejahteraan. Pelatihan pembuatan mie sehat dari sayur difasilitasi oleh pelatih dari Universitas Tanjungpura. Kegiatan yang dialkukan diantaranya transfer pengetahuan dan praktik pembuatan mie sehat dari sayur. Dampak yang diharapkan dari pelatihan adalah terwujudnya masyarakat yang mandiri dan mampu mengelola potensi. Jangka panjang diharapkan aktivtias pembuatan mie sehat dapat menjadi alternatif pendapatan bagi petani perempuan dan berkembang menjadi usaha, mikro, kecil dan menengah. Pengembangan tersebut perlu dilakukan sebagai bentuk perwujudan ekosistem yang mendukung kemandirian masyarakat terutama perempuan sebagai kelompok rentan