Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

NILAI ERODIBILITAS TANAH DI DESA RIRANG JATI KECAMATAN NANGA TAMAN KABUPATEN SEKADAU Meida, Ririn Yunia; Herawatiningsih, Ratna; Lestariningsih, Siti Puji
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 13, No 3 (2025): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v13i3.79276

Abstract

Erodibility relates to soil loss by water and wind transport through a formulaic approach that combines the values of soil texture, soil structure, organic matter and soil permeability. This research aims to analyse the value of soil erodibility and provide information as input and conservation advice in the management and use of land in Rirang Jati Village. This research uses survey method, soil sampling is done by purposive sampling based on land unit map of rirang jati Village. Soil erodibility data analysis using Wischmeier and Smith 1978 equation. Based on the results of the analysis of soil erodibility classes were generated, ranging from class1 (very low) to class 6 ( very high). The highest erodibility occurs in LMU PD-HS-C with a value of 0,72 this occurs because the soil has poor permeability and high dust content. The lowest erobilility occurs in land unit PD-HS-SC with a value -0,060 this occurs because the soil has a high organic matter content. Conservation actions suggested are in the form of supervision of land use in areas that indicate high erodibilty if possible, planting ground cover crops or double cropping can be done. Keywords: Erodibility, Erodibility Factor, Land Use. Abstrak Erodibilitas berkaitan dengan kehilangan tanah oleh daya penghanyut air maupun angin melaui pendekatan rumus yang menggabungkan nilai tekstur tanah, struktur tanah, bahan organik dan permeabilitas tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai erodibilitas tanah serta memberikan informasi sebagai masukkan dan saran konservasi dalam pengelolaan dan penggunaan lahan di Desa Rirang Jati. Penelitian ini menggunakan metode survei, pengambilan sampel tanah dilakukan secara purposive sampling berdasarkan peta satuan lahan Desa Rirang Jati. Analisis data erodibilitas tanah menggunakan persamaan Wischmeier and Smith 1978. Berdasarkan hasil analisis nilai Erodibilitas (K) tanah dihasilkan 6 kelas erodibilitas tanah, mulai dari kelas 1(sangat rendah) sampai kelas 6 (sangat tinggi). Erodibilitas paling tinggi terjadi pada LMU PD-HS-C dengan nilai sebesar 0,72, hal tersebut terjadi karena tanah tersebut memiliki permeabilitas yang sangat lambat dan kandungan debu yang tinggi. Eerodibilitas paling rendah terjadi pada LMU PD-HS-SC dengan nilai sebesar -0,060, hal ini terjadi karena tanah tersebut memiliki kandungan bahan organik yang tinggi. Tindakan konservasi yang disarankan berupa pengawasan terhadap penggunaan lahan pada wilayah yang terindikasi erodibilitas tinggi jika memungkinkan dapat dilakukan penanaman tanaman penutup tanah atau bercocok tanam ganda. Kata Kunci: Erodibilitas, Faktor Erodibilitas, Penggunaan Lahan
PEMETAAN PARTISIPATIF SEBAGAI INSTRUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DESA BERBASIS DATA SPASIAL Lestariningsih, Siti Puji; Destiana, Destiana; Azahra, Siva Devi; Kartikawati, Siti Masitoh; Ramadhani, Endi
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i2.38286

Abstract

Abstrak: Keterbatasan ketersediaan data spasial desa serta rendahnya pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan menjadi kendala dalam mewujudkan pembangunan yang berbasis bukti dan inklusif. Kondisi tersebut menyebabkan perencanaan cenderung normatif dan belum sepenuhnya didukung informasi keruangan yang akurat, terintegrasi, dan terdokumentasi dengan baik. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan partisipasi masyarakat dalam pemetaan desa sebagai dasar penyusunan rencana pembangunan yang lebih akurat dan transparan. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui penyusunan peta dasar, sosialisasi pentingnya data spasial, praktik pemetaan batas dan potensi wilayah, pengolahan data spasial menggunakan perangkat lunak SIG, serta evaluasi kegiatan. Kegiatan ini melibatkan 30 peserta dari pemerintah desa dan organisasi masyarakat. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner skala Likert untuk mengukur pemahaman konsep, tingkat partisipasi, dan persepsi manfaat kegiatan. Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata pemahaman dan keterlibatan peserta sebesar 67%, dengan peningkatan tertinggi pada aspek pemahaman konsep pemetaan partisipatif. Kegiatan ini menghasilkan peta desa yang dimanfaatkan sebagai acuan perencanaan pembangunan serta memperkuat tata kelola desa berbasis data dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan dan kolaboratif.Abstract: Limited availability of village-level spatial data and low community involvement in the planning process hinder the realization of evidence-based and inclusive development. This condition leads to planning practices that tend to be normative and insufficiently supported by accurate, integrated, and well-documented spatial information. This community service program aimed to enhance community capacity and participation in village mapping as a foundation for more accurate and transparent development planning. The method employed a participatory approach, including the preparation of base maps, socialization of the importance of spatial data, participatory mapping of administrative boundaries and local potentials, spatial data processing using GIS software, and program evaluation. This activity involved 30 participants from village government and community organizations. Evaluation was conducted using a Likert-scale questionnaire to assess participants’ conceptual understanding, level of participation, and perceived benefits of the activity. The results indicated an average increase of 67% in participants’ understanding and engagement, with the highest improvement observed in the understanding of participatory mapping concepts. The activity produced a village map that serves as a reference for development planning and strengthens data-driven governance and sustainable community empowerment.
MITIGASI KONFLIK DAN KONSERVASI ULAR (SERPENTES) SEBAGAI UPAYA PENGUATAN EKOSISTEM LOKAL Azahra, Siva Devi; Kartikawati, Siti Masitoh; Lestariningsih, Siti Puji; Destiana, Destiana
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i2.38281

Abstract

Abstrak: Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengurangi konflik antara manusia dan ular serta meningkatkan upaya konservasi ular (Serpentes) sebagai bagian dari penguatan ekosistem lokal. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh peran ekologis ular sebagai predator alami yang mengendalikan populasi hama pertanian, Namun, interaksi antara masyarakat yang berada di sekitar hutan dengan ular sering menyebabkan konflik yang berujung pada pembunuhan ular. Program ini mencakup edukasi mengenai peran ekologis ular, pelatihan penanganan ular yang aman, serta sistem mitigasi konflik dengan melibatkan masyarakat setempat. Kegiatan dilaksanakan melalui empat tahapan, yaitu penilaian kebutuhan, pelaksanaan pelatihan, monitoring dan evaluasi, serta dokumentasi. Pelatihan yang diikuti oleh 28 peserta, yang terdiri dari petani, perangkat desa, kader kesehatan, dan ibu rumah tangga menunjukkan peningkatan keterampilan dan pengetahuan tentang pencegahan dan pertolongan pertama pada gigitan ular melalui praktik dan perbandingan skor pre-posttest yang meningkat 41.5%. Hasil ini didukung oleh komitmen masyarakat untuk menerapkan penanganan konflik ular yang aman dan berbasis konservasi. Dengan pendekatan edukatif dan partisipatif, program ini berhasil mengurangi konflik manusia-ular, melindungi ekosistem lokal, serta meningkatkan kesadaran tentang konservasi di kalangan masyarakat.Abstract: This community service programme aims to reduce conflicts between humans and snakes and enhance snake (Serpentes) conservation efforts as part of strengthening the local ecosystem. This activity is motivated by the ecological role of snakes as natural predators that control agricultural pest populations. However, interactions between communities living near forests and snakes often lead to conflicts that result in snakes being killed. The programme includes education on the ecological role of snakes, training in safe snake handling, and a conflict mitigation system involving local communities. The activity was carried out in four stages, namely needs assessment, training implementation, monitoring and evaluation, and documentation. The training, which was attended by 28 participants consisting of farmers, village officials, health cadres, and homemakers, showed an increase in skills and knowledge about prevention and first aid for snake bites through practice and a 41.5% increase in pre-post test scores. These results are supported by the community's commitment to implementing safe, conservation-based snake conflict management. With an educational and participatory approach, this programme has reduced human-snake conflicts, protected local ecosystems, and raised community awareness of conservation.