Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : LOKABASA

ASPEK TATAKRAMA MASYARAKAT SUNDA DALAM BABASAN DAN PARIBASA SUTISNA, ADE
LOKABASA Vol 6, No 1 (2015): Vol. 6, No. 1 April 2015
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v6i1.3137

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan aspek-aspek tatakrama masyarakat Sunda dengan merujuk pada budaya babasan dan paribasa Sunda. Babasan dan paribasa Sunda sendiri merupakan produk budaya masyarakat Sunda yang berwujud dalam bentuk frasa dan klausa atau kalimat yang disampaikan secara turun temurun sejak lama sebagai salahsatu cara masyarakat Sunda dalam mengedukasi saudaranya dalam hal berintraksi sosial. Dalam prosesnya, penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis sebagai cara untuk mendapatkan gambaran tentang aspek yang dimaksud. Adapaun data yang digunakan adalah data primer yang merupakan babasan dan paribasa Sunda yang telah didokumentasikan oleh para penulis budaya Sunda. Kemudian data tersebut dianalisis berdasarkan kajian makna dan intervensi peneliti terhadap makna tersebut. Dalam perjalanan panjangnya, peneliti menemukan beberapa babasan dan paribasa Sunda yang memilki makna nilai-nilai tatakrama untuk interaksi sosial. Di antara aspek nilai tatakrama yang diperoleh di antaranya adalah: 1) aspek tatakrama berbahasa, 2) aspek tatakrama kinetis, dan 3) aspek tatakrama hubungan sosial. Setelah dianalisis dan di deskripsikan, selanjutnya didapati adanya pola tatakrama masyarakat Sunda yang mencakup ketiga aspek tersebut yang harus hadir secara bersamaan dalam satu interaksi sosial. Pola tersebut dirangkum dalam lima istilah kata yang terdiri atas: 1) wiwaha, 2) wibawa, 3) wirasa, 4) wirahma, dan 5) wiraga. Abstract This study describes Sundanese aspects of manners by referring to babasan and paribasa (lit. expression and proverb) in Sundanese culture. Babasan and paribasa are tangible products of Sundanese culture in the forms of phrases and clauses, or sentences, which are delivered from generation to generation extensively. They are ways to educate Sundanese people in social interaction. This research employs descriptive analysis method to get an overview of aspects contained in babasan and paribasa. The primary data are babasan and paribasa that have been documented by the authors of Sundanese culture. Then the data was analyzed based on the study of meaning and the intervention of meaning. This study found some Sundanese babasans and paribasas as having the meaning of manner values in social interaction. The aspects of manner values found, among others, are (1) aspects of language etiquette, (2) aspects of kinetic manners, and (3) the aspects of social relation manners. After being analyzed and described, the study found the Sundanese pattern of manners that includes three aspects. The pattern must present simultaneously in a social interaction. The pattern is summarized in five terms: 1) wiwaha; 2) wibawa; 3) wirasa; 4) wirahma; and 5) wiraga.
Eksplorasi Penggunaan Augmented Reality (AR) sebagai Media Interaktif dalam Pembelajaran Tata Krama Bahasa Sunda Nugraha, Haris Santosa; Kuswari, Usep; Sutisna, Ade; Sari, Erni Endah; Dzakiah, Shoofii Nurrizki; Garsela, Fajar
LOKABASA Vol 16, No 1 (2025): April 2025
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v16i1.81705

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kebutuhan penggunaan Augmented Reality  (AR) sebagai media pembelajaran interaktif dalam pembelajaran tata krama bahasa Sunda. Berlandaskan teori konstruktivisme, penelitian ini menekankan pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman dan interaksi dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap norma sosial dalam budaya Sunda. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner, observasi partisipatif, dan wawancara mendalam kepada guru serta siswa dari sepuluh sekolah menengah pertama di wilayah Bandung Raya. Analisis data dilakukan secara tematik menggunakan pendekatan Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembelajaran konvensional kurang efektif dalam merepresentasikan situasi sosial secara nyata. AR memiliki potensi besar dalam menghadirkan simulasi pembelajaran yang lebih realistis dan interaktif dengan karakteristik utama berupa simulasi kontekstual, visualisasi realistis, latihan mandiri, serta umpan balik langsung. Namun, tantangan utama dalam implementasi AR terletak pada keterbatasan infrastruktur teknologi dan kesiapan tenaga pendidik. Implikasi penelitian ini menekankan perlunya dukungan infrastruktur dan pelatihan guru agar AR dapat diterapkan secara optimal dalam pembelajaran tata krama bahasa Sunda.This study aims to explore the need for using Augmented Reality  (AR) as an interactive learning medium in Sundanese etiquette education. Based on constructivist theory, this research emphasizes the importance of experience-based and interactive learning in enhancing students’ understanding of social norms in Sundanese culture. The research employs a qualitative descriptive method with data collection techniques including questionnaires, participatory observations, and in-depth interviews with teachers and students from ten junior high schools in the Bandung Raya region. Data analysis was conducted thematically using the Miles and Huberman approach. The findings indicate that conventional teaching methods are ineffective in representing real social situations. AR has great potential in providing more realistic and interactive learning simulations with key characteristics such as contextual simulations, realistic visualization, independent exercises, and real-time feedback. However, the main challenges in implementing AR lie in the limitations of technological infrastructure and the readiness of educators. The study highlights the need for infrastructure support and teacher training to ensure the optimal application of AR in Sundanese etiquette education.