Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

NILAI–NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM AL QUR’AN SURAT ALI IMRAN AYAT 159-160 Nurhartanto, Armin
Profetika Vol. 16, No. 2, Desember 2015
Publisher : Muhammadiyah University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The background of this research is the phenomenon of teenagers’ moral degenerate which the writer found. Considering the importance of al Qur’an for all people, it is important to implement its values as a concern especially for muslim, so the moral values in al Qur’an can be taught to the people in a good way. From this state, the writer is interested in exploring deeper about moral values in al Qur’an surah Ali Imran 159 – 160. The goals of the research are ; 1) to know the moral values in al Qur’an Surah Ali Imran 159 – 160, 2) to know how the concept of moral value in those verses, 3) to know the implication of those verses for Islamic Education in school. The research is a library research. Primier data source is al Qur’an Surah Ali Imran 159 – 160. The second data sources are book, articles or works about moral values and the implementation of moral values, considered to be true, both in sentences or content. Approaches which are used are didactic – psychology and thematic combined with qualitative analysis and are reprocessed by using deductive, inductive and comparative analysis. The result of the research show that ; 1) moral values reflected in Surah Ali Imran 159 – 160 are graceful, forgiving, solving problem by discussing it with the people, believing in Allah and believing in Allah’s help. 2) in the concept of moral education, the way Rasulullah lead his companions, he prioritizes the graceful, dissscussion, although he holds the highest authotiry. The other moral values is believing in Allah. 3) the implication of the concept of moral education according to al Qur’an Surah Ali Imran 159-160 is the concept of moral-oriented teaching.  The recommendation of this research is how the school as an education institution is able to raise moral values reflected in al Qur’an Surah Ali Imran 159-160 to the student, so they can take the lesson from the prophet’s daily life.Keywords: moral; values; implication to education.
NILAI–NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM AL QUR’AN SURAT ALI IMRAN AYAT 159-160 Nurhartanto, Armin
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 16, No. 2, Desember 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v16i2.1851

Abstract

The background of this research is the phenomenon of teenagers’ moral degenerate which the writer found. Considering the importance of al Qur’an for all people, it is important to implement its values as a concern especially for muslim, so the moral values in al Qur’an can be taught to the people in a good way. From this state, the writer is interested in exploring deeper about moral values in al Qur’an surah Ali Imran 159 – 160. The goals of the research are ; 1) to know the moral values in al Qur’an Surah Ali Imran 159 – 160, 2) to know how the concept of moral value in those verses, 3) to know the implication of those verses for Islamic Education in school. The research is a library research. Primier data source is al Qur’an Surah Ali Imran 159 – 160. The second data sources are book, articles or works about moral values and the implementation of moral values, considered to be true, both in sentences or content. Approaches which are used are didactic – psychology and thematic combined with qualitative analysis and are reprocessed by using deductive, inductive and comparative analysis. The result of the research show that ; 1) moral values reflected in Surah Ali Imran 159 – 160 are graceful, forgiving, solving problem by discussing it with the people, believing in Allah and believing in Allah’s help. 2) in the concept of moral education, the way Rasulullah lead his companions, he prioritizes the graceful, dissscussion, although he holds the highest authotiry. The other moral values is believing in Allah. 3) the implication of the concept of moral education according to al Qur’an Surah Ali Imran 159-160 is the concept of moral-oriented teaching.  The recommendation of this research is how the school as an education institution is able to raise moral values reflected in al Qur’an Surah Ali Imran 159-160 to the student, so they can take the lesson from the prophet’s daily life.Keywords: moral; values; implication to education.
Metode Penafsiran Kontekstual Al-Qur'an Dalam Perspektif Ushul Fiqih : Kajian Terhadap Ayat-Ayat Keadilan Nurhartanto, Armin
JURNAL PEDAGOGY Vol. 16 No. 2 (2023): Volume 16 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammamdiyah Blora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63889/pedagogy.v16i2.180

Abstract

Metode penafsiran kontekstual Al-Qur'an dalam perspektif Ushul Fiqih merupakan suatu pendekatan yang mendalam untuk memahami ayat-ayat Al- Qur'an yang berkaitan dengan konsep keadilan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna dan aplikasi ayat-ayat keadilan dalam kerangka hukum Islam, dengan menggunakan landasan metodologi Ushul Fiqih yang menekankan pemahaman terhadap konteks sejarah, linguistik, dan normatif AlQur'an. Penelitian ini akan memfokuskan kajiannya pada beberapa ayat Al-Qur'an yang secara eksplisit atau implisit membahas konsep keadilan. Metode penafsiran kontekstual memungkinkan peneliti untuk menjelajahi lapisan-lapisan makna ayat-ayat tersebut, mengaitkannya dengan konteks historis pada saat wahyu turun, dan menafsirkannya dengan mempertimbangkan norma-norma sosial yang berlaku. Dalam konteks Ushul Fiqih, penelitian ini akan menelaah metode-metode klasik dan kontemporer yang digunakan oleh ulama untuk menginterpretasikan ayat-ayat keadilan. Dengan menggunakan pendekatan ini, penelitian akan mengidentifikasi bagaimana interpretasi kontekstual memberikan nuansa dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap konsep keadilan dalam Al-Qur'an. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan pemikiran hukum Islam, khususnya dalam hal keadilan. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi referensi bagi para ulama, peneliti, dan praktisi hukum Islam dalam memahami dan mengaplikasikan prinsip-prinsip keadilan yang terkandung dalam Al-Qur'an.
Development of Pluralist and Multicultural Approaches In PAI Learning: A Conceptual Model For Strengthening Students' Inclusivity Competencies Nurhartanto, Armin; Anwar, Sholihul; Sukisno, Sukisno
Multicultural Islamic Education Review Vol. 2 No. 2 (2024): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/mier.v2i2.7307

Abstract

In a culturally and religiously diverse society like Indonesia, Islamic Religious Education (PAI) must promote values of inclusivity, tolerance, and respect. This study aims to develop a conceptual model that integrates pluralist and multicultural approaches into PAI learning to enhance students’ inclusivity competencies. Using a qualitative methodology, the research adopts a systematic literature review analyzing primary and secondary sources, including academic books, journal articles, and policy documents. Content analysis was employed to extract key themes related to the implementation of pluralism and multiculturalism in Islamic education. The findings indicate that an effective integration requires the alignment of curriculum design, teaching methods, teacher roles, learning materials, and evaluation systems with inclusive values. It emphasizes that multicultural education focuses on cultural and ethnic diversity, while pluralist education addresses religious pluralism and interfaith understanding. Both approaches are complementary in creating an inclusive and peaceful educational environment. The study concludes that the conceptual model can serve as a foundation for reforming PAI by fostering tolerance, empathy, and cooperation among learners. It also suggests that further empirical research and implementation trials are needed to test the model in practice.
Shalat dan Pengaruhnya Dalam Membentuk Akhlakul Karimah (Suatu Tinjauan Kependidikan) Nurhartanto, Armin
JURNAL PEDAGOGY Vol. 11 No. 1 (2018): Volume 11 Nomor 1 Tahun 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammamdiyah Blora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63889/pedagogy.v11i1.23

Abstract

Melalui pelaksanaan ibadah shalat secara kontinue dari waktu kewaktu yang telah di tentukan batasnya, diharapkan akan selalu ingat kepada Allah sehingga dalam melakukan segala aktivitas akan terasa diawasi dan diperhatikan oleh Dzat yang maha mengetahui, maha melihat dan maha mendengar. Konsekuensinya adalah terhindar dari melakukan segala perbuatan yang bertentangan dengan Islam. Shalat tidak hanya mengandung nilai ubudiah semata akan tetapi shalat juga mengandung hubungan baik dengan sesama makhluk Allah lainnya. Jadi shalat memiliki nilai edukatif yang tinggi dan luas
Nilai – Nilai Pendidikan Akhlak dalam Q.S. Ali Imran Ayat 159 -160 Nurhartanto, Armin
JURNAL PEDAGOGY Vol. 10 No. 3 (2017): Volume 10 Nomor 3 Tahun 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammamdiyah Blora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63889/pedagogy.v10i3.63

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah munculnya fenomena kemerosotan akhlak yang penulis temukan dikalangan para pemuda. Adanya tindak kriminal, tawuran,degradasi moral adalah satu penyebab kemerosotan akhlak. Menyadari pentingnya kedudukan dan fungsi al-Qur'an bagi umat manusia maka pengaplikasiannya menjadi penting dan wajib sebagai bentuk kepedulian bersama khususnya umat Islam, sehingga nilai-nilai pendidikan akhlak yang tercakup di dalamnya bisa disampaikan dengan baik kepada manusia. Bermula dari keadaan inilah penulis tertarik untuk mengkaji lebih mendalam nilai-nilai pendidikan akhlak yang tertuang dalam QS.Ali Imran : 159-160. Penelitian ini bertujuan; 1) Untuk mengetahui nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam Q.S. Ali Imran : 159-160, 2) Untuk mengetahui bagaimana konsep pendidikan akhlak dalam perspektif Q.S. Ali Imran : 159-160, 3) Untuk mengetahui apa implikasinya bagi Pendidikan Agama Islam di sekolah. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library). Sumber dataprimer adalah Q.S. Ali Imran : 159-160. Sedangkan data sekundernya berupa buku, artikel, atau tulisan yang berbicara tentang perbaikan akhlak dan penanaman nilai-nilai pendidikan akhlak yang diyakini memiliki nilai kebenaran mutlak baik redaksi maupun isinya. Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan didaktik–psikologis dan pendekatan tematik (maudhui'i) dengan analisis kualitatif, kemudian diolah kembali dengan menggunakan metode deduktif, induktif dan komparatif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa, 1) Nilai-Nilai akhlak yang terkandung dalam Q.S. Ali Imran: 159-160 adalah sikap lemah lembut, memaafkan, bermusyawarah dalam memutuskan persoalan bersama, bertawakkal, dan yakin akan pertolongan Allah. 2) Dalam konsep pendidikan akhlak, penelitian ini menunjukkan gaya kepemimpinan Nabi yang lemah lembut, mengutamakan musyawarah untuk memutuskan kepentingan bersama, walaupun beliau mempunyai otoritas sebagai pemimpin tertinggi. Nilai-nilai akhlak yang lain adalah tawakkal kepada Allah sebagai bentuk penyerahan diri. 3) Implikasi dari konsep pendidikan akhlak menurut QS. Ali Imran : 159-160 adalah pola pengajaran berbasis akhlak dengan memberikan pengajaran kepada siswa secara santun. Guru harus mengajar dengan melihat segala kelebihan dan potensi siswa, sehingga siswa dapat lebih mengembangkan dirinya. Rekomendasi dari penelitian ini adalah bagaimana sekolah sebagai lembaga pendidikan mampu menanamkan nilail-nilai yang terkandung dalam Q.S. Ali Imran: 159-160 kepada para siswanya, agar para siswa dapat meneladani dan mempraktikkan sikap dan keteladanan Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Kata kunci: akhlak, nilai, implikasi dalam kependidikan.
Ushul Fiqih Dan Fungsinya Dalm Kajian Hukum Islam Nurhartanto, Armin
JURNAL PEDAGOGY Vol. 14 No. 1 (2021): Volume 14 Nomor 1 Tahun 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammamdiyah Blora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63889/pedagogy.v14i1.103

Abstract

Syari'ah menurut makna kebahasaan merupakan sesuatu yang sudah biasa di dengar dla kehidupan, dan sudah biasa kita pakai dalm proses pembelajaran di sekolah khususnya ketika menyampaikan materi ibadah atau syari'ah. Lalu apa sebenarnya makna semantik atau makna kebahasaan nya. Manna' Al Qathan dalm bukunya al-Tasyri' wa al fiqh fi al islam, menyebutkan bahwa syari'ah itu bermakna segala ketentuan allah yang di syari'atkan bagi hamba hambanya, baik yang menyangkut aqidah, ibadah, mu'amalah serta akhlaq (Qathan, t.th,:15). Dengan demikian menurut dia syari'ah itu sama dengan agama yang mencakup aspek ibadah, aqidah, mu'amalah dan juga akhlaq. Pandangannya itu hampir sejalan dengan Faruq Nabhan yang menyatakan bahwa syari'ah itu adalah segala sesuatu yang disyari'atkan allah kepada hamba hambanya (Nabhan 1981 : 10). Namun lebih lanjut dia menyatakan bahwa, istlah tersebut sering di smpaikan untuk makna fiqih (Nabhan, 1981 : 13). Dengan demikian, Faruq Nabhan sudah memandang bahwa istilah syari'ah bisa digunakan untuk makna fiqih, karena banyak diantara para ahli menggunakan istilah ini untuk makna tersebutpengertian yang paling tepat dari istilah syari'ah adalah yang dikemukakan Mahmud Syalthout, dalam bukunya al islam aqidah wa as syariah, yaitu "ketentuan ketentuan yang di tetapkan allah atau hasil pemahaman manusia atas ketentuan ketentuan tersebut, untuk dijadikan pegangan oleh manusia baik dlam hubungannya dengan allah, umat manusia lainnya, orang islam dan non muslim, dengan alam semesta, dan yang mengatur penataan hidup ini para ulama' membagi syariah pada dua bagian, yaitu syari'ah ilahi dan syari'ah wadh'i. Syari'ah ilahy adalah keytentuan ketentuan hukum yang ditetapkan oleh allah dan rosulnya dan kini tertuang dalam Al quran dan Al sunah. Sedang yang dikamsud dengan syariah wadh'i adalah ketentuan hukum yang dikemukakan oleh para ulama' mujtahid (Nabhan, 1981, : 11). Dilihat dari sudut kebahasaan kata fiqih bermakna mengetahui sesuatu dan memahaminya dengan baik (Faris , 1970,: III; 442) sedang menurut istilah imu hukum islam fiqih bermakna mengetahui hukum hukum syara' yang bersifat amaliah yang di kaji dari satu persatu dlilnya (Abu Zahrah, 1958:6) Dilihat dari segi kebahasaan kata hukum islam bermakna menetapkansesuatu pada sesuatu yang lain, seperti menetapkan haram pada khamer, halal pada air susu, wajib pada solat lima waktu, sunnah pada pemberian harta se;ain zakat. Sedangkan menurut istilah hukum bermakna "titah (khitab) syar'i yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf baik perupa tuntutan, pilihan, maupun wadh'i. Dilihat dari segi kebahsaan kata ushul fiqih kata ushul fiqih terdiri dari duapenggalan kata yaitu ushul dan al fiq kata ushul yang merupakn bentuk jamk dari al aslu bermakna dasar dasar yang menjdi landasan untuk tumbuh sesuatu yang lain. Sedangkan fiqih sebagaimana telah terurai dalam pembahasan sebelumnya adalah rumusan rumusan pemikiran normatif yang mengatur sebagai perbuatan mukallaf sebagai hasil analisis terhadap dalil dalil rinci (dalam al qur'an dan al sunnah).
Upaya Meningkatkan Nilai-Nilai Moderasi Beragama Di STAI Muhammadiyah Blora Melalui Penguatan Pemahaman Kaidah Kaidah Ushul Fiqih Nurhartanto, Armin
JURNAL PEDAGOGY Vol. 15 No. 2 (2022): Volume 15 Nomor 2 Tahun 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammamdiyah Blora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63889/pedagogy.v15i2.140

Abstract

Shari'ah according to the linguistic meaning is something that is commonly heard in life, and we are used to using it in the learning process at school, especially when delivering worship or shari'a materials. Then what exactly is the semantic meaning or linguistic meaning. Manna' Al Qathan in his book al-Tasyri' wa al fiqh fi al islam, mentions that shari'ah means all the provisions of allah that are shari'a for his servant's servant, both regarding aqidah, worship, mu'amalah and akhlaq (Qathan, t.th,:15). Thus according to him shari'a is the same as religion which includes aspects of worship, aqidah, mu'amalah and also akhlaq. His view is almost in line with Faruq Nabhan who states that shari'a is everything that Allah preaches to his servant servant (Nabhan 1981: 10). But he further stated that, istlah is often referred to for the meaning of fiqh (Nabhan, 1981: 13).Thus, Faruq Nabhan is already of the view that is... Faruq Nabhan who states that shari'a is everything that Allah preaches to his servant servant (Nabhan 1981: 10). But he further stated that, istlah is often referred to for the meaning of fiqh (Nabhan, 1981: 13). Thus, Faruq Nabhan has taken the view that the term shari'ah can be used for the meaning of fiqh, because many of the scholars use this term for this meaningthe most appropriate definition of the term shari'ah is that of Mahmud Syalthout, in his book al islam aqidah wa as sharia, namely "the provisions stipulated by Allah or the result of human understanding of the provisions of these provisions, to be used as a handle by a good human being in relationwith allah, the rest of humanity, muslims and non muslims, with the universe, and who govern this arrangement of life the scholars' divide sharia into two parts, namely the divine shari'ah and the shari'ah wadh'i Shari'ah ilahy is the provision of the law established by allah and his rosul and is now contained in the Quran and the Quran. Meanwhile, what is associated with wadh'i sharia is the legal provisions put forward by the scholars' mujtahid (Nabhan, 1981, : 11). Viewed from a linguistic point of view the word fiqih means to know something and understand it well (Faris, 1970,: III; 442) while according to the term imu islamic law fiqih means knowing the law of shari'a which is amaliah which is reviewed from one by one (Abu Zahrah, 1958:6) Viewed in terms of linguistics the word islamic law means to assign something to another, such as assigning haram to khamer, halal on milk,obligatory on five-time prayer, sunnah on the giving of se;ain zakat treasures. Medium...) The results of this study show that the importance of learning ushulfiqih in instilling a moderate attitude to all STAI Muhammadiyah Blora students, especially on the spec of shari'ah.Keywords : ushul fiqih, function, islamic law moderation
Metode Penafsiran Dalam Ushul Fiqih Kontemporer : Kajian Terhadap Pendekatan Literal Dan Kontekstual Nurhartanto, Armin
JURNAL PEDAGOGY Vol. 16 No. 1 (2023): Volume 16 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammamdiyah Blora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63889/pedagogy.v16i1.153

Abstract

Metode penafsiran dalam ushul fiqih kontemporer merupakan topik penting dalam kajian ilmu fiqih. Dalam upaya untuk memahami dan menerapkan prinsipprinsip hukum Islam dalam konteks modern, ulama dan cendekiawan Muslim telah mengembangkan berbagai pendekatan penafsiran. Dua pendekatan utama yang sering dibahas dalam konteks ini adalah pendekatan literal dan pendekatan kontekstual. Pendekatan literal dalam penafsiran ushul fiqih menekankan pada makna harfiah dan teks-teks hukum secara harfiah. Para pengikut pendekatan ini berpendapat bahwa hukum-hukum Islam harus dipahami sesuai dengan apa yang secara eksplisit dinyatakan dalam sumber-sumber hukum, seperti Al-Qur'an dan hadis. Mereka memandang pentingnya mempertahankan keaslian dan kebenaran teks hukum tanpa banyak penambahan atau interpretasi. Di sisi lain, pendekatan kontekstual dalam penafsiran ushul fiqih menekankan pentingnya mempertimbangkan konteks sosial, sejarah, budaya, dan situasional dalam memahami hukum-hukum Islam. Para pengikut pendekatan ini berpendapat bahwa hukum-hukum Islam harus diterapkan dengan memperhatikan kondisi zaman dan tempat. Mereka menganggap bahwa hukumhukum Islam adalah fleksibel dan dapat disesuaikan dengan perubahan lingkungan sosial dan kebutuhan masyarakat. Kajian terhadap pendekatan literal dan kontekstual dalam ushul fiqih kontemporer melibatkan analisis kritis terhadap kelebihan dan kekurangan masing-masing pendekatan. Sebagian ulama mengusulkan pendekatan yang memadukan kedua pendekatan ini, dengan memberikan penekanan pada pemahaman tekstual yang tepat sambil mempertimbangkan konteks yang relevan. Pendekatan ini bertujuan untuk menghindari penafsiran yang terlalu kaku dan terlalu longgar. Dalam konteks penafsiran ushul fiqih kontemporer, kedua pendekatan ini memiliki dampak yang signifikan terhadap pengembangan hukum Islam dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim. Pemahaman yang tepat dan seimbang terhadap metode penafsiran ini penting untuk mencapai keadilan dan relevansi hukum Islam dalam dunia yang terus berubah. Kata kunci: ushul fiqih, penafsiran, literal, kontekstual, hukum Islam.
Kajian Komprehensif Metode Hisab Dalam Penentuan Awal Bulan Syawal Dan Ramadhan (Pendekatan Astronomis Dan Keagamaan) Nurhartanto, Armin; Sunoko, Ahmad
JURNAL PEDAGOGY Vol. 17 No. 1 (2024): Volume 17 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammamdiyah Blora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penentuan awal bulan Syawal dan Ramadhan merupakan isu krusial bagi umat Islam, menandakan dimulainya ibadah puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Di Indonesia, penentuan ini dilakukan oleh Kementerian Agama melalui Badan Hisab dan Rukyat (BHR) yang mengkombinasikan metode hisab dan rukyatul hilal. Kriterianya meliputi ijtimak sebelum matahari terbenam dan piringan atas bulan berada di atas ufuk saat matahari terbenam. Kelebihan hisab terletak pada akurasi, objektivitas, dan efisiensi, namun kekurangannya adalah potensi ketidaksesuaian dengan rukyatul hilal dan perbedaan pendapat terkait kriteria hisab. Jurnal ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang komprehensif tentang metode hisab dalam penentuan awal bulan Syawal dan Ramadhan, serta menjadi referensi bagi para akademisi, praktisi, dan masyarakat umum dalam memahami kompleksitas penentuan awal bulan Qamariah.