Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

AGROWISATA METE YANG INTERAKTIF BERPENDEKATAN ARSITEKTUR BERKELANJUTAN DI KABUPATEN WONOGIRI Lathif, Ajeng Afifah Imaya; Rully, Rully
Journal of Architecture Cultural and Tourism Studies Vol 3 No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jacts.v3i2.5456

Abstract

Kabupaten Wonogiri, Jawa tengah, memiliki potensi besar dalam pengembangan agrowisata berbasis jambu mete dimana mete merupakan salah satu komoditas hasil bumi masyarakat setempat. Namun, pengembangan tersebut masih menghadapi berbagai tantangan seperti rendahnya nilai tambah produk, keterbatasan fasilitas penunjang, serta kurangnya edukasi dan partisipasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan merancang agrowisata mete yang interaktif dengan pendekatan arsitektur berkelanjutan di Kabupaten Wonogiri sebagai solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat nilai tambah produk lokal, dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah kombinasi kuantitatif, kualitatif, dan komparatif dengan pengumpulan data melalui studi preseden, survei lapangan, dan kuesioner kepada 86 responden. Analisis lokasi, tapak, sirkulasi, program ruang, struktur, dan sistem utilitas dilakukan secara komprehensif untuk menghasilkan konsep perancangan yang ramah lingkungan dan partisipatif. Konsep massa bangunan terinspirasi dari bentuk biji jambu mete yang melengkung dan asimetris, melambangkan keunikan, pertumbuhan, dan keberlanjutan. Hasil rancangan diharapkan menciptakan destinasi wisata edukatif dan interaktif yang memberikan dampak sosial-ekonomi positif bagi masyarakat setempat dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
HOTEL RESORT DENGAN PENEKANAN ECOWISATA DI PANTAI KLAYAR PACITAN Arrosyid, Harun; Rully, Rully
Journal of Architecture Cultural and Tourism Studies Vol 2 No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jacts.v2i2.3979

Abstract

Pacitan merupakan salah satu dari 38 kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Timur yang terletak di bagian selat barat daya dengan luas wilayah 1.389,8716 km, luas tersebut sebagian besar berupa perbukitan dan jurang terjal selebihnya merupakan dataran rendah. Batas Kota Pacitan yaitu sebelah timur Kabupaten Trenggalek, sebelah selatan samudera Indonesia, sebelah barat Kabupaten Wonogiri (Jawa Jengah), sebelah utara Kabupaten Ponorogo (Jawa Timur) dan Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah).Kabupaten Pacitan memiliki, potensi yang cukup beragam mulai dari potensi wisata Pantai dan potensi pesisir. Beberapa destinasi salah satunya Pantai Klayar yang memiliki daya tarik dengan bentangan pasir putihnya, karang raksasa seperti sphinx di mesir, seruling samudra, air mancur alami, air terjun dan batu karang yang indah. di ambil dari badan pusat statistik di sekitar Pantai Klayar saat ini hanya tersedia penginapan dengan tipe homestay. Hal ini pula yang menyebabkan sebagian besar wisatwan asing di Pantai Klayar memilih untuk tidak tinggal pada saat kunjungannya, karena keterbatasan jumlah dan opsi penginapan yang tersedia. hotel resort dengan penekanan eco-wisata yag berpendekatan arsitektur tropis modern sangat di perlukan di Pantai Klayar, sebagai upaya mengatasi permasalahan keterbatasan jumlah penginapan dan meningkatkan sumber daya alam, lingkungan sekitar Pantai Klayar.
FEMINISM IN ‘AFTER 11’ AN ADVERTISIMENT OF BUKALAPAK ., Rully; Basit, Abdul; Prabella, Muji
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol. 13 No. 1 (2020)
Publisher : Faculty of Social Sciences and Humanities Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/pjk.v13i1.1963

Abstract

Abstrak. Perkembangan era digital saat ini telah memperlihatkan transformasi nyata dari perubahan ruang periklanan. Iklan dalam bentuk film telah menjadi bagian dari media massa sebagai salah satu media representasi yang merupakan cerminan dari masyarakat. Bukalapak melalui YouTube, membalut makna feminisme dalam kemasan film AFTER 11 yang sekaligus merupakan iklan untuk membangun pandangan agar masyarakat lebih berdaya. Dengan memperlihatkan figur perempuan seorang ibu yang tidak hanya berkiprah di ranah domestik, namun dapat melakukan aktifitas ataupun pekerjaan yang bersifat maskulin. Karakter perempuan yang menyadari kebebasannya membuat menarik untuk menguak dan menelitinya dari sisi feminisme, dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes yang memaparkan denotasi, konotasi dan mitos. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa ada ideologi feminisme yang ingin dibawa oleh Bukalapak melalui media iklan dalam film AFTER 11, bahwa perempuan saat ini dapat beraktifitas sebebas-bebasnya tanpa perlu khawatir dan mampu berperan ganda dalam memenuhi kebutuhan anaknya, selain itu juga Bukalapak ingin mendobrak stereotip menjadi pengusaha harus dengan modal yang besar dan biasanya hal ini hanya dapat dilakukan oleh kaum kapitalis, namun dengan Bukalapak, UKM atau individu, ataupun hanya seorang ibu rumah tangga, dapat berdaya dan tangguh.Abstract. The development of the digital era today has shown a real transformation of the changing advertising space. Advertising in the form of films has become part of the mass media as one of the media representations that are a reflection of society. Bukalapak through YouTube, wrapped the meaning of feminism in the AFTER 11 film packaging which is also an advertisement to broaden views so that people are more empowered. By showing a female figure as a mother who not only takes part in the domestic sphere, but also carry out activities or jobs that are masculine. The character of women who realize their freedom makes it interesting to uncover and examine it from the side of feminism, using Roland Barthes's semiotic analysis which presents denotations, connotations and myths. The conclusion of this study shows that there is an ideology of feminism that Bukalapak wants to bring through the advertising media in the film AFTER 11, that women today can work as freely as possible without worrying and being able to play a dual role in meeting their children's needs, besides that Bukalapak also wants to break stereotypes being an entrepreneur must be with big capital and usually this can only be done by the capitalists, but with Bukalapak, UKM or individual, or just a housewife, can be empowered and resilient.