Rendahnya capaian literasi numerasi peserta didik yang masih berada di bawah rata-rata internasional serta dominannya pola pembelajaran procedural menunjukkan perlunya transformasi pembelajaran yang lebih bermakna. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan untuk memperkuat literasi numerasi sekaligus Self Regulated Learning (SRL) peserta didik melalui pendekatan deep learning yang sejalan dengan arah kebijakan nasional Asta Cita dan target global SDGs 4. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif yang didukung data kuantitatif. Data dikumpulkan melalui tes literasi numerasi berbasis PISA, angket SRL, wawancara mendalam, observasi kelas, FGD, dan analisis dokumen pembelajaran serta kebijakan pendidikan. Validitas instrumen diuji dengan product moment, sedangkan reliabilitas menggunakan Cronbach Alpha. Hasil penelitian menunjukkan 58% peserta didik berada pada level literasi numerasi rendah, 29% berada pada level menengah, dan hanya 13% yang mencapai level tinggi. Sementara itu, kemampuan SRL mayoritas berada pada kategori sedang (67%), dengan 15% rendah dan 17% tinggi. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa implementasi deep learning masih berada pada tahap awal, sehingga dampaknya terhadap penguatan literasi numerasi dan SRL belum optimal. Pemetaan kebutuhan mengindikasikan perlunya penyediaan modul ajar kontekstual berbasis literasi numerasi, pengembangan perangkat refleksi untuk SRL, peningkatan kompetensi pedagogis guru dalam desain pembelajaran deep learning, serta dukungan sarana, kebijakan, dan kemitraan sekolah.