Aditya Lia Ramadona
Universitas Gadjah Mada

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

The Influence of Population Behavior and Settlement Environment on the Incidence of Filariasis in Sigi Regency, Central Sulawesi, Indonesia Santriana, Santriana; Ramadona, Aditya Lia; Gunawan, Gunawan
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN Vol. 16 No. 2 (2024): JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkl.v16i2.2024.118-124

Abstract

Introduction: A health issue is filariasis including in Sigi Regency, brought on by filarial worms and spread by mosquito bites. Filariasis is a parasitic infection that threatens about one-third or 1.3 billion of the world's population in 83 countries that are vulnerable to filariasis. This research intends to examine the impact of behaviour and environment on the occurrence of filariasis in the Sigi Regency. Methods: The study used an observational analytic method with a case control approach, involving 114 people from 13 villages in Sigi Regency, of whom 38 were cases and 76 were controls. The control group is people who live in the same environment as the case group. The data collection methods were a survey and an environmental assessment. Results and Discussions: The logistic regression analysis revealed that the most influential factors for the occurrence of filariasis in endemic regions in Sigi Regency were mosquito breeding sites with Odds Rasio (OR) value =8.57 (2.43-34.33), p-value = <0.001, existence of animal pens with OR value=5.16 (1.15-29.44), p-value = 0.044, and not using anti-mosquito medication with OR value = 6.06 (1.54-27.56), p-value = 0.013. Conclusion: The breeding habitats of disease-transmitting mosquitoes, the presence of animal pens and the habit of not using anti-mosquito medication are the dominant risk factors related to the occurrence of filariasis in endemic regions in the Sigi Regency.
Promosi Kesehatan melalui Media Sosial: Analisis akun X @beacukaiRI dalam konteks cukai rokok di Indonesia Najiyati, Ifa; Mellen, Renie Cuyno; Ramadona, Aditya Lia; Farahdilla, Zakiya Ammalia; Bintoro, Bagas Suryo; Padmawati, Retna Siwi
Preventif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 15 No. 3 (2024): VOLUME 15 NO.3 TAHUN 2024
Publisher : Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/preventif.v15i3.1680

Abstract

Awal tahun 2023, Pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan kenaikan cukai rokok sebesar 10-15 persen (Permenkeu 191/2022). Bea Cukai, sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas penerapan cukai rokok di Indonesia, menggunakan 25% dari pendapatan cukai rokok untuk sektor kesehatan. Namun, masih belum jelas sejauh mana Bea Cukai mempromosikan isu kesehatan sebagai bentuk tanggung jawab dalam mengelola cukai. Penelitian ini bertujuan menyelidiki apakah Bea Cukai mempromosikan isu kesehatan melalui penerapan cukai rokok, dengan menganalisis konten dari akun X (sebelumnya dikenal dengan Twitter) @beacukaiRI. Data dikumpulkan dari akun X @beacukaiRI mulai dari 1 Januari 2020 hingga 4 Mei 2023. Total tweet yang dianalisis sebanyak 3.273, dengan 209 di antaranya mengandung kata "rokok". Konten tweet ini kemudian dianalisis untuk menentukan apakah terdapat pesan yang mempromosikan isu kesehatan masyarakat, terutama dalam konteks penerapan cukai rokok. Analisis data menunjukkan kurangnya bukti yang mendukung advokasi aktif Bea Cukai terhadap isu-isu kesehatan dalam tweet mereka yang membahas rokok. Dari 209 tweet yang mengandung kata "rokok", hanya terdapat dua tweet yang mengandung pesan terkait kesehatan masyarakat. Fokus utama akun X resmi Bea Cukai @beacukaiRI masih pada aspek regulasi cukai. Dalam konteks materi tweet, akun @beacukaiRI dapat memperluas cakupan informasi yang disampaikan kepada masyarakat, tidak hanya terkait penertiban rokok ilegal dan pemalsuan/penyalahgunaan pita cukai. Bea Cukai dapat meningkatkan promosi isu kesehatan masyarakat melalui pesan-pesan yang disampaikan dalam tweet tentang cukai rokok di media sosial, termasuk mengenai risiko dan bahaya rokok ilegal. Kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan juga diperlukan untuk memperkuat upaya dalam promosi kesehatan, edukasi, dan regulasi yang komprehensif terkait konsumsi rokok.