Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

ANALISIS HUBUNGAN LAND SURFACE TEMPERATURE (LST) DAN INDEKS KERAPATAN VEGETASI (NDVI) DAS WANGGU, SULAWESI TENGGARA Vivi Fitriani; La Gandri; Lies Indriyani; Sahindomi Bana; La De Ahmaliun
JURNAL ILMU-ILMU KEHUTANAN Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jiik.7.1.49-57

Abstract

LST and NDVI analysis in Das Wanggu utilizes Landsat 9 satellite remote sensing. LST calculations usde thermal band 10 and NDVI used Red band (Band 4) and InfraRed Band (Band 5). There are 5 LST classes, 17.25 oC -19.66 oC with an area of 908.16 Ha, 19.66 0C-22.08 oC covering 6973.71 Ha, 22.08 oC -24.49 oC covering 21748.26 Ha, 24.49 oC -26.90 oC covering an area of 4235.37 Ha, and 26.90 oC -29.31 oC with a wide coverage of 81.18 Ha, while NDVI values obtained 3 classes namely NDVI <0.2 of 1783.643 Ha, NDVI with a range of 0.2 – 0.5 covering an area of 28617.74 Ha, and areas with NDVI > 0.5 covering an area of 3544.87 Ha. The amount of LST is highly dependent on the type of land cover and land use. NDVI indicates the presence of vegetation in the study area. A negative relationship was found between LST and NDVI in Das Wanggu with a Correlation Coefficient of -0.179.
ANALISIS POTENSI TUMBUHAN OBAT DAN UPAYA KONSERVASINYA DI CAGAR ALAM NAPABALANO Nur Arafah; Basrudin; La De Ahmaliun; Wa Ode Indayani
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 4 No. 1 (2023):
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jc.v4i1.9

Abstract

Tumbuhan obat merupakan komponen utama yang tidak terpisahkan dengan masyarakat sekitar hutan. Masyarakat Kelurahan Napabalano yang berbatasan langsung dengan kawasan Cagar Alam Napabalano telah memanfaatkan keberadaaan Cagar Alam sebagai penghasil dan penyedia tumbuhan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi tumbuhan obat di Kawasan Cagar Alam Napabalano dan upaya konservasi tumbuhan obat oleh masyarakat sekitar Cagar Alam Napabalano. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-Desember 2021. Penelitian ini dilakukan di Kawasan Cagar Alam Napabalano, Kelurahan Napabalano, Kecamatan Napabalano, Kabupaten Muna. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling untuk menentukan jumlah plot yang akan digunakan dalam pengambilan data jenis tumbuhan obat dan identifikasi secara langsung menggunakan buku panduan tumbuhan obat. Hasil penelitian menunjukan, jenis tumbuhan obat yang ditemukan sebanyak 21 jenis spesies dengan 13 famili. Indeks keanekragaman tumbuhan obat pada tingkatan pohon sebesar 2,509 % termasuk kategori sedang dan tingkat semai 0,515% termasuk kategori rendah. Upaya konservasi dilakukan oleh masyarakat secara ex-situ dengan menanam tumbuhan obat di pekarangan dan kebun.
ANALISIS KELAYAKAN AGROWISATA PANGO–PANGO SEBAGAI KAWASAN EKOWISATA DI KELURAHAN TOSAPAN, KABUPATEN TANA TORAJA Nur Arafah; Lies Indriyani; Edwin Octavan Mapandin; La De Ahmaliun
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4, No 2 (2023): Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jc.v4i2.55

Abstract

Kawasan Agrowisata Pango-pango terletak di Kelurahan Tosapan Kabupaten Tana Toraja. Kawasan ini memiliki keindahan alam karena posisinya berada pada ketinggian. Dalam kawasan agrowisata Pango-Pango terdapat penerapan aplikasi agroforestry oleh masyarakat. Agrowisata pango-pango memiliki prinsip pelestarian lingkungan, kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat serta pelestarian adat dan budaya. Kawasan Agrowisata Pango-Pango berada jauh dari Ibu Kota Provinsi yaitu berjarak 284 Km. walaupun agrrowisata Pango-pango jauh dari ibukota, tetapi akses ke lokasi mudah diakses oleh pengunjung. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui indeks kelayakan Agrowisata Pango-pango sebagai kawasan ekowisata. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan wawancara terstruktur dengan responden. Jenis penelitian yaitu penelitian kuantitatif dan kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat Kelurahan Tosapan berjumlah 1194 jiwa dengan jumlah sampel 43 jiwa, pengunjung 21 jiwa dan Pemerintah yaitu Lurah Tosapan, dan kepala Dinas Pariwisata Tana Toraja. Variabel dalam penelitian ini menggunakan Pedoman Analisis Daerah Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA) Dirjen PHKA tahun 2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kriteria daya tarik mencapai 70,83%, aksesibilitas 47,22%, akomodasi 100%, sarana dan prasarana 100%, keamanan 79,16%, kondisi lingkungan masyarakat 83,33%, dan hubungan dengan objek wisata lain 77,21%. Berdasarkan analisis ADOTWA, Kawasan Agrowisata Pango-pango layak untuk dikembangkan dengan tingkat kelayakan sebesar 72,59%. Namun, dari kriteria aksesibilitas belum layak karena kondisi jalan menuju objek wisata masih belum memadai dan jarak dari Ibu Kota ke objek wisata diaktegorikan jauh. Kata kunci: analisis kelayakan, agrowisata, ekowisata, wisata, Pango-Pango
KOMPOSISI DAN STRUKTUR VEGETASI HUTAN MANGROVE DI KELURAHAN TAMPO KECAMATAN NAPABALANO KABUPATEN MUNA abdul sakti; Sahindomi Bana; Nurhayati Hadjar; La de Ahmaliun; Arniawati arniawati; sarwinda intan putri
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to identify the composition and structure of mangrove vegetation and measure species diversity in Tampo Village, Napabalano District, Muna Regency, Southeast Sulawesi. Data collection was carried out by the plotted line method, using transects from the sea to the mainland. The parameters analyzed included density, frequency, and dominance which were then used to calculate the Important Value Index (INP) and the Shannon-Wiener Diversity Index (H'). The results showed species diversity at varying growth rates, from low to moderate, with the type Avicennia sp. show significant dominance. The H' diversity value ranged from 0.60 to 2.02, indicating that the habitat was in a stable condition without major constraints. The tree's life tier has good ecosystem resilience, allowing for quick recovery after disturbances. Species dominance Avicennia sp. indicates strong adaptability and competitiveness in the local environment, which plays an important role in ecosystem stability. These findings highlight the importance of sustainable management of mangrove ecosystems to protect biodiversity and coastal ecosystems in the region
STUDI KEANEKARAGAMAN DAN DISTRIBUSI HABITAT MANGROVE DI SEKITAR KAWASAN WISATA AIR PANAS WAWOLESEA KECAMATAN WAWOLESEA KABUPATEN KONAWE UTARA Umar Ode Hasani; Basrudin; Alamsyah Flamin; Abdul Manan; La De Ahmaliun; Prediyanto
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi khas di wilayah pesisir tropis yang tumbuh pada lingkungan yang lembap dan berlumpur serta dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Zonasi mangrove mengacu pada pola distribusi kelompok jenis mangrove yang tersusun secara tegak lurus terhadap garis pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis mangrove beserta habitatnya di sekitar Kawasan Wisata Air Panas Wawolesea, Kecamatan Wawolesea, Kabupaten Konawe Utara. Penelitian dilaksanakan di hutan mangrove Desa Wawolesea, Kecamatan Wawolesea, Kabupaten Konawe Utara pada bulan Januari hingga Februari 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh area hutan mangrove seluas 37,61 hektare. Sampel penelitian meliputi seluruh jenis mangrove yang terdapat dalam petak pengamatan. Intensitas pengambilan sampel yang digunakan sebesar 2% dari luas populasi, yaitu seluas 0,75 hektare. Pengumpulan data dilakukan dengan metode garis berpetak (line transect), di mana penempatan plot pertama dilakukan secara purposive sampling agar dapat mewakili setiap zona vegetasi mangrove yang terbagi dalam tiga transek. Setiap transek terdiri atas enam plot pengamatan berukuran 20 m x 20 m, sehingga jumlah total plot pengamatan adalah 18 plot. Pengambilan sampel substrat dilakukan pada setiap plot untuk dianalisis di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 11 jenis mangrove yang terdiri atas 8 jenis mangrove sejati dan 3 jenis mangrove asosiasi, yang termasuk ke dalam 8 famili, ditemukan di sekitar Kawasan Wisata Air Panas Wawolesea, Kecamatan Wawolesea, Kabupaten Konawe Utara. Jenis-jenis tersebut adalah Sonneratia alba, Xylocarpus granatum, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Ceriops tagal, Heritiera littoralis, Avicennia lanata, Nypa fruticans, Acanthus ilicifolius, dan Acrostichum speciosum. Habitat mangrove di lokasi penelitian meliputi jenis tanah lempung berliat, liat, pasir berlempung, lempung berdebu, lempung liat berdebu, dan lempung berpasir. Kata Kunci: Air Panas. Distribusi, Habitat, Keanekaragaman, Mangrove
PERAN MODAL SOSIAL DALAM PENGELOLAAN HUTAN KEMASYARAKATAN (HKm): STUDI KASUS MASYARAKAT DESA ULUSENA, KECAMATAN MORAMO, KABUPATEN KONAWE SELATAN La De Ahmaliun; Nur Arafah; Sarwinda Intan Putri; Dewi Fitriani; Andi Jumhana
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran modal sosial dalam pengelolaan Hutan Kemasyarakatan di Desa Ulusena, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan. Modal sosial, yang terdiri dari kepercayaan, jaringan sosial, dan hubungan timbal balik, diyakini memiliki peran krusial dalam mendukung keberlanjutan pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, di mana data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan penyebaran kuesioner kepada 33 responden yang merupakan anggota Kelompok Tani Hutan di Desa Ulusena. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan skala Likert untuk mengukur persepsi responden terhadap elemen-elemen modal sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan antar anggota kelompok, jaringan sosial yang terbentuk, dan hubungan timbal balik memiliki pengaruh positif terhadap efektivitas pengelolaan Hutan Kemasyarakatan di Desa Ulusena. Modal sosial yang meliputi kepercayaan, jaringan sosial dan hubungan timbal balik menunjukkan bahwa modal sosial yang dimiliki oleh masyarakat Desa Ulusena dalam pengelolaan HKm dikategorikan baik. Implikasi dari temuan ini adalah pentingnya memperkuat modal sosial untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan, serta mendorong program-program pemberdayaan yang berfokus pada pengembangan kapasitas sosial dan kelembagaan lokal.
KEARIFAN LOKAL KEARIFAN LOKAL SUKU TOLAKI DALAM PEMANFAATAN TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT OLEH MASYARAKAT DESA RORAYA, KECAMATAN TINANGGEA, KABUPATEN KONAWE SELATAN : KEARIFAN LOKAL TUMBUHAN OBAT Mariana Zainun; Basruddin; Nur Arafah; La De Ahmaliun
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Volume 6 no 2 tahun 2025
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65078/jc.v6i2.215

Abstract

Abstrak: Tumbuhan obat telah lama digunakan sebagai sumber pengobatan tradisional oleh berbagai kebudayaan di seluruh dunia. Tumbuhan obat adalah kekayaan alam yang mengandung senyawa bioaktif yang membantu mengobati berbagai penyakit, dari yang ringan hingga yang serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan berkhasiat obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Roraya Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan dan untuk mengetahui kearifan lokal masyarakat Suku Tolaki dalam memanfaatkan tumbuhan berkhasiat obat. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Roraya, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Sedangkan waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Januari sampai Februari 2025. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif yakni mendeskripsikan ciri-ciri morfologi dan jenis tumbuhan yang dijumpai diloksi penelitian. Terdapat 26 jenis tumbuhan berkhasiat obat yang dimanfaatkan oleh Masyarakat Desa Roraya yaitu kumis Kucing, Kunyit, jahe, temulawak, Sambiloto, kunyit putih, Akar Alang-alang, serei, Daun Salam, klorofil, jambu biji, Daun Sirih, jeruk nipis, ciplukan, Daun Pare, Pecah Beling, Daun Pepaya, Brotowali, Pinang, kersen, Daun Sirsak, mengkudu, Manggis, kayu jawa, pandan, kelapa dan Kepercayaan Masyarakat dalam pengobatan tradisional sangat kuat yang dilakukan oleh seorang Batra/dukun (mbu’ uwai), setiap kali melakukan pengobatan penyakit terdapat beberapa ritual pengobatan yaitu setiap tumbuhan obat yang dipetik selalu di ucapkan doa/mantra. Mantra yang biasa di ucapkan pada saat mengambil tumbuhan obat yaitu mengucapkan sholawat sesuai dengan jumlah tumbuhan yang dipetik, misalnya 7 lembar daun yang dipetik berarti 7 kali juga bersholawat setelah itu dibacakan dengan surah Al-Ikhlas. Selanjutnya pengobatan terhadap pasien yang menderita penyakit magis (pelanggaran tata cara hidup di alam) yaitu Bismillahirrahmanirrahim karna’allah tanawa barkati doa barkati inggoo’ nabi mohama tawaro allah tamamila tamudili inggoo’ pondian langabala’. Mantra ini dibacakan pada segelas air minum kemudian diberikan kepada pasien untuk diminum.