Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

KAJIAN PENGELOLAAN KOLABORASI TAMAN HUTAN RAYA NIPA-NIPA Arniawati Arniawati; Nur Arafah; Satya Agustina Laksananny
Jurnal Ecogreen Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.905 KB)

Abstract

Sejak dikeluarkannya perda No. 5 tahun 2007 yang mengatur pengelolaan blok khusus pada Taman Hutan Raya Nipa-nipa, permasalahan antara masyarakat dan pemerintah belum selesai. Bentuk pengelolaan masih menjadi permasalahan sehingga perlu dilakukan penelitian. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan data-data dan penjelasan tentang keadaan sosial ekonomi masyarakat pengelola blok khusus, mendapatkan data dan penjelasan tentang faktor internal dan faktor eksternal dan   merumuskan strategi pengelolaan blok khusus Tahura Nipa-nipa.Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda survei dengan cara pengambilan data menggunakan sensus pada KTPH Tumbuh Subur dan purposive sampling untuk informan stakeholder lainnya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur dan pengamatan langsung di lapangan. Data kemudian dianalisis secara deskriptif dan ananlsis SWOT                 Hasil analisis diperoleh bahwa pada KTPH Tumbuh Subur ketersediaan tenaga produktif mencapai 94,74% , tingkat pendidikan berada pada kategori rendah mencapai 68,42% , sebanyak 94,75%  responden pada  KTPH Tumbuh Subur berprofesi di sektor jasa dan Pemerintah  (5,26%). Dominasi jumlah tanggungan keluarga pada KTPH  adalah  tiga sampai empat orang , sebanyak 57,63% responden mempunyai pendapatan rumah tangga berada dibawah UMR kota Kendari. Organisasi pada KTPH  tidak aktif dan tidak berkembang. Kesemuanya itu menjadi pertimbangan dalam perencanaan strategis pengelolaan kolaborasi  Tahura Nipa-nipa. Kolaborasi pengelolaan blok khusus sangat dipengaruhi oleh faktor internal (masyarakat dan pengelola) dan faktor eksternal (pihak lain selain masyarakat dan pengelola). Strategi yang diterapkan dalam pengelolaan kolaborasi adalah legalitas hak kelola masyarakat, komitmen bersama mengenai model dan kriteria pengelolaan, penyebarluasan hasil kesepakatan, peningkatan kapasitas SDM baik itu masyarakat maupun pihak penelola, penerapan teknologi dengan agroforestry, dan koordinasi serta komunikasi reguler antara masyarakat dan pihak UPTD Tahura Nipa-nipa. Kata kunci : Tahura Nipa-nipa, blok khusus, pengelolaan, kolaborasi, strategi
KAJIAN TERHADAP POTENSI BAHAYA SENYAWA FENOL DI PERAIRAN LAUT WANGI-WANGI Sunarwan Asuhadi; Nur Arafah; Andi Besse Amir
Jurnal Ecogreen Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.813 KB)

Abstract

ABSTRACTThis study aims to describe the potential of phenol compounds contamination in Wangi-Wangi sea and study the source of the causes. This study uses a descriptive approach. Data collected includes primary data and secondary data. The results showed that the increasing concentration of phenol compounds in Wangi-Wangi sea was indicated to come from oil spills, both from the activities of ships and fishermen, as well as the use of hazardous materials for fishing activities. Efforts are needed to prevent and restore the quality of Wangi-Wangi sea, namely through changes behavior of the people, legal approaches, and technology implementation. Keywords : Phenol compounds, oil spills, pestiside, Wangi-Wangi sea ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan potensi kontaminasi senyawa fenol di perairan laut Wangi-Wangi dan kajian sumber penyebabnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya konsentrasi senyawa fenol di perairan laut Wangi-Wangi diindikasikan berasal dari tumpahan minyak, baik dari kegiatan kapal maupun nelayan, serta penggunaan bahan berbahaya untuk kegiatan penangkapan ikan. Diperlukan upaya untuk mencegah dan memulihkan kualitas air laut Wangi-Wangi, yaitu melalui perubahan perilaku masyarakat, pendekatan hukum, dan implementasi teknologi. Keywords : Senyawa fenol, tumpahan minyak, pestisida, Perairan Laut Wangi-Wangi
INDEKS KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP KECAMATAN WANGI-WANGI SELATAN KABUPATEN WAKATOBI Sunarwan Asuhadi; Nur Arafah
Jurnal Ecogreen Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.416 KB)

Abstract

ABSTRACTThis study uses quantitative approach to calculate Environmental Quality Index (EQI) of Wangi-Wangi Selatan Subdistrict. This research data is sourced from secondary data. EQI is calculated based on the Water Pollution Index (WPI), Air Pollution Index (API), and Forest Cover Index (FCI). The calculation results show that the WPI is 50.00, the API is 28.04, and FCI is 48.40. Of the three indexes are produced EQI of 42.77, which means that EQI of Wangi-Wangi Selatan Subdistrict is in the category 'enough'. Therefore each stakeholders can contribute collaboratively in improving the index status through improving the quality of each index, ie Water Pollution Index, Air Pollution Index, and Forest Cover Index, in a way handling of water and air pollution sources, and greening of  unproductive lands. Keywords : Index, Environment,Pollution                                                                                 ABSTRAKPenelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menghitung Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Kecamatan Wangi-Wangi Selatan. Data penelitian ini bersumber dari data sekunder. IKLH dihitung berdasarkan Indeks Pencemaran Air (IPA), Indeks Pencemaran Udara (IPU), dan Indeks Tutupan Hutan (ITH). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa IPA sebesar 50.00, IPU sebesar 28.04, dan ITH sebesar 48.40. Dari ketiga indeks tersebut dihasilkan IKLH sebesar 42.77, yang bermakna bahwa IKLH Kecamatan Wangi-Wangi Selatan berada pada kategori ‘cukup’. Untuk itu masing-masing stakeholder dapat berkontribusi secara kolaboratif dalam meningkatkan status indeks tersebut dengan upaya menaikkan kualitas masing-masing indeks, yakni Indeks Pencemaran Air, Indeks Pencemaran Udara, dan Indeks Tutupan Hutan, melalui penanganan sumber-sumber pencemaran air dan udara, serta penghijauan lahan-lahan tidak produktif. Kata kunci : Indeks, Lingkungan, Pencemaran.
DESKRIPSI SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT DESA HUTAN GUNUNG MEKONGGA Nur Arafah; Alamsyah Flamin; Arniawati Arniawati; Muhafidz Muhafidz
Jurnal Ecogreen Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.91 KB)

Abstract

This study aims to determine the social cultural condition of Tinukai village in Mekongga Mountain Forest preservation that was condition in Tinukari village Wawo sub-district, North Kolaka which lasted for 2 months, May to June by sowball sampling technique. The result of that stydy shows that Tinukari village is inhabited by indigous people of Tolaki Mekongga since the 1980s, and by 1990s in Tinukari was began inhabited by several migrants ethnic south Sulawesi such the Bugis (Luwu and Sinjai) Makassar, Toraja and Kajang, and 1997 the Tinukari Village was definitifly estabilished. The Tinukari Villagers belief system is based on islamic belief. In the social and cultural interaction, the formal social stratifition only recognize head of the village (kepala desa) religious figures, and costume leaders. The social of society appears in the from of cooperation, competition, conflict and accomodation. Patterns leadership in social structure Tinukari consist of administrative leadership, traditional leadership, and religious leadership. Institutions an sanction (law) hat exist in the community in the form of goverment institutions, religious institutions and customary structures. Natural resources governance that recognized by the community include the state forest to open and clear he land for plantations and agriculture initiated by their parents as normadic society (normad). There are no writen rules in utilization of land resources but depends only on awareness of social norms and respect the nature values. Those who violate the norms could be given a reprimand the nature communities members and local goverment. Keywords: Social Culture, Society, Forest, Gunung Mekongga
Penguatan Organisasi Kelompok Remaja Peduli Lingkungan Sekitar Kawasan Hutan Nur Arafah; Umar Ode Hasani; Sahindomi Bana; Lade Ahmaliun; La Gandri; La Baco Sudia; Kahirun Kahirun; Vivi Fitriani; Lies Indriyani
GERVASI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2023): GERVASI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/gervasi.v7i1.4887

Abstract

Kaderisasi kelompok remaja dipandang perlu untuk meningkatkan kesadaran cinta alam dan tanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan di Suaka Margasatwa Tanjung Peropa. Tujuan kegiatan penguatan organisasi kelompok remaja adalah untuk membentuk dan menguatkan kelompok remaja peduli lingkungan. Kegiatan dilaksanakan di Desa Laonti dan Desa Puundirangga, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan yang berbatasan langsung dengan Suaka Margasatwa Tanjung Peropa. Metode yang digunakan pada kegiatan adalah pendekatan partisipatif dan melibatkan semua remaja di dua Desa. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penguatan kelompok remaja peduli lingkungan terdiri dari lima kegiatan yang terintegrasi yaitu orientasi masalah lapangan, sosialisasi peran kelompok peduli lingkungan di instansi pendidikan, pembentukan dan penguatan kelompok peduli lingkungan, sosialisasi penguatan organisasi kelompok peduli lingkungan dan pelatihan konservasi melalui aksi peduli lingkungan. Program penguatan kelompok organisasi peduli lingkungan terlaksana dengan baik dan memberikan dampak positif berupa terbentuknya kelompok remaja peduli lingkungan di Desa Puundirangga dan Desa Laonti masing-masing empat kelompok remaja peduli lingkungan yang terdiri dari 4-5 orang/kelompok.
ANALISIS POTENSI TUMBUHAN OBAT DAN UPAYA KONSERVASINYA DI CAGAR ALAM NAPABALANO Nur Arafah; Basrudin; La De Ahmaliun; Wa Ode Indayani
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 4 No. 1 (2023):
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jc.v4i1.9

Abstract

Tumbuhan obat merupakan komponen utama yang tidak terpisahkan dengan masyarakat sekitar hutan. Masyarakat Kelurahan Napabalano yang berbatasan langsung dengan kawasan Cagar Alam Napabalano telah memanfaatkan keberadaaan Cagar Alam sebagai penghasil dan penyedia tumbuhan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi tumbuhan obat di Kawasan Cagar Alam Napabalano dan upaya konservasi tumbuhan obat oleh masyarakat sekitar Cagar Alam Napabalano. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-Desember 2021. Penelitian ini dilakukan di Kawasan Cagar Alam Napabalano, Kelurahan Napabalano, Kecamatan Napabalano, Kabupaten Muna. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling untuk menentukan jumlah plot yang akan digunakan dalam pengambilan data jenis tumbuhan obat dan identifikasi secara langsung menggunakan buku panduan tumbuhan obat. Hasil penelitian menunjukan, jenis tumbuhan obat yang ditemukan sebanyak 21 jenis spesies dengan 13 famili. Indeks keanekragaman tumbuhan obat pada tingkatan pohon sebesar 2,509 % termasuk kategori sedang dan tingkat semai 0,515% termasuk kategori rendah. Upaya konservasi dilakukan oleh masyarakat secara ex-situ dengan menanam tumbuhan obat di pekarangan dan kebun.
ANALISIS KELAYAKAN AGROWISATA PANGO–PANGO SEBAGAI KAWASAN EKOWISATA DI KELURAHAN TOSAPAN, KABUPATEN TANA TORAJA Nur Arafah; Lies Indriyani; Edwin Octavan Mapandin; La De Ahmaliun
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4, No 2 (2023): Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jc.v4i2.55

Abstract

Kawasan Agrowisata Pango-pango terletak di Kelurahan Tosapan Kabupaten Tana Toraja. Kawasan ini memiliki keindahan alam karena posisinya berada pada ketinggian. Dalam kawasan agrowisata Pango-Pango terdapat penerapan aplikasi agroforestry oleh masyarakat. Agrowisata pango-pango memiliki prinsip pelestarian lingkungan, kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat serta pelestarian adat dan budaya. Kawasan Agrowisata Pango-Pango berada jauh dari Ibu Kota Provinsi yaitu berjarak 284 Km. walaupun agrrowisata Pango-pango jauh dari ibukota, tetapi akses ke lokasi mudah diakses oleh pengunjung. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui indeks kelayakan Agrowisata Pango-pango sebagai kawasan ekowisata. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan wawancara terstruktur dengan responden. Jenis penelitian yaitu penelitian kuantitatif dan kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat Kelurahan Tosapan berjumlah 1194 jiwa dengan jumlah sampel 43 jiwa, pengunjung 21 jiwa dan Pemerintah yaitu Lurah Tosapan, dan kepala Dinas Pariwisata Tana Toraja. Variabel dalam penelitian ini menggunakan Pedoman Analisis Daerah Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA) Dirjen PHKA tahun 2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kriteria daya tarik mencapai 70,83%, aksesibilitas 47,22%, akomodasi 100%, sarana dan prasarana 100%, keamanan 79,16%, kondisi lingkungan masyarakat 83,33%, dan hubungan dengan objek wisata lain 77,21%. Berdasarkan analisis ADOTWA, Kawasan Agrowisata Pango-pango layak untuk dikembangkan dengan tingkat kelayakan sebesar 72,59%. Namun, dari kriteria aksesibilitas belum layak karena kondisi jalan menuju objek wisata masih belum memadai dan jarak dari Ibu Kota ke objek wisata diaktegorikan jauh. Kata kunci: analisis kelayakan, agrowisata, ekowisata, wisata, Pango-Pango
PERAN MODAL SOSIAL DALAM PENGELOLAAN HUTAN KEMASYARAKATAN (HKm): STUDI KASUS MASYARAKAT DESA ULUSENA, KECAMATAN MORAMO, KABUPATEN KONAWE SELATAN La De Ahmaliun; Nur Arafah; Sarwinda Intan Putri; Dewi Fitriani; Andi Jumhana
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 1 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran modal sosial dalam pengelolaan Hutan Kemasyarakatan di Desa Ulusena, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan. Modal sosial, yang terdiri dari kepercayaan, jaringan sosial, dan hubungan timbal balik, diyakini memiliki peran krusial dalam mendukung keberlanjutan pengelolaan hutan secara berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, di mana data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan penyebaran kuesioner kepada 33 responden yang merupakan anggota Kelompok Tani Hutan di Desa Ulusena. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan skala Likert untuk mengukur persepsi responden terhadap elemen-elemen modal sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan antar anggota kelompok, jaringan sosial yang terbentuk, dan hubungan timbal balik memiliki pengaruh positif terhadap efektivitas pengelolaan Hutan Kemasyarakatan di Desa Ulusena. Modal sosial yang meliputi kepercayaan, jaringan sosial dan hubungan timbal balik menunjukkan bahwa modal sosial yang dimiliki oleh masyarakat Desa Ulusena dalam pengelolaan HKm dikategorikan baik. Implikasi dari temuan ini adalah pentingnya memperkuat modal sosial untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan, serta mendorong program-program pemberdayaan yang berfokus pada pengembangan kapasitas sosial dan kelembagaan lokal.
KEARIFAN LOKAL KEARIFAN LOKAL SUKU TOLAKI DALAM PEMANFAATAN TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT OLEH MASYARAKAT DESA RORAYA, KECAMATAN TINANGGEA, KABUPATEN KONAWE SELATAN : KEARIFAN LOKAL TUMBUHAN OBAT Mariana Zainun; Basruddin; Nur Arafah; La De Ahmaliun
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): Celebica Jurnal Kehutanan Volume 6 no 2 tahun 2025
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65078/jc.v6i2.215

Abstract

Abstrak: Tumbuhan obat telah lama digunakan sebagai sumber pengobatan tradisional oleh berbagai kebudayaan di seluruh dunia. Tumbuhan obat adalah kekayaan alam yang mengandung senyawa bioaktif yang membantu mengobati berbagai penyakit, dari yang ringan hingga yang serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan berkhasiat obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Roraya Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan dan untuk mengetahui kearifan lokal masyarakat Suku Tolaki dalam memanfaatkan tumbuhan berkhasiat obat. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Roraya, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Sedangkan waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Januari sampai Februari 2025. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif yakni mendeskripsikan ciri-ciri morfologi dan jenis tumbuhan yang dijumpai diloksi penelitian. Terdapat 26 jenis tumbuhan berkhasiat obat yang dimanfaatkan oleh Masyarakat Desa Roraya yaitu kumis Kucing, Kunyit, jahe, temulawak, Sambiloto, kunyit putih, Akar Alang-alang, serei, Daun Salam, klorofil, jambu biji, Daun Sirih, jeruk nipis, ciplukan, Daun Pare, Pecah Beling, Daun Pepaya, Brotowali, Pinang, kersen, Daun Sirsak, mengkudu, Manggis, kayu jawa, pandan, kelapa dan Kepercayaan Masyarakat dalam pengobatan tradisional sangat kuat yang dilakukan oleh seorang Batra/dukun (mbu’ uwai), setiap kali melakukan pengobatan penyakit terdapat beberapa ritual pengobatan yaitu setiap tumbuhan obat yang dipetik selalu di ucapkan doa/mantra. Mantra yang biasa di ucapkan pada saat mengambil tumbuhan obat yaitu mengucapkan sholawat sesuai dengan jumlah tumbuhan yang dipetik, misalnya 7 lembar daun yang dipetik berarti 7 kali juga bersholawat setelah itu dibacakan dengan surah Al-Ikhlas. Selanjutnya pengobatan terhadap pasien yang menderita penyakit magis (pelanggaran tata cara hidup di alam) yaitu Bismillahirrahmanirrahim karna’allah tanawa barkati doa barkati inggoo’ nabi mohama tawaro allah tamamila tamudili inggoo’ pondian langabala’. Mantra ini dibacakan pada segelas air minum kemudian diberikan kepada pasien untuk diminum.