Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : JURNAL ISTEK

MENINJAU BUKTI ILMIAH KEKUATAN BESI MENURUT CARA PANDANG ILMU KIMIA DAN SAINS YANG BERKAITAN BESERTA BEBERAPA KONSEKUENSINYA SEBAGAIMANA DISEBUT DALAM AL QURAN QS. AL HADIID:25 Dede Suhendar
JURNAL ISTEK Vol 5, No 1-2 (2011): ISTEK
Publisher : JURNAL ISTEK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kauniyah verses of iron in the Qur'an Surah Al Hadiid, Verse 25, in particular, has not been widely studied in the perspective of chemistry, let the problems associated with its implementation according to what is listed in the verse. In this paper, we discussed about of “great strength of iron” in the verse from the viewpoint of modern chemistry supported with findings of iron in other scientific disciplines are closely related with, as in Geology, Physics, Biology and Materials Science. In this paper, we also discussed the meaning of the next sentence of the verse "...and that Allah may know who is helping (religion) Him and His apostles but God has not seen." The discussion is limited to a review of the nuclear chemistry (nuclides), chemical structure, magnetic, and chemical bonding properties. We can be concluded that the iron does have remarkable properties leading to iron predicate as stated in the verse. The facts of iron are following: (1) Iron is an element with isotopes that have the most stable nucleus of all the existing elements; (2) Iron has metal structure (polymorph) that adaptive to the presence of other metal/s or elements in its structure, so it can be made many variations of steel/alloy; (3) Iron has the strongest magnetic effect on life on earth; and (4) The nature of the bonds formed between the iron with organic compounds of iron proved a major role in biochemical processes. Finally, the great strength of the iron phenomenon has consequences as a reflection of Muslims in order to use it in various forms that lead to the establishment of Islamic symbols.
UJI AKTIVITAS DAYA ANTIOKSIDAN BIOPIGMEN PADA FRAKSI ASETON DARI MIKROALGA Chlorella vulgaris Tina Dewi Rosahdi; Yuli Susanti; Dede Suhendar
JURNAL ISTEK Vol 9, No 1 (2015): ISTEK
Publisher : JURNAL ISTEK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biopigmen merupakan pewarna alami yang dihasilkan dari organisme hidup. Sayuran dan buah-buahan merupakan sumber biopigmen, selain itu mikroalga pada saat ini juga merupakan sumber biopigmen yang potensial. Mikroalga Chlorella vulgaris adalah jenis ganggang hijau atau Chlorophyta yang diketahui sebagai sumber biopigmen, yaitu klorofil yang digunakan pada proses fotosintesis. Peran biopigmen bagi manusia salah satunya adalah sebagai antioksidan. Antioksidan yaitu senyawa yang pada konsentrasi rendah dapat mencegah atau memperlambat reaksi oksidasi yang disebabkan oleh radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan dan jenis biopigmen serta aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (diphenilpycrylhydrazil). Ekstraksi biopigmen dari Chlorella vulgaris dilakukan dengan metode maserasi menggunakan aseton. Kemudian dilakukan kromatografi lapis tipis untuk mengidentifikasi keberadaan biopigmen dan spektrofotometer UV-Vis untuk penentuan secara kuantitatif jenis biopigmen yang terdapat pada mikroalga Chlorella vulgaris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biopigmen yang terkandung dari mikroalga Chlorella vulgaris adalah klorofil. Nilai IC50 vitamin C sebagai pembanding diperoleh sebesar 20.14 ppm sedangkan nilai IC50 dari fraksi aseton sebesar 57,25 ppm. Hasil ini menunjukkan bahwa untuk meredam radikal bebas sebesar 50% membutuhkan konsentrasi antioksidan sebesar 57,25 ppm.
KORELASI KANDUNGAN BESI TERLARUT TERHADAP KELIMPAHAN Phytoconis sp. PADA PERAIRAN SITU CIBURUY KABUPATEN BANDUNG BARAT Ateng Supriyatna; R. D. Ramdani Ramdani; Dede Suhendar Suhendar
JURNAL ISTEK Vol 7, No 1 (2013): ISTEK
Publisher : JURNAL ISTEK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Besi merupakan unsur kimia yang dapat ditemui hampir di semua tempat di muka bumi, pada semua bagian lapisan geologis dan semua badan air. Besi berperan sebagai penyusun sitokrom dan klorofil bagi tumbuhan akuatik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kandungan besi terlarut terhadap kelimpahan Phytoconis sp. pada perairan Situ Ciburuy Kabupaten Bandung Barat. Besi sebagai [Fe(CH3COO)6]3- juga digunakan dalam analisis perlakuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi besi terhadap kelimpahan Phytoconis sp. dalam periode 5 hari. Spektrofotometer Serapan Atom digunakan sebagai instrumen pengujian kadar besi terlarut, sedangkan mikroskop binokuler dan hemasitometer digunakan untuk menghitung kelimpahan Phytoconis sp. tidak hanya untuk sampel kontrol tetapi juga pada masing-masing sampel perlakuan selama periode 5 hari. Pengambilan data dari 10 titik pengamatan menghasilkan nilai korelasi sebesar 0,963 yang berarti mempunyai korelasi yang sangat kuat antara kandungan besi terlarut terhadap kelimpahan Phytoconis sp. Semua konsentrasi besi (0.385, 0.791, 1.291, 1.979, dan 2.343 ppm) meningkatkan kelimpahan Phytoconis sp., kelimpahan yang paling baik yaitu pada konsentrasi 0,385 ppm. Kedua hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan besi terlarut sangat berpengaruh terhadap kelimpahan Phytoconis sp. pada perairan Situ Ciburuy.
Sintesis Nanokomposit g-Al2O3-Fe2O3 untuk Adsorpsi wj Logam Cr(VI) Rika Rahmawati; Dede Suhendar
JURNAL ISTEK Vol 8, No 1 (2014): ISTEK
Publisher : JURNAL ISTEK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

wp Penanganan limbah yang mengandung logam berat sering kali memerlukan biaya yang tidak murah. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis adsorben berskala nanometer berbahan murah dan metode sintesis dan uji aplikasinya yang sangat sederhana, yakni nanokomposit g-Al2O3-Fe2O3 untuk adsorben Cr(VI). Larutan Al(OH)3 dicampur dengan larutan amoniak sampai pH 4, kemudian ke dalamnya dicampurkan sukrosa dan FeCl3 sampai homogen (perbandingan mol Al(OH)3 : 0,25 FeCl3 : 0,33). Campuran tersebut dipanaskan pada suhu 120 °C sambil pengadukan sampai volumenya menjadi sekitar 2/3-nya, kemudian dipanaskan kembali pada 200 °C selama 24 jam. Padatan berbentuk butiran-butiran berwarna coklat yang dihasilkan kemudian digerus halus dan dicampur dengan kerosen secara homogen. Campuran diuapkan sampai kerosen habis. Serbuk halus berwarna coklat yang dihasilkan kemudian dikalsinasi pada suhu 800 °C selama 4 jam. Berdasarkan hasil analisis XRD diperoleh bahwa sintesis tersebut menghasilkan produk campuran yang didominasi fasa g-Al2O3 dengan kristalinitas rendah yang menunjukkan terbentuknya nanokomposit. Larutan K2Cr2O7 telah digunakan sebagai model larutan yang mengandung Cr(VI) untuk pengujian sifat adsorben nanokomposit tersebut. 2 gram nanokomposit diaduk dengan larutan K2Cr2O7 dengan konsentrasi Cr(VI) 56,7 ppm pada suasana asam (pH 2) sebanyak 50 mL pada variasi waktu 1 – 24 jam. Hasil kontak menunjukkan bahwa lamanya waktu kontak tidak memberikan perbedaan yang signifikan namun secara keseluruhan diperoleh rata-rata adsorpsi Cr(VI) sekitar 82,5% setelah pengadukan awal selama 1 jam. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa nanokomposit g-Al2O3-Fe2O3 sangat efektif dan efisien sebagai adsorben zat pencemar Cr(VI) karena biaya bahan dan sintesisnya sangat murah, sifat mengadsorpsinya cepat, dan mengadsorpsi cukup banyak Cr(VI).
FIKIH (FIQH) AIR DAN TANAH DALAM TAHARAH (THAHARAH) MENURUT PERSPEKTIF ILMU KIMIA Dede Suhendar
JURNAL ISTEK Vol 10, No 1 (2017): ISTEK
Publisher : JURNAL ISTEK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ilmu kimia merupakan ilmu alam yang mempelajari sifat-sifat benda dan perubahannya. Karena objek studinya itu, fikih air dan tanah dalam taharah dapat didekati pemahamannya melalui perspektif ilmu kimia. Batasan volume air tergenang dan air mengalir untuk wudhu dipahami agar air tetap bersih dan memberikan efek pembersihan (penyucian) dan sebagai antisipasi penggunaan air yang tercemar. Dalam air yang volumenya lebih banyak memungkinkan air dapat mengencerkan konsentrasi najis dan polutan lainnya, sedangkan dalam air yang mengalir memungkinkan air mendapatkan suplai oksigen lebih banyak dan menambah kemungkinan pelepasan zat-zat volatil berbahaya dari badan air. Analog dengan debu tanah untuk tayamum, debu tanah yang digunakan adalah debu tanah yang bersih karena memiliki daya pembersihan terhadap hal-hal yang dapat mengganggu kesehatan kulit, terutama wajah dan tangan. Lebih lanjut, penggunaan tanah dalam penyucian benda yang dijilat anjing menunjukkan makna tanah sesungguhnya berdasarkan representasi kandungan utama tanah itu sendiri, yakni mineral-mineral silika, silikat dan aluminosilikat.
STUDI KARAKTERISTIK SILIKA GEL HASIL SINTESIS DARI ABU AMPAS TEBU DENGAN VARIASI KONSENTRASI ASAM KLORIDA Maulana Yusuf; Dede Suhendar; Eko Prabowo Hadisantoso
JURNAL ISTEK Vol 8, No 1 (2014): ISTEK
Publisher : JURNAL ISTEK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abu ampas tebu merupakan limbah sisa pembakaran ampas tebu, apabila tidak dimanfaatkan dapat mencemari lingkungan sekitar. Kandungan silika yang cukup tinggi pada abu ampas tebu berpotensi untuk digunakan sebagai bahan baku pada pembuatan silika gel. Pada penelitian ini telah dilakukan sintesis dan karakterisasi silika gel dari abu ampas tebu menggunakan metode sol−gel. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis silika gel dari abu ampas tebu dan mempelajari karakteristiknya. Penelitian ini diawali dengan pengabuan arang ampas tebu, dilanjutkan dengan pencucian abu ampas tebu dengan larutan asam klorida, dan pembuatan larutan natrium silikat dengan melarutkan abu ampas tebu ke dalam larutan natrium hidroksida dengan pengadukan dan pemanasan selama 1 jam. Filtrat natrium silikat yang terbentuk ditambahkan tetes demi tetes larutan asam klorida dengan variasi konsentrasi asam klorida hingga campuran mencapai pH 7. Gel yang terbentuk didiamkan selama 18 jam, ditambahkan akuades, disaring dan dicuci kembali dengan akuades, serta dikeringkan dalam oven dengan suhu 80 °C selama 12 jam. Gel yang telah kering digerus dengan mortar. Karakterisasi silika gel dilakukan dengan penentuan kadar air total dan kapasitas adsorpsi air. Identifikasi gugus fungsi dan struktur masing-masing diidentifikasi dengan menggunakan spektroskopi infra merah (FTIR) dan difraksi sinar-X (XRD). Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa karakteristik berdasarkan kadar air total dan kapasitas adsorpsi air pada silika gel hasil sintesis yang paling mirip dengan kiesel gel 60G adalah silika gel hasil sintesis dengan asam klorida pada konsentrasi 0,8M (SG08). Hasil karakteristik menunjukkan bahwa silika gel hasil sintesis tersebut mempunyai kadar air total dan kapasitas adsorpsi air sebesar 11,5490% dan 0,0918 gH2O/g. Hasil karakterisasi gugus fungsi dengan spektroskopi inframerah menunjukkan bahwa silika gel hasil sintesis mempunyai kemiripan dengan kiesel gel 60G dan memiliki struktur amorf.