Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Hubungan Tingkat Konsumsi Junk Food dengan Obesitas pada Anak Usia Sekolah Khansa Cantika Indraguna; Iis Aisyah; Ahmad Purnama Hudaya
Jurnal Keperawatan Florence Nightingale Vol 7 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stella Maris Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52774/jkfn.v7i1.169

Abstract

Global changes in food consumption patterns are driven by technology and globalization, guiding the popularity of instant foods such as burgers, pizza and nuggets. The occurrence of metabolic syndrome is associated with food intake, this is thought to be related to a person's lifestyle. Metabolic syndrome is experiencing an exponential increase in obesity worldwide. This study aims to investigate the relationship between consuming junk food and obesity in school-aged children. This research utilizes a correlational survey design and applies a cross-sectional approach, namely with an analytical design, the research sample uses a total sampling technique, involving 70 students in grades 5 and 6 in the age range 10 to 12 at SD Negeri Bendungan II as respondents. The incidence of obesity in students at SD Negeri Bendungan II was 16 students (22.9%), using statistical test analysis, using chi-square resulted in a p-value of 0.018. (p-values ??< 0.05) therefore H0 was rejected and H1 was accepted with the conclusion that there was a link or relationship between the level of consumption of junk food and the incidence of obesity in grade 5 and 6 students at SD Negeri Bendungan II.
Hubungan Pengetahuan Orang Tua Tentang ISPA dengan Upaya Pencegahan ISPA Pada Balita Nanda Hanastasyia; Iis Aisyah; Emi Lindayani
Jurnal Keperawatan Florence Nightingale Vol 7 No 1 (2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stella Maris Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52774/jkfn.v7i1.187

Abstract

The health problem of toddlers related to Acute Respiratory Infections (ARIs) in the working area of Pontang Community Health Center is quite high, reaching 4,000 cases. One of the dominant factors contributing to ARI cases in toddlers is believed to be closely related to the level of parental knowledge in caring for their children. Parents play a crucial role in understanding and implementing appropriate health measures, thereby minimizing the occurrence of ARIs in toddlers. The objective of this study is to determine the relationship between parental knowledge of ARIs and ARI prevention efforts in toddlers in the Pontang Community Health Center area. This is a quantitative correlation study with a Cross-Sectional approach, with a sample size of 98 respondents. Sampling technique used is proportional random sampling method. The results of the Spearman-Rank statistical test yielded a p-value of 0.001, indicating a significant relationship between parental knowledge of ARIs and ARI prevention efforts in toddlers. The better the parents' knowledge of ARIs, the more effective they are in monitoring their toddlers' daily activities, thereby reducing the risk of ARIs as parents can better anticipate potential health issues. Thus, it is hoped that parents of toddlers in the Pontang Community Health Center area can enhance their understanding of the importance of implementing ARI prevention measures to safeguard their children from the risk of ARIs.
Mengungkap Human Capital di Indonesia, Singapura dan Timor Leste Menurut World Bank Group Fadli Agus Triansyah; Sri Rahayu; Iis Aisyah; Dadang Dahlan
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 6: Oktober 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i6.5634

Abstract

This study aims to reveal and compare the level of human capital in Indonesia, Singapore and Timor Leste using the Human Capital Index (HCI) developed by the World Bank Group. The method used is a literature study with a qualitative approach, analyzing various secondary data sources, including official World Bank reports. This research focuses on the main components of the HCI, namely the quality of education, healthy life expectancy, and future productivity potential. The analysis shows that Singapore has the highest HCI score, followed by Indonesia and Timor Leste. Singapore excels in every indicator, such as child survival probability, expected number of years of schooling, and harmonized test scores. Indonesia, although better than Timor Leste, still has significant gaps in education and health quality compared to Singapore. These findings highlight the importance of increasing investment in the education and health sectors in Indonesia and Timor Leste to improve human capital that can support sustainable economic growth.
Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan ISPA Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Buahdua Azzahra Futri Fandiyani; Iis Aisyah; Amanda Puspanditaning Sejati
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): Juni
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i2.673

Abstract

Kejadian ISPA pada balita merupakan masalah kesehatan yang masih menjadi tantangan di negara berkembang, termasuk Indonesia. ISPA pada balita dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti karakteristik individu, kondisi lingkungan tempat tinggal, pola gaya hidup keluarga, akses pelayanan kesehatan, serta faktor genetik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Buahdua, Kabupaten Sumedang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan melibatkan 78 responden yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dan persentase faktor risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang paling dominan berhubungan dengan kejadian ISPA adalah jenis kelamin, usia balita, asap rokok, pendidikan ibu, genetik, polusi udara, menggendong anak saat memasak, air eksklusif, malnutrisi, sirkulasi udara, sosial ekonomi, kepadatan hunian, status imunisasi, dan bahan bakar untuk memasak. Temuan ini mengindikasikan bahwa kejadian ISPA dapat dicegah melalui perbaikan lingkungan rumah, peningkatan cakupan imunisasi, serta edukasi mengenai pola asuh dan gaya hidup sehat. Oleh karena itu, upaya pencegahan ISPA pada balita perlu melibatkan peran aktif keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat secara luas dalam menciptakan lingkungan sehat dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Pada peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan desain analitik seperti studi case-control atau kohort agar hubungan kausal antarvariabel dapat dianalisis lebih mendalam.
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Perawatan Gigi Dan Mulut Anak Pra Sekolah Annisa Ziyah Febrianti; Iis Aisyah; Emi Lindayani
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): Juni
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i2.682

Abstract

Perawatan gigi dan mulut pada anak prasekolah sangat dipengaruhi oleh perilaku keluarga, terutama dukungan orang tua dalam membentuk kebiasaan sehat sejak dini. Dukungan keluarga yang tidak optimal dapat berdampak pada buruknya perilaku perawatangigi, yang pada akhirnya meningkatkan risiko terjadinya karies. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan keluarga dengan perawatan gigi dan mulut pada anak prasekolah di Kecamatan Jatinunggal, Kabupaten Sumedang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 66 responden yang dipilihmenggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dukungan keluarga dan perawatan gigi, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan perawatan gigi dan mulut (p = 0,033; r = 0,262). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan keluarga, semakin baik pula perilaku perawatan gigi dan mulut anak. Oleh karena itu, keterlibatan aktif keluarga, terutama orang tua, dalam memberikan edukasi, motivasi, dan teladan mengenai kebersihan gigi sangat penting dalam mencegah masalah kesehatan gigi sejak usia dini. Upaya promosi kesehatan yang melibatkan peran keluarga menjadi langkah kunci dalam meningkatkan status kesehatan gigi anak prasekolah.
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Ketidakberhasilan Toilet Training Pada Anak Prasekolah Di PAUD Sumedang Ghina Nurilmiwati; Iis Aisyah; Heri Ridwan
Abdi Cendekia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): Juni
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/abdicendekia.v5i2.685

Abstract

Perlindungan hewan merupakan isu yang semakin penting dalam kehidupan masyarakat seiring meningkatnya kasus kekerasan, penelantaran, dan eksploitasi terhadap hewan yang masih sering terjadi di lingkungan sosial. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perlindungan dan kesejahteraan hewan serta kepatuhan terhadap ketentuan hukum yang mengatur perlindungan hewan di Indonesia. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui pendekatan edukatif berupa penyuluhan hukum, sosialisasi, diskusi interaktif, dan pemberian media edukasi kepada masyarakat mengenai bentuk perlakuan yang layak terhadap hewan dan konsekuensi hukum terhadap tindakan penganiayaan hewan. Kegiatan ini melibatkan masyarakat umum, komunitas pecinta hewan, dan generasi muda sebagai sasaran utama edukasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesejahteraan hewan, tumbuhnya kesadaran hukum terkait larangan penganiayaan hewan, serta meningkatnya kepedulian masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya perlindungan hewan di lingkungan sekitar. Edukasi perlindungan hewan juga terbukti mampu membangun sikap empati, tanggung jawab sosial, dan budaya hukum yang lebih humanis dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat menjadi langkah preventif dalam mengurangi tindakan kekerasan terhadap hewan melalui pendekatan edukasi dan kesadaran hukum masyarakat.
The Relationship Maternal Support and The Habit Of Prone In Children Aged 0-3 Months Trisha Kania Sugandi; Iis Aisyah; Heri Ridwan
INDOGENIUS Vol 5 No 2 (2026): INDOGENIUS
Publisher : Department of Publication of Inspirasi Elburhani Foundation Desa. Pamokolan, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/igj.v5i2.1046

Abstract

Children aged 0-3 months represents a critical period for child development, especially in the acquisition of gross motor skills. One recommended form of early stimulation during this stage is the prone position or tummy time, which plays an essential role in strengthening the neck, back, and shoulder muscles and supporting the achievement of subsequent developmental milestones. The successful implementation of tummy time is strongly influenced by maternal support as the primary caregiver, encompassing emotional, instrumental, informational, and appraisal support. This study aimed to examine the relationship between maternal support and tummy time habits among infants aged 0-3 months in Mekarjaya Village, North Sumedang District. A quantitative approach with a correlational design was employed. The study sample consisted of 72 mothers with infants aged 0-3 months, selected using a total sampling technique. Data were collected using validated and reliable questionnaires measuring maternal support and tummy time habits. Statistical analysis was conducted using Pearson’s correlation test. The findings revealed that most mothers demonstrated a very high level of support, while infants’ tummy time habits were predominantly categorized as good and very good. Bivariate analysis indicated a significant and very strong positive relationship between maternal support and tummy time habits (p < 0.001; r = 0.797), suggesting that higher levels of maternal support are associated with more optimal tummy time practices. These results highlight the crucial role of maternal involvement in promoting early motor stimulation. Therefore, it is recommended that healthcare professionals enhance educational and guidance programs for mothers regarding the importance of regular and appropriate tummy time practices to support optimal motor development in early infancy.
GO VACCINE COVID-19 SEBAGAI WUJUD KEPEDULIAN DALAM PENANGANAN KASUS COVID-19 DI DESA MARGAMUKTI, SUMEDANG Heri Ridwan; Iis Aisyah; Ayu Prameswari Kusuma Astuti; Maulana Maulana; Hikmat Pramajati
Jurnal Sinergitas PKM & CSR Vol. 7 No. 1 (2022): October
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jspc.v7i1.6187

Abstract

Seiring dengan masih belum tercapaian target 70% vaksinasi dosis ke 2 di Indonesia, sementara kasus baru varian Omicron telah masuk ke Indonesia, sehingga diperlukan program percepatan vaksinasi dosis ke 1, 2 dan booster (dosis ke 3). Tujuan dari program kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan upaya dalam peningkatan angka capaian sasaran vaksin covid-19 dalam usaha mencegah semakin tingginya prevalensi, menurunkan angka mortalitas dan morbiditas, serta mencegah dan mengantisipasi terjadinya gelombang lanjutan dari pandemik Covid-19. Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah home visit/door to door melakukan promosi kesehatan, diskusi dan pemberian vaksin dosis 1, 2 dan 3 bagi masyarakat yang belum dilakukan vaksinasi. Hasil yang didapatkan selama kurang lebih satu bulan dari kegiatan PkM berbasis kepakaran bidang ilmu ini adalah adanya peningkatan capaian sebesar 0,85% vaksin dosis 1, sebesar 2,31% dosis 2 dan untuk dosis 3 sebesar 4,51%. Rencana tindak lanjut kedepannya, tim PkM bersama dengan pemerintahan desa lain dalam satu wilayah kerja Puskesmas yang sama akan secara kolaboratif dan partisipatif untuk mempercepat capaian vaksinasi Covid-19.
PELATIHAN TIM PELACAK DAN KADER PEMANTAU DETEKTIF COVID-19 (DITEKSI AKTIF CORONA VIRUS DISEASE) DI DESA MARGAMUKTI, SUMEDANG Heri Ridwan; Iis Aisyah; Ayu Prameswari Kusuma Astuti; Siti Lika Latifah
Jurnal Sinergitas PKM & CSR Vol. 7 No. 3 (2023): June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jspc.v7i3.7492

Abstract

Covid-19 terus mengalami mutasi dan menghasilkan varian-varian baru, termasuk BF.7 dan XBB.1.5, yang merupakan subvarian dari Omicron. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengidentifikasi varian XBB 1.5 sebagai yang paling menular. Oleh karena itu, diperlukan kontribusi dari anggota kader kesehatan untuk membantu dalam pemantauan dan deteksi awal individu yang dicurigai terinfeksi virus Covid-19. Kader kesehatan masyarakat adalah individu yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani berbagai masalah kesehatan, baik pada tingkat individu maupun masyarakat, serta bekerja dekat dengan fasilitas pelayanan kesehatan. Tujuan dari program pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk menciptakan kader kesehatan yang memiliki peran sebagai detektif aktif Covid-19. Metode yang telah digunakan yaitu melalui pendidikan, pelatihan, diskusi, dan penilaian terkait dengan deteksi aktif Covid-19 bagi anggota kader. Hasil dari program ini adalah telah terbentuknya 18 kader detektif yang mampu melacak dan memonitor individu yang dicurigai terinfeksi Covid-19 di desa Margamukti. Rencana tindak lanjut kedepannya, tim Program Kesehatan Masyarakat (PkM) akan bekerjasama dengan pemerintahan desa-desa lain yang berada di wilayah kerja Puskesmas yang sama untuk menyelenggarakan pelatihan yang serupa kepada para kader kesehatan. Ini merupakan upaya kolaboratif dan partisipatif dalam meningkatkan kualifikasi para kader untuk kepentingan kesehatan masyarakat.