Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PELATIHAN PENINGKATAN KETRAMPILAN METAL CUTTING PROCESS METODE PLASMA BAGI PEKERJA BENGKEL LAS DI MEUNASAH MESJID KECAMATAN BLANG MANGAT KOTA LHOKSEUMAWE ., Syukran; ., Ajannifar; ., Musbar; Irwansyah, Abdullah
Jurnal Vokasi Vol 3, No 1 (2019): April
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.103 KB) | DOI: 10.30811/vokasi.v3i1.996

Abstract

Bengkel Kesayangan Tehnik dan Bengkel Adek Abang merupakan 2 unit usaha bengkel las yang berada di gampong Mesjid Punteuet, Kecamatan Blang Mangat Pemkot Lhokseumawe. Bengkel las Kesayangan Tehnik berdiri sejak tahun 1995, Sedangkan bengkel las Adek Abang berdiri sejak tahun 2012. Jarak kedua bengkel tersebut dengan kampus Politeknik Negeri Lhokseumawe sekitar 3 km. Salah satu pekerjaan yang sering dilakukan oleh bengkel tersebut adalah pemotongan pelat mengikuti profil yang ditentukan untuk keperluan fabrikasi. Kondisi selama ini pomotongan selalu dilakukan menggunakan proses oxy-acyteline. Kelemahan proses ini adalah konsumsi oxygen dan acyteline yang besar sehingga tidak efektif dan kurang menguntungkan. Teknologi plasma cutting process merupakan solusi yang tepat mengatasi permasalahan tersebut. Plasma Cutting paling ekonomis dan mudah untuk memotong berbagai logam berat dan tebal dengan bentuk lebih akurat. Plasma Cutting dapat memotong lebih halus,lebih cepat dan efisien dari Oxy-Acetylene. Berdasarkan hal tersebut maka pelatihan ini dilakukan untuk sebagai wujud transfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepada para teknisi  bengkel las dengan tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan hidup mereka. Pelatihan ini direncanakan dilaksanakan selama 6 hari kerja. Materi pelatihan meliputi teori plasma cutting process dan praktek. Output atau luaran pelatihan yang diharapkan teknisi bengkel las tersebut mendapatkan skill atau ketrampilan yang baik tentang plasma cutting process sehingga bermamfaat dalam pekerjaan fabrikasi mereka sehari-hari. Hasil evaluasi yang dilakukan, terlihat seluruh peserta sudah memahami secara benar semua materi evaluasi yang mencakup prinsip dasar plasma cutting serta keselamatan kerja plasma cutting. Melalui metode pelatihan ini yang meliputi 30% teori dan 70% praktek, peserta mampu memahami semua materi secara benar dan mampu melakukan praktek secara mandiri terhadap objek pelatihan secara benar dan tepat waktu. Jumlah peserta yang mengikuti program pelatihan ini berjumlah 8 orang di mana para peserta semua adalah pekerja pada kedua bengkel tersebut. Selama kegiatan pelatihan ini berlangsung, tingkat kehadiran dan keseriusan mereka sangat tinggi. Dari keseluruhan masa pelatihan, tingkat kehadiran dan kedisiplinan rata-rata mencapai 96%. Berdasarkan hasil evaluasi Teori dan Praktek, maka keseluruhan peserta dapat dikategorikan lulus dengan memperoleh nilai rata-rata 83,7. Nilai tersebut dapat dijadikan indikator kesuksesan pelatihan ini dalam mencapai sasaran pelatihan. Kata Kunci: Pemotongan logam, Plasma cutting, oxygen, acyteline
PENGGUNAAN AGREGAT KARAKTERISTIK DUA LOKASI BERBEDA PADA CAMPURAN ASPAL BETON AC-WC Zuryati, Zuryati; Ar, Sulaiman; Musbar, Musbar
Jurnal Sipil Sains Terapan Vol 4, No 01 (2021): JURNAL SIPIL SAINS TERAPAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSetiap agregat memiliki karakteristik yang berbeda-beda dari satu wilayah dengan wilayah yanglain, bahkan dari satu lokasi dengan lokasi lain dalam wilayah yang sama. Kebanyakan konstruksi jalan di wilayah Aceh Utara menggunakan material yang bersumber dari agregat Mbang dan Alue Luhop. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui material lokal yang ada di Aceh Utara yang memiliki kinerja paling baik atau kualitas agregat dibandingkan dengan sumber material agregat lainnya. Metode penelitian campuran aspal beton AC-WC menggunakan Spesifikasi Bina Marga Tahun 2018. Nilai berat jenis dan penyerapan agregat Mbang lebih tinggi dari pada agregat Alue Luhop, tetapi nilai keausan agregat Alue Luhop lebih rendah dari pada agregat Mbang. Kadar aspal optimum (KAO) agregat Mbang adalah 5,9%, sedangkan kadar aspal optimum (KAO) agregat Alue Luhop adalah 6,2%. Pengujian pada campuran aspal dengan subtitusi material agregat Mbang dengan Alue Luhop di dapat Kadar Aspal Optimum (KAO)6,1%. Hasil pengujian Marshall di dapat nilai parameter campuran subtitusi agregat Mbang dengan Alue Luhop yang paling bagus terdapat pada variasi 25% : 75%, Stabilitas 2943 kg, Density 2,30, flow 4,03 mm, VIM 3,89%, VMA 15,92%, VFB 80,19%, MQ 2943,04 kN/mm. Kata Kunci: Agregat Mbang, Agregat Alue Luhop, Karakteristik Agregat, Variabel MarshallAC-WC 
STUDI KOMPARASI ANALISIS STRUKTUR JEMBATAN GANTUNG SIMETRIS, ASIMETRIS DAN ASIMETRIS GANDA Romizah, Romizah; Musbar, Musbar; Rizal, Faisal
Jurnal Sipil Sains Terapan Vol 5, No 01 (2022): JURNAL SIPIL SAINS TERAPAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKJembatan  gantung  merupakan salah satu  pilihan yang efektif digunakan untuk wilayah dengan kondisi geografis seperti yang terdapat di Indonesia. Dibandingkan dengan jembatanlainnya jembatan gantung memiliki bentang yang relatif panjang untuk mencapai luas atau kejauhan dari sungai, lembah dan lainnya. Dalam penelitian ini terdapat tiga tipe jembatangantung yaitu simetris, asimetris dan asimetris ganda, dimana yang ditinjau berupa nilai lendutan, tegangan, dan Demand Capacity Ratio (DCR). Dengan tujuan untuk mendapatkan hasil nilai lendutan, tegangan, maupun DCR yang memenuhi persyaratan terbaik terhadap ketiga tipe jembatan. Adapun setiap jembatan gantung memiliki panjang bentang 60 m dengan rasio kelengkungan kabel 1/10 L . Pemodelan dan perencanaan jembatan gantung menggunakan SAP2000 v14 dan sistem pemodelan mengacu pada Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum No. 02/SE/M/2010. Dari hasil pemodelan dan pengecekan , didapatkan nilai lendutan yang memenuhi kriteria desain pada jembatan gantung tipe simetris yaitu0,20236 m  L/200 m (0,3 m). Adapun untuk setiap tipe jembatan gantung memenuhi nilai tegangan aksial tarik maksimum dan gaya tegangan aksial tekan hanya terjadi pada jembatan gantung tipe asimetris dengan asimetris ganda. Nilai Demand Capacity Ratio (DCR) menunjukkan   bahwa menara sudah cukup kaku untuk semua tipe jembatan karena tidak melebihi batas maksimum DCR yaitu harus lebih kecil dari 1,00, namun keamanan pada gelagar hanya jembatan gantung tipe simetris yang memenuhi syarat DCR. Berdasarkan hasil keseluruhan setiap jembatan gantung, tipe simetris merupakan jembatan gantung yang memenuhi persyaratan terhadap lendutan, tegangan dan DCR. Kata kunci : Lendutan, tegangan, DCR
PERENCANAAN GELAGAR BETON PRATEGANG JEMBATAN TANJONG BAROH KECAMATAN SYAMTALIRA ARON KABUPATEN ACEH UTARA Mauliza, Agustina; Syukri, Syukri; Musbar, Musbar
Jurnal Sipil Sains Terapan Vol 6, No 02 (2023): JURNAL SIPIL SAINS TERAPAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P2M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKJembatan Tanjong Baroh terletak di Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara,Aceh. Perencanaaan ini bertujuan mendesain gelagar jembatan dari jenis jembatan gantung menjadi jembatan prategang. Jembatan dirancang dengan panjang bentang keseluruhan 60 m, dengan struktur sederhana memiliki 3 bentang, masing-masing sepanjang 20 m dan lebar7 m dengan menggunakan beton prategang metode pasca tarik (post tension). Perencanaanini merancang gelagar yang terdiri dari ukuran, jumlah strands dan tendon. Jembatan ini dikategorikan sebagai kelas B dengan lebar lalu lintas 6 m dan lebar trotoar 2 x 0,5 m. Beban dianalisa dengan standar SNI 1725:2016 dan mutu beton yang digunakan adalah fc’= 41,5Mpa.  Perencanaan  ini  meliputi  pendimensian  gelagar,  analisa  beban,  jumlah  tendon,kehilangan gaya prategang, kontrol lendutan dan penggambaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi gelagar adalah 0.9 m dengan 2 tendon dan 36 strands. Tendon pertama dan kedua memiliki 18 strands, tendon yang digunakan berjenis seven wire strands berdiameter 9,3 mm. tegangan tendon (fpu) = 1860 Mpa dan mutu tulangan baja adalah (fy)=320 MPa. Kehilangan gaya prategang yang terjadi pada gelagar sebesar 19,27 % lebih kecil dari pada kehilangan izin sebesar 30 % dan lendutan maksimum terjadi akibat pembebanan sebesar 0,071 m lebih kecil dari lendutan yang diizinkan sebesar 0.08 m. Dari semua data yang diperoleh dalam perencanaan ini dinyatakan aman untuk digunakan. Kata kunci: gelagar, prategang, strands, tendon.
Pengaruh Faktor Umur Dan Lingkungan Terhadap Organisasi Terhadap Durabilitas Beton Dengan Substitusi Parsial Serbuk Kayu Salsabila, Nisrina; Musbar, Musbar; Ruhana, Ruhana
VOCATECH: Vocational Education and Technology Journal Vol 7, No 2 (2025): December
Publisher : Akademi Komunitas Negeri Aceh Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38038/vocatech.v7i2.251

Abstract

AbstractConcrete is one of the most widely used construction materials owing to its excellent compressive strength. Nevertheless, its long-term performance remains susceptible to environmental factors. Fluctuations in temperature, humidity, and solar radiation can significantly impair concrete durability and structural integrity. This study explores the potential of utilizing sawdust waste as a partial replacement (2% by weight of fine aggregate) to improve environmental sustainability while evaluating its effects on mechanical properties. The research investigates the compressive strength of concrete incorporating 2% sawdust at curing ages of 28, 45, and 60 days under two distinct exposure conditions: indoor (controlled) and outdoor (natural) environments. An experimental laboratory approach was adopted using the Department of the Environment (DoE) mix design method. Cube specimens (150 × 150 × 150 mm) were prepared in two variants: normal concrete and concrete with 2% sawdust substitution. Results reveal that the incorporation of sawdust reduces compressive strength compared to control specimens, although strength continues to increase with curing age in both groups. Specimens cured indoors exhibited more consistent strength gain, whereas those exposed outdoors experienced a noticeable strength decline at 60 days. While the use of sawdust as a partial fine aggregate replacement offers an environmentally sound waste valorization strategy, it adversely affects mechanical performance and long-term durability. Further research is recommended prior to its practical implementation in structural applications.Keywords:Concrete; sawdust; compressive strengthAbstrakBeton merupakan material konstruksi yang paling banyak digunakan karena memiliki kuat tekan tinggi. Namun, beton tetap rentan terhadap pengaruh lingkungan dalam jangka panjang. Variasi suhu, kelembaban, dan radiasi matahari dapat menurunkan durabilitas serta kinerja struktural beton secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh substitusi agregat halus dengan limbah serbuk gergaji sebesar 2 % (berdasarkan berat pasir) terhadap kuat tekan beton pada umur 28, 45, dan 60 hari, serta menganalisis pengaruh kondisi paparan lingkungan yang berbeda (dalam ruangan dan luar ruangan) terhadap perkembangan kuat tekan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratorium dengan desain campuran berdasarkan pendekatan Department of the Environment (DoE). Spesimen berbentuk kubus berukuran 150 × 150 × 150 mm dibuat dalam dua variasi, yaitu beton normal (kontrol) dan beton dengan substitusi serbuk gergaji 2 %. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan serbuk gergaji menyebabkan penurunan kuat tekan dibandingkan beton kontrol, meskipun kuat tekan kedua variasi tetap meningkat seiring bertambahnya umur perawatan. Spesimen yang disimpan di dalam ruangan menunjukkan perkembangan kuat tekan yang lebih stabil, sedangkan spesimen yang dipaparkan di luar ruangan mengalami penurunan kuat tekan pada umur 60 hari. Penggunaan serbuk gergaji sebagai pengganti sebagian agregat halus memberikan manfaat lingkungan melalui pemanfaatan limbah, tetapi berpotensi menurunkan kinerja mekanis dan durabilitas beton dalam jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut sebelum material ini dapat direkomendasikan untuk aplikasi struktural secara luas.  Kata Kunci:Beton; serbuk kayu; kuat tekan
Analisis Perbandingan Perilaku Struktur Gedung Bertingkat Menggunakan SRPMK dengan Dual System Husna, Imro Atul; Musbar, Musbar; Miswar, Khairul
Portal: Jurnal Teknik Sipil Vol 17, No 2 (2025): October Edition
Publisher : Politeknik Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30811/portal.v17i2.8803

Abstract

Struktur gedung bertingkat telah menjadi pilihan utama dalam pembangunan dan perkembangan perkotaan modern, keunggulan utama dari bangunan ini adalah efisiensi penggunaan lahan. Dalam perencanaannya struktur gedung bertingkat harus sangat diperhatikan kemampuannya dalam memikul beban-beban yang bekerja terutama beban lateral baik berupa beban gempa ataupun beban angin. Salah satu solusi masalah gempa dalam perencanaan gedung bertingkat yaitu menggunakan sistem struktur yang sesuai. Pada penelitian ini akan dilakukan perbandingan kinerja struktur berupa displacement, drift ratio, gaya geser dasar, perioda getar struktur dan kekakuan berdasarkan SNI 1726-2019 menggunakan SRPMK dengan Dual System untuk mengetahui efisiensi dan efektivitas pada kedua model struktur dari hasil perbandingan dan analisis. Dari hasil analisis kedua model didapatkan nilai-nilai dari perilaku struktur gedung dengan hasil perioda struktur untuk model 1 yaitu 2,372 detik arah x dan 1,893 detik arah y sedangkan pada model 2 yaitu 1,648 detik arah x dan 1,116 detik arah y, displacement pada model 1 yaitu 72,42 mm arah x dan 55,646 mm arah y sedangkan pada model 2 yaitu 69,67 mm arah x dan 45,573 mm arah y, drift ratio pada model 1 yaitu 35,530 mm arah x dan 24,503 mm arah y sedangkan pada model 2 yaitu 29,898 mm arah x dan 19,525 mm arah y. Dengan perbandingan pada kedua model dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa sistem ganda dapat memperkecil perioda struktur, displacement dan simpangan.