Marta Halim
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pengaruh Demografi Usia Remaja Terhadap Pengetahuan Swamedikasi Jerawat Marta Halim; Farida Tuahuns; Leonov Rianto
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i1.81856

Abstract

Jerawat merupakan berupa peradangan kulit dengan gejala bintik merah menonjol dan sakit dapat berisi nanah atau bintik putih/hitam. Berdasarkan data Global Burden of Disease acne vulgaris terjadi pada 85% remaja berusia 12–25 tahun. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya acne vulgaris salah satunya yaitu permasalahan jerawat akibat penggunaan masker dalam jangka panjang pada masa pandemi Covid-19. Menurut penelitian Changxu Han melaporkan dari tanggal 15 April hingga 4 Mei 2020 sebanyak 15 pasien mengalami tingkat keparahan jerawat dari ringan hingga sedang, dengan gambaran klinis mask acne yang paling sering tampak adalah adanya komedo dan papul di pipi dan hidung dibandingkan nodul dan kista pada dahi. Beberapa penelitian telah menunjukan bahwa kemunculan jerawat dapat mengurangi kepercayaan diri dan kualitas hidup pada seseorang terutama remaja. Penyakit ini juga tidak hanya memberikan efek secara fisik pada penderitanya, tetapi juga menimbulkan efek psikologis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh demografi remaja terhadap swamedikasi pada jerawat di SMK Nusantara 1 Ciputat Bulan Juni 2022. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif komparatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling dan didapatkan responden sebanyak 124 orang. Pengambilan data dilakukan berdasarkan data primer berupa kuesioner. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pengetahuan responden tentang swamedikasi jerawat secara keseluruhan, memiliki pengetahuan baik 101 responden (81%), diikuti oleh kategori pengetahuan cukup 23 responden (19%). Uji statistik menunjukkan tidak adanya hubungan antara faktor demografi usia dengan tingkat pengetahuan responden.
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada Pasien TB Paru Marta Halim; Vonny Nofrika; Rahmat Widiyanto; Dwi Puspitasari
Majalah Farmaseutik Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v19i1.81858

Abstract

Menurut WHO, Global Tuberculosis Report tahun 2016, Indonesia merupakan Negara dengan jumlah kasus baru terbanyak kedua didunia setelah India, dengan angka kematian diperkirakan sebanyak 1,4 juta. Ketidakpatuhan penderita TB paru dalam minum OAT menyebabkan angka kesembuhan penderita rendah, angka kematian tinggi dan resiko kekambuhan meningkat. Pengetahuan mengenai TB paru sangatlah penting guna menyadarkan pasien agar patuh minum obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum OAT pada pasien TB paru di RS Budi Lestari Bekasi periode April 2019. Penelitian ini merupakan penelitian non- eksperimental secara analitik korelasi dengan pendekatan Cross Sectional. Pengambilan sampel dilakukan di RS Budi Lestari menggunakan total sampling dengan 60 responden. Tingkat pengetahuan dan kepatuhan pasien diukur menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan dan Morysky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman dengan tingkat kemaknaan sebesar 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden mempunyai pengetahuan baik 51,70%, cukup 48,30%, dan kurang  0%. Tingkat kepatuhan minum OAT tinggi 43,33%, sedang 48,33%, dan rendah 8,33%. Analisis hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum OAT menunjukkan Sign(2-tailed) 0,001 < 0,05 dengan nilai korelasi (r) 0,423. Kesimpulan penelitian ini adalah pasien TB paru di RS Budi Lestari Bekasi mayoritas memiliki pengetahuan yang baik dan kepatuhan minum OAT yang sedang. Adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum OAT di RS Budi Lestari Bekasi, dengan tingkat korelasi cukup dan searah.
PENINGKATAN PENGETAHUAN ANAK PANTI ASUHAN PUTRA UTAMA I MELALUI PENYULUHAN JAJANAN SEHAT PADA ANAK Marta Halim; Putri Eka Sari; Fitri Savitri
Jurnal Pengabdian IKIFA Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Pengabdian IKIFA
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The law on health has mandated nutrition improvement efforts to escalate nutritional quality of individuals and communities, including through improving food consumption patterns; improvements of nutrition conscious behavior, improving access and quality of nutrition services in accordance with scientific and technological progress. Community service is carried out at Putra Utama I Orphanage. Problems that occur 70% of children at the Orphanage have a lack of knowledge about healthy snacks. It also does not have its own canteen for children to buy snacks and there has never been counseling about healthy snacks. The purpose of community service activities is to increase the knowledge of Putra Utama I Orphanage Children’s. The method was counseling about healthy snacks and giving pretest and posttest questionnaires to know their knowledge about healthy snacks. The results obtained are an increase in the average knowledge score of the Orphanage children’s in pretest and posttest was 14.9043. It can be concluded that counseling at Orphanage children can increase knowledge about healthy snacks.
ANALISIS HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DAN KEPATUHAN PENGOBATAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS (TB) DI KELURAHAN PENGGILINGAN, JAKARTA TIMUR Marta Halim; Herty Nur Tanty; Leonov Rianto; Alifa Sabrina
Jurnal Farmasi IKIFA Vol. 4 No. 2 (2025): JURNAL FARMASI IKIFA VOL. 4 NO. 2 JULI TAHUN 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis (TB) tetap menjadi beban kesehatan masyarakat global yang serius, termasuk di Indonesia yang masih menghadapi prevalensi tinggi. Kendati pengobatan TB tersedia dan efektif, tingkat kepatuhan pasien dalam menyelesaikan terapi jangka panjang kerap menjadi tantangan utama, khususnya di wilayah berkembang. Penelitian ini secara khusus bertujuan mengkaji hubungan antara peran dukungan keluarga dan tingkat kepatuhan menjalani pengobatan di kalangan pasien TB yang berdomisili di Kelurahan Penggilingan, Jakarta Timur. Metode penelitian yang diterapkan bersifat kuantitatif dengan pendekatan desain korelasional. Sebanyak 63 responden yang telah terdiagnosis TB berpartisipasi dalam studi ini. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang dirancang untuk mengumpulkan informasi demografis sekaligus mengukur tingkat dukungan keluarga yang dirasakan oleh pasien. Temuan utama penelitian mengungkapkan bahwa secara umum kepatuhan pengobatan TB di lokasi studi tergolong rendah. Dari total responden, sebanyak 28 orang (44,4%) masuk kategori kepatuhan rendah, 21 orang (33,3%) menunjukkan kepatuhan tinggi, dan 14 orang (22,2%) berada di kategori sedang. Analisis awal melalui Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov menghasilkan nilai signifikansi p=0,007 (lebih kecil dari α=0,05), mengindikasikan bahwa distribusi data penelitian tidak normal. Oleh karena itu, analisis hubungan dilakukan menggunakan Uji Korelasi Spearman Rho. Hasil uji ini menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara variabel dukungan keluarga dan kepatuhan pengobatan TB, dengan nilai p=0,498 (lebih besar dari α=0,05). Simpulan penelitian menegaskan bahwa meskipun dukungan keluarga secara teoritis merupakan faktor penting dalam manajemen penyakit kronis seperti TB, dalam konteks dan periode penelitian ini, dukungan keluarga tidak terbukti secara statistik memiliki pengaruh langsung terhadap ketaatan pasien dalam menjalani pengobatan. Temuan ini menyoroti kompleksitas faktor penentu kepatuhan yang melampaui dukungan keluarga saja. Oleh sebab itu, diperlukan strategi intervensi yang lebih holistik dan komprehensif. Upaya peningkatan kesadaran (awareness) dan pengetahuan (knowledge) yang mendalam tentang TB, tidak hanya bagi pasien tetapi juga melibatkan seluruh anggota keluarga dan lingkungan sosialnya, menjadi aspek krusial untuk didorong guna meningkatkan keberhasilan pengobatan TB secara keseluruhan di masyarakat.
PENGARUH PEMBERIAN INFORMASI OBAT TERHADAP KEPUASAN PASIEN TUBERCULOSIS DI PUSKESMAS KECAMATAN JATINEGARA PERIODE MARET–APRIL 2025 Leonov Rianto; Gilang Al Qarana; Ummi Aulia Nuraziza; Marta Halim; Fachdiana Fidia
Jurnal Farmasi IKIFA Vol. 5 No. 2 (2026): JURNAL FARMASI IKIFA VOL. 5 NO. 2 JULI TAHUN 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberculosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada tahun 2023, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dengan estimasi insiden TB sebesar 1.090.000 kasus atau 387 per 100.000 penduduk. Keberhasilan pengobatan TB tidak hanya bergantung pada terapi obat, tetapi juga pada pemahaman pasien terhadap obat yang dikonsumsinya. Pemberian informasi obat oleh tenaga kefarmasian menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kepuasan dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian informasi obat terhadap kepuasan pasien TB di Puskesmas Kecamatan Jatinegara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 70 pasien TB yang menjalani pengobatan pada periode Maret–April 2025 dijadikan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner mengenai pemberian informasi obat dan tingkat kepuasan pasien. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menerima informasi obat di atas rata-rata (80%) dan merasa sangat puas (47%) serta puas (39%) terhadap informasi yang diberikan. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), yang menandakan adanya pengaruh yang signifikan antara pemberian informasi obat dengan kepuasan pasien TB. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin lengkap dan jelas informasi obat yang diberikan oleh tenaga kefarmasian, maka semakin tinggi tingkat kepuasan pasien terhadap layanan yang diterima.
ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ANTIDIABETIK ORAL PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT SUKMUL SISMA MEDIKA BULAN JANUARI 2025 Marta Halim; Gilang Al Qarana; Aldi Rahadiansyah; Herty Nur Tanty; Rahmat Widiyanto
Jurnal Farmasi IKIFA Vol. 5 No. 2 (2026): JURNAL FARMASI IKIFA VOL. 5 NO. 2 JULI TAHUN 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IKIFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik kronis dengan prevalensi yang terus meningkat di Indonesia maupun global. Pengendalian kadar glukosa darah pada pasien DMT2 sering memerlukan terapi farmakologis jangka panjang, salah satunya dengan antidiabetik oral (ADO). Pemilihan terapi yang efektif dan efisien secara biaya sangat penting untuk menunjang perencanaan pengobatan yang optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas biaya penggunaan ADO tunggal dan kombinasi pada pasien DMT2 rawat jalan di Rumah Sakit Sukmul Sisma Medika bulan Januari 2025. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif observasional dan pendekatan cross- sectional retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis dan catatan administrasi pasien. Parameter yang dianalisis meliputi karakteristik demografis, jenis terapi, efektivitas terapi berdasarkan persentase pasien yang mencapai target gula darah puasa (GDP) 70–110 mg/dL, serta biaya medis langsung. Analisis efektivitas biaya dilakukan dengan perhitungan Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost Effectiveness Ratio (ICER). Hasil penelitian menunjukkan mayoritas pasien berjenis kelamin perempuan dan berada pada rentang usia 55–64 tahun. Terapi yang paling banyak digunakan adalah kombinasi metformin + glimepiride. Efektivitas tertinggi pada monoterapi diperoleh oleh metformin, sedangkan pada kombinasi dua obat tertinggi adalah pioglitazone + glimepiride, dan pada kombinasi tiga obat tertinggi adalah glimepiride + sitagliptin + metformin. Biaya medis langsung tertinggi tercatat pada kombinasi glimepiride + sitagliptin + metformin dan terendah pada kombinasi metformin + glibenclamide. Kesimpulannya, terapi paling cost-effective berdasarkan nilai ACER adalah metformin untuk monoterapi dan pioglitazone + glimepiride untuk kombinasi. Temuan ini dapat menjadi referensi bagi tenaga kesehatan dalam memilih terapi yang efisien dan efektif bagi pasien DMT2.