Bayu Budi Laksono
Institut Teknologi Sain Dan Kesehatan RS Dr. Soepraoen Malang

Published : 33 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

The Relationship Between a History of Hypertension, Diabetes Mellitus, and Gout with the Incidence of Coronary Heart Disease at Lavalatte Hospital Ningsih, Siti Nur Ayati; Laksono, Bayu Budi; Rizzal, Alfunnafi' Fahrul
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.559

Abstract

Coronary heart disease is a disorder of heart function caused by a lack of blood supply to the heart muscle due to blockage or narrowing of the coronary arteries resulting from damage to the artery walls. Damage to the lining of the coronary arteries is caused by blockages or narrowing of the coronary arteries (blood vessels in the heart that supply food and oxygen to heart cells) due to fatty deposits that accumulate on the artery walls (plaque). According to data from the Malang City Health Office, there were 730 new cases of coronary heart disease in Malang City in the 2014–2015 period. Although specific data for 2019 appears to be less publicly available, this figure provides an indication that CHD has been a significant health burden in Malang City during that period. Based on a preliminary study conducted by researchers on October 10, 2025, using interviews in the Platinum 4 room at Lavalette Hospital, which is a cardiovascular room, data was obtained on patients with CHD who had no history of hypertension, no diabetes, but had a history of gout since 2019 and had experienced two recurrences in the past year. The purpose of this study was to determine how medical history affects the risk of CHD at Lavalette Hospital. This study used a case-control design with data collected directly through structured interviews and measurements of blood pressure, uric acid, and blood sugar. The results of this study show that the majority of respondents at Lavalette Hospital have a history of disease (hypertension, diabetes mellitus, uric acid) in the high category (84.6%), with the highest prevalence in the elderly age group, while coronary heart disease (CHD) in respondents is dominated by the highrisk category (82.1%)12. The conclusion is that there is a statistically significant relationship between medical history and the incidence of CHD at Lavalette Hospital (P = 0.025), with a weak positive correlation (r_s = 0.358)13.
Meconium Aspiration Syndrome (MAS) Sebagai Faktor Resiko Respiratory Distress Syndrome (RDS) Pada Neonatus Di Ruang Neonatus Intensive Care Unit (NICU) Wahyuli Tunaya , Rany; Koesrini , Juliati; Laksono, Bayu Budi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.568

Abstract

Sindrom aspirasi mekonium (Meconium Aspiration Syndrome/MAS) merupakan salah satu penyebab gangguan pernapasan neonatal yang berpotensi berkembang menjadi Respiratory Distress Syndrome (RDS) dan membutuhkan perawatan intensif di Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Meskipun secara patofisiologis aspirasi mekonium diduga berperan dalam terjadinya RDS, bukti empiris mengenai hubungan keduanya masih bervariasi, khususnya pada populasi neonatal di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi kejadian MAS dengan kejadian RDS pada bayi yang dirawat di ruang NICU. Penelitian ini menggunakan desain survei analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian melibatkan seluruh bayi yang dirawat di ruang NICU RS Ir. Soekarno Kepulauan Morotai pada periode Oktober–November 2025, dengan jumlah sampel sebanyak 76 responden yang diambil menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh dari rekam medis menggunakan case report form yang disusun oleh peneliti. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Contingency Coefficient. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar bayi tidak mengalami aspirasi mekonium (90,8%) dan tidak mengalami RDS (59,2%). Uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian aspirasi mekonium dengan kejadian RDS (p = 0,083), dengan kekuatan korelasi lemah (r = 0,195). Tidak terdapat korelasi yang signifikan antara kejadian MAS dan RDS pada bayi yang dirawat di ruang NICU. Temuan ini mengindikasikan bahwa RDS pada neonatus merupakan kondisi multifaktorial dan tidak semata-mata dipengaruhi oleh aspirasi mekonium.
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Penderita Hipertensi Di Desa Sekarpuro Putri, Lista Kirana; Kurniawan, Ardhiles Wahyu; Laksono, Bayu Budi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.588

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang mememrlukan pengobatan jangka panjang. Tingkat kepatuhan minum obat penderita hipertensi masih tergolong rendah dan menjadi salah satu penyebab tidak terkontrolnya tekanan darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi di desa sekarpuro, kecamatan pakis, kabupaten malang. Metode penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 92 responden penderita hipertensi yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dukungan keluarga dan Morisky Medication Adherence (MMAS-8). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil analisis menunjukan nilai koefisien sebesar r = 0,214 dengan nilai p = 0,040 (P < 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi. Disimpulkan bahwa dukungan keluarga memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi. Semakin baik dukungan keluarga, semakin tinggi tingkat kepatuhan minum obat.