Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Studi Perencanaan Kolam Retensi di Desa Wotansari Kecamatan Balongpanggang Kabupaten Gresik sebagai Upaya Pengendalian Banjir Kali Lamong Arlita Hilda Puspitasari; Moh. Sholichin; Andre Primantyo Hendrawan
Jurnal Mahasiswa Teknik Pengairan Vol. 1 No. 1 (2026): Jurnal Mahasiswa Teknik Pengairan (JMTP)
Publisher : Departemen Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kali Lamong menyebabkan banjir tahunan di Desa Wotansari, Gresik, karena kapasitas sungai (250 m³/detik) tak mampu menampung debit puncak hingga 700 m³/detik, ditambah belum adanya kolam retensi. Penelitian ini menghitung debit banjir rencana kala ulang 5, 10, dan 25 tahun, volume dan efektivitas kolam retensi, stabilitas lereng tanggul, serta rencana anggaran biaya, menggunakan HSS Nakayasu, HEC-RAS, metode Bishop Simplified (SLOPE/W), dan Analisis Harga Satuan Pekerjaan. Hasil menunjukkan debit rencana 25 tahun sebesar 185,961 m³/detik; kolam retensi 310.680 m³ mampu mereduksi debit puncak 7,14%; seluruh faktor keamanan lereng memenuhi syarat, baik dengan maupun tanpa gempa; dan biaya konstruksi diperkirakan Rp 6,99 miliar. Kolam retensi terbukti efektif menurunkan risiko banjir, meski beberapa ruas sungai masih berpotensi meluap sehingga diperlukan penanganan banjir lanjutan yang terintegrasi.
Penentuan Prioritas Rehabilitasi Jaringan Irigasi MenggunakanMetode Analytic Hierarchy Process (AHP) pada Daerah IrigasiBayemgede dan Sidomukti Putri Dewi Puspitasari; Tri Budi Prayogo; Moh. Sholichin
Jurnal Mahasiswa Teknik Pengairan Vol. 1 No. 1 (2026): Jurnal Mahasiswa Teknik Pengairan (JMTP)
Publisher : Departemen Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan fungsi layanan akibat kerusakan infrastruktur jaringan irigasi berdampak langsung pada produktivitas pertanian. Keterbatasan anggaran pemerintah mengharuskan adanya alokasi penanganan yang tepat sasaran melalui penyusunan Angka Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan (AKNOP). Penelitian ini bertujuan menentukan skala prioritas rehabilitasi pada Daerah Irigasi (DI) Bayemgede dan DI Sidomukti di Kabupaten Bojonegoro. Analisis keputusan dilakukan dengan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) berdasarkan empat kriteria: Indeks Kinerja Sistem Irigasi (IKSI), Luas Daerah Irigasi, Kebutuhan Biaya (RAB), dan Sumber Pengambilan Air. Hasil pembobotan menunjukkan IKSI sebagai kriteria paling dominan (0,558) dalam menentukan urgensi perbaikan. Sintesis prioritas global menempatkan DI Sidomukti sebagai prioritas utama rehabilitasi (0,749), disusul DI Bayemgede (0,251). Kondisi fisik yang lebih kritis dan cakupan layanan yang luas menjadikan DI Sidomukti sangat mendesak untuk ditangani. Kajian ini diharapkan menjadi acuan objektif dalam optimalisasi anggaran rehabilitasi irigasi.
Prioritas Rehabilitasi Jaringan Irigasi Menggunakan MetodeAnalytic Hierarchy Process (AHP) Di Daerah Irigasi Wotan DanTeleng, Kabupaten Bojonegoro Faiq Izaaz Dhiyaul Haq; Tri Budi Prayogo; Moh. Sholichin
Jurnal Mahasiswa Teknik Pengairan Vol. 1 No. 1 (2026): Jurnal Mahasiswa Teknik Pengairan (JMTP)
Publisher : Departemen Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterbatasan sumber daya rehabilitasi jaringan irigasi memerlukan penentuan prioritas berdasarkan tingkat urgensi penanganan. Penelitian ini bertujuan menentukan prioritas rehabilitasi pada Daerah Irigasi (DI) Wotan dan DI Teleng, Kabupaten Bojonegoro, menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Analisis dilakukan berdasarkan empat kriteria, yaitu Indeks Kinerja Sistem Irigasi (IKSI), luas daerah irigasi, sumber pengambilan air, dan kebutuhan biaya rehabilitasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa IKSI memiliki bobot tertinggi sebesar 0,558, diikuti kebutuhan biaya rehabilitasi sebesar 0,263, luas daerah irigasi sebesar 0,122, dan sumber pengambilan air sebesar 0,057. Berdasarkan sintesis bobot global, DI Wotan memperoleh nilai 0,538 dan menjadi prioritas pertama, sedangkan DI Teleng memperoleh nilai 0,462 dan menjadi prioritas kedua. Hasil ini menunjukkan DI Wotan lebih diprioritaskan untuk rehabilitasi.