Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Analisa Dampak Sedimen Terhadap Usia Guna Waduk Plumbon Vioni Auliya Damayanti; Tri Budi Prayogo; Rini Wahyu Sayekti
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2023.003.02.030

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Waduk Plumbon yang terletak di Kecamatan Puloharjo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Waduk Plumbon mulai beroperasi pada tahun 1928 sehingga waduk telah berusia 92 tahun di tahun 2020. Masalah utama dalam pengelolaan waduk adalah menjaga agar waduk tetap dapat beroperasi optimal karena sedimen akan terus bertambah dan mengendap di dasar waduk. Sedimen yang mengendap akan mengurangi tampungan efektif waduk, pada tahun 2020 kapasitas tampungan mati Waduk Plumbon tersisa sebesar 224234,54 m3. Pada studi ini nilai besar erosi akan dihitung menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss Equation), sehingga besarnya SDR (Sediment Delivery Ratio) dapat diketahui, kemudian nilai Trap Eficiency akan dihitung dengan metode Brune. Dengan demikian, laju sedimentasi yang terjadi dan perkiraan sisa usia guna Waduk Plumbon dapat dapat diketahui. Dari hasil analisa USLE dan perhitungan laju sedimen pada tahun 2020 didapatkan erosi lahan sebesar 97.028,49 ton/tahun dan laju sedimentasi sebesar 22.529,18 m/tahun. Didapatkan sisa usia guna waduk Plumbonpada tahun 2020 tersisa 2,7 tahun.
Perencanaan Pengembangan Tata Air Daerah Irigasi Rawa (Non-Pasang Surut) Binawara, Kabupaten Tanah Bumbu Aditya Ramadhan; Tri Budi Prayogo; Jadfan Sidqi Fidari
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2023.003.02.040

Abstract

Daerah Irigasi Rawa Binawara yang terletak di Kabupaten Tanah Bumbu tiap tahunnya mengalami kelebihan air serta terdapat lahan potensial yang belum digunakan sebagai lahan pertanian. Diharapkan dengan pengembangan ini mampu mereduksi banjir yang terjadi serta meningkatkan luas lahan fungsional yang semula 775,03 Ha menjadi 1322,76 Ha. Analisis pola tanam dan modulus drainase dilakukan guna mengetahui apakah saluran eksisting dapat menampung debit rencana atau diharuskan merencanakan dimensi saluran baru. Analisis pola tata tanam beserta kebutuhan air irigasi menggunakan curah hujan rancangan satu harian maksimum tahunan, sedangkan analisis debit drainase menggunakan curah hujan rancangan tiga harian maksimum tahunan. Kedua analisis tersebut menggunakan kala ulang 5 tahun. Simulasi HEC-RAS menunjukkan saluran eksisting mengalami luapan sehingga membanjiri area samping saluran ketika dialiri debit rencana. Saluran baru serta pintu air direncanakan guna mengatasi masalah yang terjadi pada saluran eksisting dan untuk meningkatkan luas lahan fungsional. Tiap saluran baru dan pintu air memiliki dimensi yang berbeda berdasarkan debit rencana yang mengalir. Simulasi HEC-RAS menunjukkan saluran baru dapat menampung debit rencana. Sementar itu, simulasi pintu air menghasilkan tiap pintu air memiliki tinggi minimal bukaan yang berbeda berdasarkan kebutuhan air di tiap saluran, dengan interval tinggi bukaan 0,1m – 1,0m. The Binawara Swamp Irrigation Area in Tanah Bumbu Regency has more standing water than it can handle annually, and there is potential land that has not been farmed. This development is expected to reduce flooding and increase the functional land area from 775.03 hectares to 1322.76 hectares. An analysis of the cropping pattern and drain module was carried out to determine whether the existing canal can accommodate the planned discharge or if it is necessary to plan new channel dimensions. Cropping patterns and irrigation water requirements were analyzed using a one-day rainfall design, whereas drainage discharge was analyzed using a three-day rainfall design. Both analyses used a five-year return period. The HEC-RAS simulation revealed that when the planned discharge flows, the current channel overflows and drowns on the neighboring land. New canals and irrigation gates are planned to overcome existing canal problems and increase the functional area of land. Each new canal and gate had different dimensions based on the discharge flow design. The sluice gate simulation revealed that, depending on the water demand in each canal, each sluice gate had a distinct minimum opening height, with opening height intervals ranging from 0.1m to 1.0m.
KAJIAN ALIRAN PADA INLET SUDETAN SUNGAI CILIWUNG KE KANAL BANJIR TIMUR UNTUK PENGENDALIAN BANJIR JAKARTA Rica Yunita; Mohammad Sholichin; Tri Budi Prayogo
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol. 8 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (965.009 KB) | DOI: 10.21776/ub.pengairan.2017.008.02.2

Abstract

Sudetan Sungai Ciiwung ke Kanal Banjir Timur (KBT) merupakan salah satu cara untuk mengurangi banjir pada Sungai Ciliwung. Bangunan ini diharapkan mampu mengalihkan debit banjir sungai Sungai Ciliwung ke KBT sebesar 60 m3/detik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil model fisik dengan melakukan perbandingan aliran pada model fisik terhadap perhitungan secara teoritis dan analisa satu dimensi menggunakan HEC-RAS. Perhitungan teoritis dilakukan dengan metode De Marchi, side weir, percabangan anak sungai dan aliran melalui pulau. Perhitungan melalui 4 metode dan hasil simulasi HEC-RAS didapatkan beberapa perbedaan terhadap debit, kecepatan dan tinggi muka air pada inlet floodway (sudetan) Sungai Ciliwung ke KBT namun tidak terlalu signifikan. Baik hasil uji model fisik maupun perhitungan teoritis dan simulasi HEC-RAS debit 60 m3/detik dapat terjadi apabila elevasi muka air di Sungai Ciliwung diatas +12,342 m.  
EVALUASI DAN PENGEMBANGAN JARINGAN IRIGASI RAWA PASANG SURUT TERHADAP POLA OPERASI PINTU AIR D.I.R PEMATANG LIMAU KABUPATEN SERUYAN hairin noor; Suhardjono Suhardjono; Tri Budi Prayogo
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol. 9 No. 1 (2018)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1142.425 KB) | DOI: 10.21776/ub.pengairan.2018.009.01.2

Abstract

Kabupaten Seruyan Propinsi Kalimantan Tengah secara umum memiliki lahan dan air yang cukup tersedia. Daerah Irigasi Rawa (D.I.R) Pematang Limau dipengaruhi oleh muka air pasang surut yang terjadi pada Sungai Seruyan. Pada musim hujan, muka air meningkat akibat air pasang dan curah hujan. Sementara di musim kemarau lahan menjadi kering. Untuk itu perlu dilakukan pengaturan pola operasi pintu air. Untuk mengetahui profil aliran di saluran primer digunakan software HEC-RAS 5.0.1 pada kondisi kering. Simulasi dilakukan dengan: (1) simulasi debit air pasang tanpa pintu air, (2) simulasi pintu air (existing), (3) simulasi dengan merubah lebar pintu air saluran primer dari 1 m menjadi 1,5 m dan (4) merubah koefisien Manning dari 0,027 menjadi 0,018. Dari beberapa simulasi yang dibuat, simulasi kedua menunjukkan elevasi muka air tertinggi pada cross section 1-12, namun tidak mampu menggenangi lahan yang berada di kanan atau kiri cross section 10-12. Langkah penanganan selanjutnya dengan menutup pintu air pada saluran primer ketika puncak debit pasang. Berdasarkan hasil perhitungan, kedalaman genangan pada lahan sebesar 0,001 m atau 1 mm jika secara bersamaan, sedangkan jika dilakukan secara bergilir 0,015 m atau 1,5 cm. Hasil perhitungan genangan yang terjadi akibat hujan 0,061 m atau 6,1 cm, sedangkan hasil perhitungan di saat pasang dan bersamaan terjadinya hujan diperoleh 0,062 m atau 6,2 cm. Alternatif terakhir untuk mengatasi kekeringan adalah dengan sistem pompanisasi. Hasil perhitungan dengan lama operasi pompa 10 jam/hari selama 6 hari, untuk kedalaman genangan (y) 5 cm, maka kebutuhan unit pompa sebesar 12 buah.
Analisa Penentuan Skala Prioritas Rehabilitasi Jaringan Irigasi pada Daerah Irigasi Kendal di Kabupaten Kediri dengan Software PSDA-PAI Versi 2.0 Ariq, Ahmad Widi; Moch. Sholichin; Tri Budi Prayogo
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2023.003.02.021

Abstract

Daerah Irigasi Kendal Kabupaten Kediri, memiliki keadaan struktur tanah cukup produktif untuk berbagai macam tanaman. Namun kondisi eksisting pada daerah irigasi Kendal menjelaskan bahwa terdapat penurunan pada kinerja jaringan irigasi yang disebabkan oleh kerusakan saluran dan vegetasi yang menutupi ruas saluran. Metodepelaksanaan penelitian ini memerlukan beberapa langkah operasional, antara lain:penugasan personel, persiapan pelatihan, pengecekan perlengkapan yang diperlukan, persiapan agenda kegiatan, dan pengadaan/penyediaan peralatan.Buat akun di komputer, lalu gunakan program, periksa hasilnya dan tentukan skala prioritasnya.Pengaplikasian dengan menggunakan software memudahkan penentuan jenis perawatan jaringan irigasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Indeks Kinerja Sistem Irigasi untukDaerah Irigasi Kendal sebesar 84,31% berdasarkan software running PDSDA-PAI Versi 2.0 dan tergolong dalam kondisi baik (80 < 90%). Dalam perhitungan prioritas pembangunan daerah irigasi Kendal menggunakan metode AHP, ditentukan bahwa aspek yang lebih diprioritaskan adalah aspek fisik, didapatkan nilai 0,266 (prioritas saluranpembawadidapatkan nilai 0,180). Hasil analisis SWOT dan analisis IFAS & EFAS menunjukkan bahwa bobot prioritas penanganan juga terdapat pada aspek prasarana fisik (saluran pembawa, bangunan utama, dan bangunan pelengkap) dengan dasar besaran NKF (Nilai Kondisi Fisik) masing-masing aspek. AKNOP untuk Saluran Pembawa pada Daerah Irigasi Kendal sebesar Rp 19.326.790.000,00.
Studi Penilaian Indeks Kinerja Irigasi Dan Angka Kebutuhan Nyata Operasional Dan Pemeliharaan Pada Rehabilitasi Daerah Irigasi Molek Kabupaten Malang Dea Irisadita Pramesti Ramadhani Dyah Adaninggar; M. Janu Ismoyo; Tri Budi Prayogo
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2023.003.02.024

Abstract

Daerah Irigasi Molek secara administrasi letaknya di Kabupaten Malang, Jawa Timur yang meliputi Kecamatan Kepanjen, Kromengan dan Sumberpucung. Daerah Irigasi ini memiliki beberapa permasalahan pada saluran - saluran dan bangunan - bangunannya. Dari hasil inventarisasi yang dilakukan terdapat kerusakan yang terjadi di 9 ruas. Kerusakan terjadi di 7 ruas saluran primer Molek dan di 2 ruas saluran sekunder. Nilai indeks kinerja Daerah Irigasi Molek memperoleh nilai 79,82% meliputi aspek prasarana fisik 38,63%, 12,75% pada aspek produktivitas tanaman, serta sebesar 5,95% sarana penunjang O&P, pada aspek organisasi personalia nilainya 11,69%, dokumentasi sebesar 4,05%, perkumpulan petani pemakai air sebesar 6,75%. Perhitungan prioritas penanganan aset pada Daerah Irigasi Molek berdasarkan urutan nilai kondisi fisik yang paling rendah ke yang paling tinggi dilihat dari perhitungan indeks kinerja irigasi. Perhitungan Angka Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan (AKNOP) pada Daerah Irigasi Molek yaitu sebesar Rp. 1.289.036,26.
Evaluasi Kinerja Pada Daerah Irigasi Way Lo Kecamatan Waelata Kabupaten Buru Sekar Arum, Rosalina Putri; Tri Budi Prayogo; Linda Prasetyorini
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2023.003.02.036

Abstract

Daerah Irigasi Way Lo terdapat di Desa Basalale, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku dengan bangunan utama bending tetap. Dari hasil inventarisasi dilapangan, terdapat 139 titik permasalahan yang tersebar diseluruh jaringan irigasi. Permasalahan tersebut tersebar pada 9 titik bangunan utama, 95 titik bangunan pada saluran pembawa, dan 35 titik pada saluran pembawa. Hingga saatini, pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan berkala belum pernah dilakukan pada Daerah Irigasi Way Lo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penilaian kinerja irigasi dengan metode Peraturan Menteri PUPR No12/PRT/M/2015 dan metode Fuzzy Set Theory, untuk menentukan skala prioritas penangan memanfaatkan metode AHP (Analytical Hierarchy Process). Berdasarkan hasil analisis didapatkan pada Metode Permen PUPR No.12/PRT/M/2015 indeks kinerja senilai 77,20% dan pada metode Fuzzy Set Theory senilai 75,34%. Dengan uji hipotesis komparatif tidak ada perbedaan yang signifikan dari kedua hasil metode tersebut. Hasil prioritas penanganan dengan metode AHP yaitu Prasarana Fisik (0,263) pada sub-aspek Saluran Pembawa (0,168).
Studi Penilaian Kinerja Fisik dan Manajemen Aset Jaringan Irigasi pada Daerah Irigasi Gogolatar Kabupaten Blitar Annisa Cahyaning Jannah; Hari Siswoyo; Tri Budi Prayogo
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2023.003.02.055

Abstract

Daerah Irigasi Gogolatar terletak pada Kali Jari dibangun untuk memenuhi kebutuhan pengairan irigasi di daerah Kaweron, Talun, Kabupaten Blitar. Maka untuk memastikan efektivitas pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi, perlunya pengecekan kondisi kinerja fisik sistem irigasi di daerah tersebut yang mengairi luasan sawah 129 Ha. Hasil inventarisasi pada 2022 menunjukkan bahwa terdapat 35 titik masalah yang perlu diatasi. Dari angka tersebut, terdapat 7 lokasi kerusakan pada bangunan utama, 9 lokasi masalah pada saluran pembawa, dan 19 lokasi yang memerlukan penanganan pada bangunan di saluran pembawa. Daerah Irigasi Gogolatar memperoleh nilai indeks kinerja prasarana fisik sebesar 29,28% dari total indeks skor 45% atau bisa dikategorikan kondisi sedang. Untuk mendapatkan biaya rehabilitasi bangunan yang diprioritaskan pada Daerah Irigasi Gogolatar menggunakan metode AHP, yang merupakan akronim dari Analytic Hierarchy Process dan ANP dengan akronimnya Analytical Network Process, didapatkan hasil yang sama yaitu bangunan utama dengan hasil nilai total 0,189 dan 0,126. Estimasi biaya rehabilitasi menunjukkan nilai sebesar Rp1.000.754.000,00.
Rehabilitasi dan Peningkatan Infrastruktur Jaringan Irigasi Jengkol di Kabupaten Subang Salman Ainun Wahab; Tri Budi Prayogo; Hari Siswoyo
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2023.003.02.051

Abstract

Pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur jaringan irigasi dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi. Pekerjaanini berguna untuk mencukupi angka kebutuhanpangan yang semakin bertambah. Pada Daerah Irigasi Jengkol diketahui 60% kondisi talud saluran berupa tanah, serta terdapat 13 dari 28 bangunan irigasi mengalami kerusakan. Nilai indeks kondisi fisik jaringan irigasi Jengkol adalah 36% meliputi 14% nilai indeks saluran dan 22% nilai indeks bangunan.Berdasarkan Indeks Kinerja Sistem Irigasi tahun 2015 nilai indek yang kurang dari 60% perlu dilakukan pekerjaan rehabilitasi. Rehabilitasi yang dilakukan adalah perbaikan pasangan batu dan pergantian pintu-pintu pengatur. Biaya yang dibutuhkan dalam pekerjaan rehabilitasi ialah sebesar Rp 47.981.029.000.Sehingga angka kebutuhan nyata operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi Jengkol pada tahun pertama adalah sebesar Rp 49.034.784.000. Sedangkan besaranbiaya operasi dan pemeliharaan setiap tahunnya adalah sebesar Rp 1.053.755.000 pertahun. Dan biaya untuk operasi dan pemeliharaan perhektar adalah Rp 341.000 pertahun.
Studi Optimasi Pemanfaatan Air Irigasi Bendungan Batu Tegi Menggunakan Program Linier Andito Nurdaviq Lazuardi; Lily Montarcih Limantara; Tri Budi Prayogo
Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Teknologi dan Rekayasa Sumber Daya Air (JTRESDA)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtresda.2024.004.01.029

Abstract

Abstrak: Bendungan Batu Tegi merupakan Bendungan yang terletak di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Fungsi utama dibangunnya Bendungan Batu Tegi yaitu untuk membantu suplai air ke Bendungan Argoguruh sehingga daerah layanan untuk irigasi Way Sekampung dapat diperluas dan dimaksimalkan. Namun, manajemen sumber daya air diantara kedua bangunan tersebut belum optimal untuk memenuhi berbagai kebutuhan, terutama irigasi di DI Way Sekampung. Hal inidapat dilihat pada berkurangnya lahan layanan yang dialiri dari luas baku sebesar 76.006 Ha menjadi 55.373 Ha yang berfungsi artinya masih terdapat 20.633 Ha yang belum termanfaatkan. Sehingga diperlukan studi untuk menganalisis pemanfaatan air irigasi agar dapat memaksimalkan luas lahan layanan pertanian. Studi ini menggunakan program linier dalam analisanya serta terdapat 4 alternatif pola tata tanam dengan perbedaan jadwal tanam tiap alternatifnya. Dari pemodelan program linier yang didasarkan pada penentuan luas lahan tiap jenis tanaman didapatkan hasil alternatif 1 mendapatkan hasil optimasi mencapai intensitas tanam 300% dan keuntungan terbesar pada alternatif 2.. Manfaat dari studi ini untuk memberikan wawasan atau informasi kepada petani yang menggunakan suplai air dari Bendungan Batu Tegi maupun stakeholder terkait dalam penerapan pola tata tanam dan waktu tanam efisien serta luas lahan pertanian yang optimal agar memperoleh keuntungan maksimum dari hasil produksi pertanian