Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

SPATIAL MORPHOLOGICAL ANALYSIS: DEVELOPMENT OF THE NORTH KREMBANGAN AREA, SURABAYA, INDONESIA Gunawan, Eveelyn Febe; Rony Gunawan Sunaryo; Rully Damayanti
International Journal on Livable Space Vol. 9 No. 1 (2024): URBAN DEVELOPMENT, HOUSING AFFORDABILITY, AND UTILITIES
Publisher : Jurusan Arsitektur - FTSP - Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/livas.v9i1.19685

Abstract

The North Krembangan area is an old city area in Surabaya, right next to the Kalimas River. This area has experienced several changes from time to time, both in terms of natural context, roads, blocks/lots, and buildings. These changes were influenced by several factors and actors, both from the Dutch government and from the Surabaya government due to the existence of several new needs that were no longer relevant in the conditions during the colonial era. Objectives: To identify the morphology of urban tissue in the North Krembangan area which consists of permanent, non-permanent elements and street front quality Methodology and Results: This research uses the urban tissue methodology by Romice et al as a theory that helps to analyze this area. Conclusion, Significance and Implications: This research found that although the North Krembangan area has relatively low street front quality, this area is still busy and active as a commercial center. Suggestions to improve the area were also made at the end of this research.
THE OLD TOWN OF KUPANG: PERSISTENT ELEMENTS AND THE QUALITY OF THE SPACE BASED ON PUBLIC VIEWS Dion B. Sarmento; Sunaryo, Rony Gunawan
International Journal on Livable Space Vol. 9 No. 2 (2024): URBAN SPATIAL ELEMENT AND WATER AVAILABILITY
Publisher : Jurusan Arsitektur - FTSP - Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/livas.v9i2.20421

Abstract

Kupang's Old Town has undergone significant changes over time, influenced by foreign interventions that left behind a wide variety of historical stories and physical evidence as silent witnesses to the development of Kupang's Old Town. However, these historical elements are currently under threat due to a lack of protection and management.Aims: This research aims to study the physical changes in the urban network from the 17th century to the 21st century, highlighting elements that have disappeared, changed, or survived. The study also explores the community's perception of the surviving historical aspects.Methodology and Results: Using a descriptive qualitative approach, [1]the results show significant changes within the area, including the loss of certain elements, changes in function, and the continuation of others. The community values the aspects that have survived, especially the historical buildings, which are seen as an integral part to the area's identity. There is a desire to improve the quality of space in Kupang's Old Town today.Conclusion, Significance and Implication: The study recommends the development of policies that integrate urban growth, historic preservation, and stakeholder participation to achieve a balanced management of Kupang’s Old Town.
Perancangan Landskap dan LP3S Wisma Widya Graha di Salatiga dengan Pendekatan Biofilik Rony Gunawan Sunaryo; Sunaryo, Rony Gunawan; Bulandari, Angelique Widya; Amalinda, Stellia; Dewanto, Dionisius Bayu; Lilly, Budhi Benyamin; Binarti, Floriberta
Jurnal Atma Inovasia Vol. 4 No. 6 (2024)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jai.v4i6.9921

Abstract

Perancangan lanskap dan LP3S Salatiga Wisma Widya Graha menggunakan pendekatan biofilik untuk memaksimaklan penataan ruang yang efsisien, dengan memperhatikan konektivitas antar ruang luar tanpa mengganggu aspek privasi maupun faktor luar serta menciptakan ruang luar yang efisien dengan dominan memanfaatkan vegetasi sebagai aspek yang ingin ditonjolkankan dalam perancangan. Pendekatan biofilik yang didukung oleh konsep keberlanjutan diwujudkan dalam perancangan melalui pemanfaatan aksesibilitas utama pengunjung dan pedestrian, upaya mempertahankan penutup tanah dan lapangan perindang, penggunaan tanaman perdu sebagai dekorasi dan penggunaan tanaman produktif, mengoptimalkan pemandangan taman yang hijau dan asri, serta mempertahankan tipologi wisma sebagai penginapan dan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman ruang lanskap dalam bentuk area terbuka hijau dengan pemandangan dan suasana lingkungan.
Permanensi Kawasan Pusat Kota Banyuwangi Wijaya, Catherine Kirsten Eka; Sunaryo, Rony Gunawan; Hariyanto, Agus Dwi
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 22, No 1: January 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sinektika.vi.5072

Abstract

Banyuwangi sebagai wilayah perkotaan memiliki perjalanan sejarah panjang,  dari wilayah Kerajaan Blambangan kemudian beralih menjadi  pos induk VoC di ujung timur Jawa di era kolonial. Banyuwangi selanjutnya menjadi kota pelabuhan dagang yang berlanjut hingga era kemerdekaan, hingga beralih kembali pada era pemerintahan Bupati Azwar Anas, Kota Banyuwangi ditetapkan salah satu visinya menjadi kota wisata. Hingga masa yang cukup lama elemen-elemen perkotaan Banyuwangi bersifat persisten, namun perubahan visi kota yang terakhir mendorong perubahan elemen-elemen perkotaan. Beberapa elemen persisten di pusat kota diubah dengan tren masa kini, sehingga karakter awalnya berubah atau hilang. Upaya pembaruan ini kontradiktif terhadap strategi pemanfaatan potensi sejarah perkotaan untuk pariwisata. Penelitian ini merupakan analisis urban tissue pusat kota Banyuwangi,  dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, mengidentifikasi elemen kota yang bertahan maupun yang punah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi permanensi elemen perkotaan Banyuwangi agar elemen-elemen yang memiliki signifikansi dalam morfologi dan sejarah transformasi  kota Banyuwangi dapat dikenali. Hasil penelitian terdapat dua puluh lima yang persisten dan delapan elemen yang punah. Sebagian besar elemen perkotaan yang persisten bernilai historis signifikan dan potensial dikembangkan menjadi bagian srategi wisata sejarah dan budaya perkotaan Banyuwangi.
Perancangan Landskap dan LP3S Wisma Widya Graha di Salatiga dengan Pendekatan Biofilik Rony Gunawan Sunaryo; Sunaryo, Rony Gunawan; Bulandari, Angelique Widya; Amalinda, Stellia; Dewanto, Dionisius Bayu; Lilly, Budhi Benyamin; Binarti, Floriberta
Jurnal Atma Inovasia Vol. 4 No. 6 (2024)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jai.v4i6.9921

Abstract

Perancangan lanskap dan LP3S Salatiga Wisma Widya Graha menggunakan pendekatan biofilik untuk memaksimaklan penataan ruang yang efsisien, dengan memperhatikan konektivitas antar ruang luar tanpa mengganggu aspek privasi maupun faktor luar serta menciptakan ruang luar yang efisien dengan dominan memanfaatkan vegetasi sebagai aspek yang ingin ditonjolkankan dalam perancangan. Pendekatan biofilik yang didukung oleh konsep keberlanjutan diwujudkan dalam perancangan melalui pemanfaatan aksesibilitas utama pengunjung dan pedestrian, upaya mempertahankan penutup tanah dan lapangan perindang, penggunaan tanaman perdu sebagai dekorasi dan penggunaan tanaman produktif, mengoptimalkan pemandangan taman yang hijau dan asri, serta mempertahankan tipologi wisma sebagai penginapan dan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman ruang lanskap dalam bentuk area terbuka hijau dengan pemandangan dan suasana lingkungan.
Rethinking modularity as contextual design thinking Rony Gunawan Sunaryo; Bramasta Putra Redyantanu; Rony Gunawan Sunaryo
ARSNET Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Architecture Faculty of Engineering Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/arsnet.v4i1.105

Abstract

This study aims to reflect and expand the notion of modularity in architectural design methods. The discussion about modular architecture is certainly familiar across architectural discourse; where its universality has been repeatedly challenged by the post-modern movement. The study aims to unpack and rethink the method and significance of modularity, not only as a means of repetition but as a contextual design response. The study generate reflection towards two lodge architecture design projects. The architecture of lodge provides complexities with regard to various programmatic needs, temporal occupation, quick construction processes, and often deep connection to the surrounding environment. This study examines four reflective concepts which expand the idea and method of modularity in architecture. First, the roof modules in lodge architecture promotes efficient spatial programs. Secondly, the use of modularity allows parallel operation of the building and the construction process. Thirdly, modularity enables construction of architecture as parts constructing the whole, creating connection between spatial scales. Fourth, modularity constructs the inside and outside experience, providing  connection with environmental context. This study offers a new perspective on repositioning and expanding modularity, not only as a means of repetition but also as a form of contextual design thinking.
PERSEPSI MULTIGENERASI TERHADAP ELEMEN PERSISTEN KAWASAN PUSAT KOTA PASURUAN Rony Gunawan Sunaryo; Soegiono, Phylicia Deosephine; Sunaryo, Rony Gunawan; Hariyanto, Agus Dwi
MODUL Vol 24, No 1 (2024): MODUL vol 24 nomor 1 tahun 2024 (5 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mdl.24.1.2024.1-10

Abstract

Kota Pasuruan pertama kali dikenal sebagai pelabuhan transit dan pasar perdagangan antar pulau serta antar negara di timur Jawa. Hal ini dikarenakan lokasinya strategis berada di utara yang berbatasan langsung dengan selat Madura. Namun, dalam perkembangannya, kota Pasuruan tidak lagi sebagai central perdagangan di Jawa Timur. Keberadaan kota Pasuruan tetap bertahan namun sebagai kota yang bercirikan perkebunan dengan memiliki beberapa elemen pusat kota, antara lain pemerintah kota, pusat penelitian gula, masjid dan alun-alun, serta klenteng yang menjadi khas dari kota Pasuruan. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui morfologi tipologi kawasan pusat Kota Pasuruan, mengidentifikasi tingkat permanensi elemen-elemen pembentuk pusat Kota Pasuruan, dan mendapatkan gambaran perubahan karakter kawasan pusat Kota Pasuruan. Metodologi penelitian yang dipakai adalah deskriptif kualitatif dengan melakukan analisis urban tissue secara diakronis dan sinkronis setiap elemen pembentuk pusat kota, melakukan analaisis matrikulasi permanensi elemen di tiap layer wakti, dan peta mental untuk mendapatkan gambaran masyarakat. Hasil akhir dari penelitian ini adalah berupa saran elemen kota apa yang perlu dipertahankan dan diubah untuk perbaikan citra kawasan. 
Pattern and type permanence in the Kasongan area: Typo-morphology study towards a sustainable Pottery Tourism Village Rony Gunawan Sunaryo; Sunaryo, Rony Gunawan; Pudianti, Anna; Purbadi, Yohanes Djarot
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 7 No 2 (2022): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Mei 2022 ~ Agustus 2022
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v7i2.1400

Abstract

The study aims to determine the pattern and type permanence levels of the elements used to build the Kasongan area in the last 60 years. Permanence is an approach used to determine identity in the context of regional change. Kasongan is a rural-urban area with agrarian resources located between Bantul and Yogyakarta and influenced by urban globalization. This historic area is almost two centuries old and has developed into a village of pottery craftsmen. Adaptation to environmental and cultural changes after the 1960s made Kasongan transform from an agrarian village character to an industrial and then to a tourism village-town. Changes in this region can be seen in the building and area typology, which developed into a sustainable tourism area. The locus taken is a part of the Kajen and Beton Hamlet, which are indicated as early stages of growth and development direction for the Kasongan in the last few decades. The is a typo-morphological study carried out using a morphological mapping method and a regional typological process. The results found spatial patterns and types that (1) persisted as the initial identity, (2) changed, and (3) disappeared.
Redesain Pasar Mangiran di Bantul D.I.Yogyakarta yang Mewadahi Kegiatan Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang Berkelanjutan Rony Gunawan Sunaryo; Ardhiansyah, Nicolaus Nino; Sunaryo, Rony Gunawan; Kirana, Elizabeth
Jurnal Atma Inovasia Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.78 KB) | DOI: 10.24002/jai.v2i2.5500

Abstract

Abstrak - Pasar Rakyat menyumbangkan lapangan kerja dan menjadi sumber utama kehidupan bagi banyak orang. Berdasarkan data Kementrian perdagangan terdapat 13.450 pasar rakyat yang menampung sebanyak 12,6 juta pedagang. Melihat jumlah yang sangat besar, membuktikan Pasar Rakyat menjadi substansi penting dalam kehidupan masyarakat. Pasar Mangiran merupakah salah satu Pasar Rakyat yang terdapat di Kabupaten Bantul, DIY. Pasar ini menjadi salah satu lokasi yang masuk ke dalam program Revitalisasi 32 Pasar Rakyat yang dilaksanakan oleh Bappeda Bantul. Pasar Mangiran mempunyai potensi pengembangan yang sangat strategis karena berada di jalur utama menuju Bandara NYIA, disamping itu juga mempunyai nilai historis yang cukup tinggi. Pasar Mangiran berdasarkan SNI masuk kedalam Pasar Rakyat Tipe III. Berdasarkan hasil analisis tabel SNI ada beberapa fasilitas yang belum tersedia di pasar ini, sehingga mempengaruhi kenyamanan pengunjung. Redesain Pasar Mangiran yang mampu mewadahi aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya yang berkelanjutan menjadi pertimbangan untuk meningkatkan kenyamanan pengelola, pedagang, dan pembeli. Kata berkelanjutan menjadi penting karena pasar diharapkan tidak kehilangan jati dirinya namun tetap bisa bersaing diera modernisasi ini. Kata Kunci : Pasar Rakyat, Pasar Mangiran, SNI, Berkelanjutan
Perencanaan Masterplan Pasar Niten di Kabupaten Bantul Rony Gunawan Sunaryo; Sunaryo, Rony Gunawan; Ardiansyah, Nicolaus Nino; Saraswati, Adinda Estiana; Murti, Adrian Prasetyo
Jurnal Atma Inovasia Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.566 KB) | DOI: 10.24002/jai.v2i2.5247

Abstract

Setelah relokasi Pasar Niten lama ke lokasi baru di Jalan Bantul km 5 pada tahun 2009, timbul masalah-masalah baru secara bertahap menyebabkan sepinya pengunjung Pasar Niten di masa kini. Kemudian muncul gagasan BAPPEDA (Badan Perencana Pembangunan Daerah) Bantul untuk merevitalisasi Pasar Niten dengan konsep baru yang lebih representatif, dalam hal ini mengacu pada nilai strategis Bantul sebagai kawasan sub-urban Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari permasalahan ini, dibuatlah sebuah strategi yaitu selain sebagai wadah perdagangan dan ekonomi, tipologi turut menjadi wadah yang dapat mengumpulkan berbagai orang dengan latar yang berbeda untuk berdinamika dalam aspek sosial dan ekologi. Dalam mencapai strategi tersebut, diinjeksikan fungsi agriculture dan creative hub melalui pendekatan sustainable food systems dan placemaking sehingga dapat meningkatkan kembali eksistensi Pasar Niten.