Dini Setyowati, Dini
Department Of Dental Public Health, Faculty Of Dental Medicine, Universitas Airlangga, Indonesia.

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

The relationship between knowledge, attitude, and practice towards snacking habits with dental caries status among children aged 8–11 years at Ketabang 1 Public Elementary School, Surabaya Setyowati, Dini; Putri, Nabila Adine; Erinda, Intan Aprillia Putri; Maharani, Annisa Tri; Supatra, Andre Amin; Sa’adah, Nur Hikmatus ; Aprilia, Amanda Ayu; Saputra , Jasmine Dharmarani; Aifma, Sella Pujaya Wahyu; Suryanti, Fanya; Noor, Tengku Natasha Eleena binti Tengku Ahmad
Indonesian Journal of Dental Medicine Vol. 9 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Dental Medicine
Publisher : Faculty of Dental Medicine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/ijdm.v9i1.2026.26-29

Abstract

Background: Dental caries is a chronic infectious disease caused by bacterial activity that demineralizes tooth enamel and dentin. According to the 2018 Indonesian Basic Health Research (Riskesdas), 67.3% of school-aged children experience oral health problems, with dental caries being the most prevalent (88.8%). Purpose: This study aimed to analyze the relationship between knowledge, attitude, and practice towards snacking behavior with dental caries status among children aged 8–11 years at Ketabang 1 Public Elementary School, Surabaya, in 2025. Methods: This observational analytic study used a cross-sectional design involving 85 students selected through cluster random sampling. Data on knowledge, attitude, and snacking behavior were collected using a structured questionnaire, while dental caries status was clinically examined using the DMFT and PUFA indices. Statistical analyses included the Chi-square test, Independent T-test, and Mann–Whitney test with a significance level of p < 0.05. Results: The mean DMFT scores ranged from 2.53 ± 1.37 to 4.65 ± 2.12, and the mean PUFA ranged from 0.20 ± 0.37 to 0.58 ± 0.67, indicating moderate to high caries prevalence. Chi-square analysis showed a significant relationship between knowledge (p = 0.000) and practice (p = 0.003) with dental caries status, while attitude showed no significant correlation (p = 0.943. Conclusion: Knowledge and snacking behavior are significantly associated with dental caries status among school-aged children, whereas attitude shows no significant relationship. Strengthening oral health education and promoting healthy snacking habits are crucial to reducing caries incidence in elementary school children.
Pemberdayaan Orang Tua Balita dalam Pencegahan Karies Gigi Anak melalui Media Edukasi Visual Berbasis Budaya Lokal di Pulau Gili Iyang Dian Prastiwi, Agnes; WD Astuti, Ari; Setyowati, Dini; Luthfi, Muhammad; Wissen, Selina; Cornelia Nelwan, Sindy; Janice Christabel, Yokhebed
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 2 (2026): JAMSI - Maret 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.2708

Abstract

Karies gigi anak usia dini (early childhood caries/ ECC) masih menjadi permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang signifikan, terutama di wilayah kepulauan dengan keterbatasan akses layanan kesehatan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan orang tua sebagai pengelola utama kesehatan gigi dan mulut anak melalui pemanfaatan media edukasi visual berbasis budaya lokal di Pulau Gili Iyang, Sumenep, Madura. Sebanyak 75 orang tua yang memiliki anak usia di bawah lima tahun melalui pendekatan edukatif dengan desain one-group pre-test–post-test, melalui media kesehatan banner dan buku cerita berbahasa Madura yang memuat materi perkembangan gigi, pencegahan ECC, serta teknik menyikat gigi yang benar. Evaluasi dilakukan dengan menilai perubahan pemahaman dan respons peserta terhadap materi yang diberikan. Peserta juga menunjukkan antusiasme dan niat untuk menerapkan perilaku perawatan gigi preventif di rumah. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman orang tua dari 54,53% menjadi 90,00% disertai respons masyarakat yang positif, ditandai dengan partisipasi aktif, diskusi interaktif, serta komitmen untuk menerapkan praktik perawatan gigi preventif anak di lingkungan keluarga. Media edukasi berbasis budaya lokal terbukti mampu mendukung proses pemberdayaan orang tua dan memperkuat peran mereka sebagai agen perubahan dalam pencegahan ECC. Pendekatan ini berpotensi berkelanjutan melalui keterlibatan kader kesehatan dan pemanfaatan media edukasi secara mandiri oleh masyarakat.