Gian Lisuari Adityasiwi
Department Of Physical Therapy, STIKES Bethesda Yakkum, Yogyakarta

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PENGARUH WORKPLACE STRETCHING MELALUI MICROBREAK 5 MENIT TERHADAP PENURUNAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENGRAJIN SEPATU Gusma, Ellysa Okky; Sunarto, Gatot; Adityasiwi, Gian Lisuari; Khenda, Nathan Agwin; Susanto, Nicolas Adi Perdana
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i1.54676

Abstract

Low back pain merupakan salah satu keluhan muskuloskeletal yang paling sering dialami pekerja sektor informal, termasuk pengrajin sepatu, akibat paparan postur kerja statis dan aktivitas berulang dalam durasi panjang. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan nyeri, tetapi juga berdampak pada keterbatasan fungsi aktivitas dan penurunan produktivitas kerja. Salah satu pendekatan ergonomi yang berpotensi mengatasi permasalahan tersebut adalah workplace stretching yang dilakukan melalui microbreak singkat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh microbreak workplace stretching selama 5 menit terhadap intensitas nyeri punggung bawah dan disabilitas fungsional pada pengrajin sepatu di Mojokerto. Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan rancangan one-group pretest–posttest. Populasi penelitian adalah seluruh pengrajin sepatu di Mojokerto dengan sampel sebanyak 50 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel penelitian meliputi intensitas nyeri punggung bawah dan disabilitas fungsional. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Visual Analogue Scale (VAS) dan Roland–Morris Disability Questionnaire (RMDQ). Intervensi microbreak workplace stretching diberikan selama 5 menit, dua kali sehari, selama dua minggu. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan pada intensitas nyeri saat gerak, nyeri saat diam, serta disabilitas fungsional setelah intervensi (p < 0,05). Simpulan penelitian ini adalah microbreak workplace stretching merupakan intervensi ergonomi yang efektif dalam menurunkan nyeri punggung bawah dan meningkatkan kapasitas fungsional pekerja, serta relevan sebagai strategi promotif–preventif dalam kesehatan kerja sektor informal.
Effectiveness of Digital Consultation in Orthotic and Prosthetic Services: A Systematic Review Gusma, Ellysa Okky; Sunarto, Gatot; Adityasiwi, Gian Lisuari; Kristina, Hana
Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.Dr. Soetomo Vol 12, No 1 (2026): JMK Yayasan RS.Dr.Soetomo, April 2026
Publisher : STIKES Yayasan RS.Dr.Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29241/jmk.v12i1.2522

Abstract

Background: Orthotic and prosthetic services are an important part of rehabilitation; however, access and continuity of care are often constrained by geographical distance, workforce shortages, and administrative barriers, particularly in centralized service models. Digital consultation and telehealth offer potential solutions by streamlining workflows and enhancing patient preparedness. However, empirical evidence in O&P remains limited. Objective: This study synthesizes evidence on the implementation and effects of digital consultation in O&P, including access, continuity of care, efficiency, transparency, patient-centered outcomes, and key barriers and facilitators. Methods: A systematic review was conducted in accordance with the PRISMA Statement. Searches were performed in PubMed/MEDLINE, Scopus, Web of Science, Google Scholar, and national journal portals from January 2016 to January 2026. Two reviewers independently screened studies, extracted data, and assessed methodological quality. Narrative synthesis was applied due to heterogeneity. Results: Seven studies (2020-2026) were included (one high-quality and six moderate-quality studies). Interventions included WhatsApp-based pre-visit consultations, service-monitoring systems, telehealth via video/telephone, and mobile O&P service delivery. Digital consultation improved administrative and clinical readiness, supported access and continuity of care, enhanced efficiency and process transparency, and was associated with high levels of patient satisfaction. However, physical assessment remained necessary at specific stages of care. The main barriers included limited internet connectivity, unequal access to digital devices, workforce readiness challenges, and inadequate integration of health information systems. Conclusion: Digital consultation can enhance the O&P services when integrated into routine workflows supported by integrated information systems.
Peningkatan Kapasitas Kesehatan Pengelola Sampah sebagai Upaya Pencegahan Stunting Menggunakan Pendekatan Asset-Based Community Development Ignasia Yunita Sari; Resta Betaliani Wirata; Gian Lisuari Adityasiwi; Putri Widia Anggrahini; Brigita Angel Pingkani; Catarina Arista Indriani
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 1 (2026): Volume 9 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i1.23436

Abstract

ABSTRAK Stunting masih menjadi masalah kesehatan nasional yang belum terselesaikan. Faktor lingkungan, termasuk pengelolaan sampah dan sanitasi, memiliki kontribusi terhadap kejadian stunting. Petugas pengelola sampah berperan penting dalam menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas pengelola sampah mengenai pencegahan infeksi melalui pelatihan personal hygiene, penggunaan APD yang benar, serta penerapan ergonomi kerja dalam mendukung pencegahan stunting berbasis lingkungan sehat. Penyuluhan, pelatihan, demonstrasi, redemonstrasi, dan pendampingan dengan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD). Tahapan meliputi sosialisasi, pelatihan pencegahan infeksi dan ergonomi, pengadaan fasilitas cuci tangan dan APD standar, serta monitoring dan evaluasi hasil kegiatan. Terdapat peningkatan pengetahuan setelah pelatihan. Pada pelatihan pertama mengenai personal hygiene dan APD, nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 90,48% menjadi 100%. Pelatihan kedua mengenai ergonomi kerja menunjukkan peningkatan rata-rata dari 82,14% menjadi 100%. Selain itu, fasilitas cuci tangan telah terpasang di area pengelolaan sampah. Kegiatan pelatihan dan pendampingan berhasil meningkatkan pengetahuan serta kesadaran petugas pengelola sampah terhadap pentingnya personal hygiene, penggunaan APD, dan penerapan ergonomi kerja.  Kata Kunci: Stunting, Pengelolaan Sampah, Personal Hygiene, Alat Pelindung Diri, Ergonomi.  ABSTRACT Stunting remains an unresolved national health issue. Environmental factors, including waste management and sanitation, contribute to the occurrence of stunting. Waste management workers play an important role in maintaining environmental cleanliness. This activity aims to improve the knowledge and skills of waste management workers in infection prevention through training on personal hygiene, proper use of personal protective equipment (PPE), and the application of work ergonomics to support stunting prevention based on a healthy environment. The methods used include education, training, demonstration, redemonstration, and mentoring with an Asset-Based Community Development (ABCD) approach. The stages involved socialization, training on infection prevention and ergonomics, provision of handwashing facilities and standard PPE, as well as monitoring and evaluation of the program outcomes. There was an increase in knowledge after the training. In the first training session on personal hygiene and PPE, the average knowledge score increased from 90.48% to 100%. The second training session on work ergonomics showed an average increase from 82.14% to 100%. In addition, handwashing facilities were successfully installed in the waste management area. The training and mentoring activities effectively improved the knowledge and awareness of waste management workers regarding the importance of personal hygiene, PPE use, and the application of ergonomic practices. Keywords: Stunting, Waste Management, Personal Hygiene, Personal Protective Equipment, Ergonomic.
Aerobic in water is better than aerobic on land in the treatment of overweight teenage women Gian Lisuari Adityasiwi; Yoga Handita; Marti Rustanti
Physical Therapy Journal of Indonesia Vol. 4 No. 1 (2023): January-June 2023
Publisher : Universitas Udayana dan Diaspora Taipei Medical University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/ptji.v4i1.72

Abstract

Background: Having a beautiful body is a teenage woman’s dream, but those who are overweight have difficulty losing weight because of an imbalance between energy intake and energy use. To prove that aerobics in water is better than aerobics on the land to lose weight teenage women. Methods: We included overweight teenage overweight women. The research design used randomized pre and post-test designs. The research subjects were 22 overweight teenage women 18 – 21 years old and divided into two groups. Subjects get treatment three times a week for eight weeks. The first group received aerobics in water, and the second group received aerobics on land. The body weight measurement using Camry scales. Result: Based on the resulting test for aerobic in water, the p= 0.01, and the result for aerobic in land p= 0.624. Aerobic in water values with p<0.05, which states that aerobic in water has a significant effect on weight loss. However, aerobics on land results in a p> 0.05, meaning that it is not significant for weight loss. Conclusion: Aerobic in water is more effective than aerobic on the land to lose weight for teenage women.
Brace Compliance, Cobb Angle, and Quality of Life in Adolescent Idiopathic Scoliosis Ellysa Okky Gusma; Gatot Sunarto; Gian Lisuari Adityasiwi; Hana Kristina
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 17, No 7 (2026): July 2026
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Skoliosis idiopatik remaja (AIS) menghadirkan tantangan klinis yang signifikan, dengan penggunaan penyangga (brace) sebagai pengobatan non-bedah utama yang bertujuan untuk menghentikan perkembangan kurva. Namun, efektivitas penggunaan penyangga sangat bergantung pada kepatuhan pasien, namun bukti empiris yang mengintegrasikan koreksi biomekanik seperti perubahan tinggi badan dengan kepatuhan dan kualitas hidup masih langka. Studi ini menggunakan desain kuasi-eksperimental longitudinal, pengukuran berulang yang melibatkan 50 remaja perempuan dengan AIS (usia 13-18 tahun, sudut Cobb 20°-35°) di Klinik Ortotik dan Prostetik Mojokerto untuk menyelidiki hubungan antara kepatuhan penggunaan penyangga, perubahan tinggi badan, dan kualitas hidup (QoL) yang berhubungan dengan kesehatan. Partisipan menjalani terapi penyangga selama tiga bulan, dengan tinggi badan diukur pada awal, saat menggunakan penyangga, dan pada tindak lanjut tiga bulan. Kepatuhan penggunaan penyangga dinilai melalui kuesioner, dan QoL menggunakan Modul Skoliosis PedsQL. Hasil penelitian menunjukkan penurunan sudut Cobb rata-rata yang signifikan sebesar 2,6° (p < 0,001), dengan kelompok kepatuhan yang lebih tinggi menunjukkan penurunan yang lebih besar (p = 0,003). Meskipun tidak ditemukan korelasi signifikan antara tinggi badan dan waktu pemakaian penyangga (r = 0,11, p = 0,42), peserta dengan kepatuhan tinggi melaporkan skor kualitas hidup (QoL) yang secara signifikan lebih baik (85,4 ± 6,0) dibandingkan dengan kelompok kepatuhan sedang (79,3 ± 6,5) dan rendah (71,4 ± 8,1) (p < 0,001). Ketidaknyamanan umumnya ringan. Temuan ini menggarisbawahi bahwa meskipun penggunaan penyangga dapat mengoreksi deformitas tulang belakang dan meningkatkan QoL, kepatuhan pasien adalah faktor yang dapat dimodifikasi secara kritis. Dukungan perilaku, pendidikan, dan keluarga sangat penting untuk mengoptimalkan kepatuhan dan hasil pengobatan, menyoroti perlunya strategi yang berpusat pada pasien dalam manajemen AIS.