Titis Prawitasari, Titis
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Indonesian Hydration Working Group - FKUI

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Skrining Sistematik terhadap Hiperkolesterolemia Familial pada Anak Berdasarkan Kriteria MedPed, Simon Brome Register Register dan Dutch Lipid Clinic Titis Prawitasari; Sudigdo Sastroasmoro; Damayanti R. Sjarif
Sari Pediatri Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.2.2011.152-8

Abstract

Latar belakang. Hiperkolesterolemia familial (HF) merupakan kelainan genetik tersering penyebab terjadinya penyakit jantung koroner/aterosklerosis. Penyakit tersebut seringkali terlambat diketahui, padahal jika dapat diketahui sejak usia muda terjadinya penyakit jantung koroner dan kematian dapat dicegah. Terdapat berbagai macam kriteria untuk dapat mendeteksi dini HF pada orang dewasa, yaitu MedPed, Simon Broome RegisterdanDucth Lipid Clinic.Tujuan. Mendeteksi secara dini HF pada anak dengan riwayat orangtua mengalami penyakit jantung koroner dini dan hiperkolesterolemia berdasarkan kriteria MedPed, Simon Broome RegisterdanDucth Lipid Clinic.Metode. Studi potong lintang dari anak dengan riwayat orangtua mengalami PJK dini dan hiperkolesterolemia. Terhadap anak dan orangtua dilakukan pemeriksaan fisis dan laboratorium profil lipid (kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida dan Apo B) kemudian digolongkan ke dalam 3 kriteria diagnosis berdasarkan MedPed, Simon Broome Registerdan Dutch Lipid Clinic. Dilakukan juga pemeriksaan untuk menyingkirkan kemungkinan peningkatan kolesterol akibat penyakit lainnya. Hasil. Terdapat 28 subyek dan 20 kasus indeks dari 20 keluarga. Rerata usia anak adalah 11,6±4,75 tahun, dengan rerata usia kasus indeks 47,8±5,50 tahun. Rerata usia saat kasus indeks mengalami serangan jantung pertama kali adalah 45,3±5,65 tahun. Berdasarkan data yang ada dilakukan penggolongan sesuai kriteria MedPed, Simon Broome Registerdan Dutch Lipid Clinic. Didapatkan 15% (3/20) anak yang mungkin menderita HF berdasarkan kriteria MedPed, jika menggunakan kriteria Simon Broome Register didapatkan sekitar 10% (2/20) sedangkan dengan kriteria Dutch Lipid Clinicdidapatkan 50% (10/20) anak yang sangat mungkin(probable)mengalami HF dan 30% (6/20) lainnya mungkin(possible)mengalami HF. Pada penelitian ini memang tidak dilakukan pemeriksaan genetik.Kesimpulan. Kriteria Dutch Lipid Clinicdapat lebih banyak mendeteksi kemungkinan anak yang mengalami HF berdasarkan riwayat orangtua mengalami penyakit jantung koroner dini dan hiperkolesterolemia dibandingkan kriteria lainnya.
Kandungan Zat Besi pada Produk Makanan Bayi Siap Saji Titis Prawitasari
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.265-8

Abstract

Latar belakang. Setelah ASI eksklusif 6 bulan, bayi harus telah mendapatkan MPASI karena cadangan zatbesi dalam tubuh yang makin menipis dan asupan yang diperoleh dari ASI sudah tidak memadai lagi.Tujuan. Melakukan evaluasi kandungan zat besi yang tercantum dalam label produk MPASI siap saji yangada di pasaran.Metode. Dilakukan survei terhadap produk MPASI yang terdapat di swalayan di Jakarta Barat dan Timurselama bulan Mei 2011.Hasil. Dievaluasi 15 produk dari 5 produsen, berupa bubur, tim dan biskuit untuk golongan usia 6 bulan keatas, 8 bulan ke atas, dan 9 bulan ke atas. Semua mencantumkan petunjuk penggunaan dan saran penyajian.Takaran saji berbagai produk tersebut berbeda, antara 40-50 g (5-6) sendok makan per saji untuk bubur dantim serta 19-21 g per saji (2-3) keping untuk biskuit. Jumlah kalori per saji MPASI bubur dan tim antara160-210 kalori, sedangkan jumlah kalori per saji MPASI biskuit antara 80-90 kalori. MPASI yang terdapatdi pasaran mempunyai kandungan zat besi berkisar antara 0,48-4,8 mg (6-60)% dari AKG. Setelah 6 bulan,kekurangan asupan zat besi dapat tercukupi dengan minimal pemberian 1-2 kali MPASI siap saji per hari,di samping pemberian ASI atau susu formula sesuai kebutuhan berdasarkan usia.Kesimpulan. Produk MPASI/makanan bayi siap saji yang ada di pasaran mengandung antara 0,48-4,8 mgzat besi per takaran sajinya. Produk MPASI biskuit mempunyai kandungan zat besi yang paling rendah diantara bentuk lainnya.
Profil Asupan Minum pada Anak Prasekolah di Daerah Urban dan Rural di Indonesia dan Faktor-faktor yang Memengaruhinya Titis Prawitasari; Bernie Endyarni Medise; Diana Sunardi; Dewi Friska; Erfi Prafiantini; Rizki Yusrini Pohan; Budi Wiweko
Sari Pediatri Vol 22, No 4 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp22.4.2020.236-42

Abstract

Latar belakang. Asupan minum yang kurang akan berdampak terhadap performa fisik dan kognitif serta dapat menimbulkan manifestasi klinis, seperti pusing, lesu, dan gangguan konsentrasi. Anak memiliki proporsi cairan tubuh yang lebih tinggi dibandingkan dewasa. Hingga saat ini belum ada data mengenai kecukupan asupan minum anak prasekolah di Indonesia.Tujuan. Mengetahui kecukupan asupan minum anak prasekolah di daerah urban dan rural di Indonesia.Metode. Penelitian dengan desain potong lintang dilakukan pada bulan Januari-Maret 2016 di Jakarta dan Maluku pada anak usia 36-72 bulan. Perhitungan jumlah cairan dilakukan dengan mencatat jumlah yang diminum dalam 7 Day-Fluid Diary Record. Asupan minum total ditentukan berdasarkan jumlah yang dikonsumsi dari semua kategori dan sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG) 2019.Hasil. Sebanyak 585 anak mengikuti penelitian ini dengan median asupan minum adalah 1133,1 (85-2991,4) mL/hari dan jenis asupan paling tinggi adalah air putih. Subjek yang tinggal di daerah urban mempunyai faktor risiko lebih rendah untuk mengalami asupan minum yang kurang (RR=0,580; 95%IK: 0,418-0,807; p=0,001). Demikian pula semakin muda usia subjek, maka semakin kecil kemungkinan untuk mengalami kejadian asupan minum yang kurang (RR =0,497; 95%IK: 0,356-0,694; p=0,000).Kesimpulan. Rerata asupan minum anak usia prasekolah di Indonesia sedikit lebih rendah dari anjuran AKG. Anak prasekolah berusia ≥54 bulan dan anak yang tinggal di area rural lebih berisiko mengalami kekurangan asupan minum.
Gambaran Fungsi Kognitif HIV Anak yang Telah Memperoleh Terapi Antiretrovirus Herlina Herlina; Nia Kurniati; Titis Prawitasari; Soedjatmiko Soedjatmiko; Sri Rezeki Hadinegoro; Irawan Mangunatmadja; Darmawan B. Setyanto
Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.2.2016.100-5

Abstract

Latar belakang. Pasien HIV anak berisiko tinggi mengalami gangguan neurokognitif akibat keterlibatan sistem saraf pusat (SSP). Pemberian antiretrovirus (ARV menurunkan viral load di SSP sehingga mencegah penurunan fungsi kognitif.Tujuan. Memberikan gambaran fungsi kognitif pasien HIV anak dalam terapi ARV.Metode. Studi potong lintang dilakukan terhadap pasien HIV anak berusia 5-15 tahun. Penilaian kognitif dilakukan dengan instrumen Wechsler intelligence scale for children IV (WISC IV) dilanjutkan dengan pemeriksaan elektroensefalografi untuk membuktikan kerusakan akibat keterlibatan SSP pada infeksi HIV.Hasil. Sembilan puluh pasien HIV anak (median usia 9 tahun) telah memperoleh ARV selama  1-124 bulan dengan median 69 bulan. Hasil rerata verbal, performance, dan full-scale IQ (FSIQ) berturut-turut adalah 88,66 (SB 15,69), 85,30 (SB 15,35), dan 85,73 (SB 15,61). Dua puluh tiga (25,6%) subjek memiliki verbal IQ abnormal, 34 (37,8%) performance scale abnormal, dan 32 (35,6%) FSIQ abnormal. Hasil EEG abnormal didapatkan pada 22 subjek (22,4%) dan tidak memiliki hubungan dengan stadium klinis, usia dan lama pemberian ARV, serta viral load. Stadium HIV menunjukkan hubungan bermakna dengan komponen verbal scale IQ dan FSIQ (p=0,042 dan p=0,044). Hasil IQ tidak memiliki hubungan dengan usia pemberian ARV, lama pemberian ARV, dan viral load.Kesimpulan. Pasien HIV anak yang telah mendapat terapi ARV selama 1-124 bulan memiliki rerata IQ abnormal pada verbal, performance, dan FSIQ meskipun jika dinyatakan dalam bentuk kategori, lebih dari 50% subjek memiliki IQ normal pada ketiga skala WISC. 
Nilai Diagnostik Neutrophil Gelatinase-Associated Lipocalin Urin, Kelainan Urinalisis, dan Kombinasi Keduanya pada Infeksi Saluran Kemih Anak Usia 2–5 Tahun Estetika, Citra; Pardede, Sudung O.; Munasir, Zakiudin; Supriyatno, Bambang; Prawitasari, Titis; Yanuarso, Piprim Basarah
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.137-45

Abstract

Latar belakang. Infeksi saluran kemih (ISK) pada anak memiliki manifestasi klinis yang tidak khas sehingga sulit untuk diagnosis dini. Biakan urin memerlukan waktu hingga lima hari sehingga dapat menyebabkan keterlambatan terapi serta tingginya komplikasi ISK. Kelainan urinalisis yang saat ini digunakan masih memiliki spesifisitas yang rendah. Tujuan. Mengetahui nilai diagnostik Neutrophil gelatinase-associated lipocalin (NGAL) urin, kelainan urinalisis, dan kombinasi keduanya untuk mendiagnosis dini ISK pada anak usia 2-5 tahun.Metode. Uji diagnostik menggunakan biakan urin sebagai baku emas dengan desain potong lintang pada anak berusia 2-5 tahun dengan tersangka ISK dan dirawat di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo.Hasil. Pemeriksaan NGAL urin diketahui memiliki sensitivitas 85,7% (IK95%: 63,6-96,9%), spesifisitas 74,3% (IK95%: 57,8-86,9%), positive predictive value 64,3% (IK95%: 50,6–75,9%), dan negative predictive value 90,6% (IK95%: 76,9-96,5%) pada anak dengan minimal satu kelainan urinalisis. Pemeriksaan NGAL urin hanya meningkatkan spesifisitas kelainan urinalisis berupa leukosituria saja dan tidak meningkatkan spesifisitas pada yang telah memiliki tiga kelainan urinalisis. Kesimpulan. Neutrophil gelatinase-associated lipocalin urin tidak dianjurkan untuk meningkatkan spesifisitas urinalisis dalam diagnosis ISK pada anak usia 2–5 tahun. Gabungan tiga kelainan urinalisis tanpa NGAL urin sudah memiliki spesifisitas yang baik. Perlu dilakukan penelitian biomarker lain untuk mendiagnosis dini ISK dengan lebih baik.