Titis Prawitasari, Titis
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Indonesian Hydration Working Group - FKUI

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Nilai Diagnostik Neutrophil Gelatinase-Associated Lipocalin Urin, Kelainan Urinalisis, dan Kombinasi Keduanya pada Infeksi Saluran Kemih Anak Usia 2–5 Tahun Estetika, Citra; Pardede, Sudung O.; Munasir, Zakiudin; Supriyatno, Bambang; Prawitasari, Titis; Yanuarso, Piprim Basarah
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.137-45

Abstract

Latar belakang. Infeksi saluran kemih (ISK) pada anak memiliki manifestasi klinis yang tidak khas sehingga sulit untuk diagnosis dini. Biakan urin memerlukan waktu hingga lima hari sehingga dapat menyebabkan keterlambatan terapi serta tingginya komplikasi ISK. Kelainan urinalisis yang saat ini digunakan masih memiliki spesifisitas yang rendah. Tujuan. Mengetahui nilai diagnostik Neutrophil gelatinase-associated lipocalin (NGAL) urin, kelainan urinalisis, dan kombinasi keduanya untuk mendiagnosis dini ISK pada anak usia 2-5 tahun.Metode. Uji diagnostik menggunakan biakan urin sebagai baku emas dengan desain potong lintang pada anak berusia 2-5 tahun dengan tersangka ISK dan dirawat di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo.Hasil. Pemeriksaan NGAL urin diketahui memiliki sensitivitas 85,7% (IK95%: 63,6-96,9%), spesifisitas 74,3% (IK95%: 57,8-86,9%), positive predictive value 64,3% (IK95%: 50,6–75,9%), dan negative predictive value 90,6% (IK95%: 76,9-96,5%) pada anak dengan minimal satu kelainan urinalisis. Pemeriksaan NGAL urin hanya meningkatkan spesifisitas kelainan urinalisis berupa leukosituria saja dan tidak meningkatkan spesifisitas pada yang telah memiliki tiga kelainan urinalisis. Kesimpulan. Neutrophil gelatinase-associated lipocalin urin tidak dianjurkan untuk meningkatkan spesifisitas urinalisis dalam diagnosis ISK pada anak usia 2–5 tahun. Gabungan tiga kelainan urinalisis tanpa NGAL urin sudah memiliki spesifisitas yang baik. Perlu dilakukan penelitian biomarker lain untuk mendiagnosis dini ISK dengan lebih baik.
Manifestasi Kulit Sebagai Petunjuk Diagnosis pada Kwashiorkor Angelina; Prawitasari, Titis
Majalah Kedokteran Indonesia Vol 68 No 6 (2018): Journal of The Indonesian Medical Association - Majalah Kedokteran Indonesia, Vo
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA (PB IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47830/jinma-vol.68.6-2018-61

Abstract

Pendahuluan: Kwarshiorkor merupakan kondisi malnutrisi berat yang disebabkan asupan protein tidak adekuat. Kwashiorkor seringkali tidak terdiagnosis karena kecurigaan klinis masih rendah, adanya edema menutupi malnutrisi, kurangnya pengetahuan mengenai manifestasi klinis tipikal kwarshiorkor. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan klinis terhadap kasus kwashiorkor, khususnya yang datang dengan manifestasi kulit, sehingga tidak terjadi keterlambatan diagnosis. Kasus: Anak lelaki 3,5 tahun dengan lesi kulit luas seluruh tubuh dirujuk dengan kecurigaan lupus eritematosa sistemik. Pasien terkesan cengeng, murah marah, tampak edema, dan alopesia yang jelas. Status dermatologikus secara umum didapatkan lesi kulit hipopigmentasi dan hiperpigmentasi dengan eritema, erosi multipel dan skuama putih kecoklatan. Status antropometri berdasarkan kurva WHO 2006 menunjukkan berat badan (BB) menurut umur 1 SD kurang dari Z score kurang dari 2 SD, tinggi badan (TB) menurut umur -1 SD kurang dari Z score kurang dari 0 SD, dan BB menurut TB lebih dari 3 SD. Terdapat riwayat penurunan BB 12 kilogram (kg) dalam 6 bulan terakhir. Pemeriksaan laboratorium terdapat hipoalbuminemia dan defisiensi seng. Selama perawatan pasien mendapat formula khusus gizi buruk F100 dan F135, suplementasi mikronutrien, dan vaselin album. Pada hari perawatan kelima eritema, erosi, dan deskuamasi kulit mulai menghilang. Berat badan menurun seiring dengan berkurangnya edema. Kesimpulan: Setiap tenaga kesehatan harus memikirkan kemungkinan kwarshiokor sebagai diagnosis banding pada pasien dengan edema dan menifestasi kulit luas, yang memiliki riwayat penurunan berat badan bermakna sebelumnya.
Chronotype and Chrononutrition Profiles in Adolescents Obesity Danindra Andri Hidayat; Mifta Khudin; Titis Prawitasari
Archives of Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition Vol. 5 No. 1 (2026): APGHN Vol. 5 No. 1 February 2026
Publisher : The Indonesian Society of Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58427/apghn.5.1.2026.45-61

Abstract

Background: Adolescent obesity remains a major global public health challenge. Modern lifestyle factors that disrupt circadian rhythms may exacerbate metabolic dysregulation in adolescents. Chronotype, reflecting innate circadian preferences for sleep-wake and activity timing, and chrononutrition, which emphasizes the alignment of meal timing with circadian rhythms, have gained attention as potential determinants of obesity. However, evidence integrating chronotype and chrononutrition profiles with adolescent obesity remains limited. Therefore, this review aims to synthesize the current evidence on the roles of chronotype and chrononutrition in adolescents obesity. Discussion: Circadian rhythm regulates metabolic, hormonal, and behavioral processes through coordinated central and peripheral clocks. Variations in chronotype and disruptions in circadian alignment influence sleep patterns, meal timing, and metabolic regulation in adolescents. Evidence indicates that chronotype alone does not directly determine obesity risk; rather, its interaction with eating timing, sleep quality, and lifestyle behaviors plays a crucial role. Chrononutrition emphasizes aligning food intake with the biologically active phase, which is associated with improved insulin sensitivity, glycemic control, lipid metabolism, and blood pressure regulation. Determining chronotype and chrononutrition profiles remains challenging. The assessment is predominantly performed using standardized and validated questionnaires. Conclusion: Chronotype and chrononutrition profiles may contribute to the risk of obesity in adolescents. They might be a potential strategy for obesity prevention and management. Nevertheless, current evidence remains limited, and further longitudinal and interventional studies are required to confirm these findings and inform future recommendations.