Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Laporan Kasus : Gejala Psikotik pada Pasien dengan Riwayat Epilepsi disertai Komorbid Penyalahgunaan Obat-Obatan dengan Ciri Kepribadian Antisosial PRATAMA, MAULANA YUDHA; Ahdimar, Friendy; Maryudhiyanto, Liko; Agustina, Citra Fitri
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 4 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i4.4824

Abstract

Gejala psikotik adalah tanda yang menunjukkan gangguan dalam pemikiran, persepsi, atau perilaku seseorang. Gejala psikotik dapat muncul dalam berbagai kondisi mental, termasuk halusinasi organik. Pada kasus Tn. K, laki-laki 20 tahun, datang dibawa oleh keluarga dengan keluhan utama yaitu pasien merasa terganggu dengan bisikan-bisikan di telinganya serta. Menurut keluarga, pasien menunjukan sikap-sikap yang tidak biasa seperti bicara sendiri, perilaku kadang-kadang aneh seperti sifat kekanak-kanakan, sulit tidur, emosi tanpa sebab, memarahi setiap orang yang berinteraksi dengannya, selalu curiga dengan lingkungan sekitar dan selalu keluar rumah bahkan ketika malam hari. Keluarga pasien mengaku bahwa pasien memiliki riwayat penyalahgunaan obat-obatan tramadol dan hexymer sejak 1 bulan yang lalu. Pasien juga memiliki riwayat epilepsi sejak usia 10 bulan sampai sekarang, kejang terakhir 1 hari SMRS. Pasien juga menunjukkan halusinasi auditorik dan waham rujukan. Diagnosis adalah Halusinosis Organik dengan GAF 40-31. Kasus ini menunjukkan bahwa pasien dengan riwayat epilepsi memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan psikotik. Temuan dalam laporan kasus ini juga sejalan dengan penelitian-penelitian yang ada mengenai dampak penyalahgunaan zat seperti Trihexyphenidyl dan tramadol terhadap perkembangan gejala psikotik. Pada pasien ini juga menunjukkan ciri kepribadian antisosial yang dimana belum memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan kepribadian antisosial (ASPD). Tatalaksana psikotik akibat kondisi medis umum utama adalah mengobati kondisi medis umum yang menyebabkan psikotiknya tersebut melalui pemberian psikofarmaka dan psikoterapi yang tepat. Prognosis bergantung pada reversibilitas dari penyakit yang mendasarinya dan kemampuan otak untuk menahan pengaruh penyakit dasarnya.
Prevalensi Sindrom Metabolik Pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan Grogol Jakarta Barat dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam Naya, Nur Afifah Inayah; Agustina, Citra Fitri; Anshar, Fazlurrahman; Eliana, Fatimah
Junior Medical Journal Vol. 3 No. 4 (2025): Juni 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/jmj.v3i4.5037

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang menyebabkan delusi, halusinasi, dan gangguan dalam berpikir, persepsi, serta perilaku. Pengidap skizofrenia sering mengalami peningkatan risiko sindrom metabolik, yang terdiri dari obesitas sentral, dislipidemia, peningkatan kadar gula darah puasa, dan hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi sindrom metabolik pada pasien skizofrenia di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan, serta distribusinya berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia. Metodologi: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain observasi deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dengan melakukan pengukuran fisik seperti lingkar pinggang, tekanan darah, dan kadar gula darah puasa. Analisis data menggunakan analisis univariat Hasil dan Simpulan: Sampel penelitian terdiri dari 58 pasien skizofrenia yang dirawat inap di rumah sakit di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan. Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa sindrom metabolik dialami oleh 22 orang (37,9%), sementara 36 orang (62,2%) tidak menderita sindrom metabolik. Sindrom metabolik lebih banyak terjadi pada pasien perempuan (51,7%) dibandingkan laki-laki (24,1%). Selain itu, prevalensi sindrom metabolik lebih tinggi pada pasien berusia >25 tahun (46,5%) dibandingkan pasien berusia <25 tahun (13,3%). ABSTRACT Introduction: Schizophrenia is a severe mental disorder characterized by delusions, hallucinations, and disruptions in thinking, perception, and behavior. Individuals with schizophrenia often face an increased risk of metabolic syndrome, which includes central obesity, dyslipidemia, elevated fasting blood glucose, and hypertension. This study aims to determine the prevalence of metabolic syndrome among schizophrenia patients at Soeharto Heerdjan Hospital and its distribution based on gender and age groups. Methodology: This study employed a quantitative approach with a descriptive observational design. Primary data were collected through physical measurements, including waist circumference, blood pressure, and fasting blood glucose levels. Data analysis was conducted using univariate analysis. Results and Conclusion: The study involved 58 schizophrenia patients hospitalized at Soeharto Heerdjan Hospital. The findings revealed that 22 patients (37.9%) were diagnosed with metabolic syndrome, while 36 patients (62.2%) did not have the condition. Metabolic syndrome was more prevalent among female patients (51.7%) compared to male patients (24.1%). Additionally, the prevalence of metabolic syndrome was higher in patients aged >25 years (46.5%) than those aged <25 years (13.3%).
THE INFLUENCE OF ONLINE TO OFFLINE LEARNING METHODS ON LEARNING MOTIVATION IN MUSLIM DOCTORS, FACULTY OF MEDICINE, YARSI UNIVERSITY Citra Fitri Agustina; Salsabila, Ayudhia
Jurnal Penelitian Vol 6 No 2 (2024): JURNAL PENELITIAN
Publisher : Institut Ilmu Kesehatan Nahdlatul Ulama Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47710/jp.v6i2.361

Abstract

Background: Online learning is implemented as an effort to reduce the spread of Covid-19. In the medical education, coass, online learning affects the learning motivation of students. Motivation is the drive to perform an action with a specific goal. The goal of this research is to understand the learning motivation of Muslim doctors during the transition from online to offline learning methods during clinical clerkship. Method: This research is quantitative, using the Wilcoxon test by distributing the Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) online. The research sample consists of Muslim doctors from the Faculty of Medicine, YARSI University in 2022, learning with the transition from online to offline methods during clinical, selected through simple random sampling. Result: The results obtained in this study show that the learning motivation during online learning is mostly categorized as very good compared to offline learning Conclusion : The score of learning motivation from online to offline does not show significant changes, with a significance value of 0.812 > 0.05, indicating no increase in learning motivation during the transition from online to offline learning methods.
Gangguan Depresif Berulang, Episode Kini Berat Dengan Gejala Psikotik Disertai Dengan Gangguan Kepribadian Emosional Tidak Stabil Tipe Ambang Setyowati, Hany; Frijanto , Agung; Fitri Agustina, Citra
Jurnal sosial dan sains Vol. 4 No. 8 (2024): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v4i8.1507

Abstract

Latar Belakang: Gangguan depresif adalah gangguan psikiatri yang termasuk dalam kategori gangguan mood. Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosa Gangguan Jiwa III (PPDGJ III) kriteria utama gangguan depresif yaitu memiliki afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan serta berkurangnya energi. Gangguan kepribadian Emosional tidak stabil tipe ambang salah satu dari empat gangguan klaster B, ditandai dengan impulsivitas dan ketidakstabilan emosional. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kasus seorang perempuan yang mengalami komorbiditas antara gangguan depresif dan gangguan kepribadian emosional tidak stabil tipe ambang. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini menganalisis kasus seorang perempuan 21 tahun yang mengalami perilaku melukai diri sendiri dan gejala depresif akibat trauma emosional, termasuk perceraian orang tua dan kurangnya perhatian keluarga Hasil: Pasien menunjukkan gejala Borderline Personality Disorder (BPD) sejak remaja, seperti ketidakstabilan emosional, perilaku impulsif, serta kesulitan mempertahankan hubungan, dan juga mengalami gejala depresif dan psikotik berupa bisikan ajakan bunuh diri. Setelah diagnosis dikonfirmasi melalui pemeriksaan fisik dan psikiatri, pengobatan dengan kombinasi farmakoterapi (Risperidone dan Fluoxetine) serta Cognitive Behavioral Therapy (CBT) menghasilkan peningkatan stabilitas emosional dan kontrol impuls pada pasien. Kesimpulan : Pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil tipe ambang sering mengalami komorbiditas berupa gangguan depresif yang ditandai dengan ketidakstabilan emosi, impulsivitas, afek depresif, dan kekurangan energi. Gangguan depresif pada mereka cenderung kronis, dapat disertai gejala psikotik, dan meningkatkan risiko bunuh diri. Manajemen yang efektif biasanya melibatkan kombinasi farmakoterapi dan CBT.
Terapi Budaya: Putus Pengobatan pada Skizofrenia Paranoid Ulviena, Lulu; Frijanto, Agung; Agustina, Citra Fitri
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 5 No. 2 (2026): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.052.10

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronis dengan gejala positif, negatif, dan kognitif, dengan tipe paranoid paling sering dijumpai. Kekambuhan dialami sekitar 80% pasien, terutama akibat penghentian obat. Dilaporkan kasus pria 25 tahun dengan riwayat skizofrenia paranoid yang mengalami kekambuhan setelah 1 tahun putus obat. Gejala berupa halusinasi auditorik-visual, waham kejar dan pengendalian, perubahan perilaku, serta peniruan tokoh. Diagnosis ditegakkan sebagai F20.0 Skizofrenia Paranoid dengan GAF 51–60. Terapi diberikan risperidone 3 mg dua kali sehari serta edukasi kepatuhan. Diskusi menekankan bahwa kekambuhan umumnya dipicu putus obat, sehingga kepatuhan merupakan faktor kunci dalam pencegahan relaps. Optimalisasi terapi memerlukan kombinasi antipsikotik, intervensi psikososial, dan dukungan keluarga. Kasus ini menegaskan pentingnya terapi jangka panjang dan edukasi berkelanjutan untuk mempertahankan perbaikan gejala serta kualitas hidup pasien. Selain itu, terapi memerlukan keterlibatan keluarga, masyarakat, dan lingkungan budaya.
Self-Harm Behavior Among Medical Profession Students at YARSI University and its Review from an Islamic Perspective Animas Arum Kholifah Hartono; Citra Fitri Agustina; Karimulloh Karimulloh; Miranti Pusparini
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 6 No. 2 (2026): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v6i2.52827

Abstract

Self harm behavior is a deliberate act of injuring oneself without suicidal intent, often emerging as a response to emotional distress. Medical clerkship students are vulnerable to such behavior due to academic pressure, clinical responsibilities, and psychological stress, which can affect both mental health and academic performance. This research aims to describe the level of self harm tendency, its psychological and academic impacts, and to examine this behavior from an Islamic perspective among medical clerkship students at YARSI University. This research employed a descriptive quantitative design with a cross-sectional approach involving 96 medical clerkship students. Data were collected using the 22-item Self-Harm Inventory (SHI) questionnaire and analyzed descriptively using IBM SPSS Statistics version 26. The mean SHI score was 28.99, with most respondents categorized as having a low self-harm tendency (85.4%), followed by moderate (13.5%) and high (1%) tendencies. The majority also exhibited low levels of psychological and academic impact, although a small proportion experienced emotional instability and decreased learning motivation. Overall, most students demonstrated a low tendency toward self-harm, yet those with moderate to high scores require particular attention. In Islam, self harm is prohibited as it contradicts the principle of ḥifẓ al-nafs (protection of life). It is recommended that universities provide accessible counseling services, mental health support, and spiritual guidance programs as preventive and promotive measures to help students manage academic and emotional stress more adaptively.
Self-Harming Behavior Among Students in the Medical Program at Yarsi University and Its Review From an Islamic Perspective Fudia Zalza Nabilla; Citra Fitri Agustina; Karimulloh Karimulloh; Miranti Pusparini
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 6 No. 2 (2026): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v6i2.52879

Abstract

Self-harm is a self-injurious behavior that commonly occurs among young adults, including medical students who are highly susceptible to academic and psychological stress. This study aims to describe the tendency of self-harm among medical students at YARSI University and review it from an Islamic perspective. A quantitative descriptive design was applied using the Self-Harm Inventory (SHI) as the research instrument. The study involved 141 participants selected through total sampling, and the data were analyzed descriptively. The findings revealed that all respondents (100%) exhibited a tendency toward self-harm, with an average score of 30.11 (range 22–71). Most respondents were categorized as low (49.6%), followed by moderate (34.8%) and high (15.6%). The majority experienced low levels of psychological and academic impact. Predominantly, respondents were female, 20 years old, and from the 2022 cohort. From an Islamic perspective, self-harm is strictly prohibited as it represents self-destruction, aligning with the prohibition stated in Surah An-Nisa :29. These findings underscore the need for comprehensive interventions that combine psychological support, academic guidance, and spiritual reinforcement to prevent self-harm among medical students.