Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

KEGIATAN PENGHIJAUAN DI SUB DAS CITARIK DAS CITARUM HULU DESA CIBIRU WETAN Saribun, Daud Siliwangi; Hudaya, Ridha; Arifin, Mahfud; Herdiansyah, Ganjar
Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1600.889 KB)

Abstract

DAS Citarum termasuk salah satu dari 15 DAS Super Prioritas Indonesia dalam yang perlu ditangani pemulihannya. Upaya rehabilitasi hutan dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan upaya penghijauan. Selain untuk merehabilitasi lahan upaya ini dimaksudkan untuk menambah nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kegiatan Penanaman meliputi perencanaan penanaman, persiapan  penanaman dan penanaman. Perencanaan penanaman  antara lain: Rencana teknik penetapan calon lokasi, teknik pengumpulan data dan informasi, kebutuhan jumlah bibit, teknik rancangan penanaman, cara menentukan penanam pohon, cara menentukan kebutuhan alat dan bahan dan cara menyusun tata waktu. Hasil yang dicapai dari kegiatan program kerja penghijauan lahan di Sub DAS Citarik tepatnya di desa Cibiru Wetan Kec. Cileunyi adalah Tersedianya pohon albasia dan mahoni di Sub DAS Citarik, desa Cibiru Wetan Kec. Cileunyi; Survey lahan untuk penentuan titik-titik penanaman ditentukan oleh kegiatan survey tersebut; Dimasa mendatang dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai kayu bakar dan keperluan lain; Meningkatkan kuantitas dan kualitas air di Sub DAS Citarik; Mengurangi kegersangan lahan di Sub DAS Citarik; Mengurangi potensi terjadinya bencana longsor.
GERAKAN PENGHIJAUAN DAS CITARUM HULU DI DESA CIKONENG KECAMATAN CILEUNYI KABUPATEN BANDUNG Harryanto, Rachmat; Sudirja, Rija; Saribun, Daud Siliwangi; Herdiansyah, Ganjar
Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1534.312 KB)

Abstract

Penghijauan merupakan salah satu kegiatan penting yang harus dilaksanakan secara konseptual dalam menangani krisis lingkungan. Desa Cikoneng merupakan salah satu desa yang cukup aktif dalam mendukung program penghijauan di DAS Hulu Citarum. Dalam upaya penyelamatan lingkungan, masyarakat bersama stakeholder terkait telah melakukan berbagai kegiatan penghijauan. Kegiatan bertujuan untuk mengkaji tentang bagaimana bentuk keterlibatan masyarakat dalam upaya penghijauan pada kawasan DAS Hulu Citarum. Masyarakat sebetulnya telah terlibat dalam proses perencanaan, penyediaan, pemeliharaan, serta pengawasan kegiatan penghijauan. Namun, masyarakat menilai kondisi ruang hijau di Hulu DAS Citarum saat ini sudah sangat minim. Kegiatan penghijauan dilakukan dengan berbagai tujuan, antara lain : untuk menambah nilai ekologi, manambah nilai estetika, mendapatkan manfaat ekonomi, serta alasan untuk mendukung program pemerintah. Keberadaaan stakeholder yang terdiri dari Pemerintah Kota, Pemerintah Kelurahan, Lembaga Non Pemerintah, Swasta/CSR, dan Komunitas/Akademisi telah berkontribusi besar membantu perkembangan kegiatan penghijauan di wilayah pengabdian.
Karakterisasi dan Klasifikasi Ultisols Yang Berkembang dari Dua Bahan Induk di Kabupaten Serang, Provinsi Banten Mahfud Arifin; Ganjar Herdiansyah; Apong Sandrawati; Rina Devnita
Soilrens Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/soilrens.v19i2.38362

Abstract

The effort to utilize the soils optimally, especially Ultisols, requires an appropriate understanding related to their characteristics. The characteristics of Ultisols are sturdily influenced by soil-forming factors, viz. climate, parent material, pedogenic age and topography. The purposes of this study were to determine the chemical, physical, mineralogical characteristics and soil development classification level of Ultisol from two different types of parent rock. This research was conducted in Kampungbaru Village, Petir District and Sukalaksana Village, Curug District, in Serang Regency, Banten Province. These two villages represented different parent materials, namely andesite lava parent material of Holocene age (Kampungbaru Village) and tuff dacite parent material of early Pleistocene age (Sukalaksana Village). The research method was descriptive, comparative and survey. Soil classification was based on the Soil Survey Staff. The results showed that Ultisols developed from dacite tuff and andesite lava did not show contrasting differences in soil properties. The level of weathering of the two pedons was at the senile stage and the level of soil development of the two pedons was at the argillic stage. The soil classification of Kampungbaru pedon was Typic Palehumults, very fine, kaolinitic, isohyperthermic, while the Sukalaksana pedons was Arenic Paleudults, fine, kaolinitic, isohyperthermic
Pedogenesis Dan Klasifikasi Tanah Yang Berkembang Dari Dua Formasi Geologi Dan Umur Bahan Erupsi Gunung Tangkuban Perahu Mahfud Arifin; Rina Devnita; Ridha Hudaya; Apong Sandrawati; Daud Siliwangi Saribun; Rachmat Harryanto; Ganjar Herdiansyah
Soilrens Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.926 KB) | DOI: 10.24198/soilrens.v15i1.13341

Abstract

The efforts to utilize the agricultural land need a proper understanding of the soil characteristics. The soil characteristics themselves are influenced by the factors that regulate and control the soil forming and pedogenesis processes. The main soil forming factors in this study was the different ages and composition of parent materials from the eruption of Mt. Tangkuban Parahu in West Java. This research was done to comprehend the pedogenesis and to figure out the soil classifications that developed in two geological formations (Qyd and Qvu) and two ages of eruption (Holocene and Pleistocene) of Mt. Tangkuban Parahu. The study was conducted in Ciater, Subang Regency and Jatinangor, Sumedang Regency in West Java Province. The study consisted of four stages: preparation, field survey and soil sampling, laboratory analysis and presenting the report. The results showed that Pedon of Jatinangor consisted of three different stratifications of ages. The clay mineralogical composition was dominated by kaolinite, whereas mineralogical composition of the sandy fractions (heavy fractions) was augite-hypersthene. Pedon of Ciater also consists of three different stratifications of age. The clay mineralogical composition was dominated by allophane, while mineralogical compositions of the sandy fractions (heavy fractions) were green amphibole-hypersthene in the overlying horizons and amphibole-augite in the underlying horizons. The stage of soil formation on both pedon were cambic or viril. The soil classification according to Soil Taxonomy were Acrudoxic Durudands, medial over loamy-skeletal, isohyperthermic in Ciater Pedon and Fluventic Eutrudepts, fine, kaolinitic, isohyperthermic in Jatinangor Pedon.Key words: slow sand filter, activated carbon, silica sand, sand, gravel, zeolite
Identifikasi Taksa Tanah di Situs Megalitik Gunung Padang Kabupaten Cianjur Mahfud Arifin; Ridha Hudaya; Apong Sandrawati; Muhammad Amir Solihin; Ganjar Herdiansyah
Soilrens Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.28 KB) | DOI: 10.24198/soilrens.v14i2.11128

Abstract

Mount Padang was famous megalith sites placed in Cianjur District. Mani discipline of science studied Mount Padang sites in order to find out the truth of histories. Based on geological studies, Mount Padang sites constructed by andesitic rock, this argument need more fact for get the real data. This research aimed to analysis pedological proses in Mount Padang sites. The result of study was soil classification which description by soil profile. Based on result of reseach the soil in Mount Padang formed in Qv rock formation. The result of soil profile analized with 2 meters depth, there was 10 layer formed e.g Ap, AB, Bw1, Bw2, BC1, BC2, CB1, CB2, C1, and C1. The genesis of Mount Padang soil was in viril levels, due to molic epipedon and cambic that found as below horizon diagnostics. Based on soil taxonomy, this pedon were classified as Typic Dystrudepts.Key words: megalith sites, andesitics rock, soil profile, viril, cambic
ANALISIS POTENSI LAHAN PERTANIAN PANGAN UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN KOTA BANDUNG Fahmi Rizal; Ganjar Herdiansyah
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2016): TEKNOTAN, Agustus 2016
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.203 KB)

Abstract

Program ketahanan pangan di Kota Bandung saat ini dihadapkan pada semakin berkurangnya ketersediaan lahan petanian akibat tingginya laju konversi lahan ke non pertanian akibat pembangunan permukiman dan industri. Walaupun konsep pertanian kota mensyaratkan praktek berbasis teknologi, namun ketersediaan lahan juga tetap tidak bisa diabaikan keberadaannya. Tulisan ini mencoba untuk mengkaji potensi lahan pertanian, yaitu lahan yang sesuai peruntukannya bagi komoditas tanaman pangan di Kota Bandung. Metode penelitian menggunakan teknik analisis deskiptif melalui prosedur penilaian evaluasi kesesuaian lahan dengan aplikasi pemetaan yaitu Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menemukan bahwa dibandingkan dengan kota-kota di Jawa Barat, luas lahan pertanian Kota Bandung masih cukup luas, namun laju konversi cukup tinggi mencapai 577.2 Ha per tahun selama periode Tahun 2010-2015. Potensi lahan yang sesuai peruntukannya untuk sawah dengan kategori S1 (sangat sesuai) mencapai 804.18 Ha, sedangkan untuk tanaman pangan (ubi jalar, ubi kayu, jagung, kacang tanah) termasuk kelas kesesuaian lahan S2 (sesuai) dan S3 (sesuai maginal) masing-masing seluas 37 Ha dan 3.95 Ha. Dengan demikian, ketersediaan lahan potensial untuk pertanian di Kota Bandung tidak mencukupi untuk menyokong ketahanan pangan. Hal ini terbukti hingga saat ini kebutuhan pangan masyarakat Kota Bandung 80% tergantung pasokan dari luar Kota Bandung.Kata Kunci: Ketahanan Pangan, Pertanian Kota, Kesesuaian Lahan, Ketersediaan Lahan
PERKEMBANGAN TANAH DARI BAHAN INDUK VULKANIK DI DESA CILELES, KECAMATAN JATINANGOR Ganjar Herdiansyah; Emma Trinurani Sofyan; Saedi Bawana; Aktavia Herawati
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v17i2.4235

Abstract

Proses pembentukan dan perkembangan tanah di lokasi penelitian merupakan langkah awal untuk diketahui dalam upaya mendapatkan informasi karakteristik tanah. Pengembangan lahan pertanian memerlukan informasi dasar tentang tanah dengan mengetahui semua sifat atau karakteristik tanah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses perkembangan tanah yang berkembang dari bahan induk vulkanik. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dan survei, pengamatan tanah dilakukan dengan pembuatan profil tanah. Hasil penelitian  menunjukkan tanah di Cileles berkembang dari bahan volkan basaltik yang menunjukkan adanya ketidaksinambungan litologi (lithologic discontinuity), tingkat perkembangan tanah berlangsung pada tahap viril atau kambik dan klasifikasi tanah menurut soil taxonomy 2014 kategori sub group yaitu Fluventic Humudepts.
The Pedogenesis of Inceptisols on Southeast Toposequence of Mount Manglayang in West Java, Indonesia Ganjar Herdiansyah; Mahfud Arifin; Abraham Suriadikusumah
Indonesian Journal on Geoscience Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17014/ijog.9.2.195-208

Abstract

DOI:10.17014/ijog.9.2.195-208The most potential soil order in Indonesia is dominated by Inceptisols, whereas the topography combined with a climatic factor are the main factors to regulate pedogenetic process. This research was intended to determine the pedogenetic process and soil development on various terrain positions at the southeast toposequence of Mount Manglayang areas that have hilly topography. The researched area was 28.83 ha. Based on those conditions, this research aims to study the pedogenetic process and soil development in the southeast slope toposequence of Mount Manglayang, the relationship between the physical, chemical, and mineralogical soil properties, the soil classification to family level based on soil taxonomy, National Soil Classification, and FAO soil classification systems. This research used survey, descriptive, and comparative methods. The result showed that the pedogenetic processes identified were the formation of B horizon through clay accumulation, soil colour, and soil structure development, and the formation of amorphous kaolinite and halloysite minerals. Based on soil taxonomy, the soil were classified as Fluventic Humudepts, coarse-loamy, kaolinitic, isohyperthermic at the upper slope and Fluventic Dystrudepts, fineloamy, kaolinitic, isohyperthermic at the middle and lower slopes. According to National Soil Classification, the soil is Humic Cambisol at the upper slope, Distric Cambisol at the middle slope, and Cromic Cambisol at the lower slope. FAO classified the soil as Umbric Cambisols at the upper slope and Dystric Cambisols at the middle and lower slopes.
GROWTH AND YIELD OF WATERMELON (Citrullus vulgaris) IN SUBSURFACE FERTIGATION USING CLAY POT ON ALFISOL AND ENTISOL Sutarno; Rahayu; Nurul Farahin; Aktavia Herawati; Komariah; Ganjar Herdiansyah; Mujiyo; Geun Mo Yang
JURNAL ILMIAH AGRINECA Vol. 22 No. 1 (2022): JURNAL ILMIAH AGRINECA
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/afp.v22i1.1742

Abstract

This study aims to identify the effect of spacing from subsurface irrigation sources and soil type on the growth and yield of watermelon plants. The research was carried out in the experimental field in Sukosari Village, Karanganyar Regency, with sub-irrigation using clay pots. The experiment used a nesting design with 2 types of soil, namely Alfisol (T1) and Entisol (T2), and the spacing of 4 plants from clay pots was 5 cm (J1), 10 cm (J2), 15 cm (J3), and 20 cm. cm (J4). The research data were analyzed by ANOVA, and if it had a significant effect, then Duncan's test was continued, at a 95% confidence level. The results showed that the treatment of jatropha affected the growth and yield of watermelon plants. Planting distance of 5 cm caused plant height, fruit weight, shoot fresh weight, and shoot dry weight to be higher than other treatments. The type of soil that produced the best watermelon plants was Entisol soil were plant height, shoot fresh weight, and shoot dry height were higher than in Alfisol soil, but for fruit weights the two were not much different.
PERKEMBANGAN TANAH DARI BAHAN INDUK VULKANIK DI DESA CILELES, KECAMATAN JATINANGOR Ganjar Herdiansyah; Emma Trinurani Sofyan; Saedi Bawana; Aktavia Herawati
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v17i2.4235

Abstract

Proses pembentukan dan perkembangan tanah di lokasi penelitian merupakan langkah awal untuk diketahui dalam upaya mendapatkan informasi karakteristik tanah. Pengembangan lahan pertanian memerlukan informasi dasar tentang tanah dengan mengetahui semua sifat atau karakteristik tanah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses perkembangan tanah yang berkembang dari bahan induk vulkanik. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dan survei, pengamatan tanah dilakukan dengan pembuatan profil tanah. Hasil penelitian  menunjukkan tanah di Cileles berkembang dari bahan volkan basaltik yang menunjukkan adanya ketidaksinambungan litologi (lithologic discontinuity), tingkat perkembangan tanah berlangsung pada tahap viril atau kambik dan klasifikasi tanah menurut soil taxonomy 2014 kategori sub group yaitu Fluventic Humudepts.
Co-Authors Abraham Suriadikusumah Aisyah Defara Rahmadani AKTAVIA HERAWATI Anariyah, Ananda Sofiatun Anggita, Akas Anik Lestari Anita Yulianti Anjani, Nisya Ari Apong Sandrawati Apong Sandrawati Apong Sandrawati Arifida, Sa’adillah Arrajula Fatah laudzai Atika Sari Damayanti Daud Siliwangi Saribun Dita Risky Novianti Dwi Priyo Ariyanto Dwisetio, Pertiwi Kurnia Emma Trinurani Sofyan Essla, Verona Putri Fahmi Rizal Febriyanti, Rina Fitriana, Ummi Nur Geun Mo Yang Handoyo, Gani Cahyo Hardian, Tiara Hariyanto, Yasmin Zulfa Agustin Alfiyah Hasanah, Khalyfah HERY WIDIJANTO Hery Widijanto Irmawati, Viviana Istiqomah, Nanda Mei Jauhari Syamsiyah Jihad Khadaffi Komariah Komariah Komariah Komariah Komariah Mahfud Arifin Maria Theresia Sri Budiastuti Mentari, Fegi Cahya Muhammad Amir Solihin Mujiyo Mujiyo Mujiyo Nanda Mei Istiqomah Novianti, Dita Risky Nugroho, Diki Nuraini Dwi Agustina Putri Nurrahma, Rizkia Aufa Nurul Farahin Ongko Cahyono Pramesti Rajati, AnandayuGaluh Purwanto Purwanto Putranto, Gofar Faza Haryo Rachmat Harryanto Rahayu Rahayu Rahayu Rahayu Rahayu Rahayu Rahayu Respati, Adam Arinto Ridha Hudaya Ridha Hudaya Rija Sudirja Rina Devnita Romadhon, Muhammad Rizky Saedi Bawana Salsabila, Harjayanti Auliyaa Sari, Safira Indrias Sari, Suratna Sitanggang, Indra Gamaliel Siti Maro’ah Slamet Minardi Slamet Minardi Slamet Minardi Sri Hartati Sri Hartati Sri Hartati Sumani . Sumani Sumani Suntoro Suntoro Suntoro Suntoro Supriyadi Supriyadi Supriyadi Supriyadi Supriyadi Supriyadi Suryono Suryono Sutarno Sutarno Sutarno Sutarno Sutarno Tiara Hardian Viviana Irmawati Wahyu Galang Pranata Widhiyastuti, Alfia Nisa Widyatmani Sih Dewi Widyatmani Sih Dewi Yang, Geun Mo