Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

KEGIATAN PENGHIJAUAN DI SUB DAS CITARIK DAS CITARUM HULU DESA CIBIRU WETAN Saribun, Daud Siliwangi; Hudaya, Ridha; Arifin, Mahfud; Herdiansyah, Ganjar
Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1600.889 KB)

Abstract

DAS Citarum termasuk salah satu dari 15 DAS Super Prioritas Indonesia dalam yang perlu ditangani pemulihannya. Upaya rehabilitasi hutan dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan upaya penghijauan. Selain untuk merehabilitasi lahan upaya ini dimaksudkan untuk menambah nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kegiatan Penanaman meliputi perencanaan penanaman, persiapan  penanaman dan penanaman. Perencanaan penanaman  antara lain: Rencana teknik penetapan calon lokasi, teknik pengumpulan data dan informasi, kebutuhan jumlah bibit, teknik rancangan penanaman, cara menentukan penanam pohon, cara menentukan kebutuhan alat dan bahan dan cara menyusun tata waktu. Hasil yang dicapai dari kegiatan program kerja penghijauan lahan di Sub DAS Citarik tepatnya di desa Cibiru Wetan Kec. Cileunyi adalah Tersedianya pohon albasia dan mahoni di Sub DAS Citarik, desa Cibiru Wetan Kec. Cileunyi; Survey lahan untuk penentuan titik-titik penanaman ditentukan oleh kegiatan survey tersebut; Dimasa mendatang dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai kayu bakar dan keperluan lain; Meningkatkan kuantitas dan kualitas air di Sub DAS Citarik; Mengurangi kegersangan lahan di Sub DAS Citarik; Mengurangi potensi terjadinya bencana longsor.
GERAKAN PENGHIJAUAN DAS CITARUM HULU DI DESA CIKONENG KECAMATAN CILEUNYI KABUPATEN BANDUNG Harryanto, Rachmat; Sudirja, Rija; Saribun, Daud Siliwangi; Herdiansyah, Ganjar
Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1534.312 KB)

Abstract

Penghijauan merupakan salah satu kegiatan penting yang harus dilaksanakan secara konseptual dalam menangani krisis lingkungan. Desa Cikoneng merupakan salah satu desa yang cukup aktif dalam mendukung program penghijauan di DAS Hulu Citarum. Dalam upaya penyelamatan lingkungan, masyarakat bersama stakeholder terkait telah melakukan berbagai kegiatan penghijauan. Kegiatan bertujuan untuk mengkaji tentang bagaimana bentuk keterlibatan masyarakat dalam upaya penghijauan pada kawasan DAS Hulu Citarum. Masyarakat sebetulnya telah terlibat dalam proses perencanaan, penyediaan, pemeliharaan, serta pengawasan kegiatan penghijauan. Namun, masyarakat menilai kondisi ruang hijau di Hulu DAS Citarum saat ini sudah sangat minim. Kegiatan penghijauan dilakukan dengan berbagai tujuan, antara lain : untuk menambah nilai ekologi, manambah nilai estetika, mendapatkan manfaat ekonomi, serta alasan untuk mendukung program pemerintah. Keberadaaan stakeholder yang terdiri dari Pemerintah Kota, Pemerintah Kelurahan, Lembaga Non Pemerintah, Swasta/CSR, dan Komunitas/Akademisi telah berkontribusi besar membantu perkembangan kegiatan penghijauan di wilayah pengabdian.
Karakterisasi dan Klasifikasi Ultisols Yang Berkembang dari Dua Bahan Induk di Kabupaten Serang, Provinsi Banten Mahfud Arifin; Ganjar Herdiansyah; Apong Sandrawati; Rina Devnita
Soilrens Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/soilrens.v19i2.38362

Abstract

The effort to utilize the soils optimally, especially Ultisols, requires an appropriate understanding related to their characteristics. The characteristics of Ultisols are sturdily influenced by soil-forming factors, viz. climate, parent material, pedogenic age and topography. The purposes of this study were to determine the chemical, physical, mineralogical characteristics and soil development classification level of Ultisol from two different types of parent rock. This research was conducted in Kampungbaru Village, Petir District and Sukalaksana Village, Curug District, in Serang Regency, Banten Province. These two villages represented different parent materials, namely andesite lava parent material of Holocene age (Kampungbaru Village) and tuff dacite parent material of early Pleistocene age (Sukalaksana Village). The research method was descriptive, comparative and survey. Soil classification was based on the Soil Survey Staff. The results showed that Ultisols developed from dacite tuff and andesite lava did not show contrasting differences in soil properties. The level of weathering of the two pedons was at the senile stage and the level of soil development of the two pedons was at the argillic stage. The soil classification of Kampungbaru pedon was Typic Palehumults, very fine, kaolinitic, isohyperthermic, while the Sukalaksana pedons was Arenic Paleudults, fine, kaolinitic, isohyperthermic
Pedogenesis Dan Klasifikasi Tanah Yang Berkembang Dari Dua Formasi Geologi Dan Umur Bahan Erupsi Gunung Tangkuban Perahu Mahfud Arifin; Rina Devnita; Ridha Hudaya; Apong Sandrawati; Daud Siliwangi Saribun; Rachmat Harryanto; Ganjar Herdiansyah
Soilrens Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.926 KB) | DOI: 10.24198/soilrens.v15i1.13341

Abstract

The efforts to utilize the agricultural land need a proper understanding of the soil characteristics. The soil characteristics themselves are influenced by the factors that regulate and control the soil forming and pedogenesis processes. The main soil forming factors in this study was the different ages and composition of parent materials from the eruption of Mt. Tangkuban Parahu in West Java. This research was done to comprehend the pedogenesis and to figure out the soil classifications that developed in two geological formations (Qyd and Qvu) and two ages of eruption (Holocene and Pleistocene) of Mt. Tangkuban Parahu. The study was conducted in Ciater, Subang Regency and Jatinangor, Sumedang Regency in West Java Province. The study consisted of four stages: preparation, field survey and soil sampling, laboratory analysis and presenting the report. The results showed that Pedon of Jatinangor consisted of three different stratifications of ages. The clay mineralogical composition was dominated by kaolinite, whereas mineralogical composition of the sandy fractions (heavy fractions) was augite-hypersthene. Pedon of Ciater also consists of three different stratifications of age. The clay mineralogical composition was dominated by allophane, while mineralogical compositions of the sandy fractions (heavy fractions) were green amphibole-hypersthene in the overlying horizons and amphibole-augite in the underlying horizons. The stage of soil formation on both pedon were cambic or viril. The soil classification according to Soil Taxonomy were Acrudoxic Durudands, medial over loamy-skeletal, isohyperthermic in Ciater Pedon and Fluventic Eutrudepts, fine, kaolinitic, isohyperthermic in Jatinangor Pedon.Key words: slow sand filter, activated carbon, silica sand, sand, gravel, zeolite
Identifikasi Taksa Tanah di Situs Megalitik Gunung Padang Kabupaten Cianjur Mahfud Arifin; Ridha Hudaya; Apong Sandrawati; Muhammad Amir Solihin; Ganjar Herdiansyah
Soilrens Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.28 KB) | DOI: 10.24198/soilrens.v14i2.11128

Abstract

Mount Padang was famous megalith sites placed in Cianjur District. Mani discipline of science studied Mount Padang sites in order to find out the truth of histories. Based on geological studies, Mount Padang sites constructed by andesitic rock, this argument need more fact for get the real data. This research aimed to analysis pedological proses in Mount Padang sites. The result of study was soil classification which description by soil profile. Based on result of reseach the soil in Mount Padang formed in Qv rock formation. The result of soil profile analized with 2 meters depth, there was 10 layer formed e.g Ap, AB, Bw1, Bw2, BC1, BC2, CB1, CB2, C1, and C1. The genesis of Mount Padang soil was in viril levels, due to molic epipedon and cambic that found as below horizon diagnostics. Based on soil taxonomy, this pedon were classified as Typic Dystrudepts.Key words: megalith sites, andesitics rock, soil profile, viril, cambic
ANALISIS POTENSI LAHAN PERTANIAN PANGAN UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN KOTA BANDUNG Fahmi Rizal; Ganjar Herdiansyah
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2016): TEKNOTAN, Agustus 2016
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.203 KB)

Abstract

Program ketahanan pangan di Kota Bandung saat ini dihadapkan pada semakin berkurangnya ketersediaan lahan petanian akibat tingginya laju konversi lahan ke non pertanian akibat pembangunan permukiman dan industri. Walaupun konsep pertanian kota mensyaratkan praktek berbasis teknologi, namun ketersediaan lahan juga tetap tidak bisa diabaikan keberadaannya. Tulisan ini mencoba untuk mengkaji potensi lahan pertanian, yaitu lahan yang sesuai peruntukannya bagi komoditas tanaman pangan di Kota Bandung. Metode penelitian menggunakan teknik analisis deskiptif melalui prosedur penilaian evaluasi kesesuaian lahan dengan aplikasi pemetaan yaitu Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menemukan bahwa dibandingkan dengan kota-kota di Jawa Barat, luas lahan pertanian Kota Bandung masih cukup luas, namun laju konversi cukup tinggi mencapai 577.2 Ha per tahun selama periode Tahun 2010-2015. Potensi lahan yang sesuai peruntukannya untuk sawah dengan kategori S1 (sangat sesuai) mencapai 804.18 Ha, sedangkan untuk tanaman pangan (ubi jalar, ubi kayu, jagung, kacang tanah) termasuk kelas kesesuaian lahan S2 (sesuai) dan S3 (sesuai maginal) masing-masing seluas 37 Ha dan 3.95 Ha. Dengan demikian, ketersediaan lahan potensial untuk pertanian di Kota Bandung tidak mencukupi untuk menyokong ketahanan pangan. Hal ini terbukti hingga saat ini kebutuhan pangan masyarakat Kota Bandung 80% tergantung pasokan dari luar Kota Bandung.Kata Kunci: Ketahanan Pangan, Pertanian Kota, Kesesuaian Lahan, Ketersediaan Lahan
GROWTH AND YIELD OF WATERMELON (Citrullus vulgaris) IN SUBSURFACE FERTIGATION USING CLAY POT ON ALFISOL AND ENTISOL Sutarno; Rahayu; Nurul Farahin; Aktavia Herawati; Komariah; Ganjar Herdiansyah; Mujiyo; Geun Mo Yang
JURNAL ILMIAH AGRINECA Vol. 22 No. 1 (2022): JURNAL ILMIAH AGRINECA
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/afp.v22i1.1742

Abstract

This study aims to identify the effect of spacing from subsurface irrigation sources and soil type on the growth and yield of watermelon plants. The research was carried out in the experimental field in Sukosari Village, Karanganyar Regency, with sub-irrigation using clay pots. The experiment used a nesting design with 2 types of soil, namely Alfisol (T1) and Entisol (T2), and the spacing of 4 plants from clay pots was 5 cm (J1), 10 cm (J2), 15 cm (J3), and 20 cm. cm (J4). The research data were analyzed by ANOVA, and if it had a significant effect, then Duncan's test was continued, at a 95% confidence level. The results showed that the treatment of jatropha affected the growth and yield of watermelon plants. Planting distance of 5 cm caused plant height, fruit weight, shoot fresh weight, and shoot dry weight to be higher than other treatments. The type of soil that produced the best watermelon plants was Entisol soil were plant height, shoot fresh weight, and shoot dry height were higher than in Alfisol soil, but for fruit weights the two were not much different.
Evaluasi Kemampuan Lahan sebagai Dasar Rekomendasi Penggunaan Lahan di Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Wonogiri Mujiyo, Mujiyo; Nugroho, Diki; Sutarno, Sutarno; Herawati, Aktavia; Herdiansyah, Ganjar; Rahayu, Rahayu
Agrikultura Vol 33, No 1 (2022): April, 2022
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v33i1.37950

Abstract

Kemampuan lahan merupakan komponen yang digunakan untuk menentukan kesesuaian potensi dengan penggunaan lahannya. Penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya berpotensi mengalami degradasi lahan. Tujuan penelitian ini adalah memberikan informasi mengenai kemampuan lahan, faktor penentunya, dan memberikan arahan penggunaan lahan serta pengelolaannya secara tepat. Penelitian jenis survey ini menggunakan metode purposive sampling untuk pengamatan kondisi di lapangan dan pengambilan sampel. Data hasil pengamatan diolah dengan matching data kemampuan lahan dan uji statistik ANOVA dan korelasi untuk menemukan faktor yang paling menentukan kemampuan lahan di Ngadirojo. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan lahan di Kecamatan Ngadirojo adalah III-l2.d3.b1, IV-d4, IV-l3 dan IV-l3.d4. Faktor yang menentukan kemampuan lahan di antaranya penggunaan lahan dan kedalaman tanah. Arahan penggunaan lahan yang dapat diterapkan berupa sawah, sawah dengan konservasi, dan agroforestry.
Assessing Soil Degradation Status under Different Types of Agricultural Land (Case Study: Jatisrono Sub-district, Wonogiri District, Indonesia) Mujiyo, Mujiyo; Essla, Verona Putri; Herdiansyah, Ganjar; Herawati, Aktavia
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.48516

Abstract

Kecamatan Jatisrono berada di wilayah perbukitan yang menjadikan lahannya rentan terhadap erosi serta aktivitas lahan. Kondisi ini dapat mempengaruhi produksi biomassa dan menyebabkan kerusakan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status kerusakan tanah, mengkaji faktor penentu kerusakan tanah, serta memberikan rekomendasi pengelolaan tanah di Kecamatan Jatisrono. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2022 pada 36 titik yang mewakili setiap satuan peta lahan (SPL) di Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Parameter pengamatan lahan kering dan lahan basah mengadopsi dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 150 Tahun 2000. Lahan kering meliputi parameter ketebaan solum, kebatuan permukaan, tekstur, bobot volume, porositas, permeabilitas, pH (H2O), daya hantar listrik, potensial redoks, dan jumlah mikroba. Lahan basah meliputi parameter kandungan pirit, kedalaman air tanah dangkal, pH (H2O), daya hantar listrik, dan jumlah mikroba. Metode yang digunakan adalah survei dan deskriptif eksploratif. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Sebanyak 12 satuan peta lahan (SPL) terdiri dari 6 SPL lahan kering (kebun dan tegalan) serta 6 SPL lahan basah (sawah). Hasil penelitian menunjukkan pertanian lahan kering memiliki tingkat kerusakan tanah rusak ringan serta rusak sedang sedangkan lahan basah memiliki tingkat kerusakan tanah tidak rusak serta rusak ringan. Kerusakan tanah lahan kering sangat dipengaruhi oleh kemiringan lereng sedangkan kerusakan tanah lahan basah sangat dipengaruhi oleh jenis tanah. Faktor penentu kerusakan tanah lahan kering adalah bobot volume, porositas, dan permeabilitas tanah. Faktor penentu kerusakan tanah lahan basah adalah pH H2O tanah. Strategi pengelolaan kerusakan tanah lahan kering dengan meningkatkan bahan organik tanah. Strategi pengelolaan kerusakan tanah lahan basah dengan perbaikan irigasi.
DAMPAK BEBERAPA PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP EROSI DAN TINGKAT BAHAYA EROSI DI SUB DAS CISANGKUY Abraham Suriadikusumah; Ganjar Herdiansyah
Agrin Vol 18, No 1 (2014): Agrin
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.agrin.2014.18.1.208

Abstract

Penelitian ini didasari oleh semakin berkurangnya lahan hutan di Sub DAS Cisangkuy, yang berubah menjadi lahan pertanian. Luas Sub DAS Cisangkuy yaitu 34.024 Ha.Tujuan dari penelitian ini untuk : 1) mengetahui perubahanluas dari setiap jenis penggunaan lahan di Sub DAS Cisangkuy, 2) Mengetahui perubahan penggunaan lahan yang dapat meningkatkan laju erosi rata-rata dan tingkat bahaya erosi di Sub DAS Cisangkuy.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, deskriptif, dan survai lapangan menggunakan metode survai fisiografis secara bebas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama kurun waktu 15 tahun (1997-2011),terjadi penurunan luas jenis penggunaan lahan hutan 9.849Ha (65,76%) dan sawah 2.221 Ha (11,6%) dari area total Sub DAS Cisangkuy, terjadi peningkatan pada luas jenis penggunaan lahan perkebunan 8.172 Ha (73,57%), ladang 66 Ha (1,17%), kebun campuran 1.431 Ha (45,94%), permukiman 2.401 Ha (59,24%). Terjadi peningkatan besar erosi rata-rata dari 45,24ton/ha/tahun pada tahun 1997 menjadi 303 ton/ha/tahun pada tahun 2010,terjadi peningkatan tingkat bahaya erosi dengan indeks bahaya erosi dari 1,84 (sedang) pada tahun 1997 menjadi 14,03 (sangat tinggi) pada tahun 2010 di Sub DAS Cisangkuy. Kata kunci : penggunaan lahan, erosi, tingkat bahaya erosi, sub Das Cisangkuy ABSTRACTThe research was based on the diminishing of land forest in the Cisangkuy Sub Watershed converted to land agricultural. Area in the Cisangkuy Sub Watershed is 34.024 ha. The research aims to : 1) know the area change of each type of land use in the Cisangkuy Sub Watershed, 2) Knowing the changes in land use can increase the average erosion rate and erosion rate in the Cisangkuy Sub Watershed. This research used qualitative methods, descriptive and field survey by physiographic approach survey. The result showed that during the period of 15 years (1997-2011), there were a decreasing in land use forest area of 9.849 ha (65,76%) and rice field area of 2.221 ha (30,93%) of the total in theCisangkuy Sub Watershed, an increasing in land use plantation area of 8.172 ha (73,57%), field area of 66 ha (1,17%), garden area of 1.431 ha (45,94%), village area of 2.401 ha (59,24%). An increase in the erosion ofthe average of 45,24 tonnes/ha/year in 1997 to 303 tonnes/ha/year in 2010, an increase in the rate of erosion with erosion hazard index of 1.84 (average) in 1997 to14.03(very high) in 2010 in the Cisangkuy Sub Watershed. Keywords: land use, erosion, the level of erosion hazard, Cisangkuy sub watershed