Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : Intuisi

Tumbuh dari Luka: Gambaran Post-Traumatic Growth pada Dewasa Awal Pasca Perceraian Orang Tua Purwanto, Mayang Dewi; Hendriyani, Rulita
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i2.24697

Abstract

Perceraian orang tua menjadi salah satu peristiwa traumatis yang dapat dialami oleh individu. Seringkali perceraian membawa berbagai dampak negatif dan mengguncang psikis anak. Meskipun demikian, beberapa individu mampu melewatinya dengan membentuk kembali pandangannya tentang kehidupan dan menuju perubahan yang lebih positif yang disebut dengan Post Traumatic Growth (PTG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran PTG pada dewasa awal pasca perceraian orang tua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dokumentasi, dan tes grafis. Partisipan penelitian ini terdiri dari 3 orang dewasa awal yang memiliki orang tua bercerai sebagai narasumber primer dan 5 orang sebagai narasumber sekunder. Dalam penelitian ini pengecekan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi data yang meliputi triangulasi sumber, metode, dan waktu. Dampak ini membuat ketiga narasumber merasa terpuruk pada masa pertumbuhan anak-anak dan memuncak saat remaja. Ketiga narasumber mampu mencapai PTG ketika memasuki masa dewasa awal. Munculnya PTG pada ketiga narasumber dipengaruhi oleh faktor internal (keinginan/dorongan dalam diri, peran spiritual, dan motivasi akan masa depan) dan faktor eksternal (dukungan sosial). Adanya temuan baru yang tidak ditemukan pada penelitian sebelumnya yaitu faktor keinginan atau dorongan dalam diri yang menjadi salah satu faktor paling memengaruhi munculnya PTG pada ketiga narasumber dan faktor motivasi akan masa depan.The recurrent crime committed by some prisoners is an issue that deserves attention. These include Parental divorce is one of the traumatic events that can be experienced by individuals. Divorce often brings negative and psychological shocks to children. However, some individuals are able to get through it by reshaping their views on life and towards a more positive change called Post Traumatic Growth (PTG). This study aims to determine the description of PTG in early adulthood after parental divorce. This study uses a qualitative method with a case study approach. The data was collected by means of interviews, observation, documentation, and graphic tests. Participants in this study consisted of 3 early adults whose parents divorced as primary sources and 5 people as secondary sources. In this study, checking the validity of the data used data triangulation techniques which include triangulation of sources, methods, and time. This impact made the three informants feel depressed during their children's growth period and peaked during adolescence. The three speakers were able to reach PTG when they entered early adulthood. The emergence of PTG in the three sources was influenced by internal factors (desire / drive within, spiritual role, and motivation for the future) and external factors (social support). There are new findings that were not found in previous studies, namely the desire or drive factor in oneself which is one of the most influencing factors for the emergence of PTG in the three sources and the motivational factor for the future
Dampak Psikologis pada Remaja Korban Pemerkosaan di Kabupaten Temanggung Sari, Kausar Rafika; Deliana, Sri Maryati; Hendriyani, Rulita
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.48749

Abstract

Penelitian ini berusaha menggambarkan secara lebih jelas dan mendalam tentang bagaimana dampak psikologis pada remaja korban pemerkosaan di Kabupaten Temanggung . Penelitian ini menggunakan metode wawancara (interview) dan observasi. Subjek pada penelitian ini yaitu satu orang remaja putri yang telah diperkosa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek mengalami pemerkosaan di Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek mengalami pemerkosaan di latar belakangi oleh ketidakharmonisan keluarga, hubungan yang buruk antar peer group nya dan kurangnya perhatian orang tua. Terdapat temuan baru pada faktor yang mempengaruhi timbulnya dampak psikologis pemerkosaan yaitu pengalaman traumatik masa lampau yaitu pernah mengalami pelecehan seksual, dinamika keluarga, hubungan sosial dan perilaku negatif orang tua. Sedangkan dampak psikologis yang dialami oleh subjek adalah subjek mengalami kejadian traumatic yang dialami kembali oleh subjek, subjek menghindari hal yang berhubungan dengan trauma, Subjek mengalami peningkatan kesadaran dan dampak psikososial pasca pemerkosaan subjek memisahkan diri dari lingkungan This research trying to describe more clearly and deeply about how psychology impact on teen rape victims in Temanggung regency. This research uses interview method and observation. Subject in this observation is a girl teenager who has been raped. Research result shows that subject has been raped and it caused by not harmonic family, bad relationship between peer group and lack of parent attention. There is a new factor which influence impact rape psychologist, that is traumatic experience in the past and ever has sexual harassment, family dynamic, social relationship and bad treatment from parent. While psychologist impact that experienced by the subject is subject gets traumatic experience and experienced again by the subject, subject avoids something that has relationship with trauma. Subject has increasing realize and psychosocialimpact after rape subject separate herself from the environment.
Gambaran Psychological Well-Being Keluarga Miskin Kampung Nelayan Tegal Sari Kota Tegal Wijaya, Mario Indrianto; Deliana, Sri Maryati; Hendriyani, Rulita
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.48745

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran psychological well-being keluarga miskin kampung nelayan RW 06 dan RW 10 Tegal Sari, Kota Tegal. Subjek penelitian berjumlah 65 orang yang merupakan keluarga miskin kampung nelayan Tegal Sari, Kota Tegal. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian simple random sampling. Metode penelitan yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar atau 78,46 persen (51 orang) menyatakan dirinya memiliki psychological well-being berada pada tingkat sedang. Sedangkan yang termasuk dalam kriteria tinggi hanya sebesar 15,38 persen (10 orang) dan 6,15 persen (4 orang) berada pada kategori rendah. Dari enam dimensi yang diteliti yaitu dimensi penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi, berada tingkat sedang,  dimensi yang paling besar proporsinya dalam terbentuknya psychological well-being pada keluarga miskin kampung nelayan Tegal Sari, Kota Tegal adalah dimensi pertumbuhan pribadi, sedangkan  dimensi yang paling kecil hubungan positif dengan orang lain. Gambaran secara umum masyarakat kampung nelayan RW 06 dan RW 10 Tegal Sari, Kota Tegal mempunyai psychological well-being yang berada pada kategori sedang. Berarti setengah dari masyarakat kampung nelayan berada pada tingkat ekonomi yang tergolong berkecukupan, karena mereka masih dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dapat menyekolahkan anak mereka walau mereka berpenghasilan sangat rendah. The purpose of this study was to determine how the image of psychological well-being of poverty families fishing village Tegal Sari, Tegal. Subject numbered 65 people who are poor fishing village . This research uses simple random sampling study. Research method used is descriptive quantitative method. The results showed that most or 78.46 percent (51 people) claimed have psychological well-being was at a moderate level . While the criteria are included in the height of only 15.38 percent (10 people) and 6.15 percent (4 people) are in the low category. Of the six dimensions studied were the dimensions of self acceptance, positive relations with others, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal growth, to be moderate, the dimensions of the greatest proportion in the formation of psychological well-being for the poverty fisher village of Tegalsari, Tegal is the dimension of personal growth, while the smallest dimension of positive relationships with others. Picture of the general public fisher village Tegal Sari has psychological well-being that are in the medium category. Means half of the public fisher village is at a level that is relatively affluent economies, because they are still able to meet their daily needs and can send their children even though they income very low.