Claim Missing Document
Check
Articles

DESAIN GEDUNG KANTOR BADAN NARKOTIKA NASIONAL KABUPATEN (BNNK) MUNA DI RAHA DENGAN PRINSIP-PRINSIP ARSITEKTUR NEOKLASIK Muhammad Zakaria Umar; Arif Cahyadi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 11, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/Vitruvian.2021.v11i1.004

Abstract

Arsitektur neoklasik adalah arsitektur yang mengulang bentuk arsitektur klasik dengan cara memodifikasi. Arsitektur bangunan Neoklasik mencerminkan karakter bangsa dan sistem pemerintahan yang kuat. Di sisi lain Gedung kantor BNNK Muna berada di Jalan M. H. Thamrin, Kelurahan Butung-butung, Kecamatan Katobu, Kabupaten Muna belum mempunyai gedung sendiri sehingga penting untuk didesain. Penelitian ini ditujukan untuk mendesain gedung kantor BNNK Muna dengan prinsip-prinsip arsitektur neoklasik. Penelitian ini menggunakan metode perancangan arsitektur dengan pendekatan kualitatif. Sumber data terdiri dari data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dilaksanakan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilaksanakan dengan cara data direduksi, data disajikan, dan data disimpulkan. Penelitian ini disimpulkan bahwa Gedung Kantor BNNK Muna didesain dengan Bentuk Berhakikat Ekspresif (Expressive Nature Form) antara lain bentuk tapak luas; denah simetris dan berpanorama terbuka; potongan masif dan berskala besar; tampak simetris dan bertiang dorik; berornamen profil pada dinding, tiang, serta atap.
DIALEKTIKA ARSITEKTUR DAN PERUBAHAN PERILAKU MASYARAKAT PASCA URBANISASI La Ode Abdul Rachmad Sabdin Andisiri; Arman Faslih; Muhammad Zakaria Umar
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.264 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2019.v9i1.001

Abstract

ABSTRAKParadigma ber-arsitektur erat kaitannya dengan perilaku masyarakat sehingga arsitektur dapat digunakan untuk membentuk perilaku manusia melalui rekayasa lingkungan maupun bangunan.. Masuknya arsitektur moderen di Indonesia berakibat pada perubahan perilaku masyarakat tradisional khususnya di wilayah urban olehnya, penelitian ini bertujuan (1) mendokumentasikan faktor - faktor yang menyebabkan peruban perilaku masyarakat pra urban (masyarakat tradisional) pasca urbanisasi di Kota Kendari dalam perspektif kearsitektural, lingkungan dan paradigma filsafat, (2) merumuskan langkah dan tindakan kearsitektural dalam upaya merestorasi nilai - nilai kebudayaan terhadap masyarakat urban. Penelitian ini diselenggarakan di kota Kendari dan berlandaskan pada paradigma post-positivisme yakni metode fenomenologi pendekatan kualitatif dimana aspek – aspek yang dianalisis pedagogi, lingkungan dan perilaku, serta budaya masyarakat kota Kendari dan Sulawesi Tenggara pada umumya sebagai landasan determinisme arsitektur. Penelitian ini menemukan dua temuan yakni (1) uraian deskriptif paradigma filsafat terhadap pendidikan dan konsepsi arsitek dan user mengenai arsitektur yang mengakibatkan perubahan perilaku masyarakat urban, (2) rumusan model kawasan kantong pedestrian dengan fasilitas terpadu berbasis lingkungan dan kearifan lokal sebagai determinisme arsitektur dalam merestorasi nilai – nilai budaya pada masyarakat urban.Kata Kunci:   Dialektika, Arsitektur, Perilaku, Urban  ABSTRACTThe architectural paradigm is closely related to community behavior so that architecture can be used to shape human behavior through environmental and building engineering. The inclusion of modern architecture in Indonesia results in changes in the behavior of traditional communities, especially in urban areas by him. The objetives of this research are (1) to document the factors that cause the behavior of pre-urban (traditional) community behavior after urbanization in Kendari City in the perspective of architecture, environment and philosophical paradigm, (2) formulating architectural steps and actions in an effort to restore cultural values towards urban society. This research was held in the city of Kendari and based on the post-positivism paradigm, a qualitative approach phenomenology method in which aspects analyzed by pedagogy, environment and behavior, as well as the culture of Kendari and Southeast Sulawesi in general as the basis of architectural determinism. This study found two findings, namely (1) descriptive description of the philosophical paradigm of education and architect and user conception of architecture that resulted in changes in urban behavior, (2) formulation of a model of pedestrian enclave with integrated facilities based on the environment and local wisdom as architectural determinism in restoring cultural values in urban society.Keywords: Dialectics, Architecture, Behavior, Urban
Koeksistensi dan Inkoeksistensi Pengetahuan Pekerja Bangunan dan Arsitek Terdidik Terhadap Sloof Muhammad Zakaria Umar; La Ode Abdul Rachmad Sabdin Andisiri
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.219 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2018.v8i1.002

Abstract

Di Kota Kendari, besi behel sloof dibuat segitiga oleh pekerja bangunan. Melalui penggalian mengenai sloof pada bangunan dan diperbandingkan antara pengetahuan pekerja bangunan serta pengetahuan arsitek terdidik, sehingga dapat terbangun sinergi diantara keduanya. Penelitian ini ditujukan untuk mengkaji koeksistensi pengetahuan arsitek terdidik dan pekerja bangunan mengenai sloof. Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan kausal komparatif digunakan dalam penelitian ini. Penelitan ini disimpulkan bahwa koeksistensi ditemukan pada pengertian sloof, ukuran sloof, komposisi campuran sloof, sloof terhadap pondasi, ukuran sloof terhadap pondasi, ukuran besi tulangan sloof untuk rumah berlantai satu, ukuran besi tulangan sloof untuk rumah berlantai dua, pengertian besi behel, besi behel terhadap beton, ukuran besi tulangan terhadap besi behel, jarak besi behel pada sloof, angkur ditekuk dalam sloof, komposisi campuran sloof, sloof terhadap rabat lantai, serta sloof terhadap ringbalk. Inkoeksistensi ditemukan dalam fungsi sloof, rumus dimensi sloof, posisi besi tulangan sloof terhadap besi tulangan kolom, ujung behel ditekuk, dan besi behel dibuat segitiga.
KONSEP KAMPUNG PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KERJA La Ode Abdul Rachmad Sabdin Andisiri; Ishak Kadir; Muhammad Zakaria Umar
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.716 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2018.v8i2.002

Abstract

Pembangunan perdesaan adalah bagian integral dari pembangunan Indonesia, hakekat pembangunan adalah pembangunan manusia dan sumber daya manusia di perdesaan masih sangat rendah sehingga, arah pembangunan desa sebaiknya mengutamakan manusia dan penciptaan lapangan kerja. Penelitian ini bertujuan (1)  mengetahui fasilitas yang dibutuhkan oleh masyarakat perdesaan sebagai prasarana belajar, (2) menemukan rumusan kawasan binaan kampung kerja sebagai kawasan aglomerasii pendidikan sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya masyarakat desa. Penelitian ini diselenggarakan di Kabupaten Muna dan metode penelitian ini berlandaskan pada paradigma post-positivisme yakni metode studi kasus pendekatan kualitatif dimana aspek – aspek yang dianalisis adalah angkatan kerja, sektor ekonomi, kebutuhan bangunan, infrastruktur, dan zonasi keruangan. Penelitian ini menemukan dua temuan (1) kebutuhan akan fasilitas yang dibutuhkan untuk peningkatan kualitas angkatan kerja, (2) rumusan model kawasan binaan kampung pendidikan dan pelatihan kerja sebagai kawasan aglomerasi peningkatan sumber daya manusia perdesaan.Rural development is an integral part of Indonesia's development, the essence of development is human development and human resources in rural areas are still very low so that the direction of rural development should prioritize humans and job creation. The objetives of this research are (1) find out the facilities needed by rural communities as learning infrastructure, (2) find the formulation of the working area of the working village as an educational agglomeration area as an effort to improve the quality of rural community resources. This research was conducted in Muna Regency and this research method was based on the post-positivism paradigm, a case study method of qualitative approach where the aspects analyzed were labor force, economic sector, building needs, infrastructure, and spatial zoning. This study found two findings (1) the need for facilities needed to improve the quality of the workforce, (2) the formulation of the model of the village built area of education and job training as an agglomeration area to increase rural human resources.  
DESAIN MASJID DI KECAMATAN TOMIA TIMUR KABUPATEN WAKATOBI PROVINSI SULAWESI TENGGARA DENGAN PRINSIP-PRINSIP ARSITEKTUR EKLEKTIK Muhammad Zakaria Umar; Masfan Agus
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.371 KB) | DOI: 10.22441/vitruvian.2020.v9i2.002

Abstract

ABSTRAKMasjid-masjid di Indonesia khususnya di Jawa juga tidak bebas dari pengaruh kebudayaan lokal. Hal ini disebabkan manusia Indonesia pada umumnya bersifat eklektik, maka bentuk masjid-masjid di Indonesia pun bergaya campuran sisa-sisa kebudayaan Hindu, bangunan-bangunan India, atau Turki. Saat ini kebudayaan Buton kembali direvitalisasi seperti bentuk atap Malige terdapat pada bangunan sekolah, pertokoan, dan perkantoran. Sedangkan bentuk masjid Keraton Buton dan rumah tradisional Buton Malige belum pernah diadaptasi menjadi alternatif bentukan masjid di Kota Baubau. Penelitian ini ditujukan untuk mendesain masjid skala kecamatan di Kelurahan Tongano Barat, Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi dengan prinsip-prinsip arsitektur eklektik terhadap masjid Keraton Buton dan rumah tradisional Buton Malige. Penelitian ini menggunakan metode grounded theory dengan pendekatan kualitatif. Sumber data terdiri dari data primer dan data sekunder. Data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis dengan cara data direduksi, disajikan, dan disimpulkan. Penelitian ini disimpulkan bahwa elemen-elemen arsitektural masjid di Kecamatan Tomia Timur, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara yang dimodifikasi dari bangunan Masjid Agung tradisional Keraton Buton adalah denah masjid, jendela masjid, tangga eksterior masjid, dan fondasi masjid sedangkan dari rumah tradisional Buton Malige adalah rumah atap bersusun (Malige) serta masjid berbentuk rumah panggung. ABSTRACTMosques in Indonesia especially in Java are also not free from the influence of local culture. This is because Indonesian people are generally eclectic, so the form of our mosques are a mixture of remnants of Hindu culture, Indian buildings, or Turkey. Nowadays, Buton culture has been revitalized like the shape of the Malige roof on school buildings, shops, and offices. While the form of the Palace of Buton mosque and the traditional house of Buton Malige have never been adapted to be an alternative form of a mosque in the City of Baubau. This research is intended to design a sub-scale mosque in the West Tongano Village, Tomia Timur District, Wakatobi Regency with eclectic architectural principles towards the Keraton Buton mosque and the traditional house of Buton Malige. This study uses a grounded theory method with a qualitative approach. Data sources consist of primary data and secondary data. Data collected by observation, interview, and documentation. Data were analyzed by means of data reduced, presented, and concluded. This study concluded that the architectural elements of the mosque in Tomia Timur Subdistrict, Wakatobi Regency, Southeast Sulawesi Province which were modified from the traditional Great Mosque building of the Keraton Buton were mosque plans, mosque windows, mosque exterior stairs, and mosque foundations, while from the traditional houses of Buton Malige were a double-decker roof house (Malige) and a mosque on stilts.
JIWA PUITIS NENEK MOYANG ORANG BUTON DI RUMAH TRADISIONAL BUTON MALIGE KOTA BAUBAU SULAWESI TENGGARA Muhammad Zakaria Umar
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 4 No 3 (2015): Volume 4 Nomor 3, Oktober 2015
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1042.29 KB) | DOI: 10.33772/etnoreflika.v4i3.227

Abstract

Our ancestors have poetic spirit in architecture. This study aims at assessing the poetic spirit of Butonese ancestors to the traditional houses namely Malige. The research was a qualitative descriptive approach. The results of this study indicate that the ancestors of Butonese have poetic spirit in making their traditional house, Malige. Keywords: Poetic soul, the ancestors of Buton, Malige
AKULTURASI BUDAYA PADA BENTUK ATAP MASJID DI KABUPATEN KONAWE SELATAN SULAWESI TENGGARA Muhammad Zakaria Umar
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 5 No 1 (2016): Volume 5 Nomor 1, Februari 2016
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4611.598 KB) | DOI: 10.33772/etnoreflika.v5i1.257

Abstract

Keanekaragaman suku bangsa serta budaya Indonesia sendiri terbentuk melalui sebuah proses seperti, kedatangan imigran asing yang datang ke Nusantara dan kemudian menetap. Seperti apa jadinya pribadi kita sangat dipengaruhi oleh enkulturasi. Masjid bukanlah sebuah karya budaya yang mati, ia hidup, tumbuh dan berkembang secara dinamis; seiring dengan tumbuh dan berkembangnya masyarakat itu sendiri. Berdasarkan penelusuran penulis, ada 20 bentuk atap tumpang pada masjid dari 22 masjid di Kabupaten Konawe Selatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengkaji unsur budaya apa saja yang mempengaruhi bentuk atap masjid dan bagaimana bentuk dari akulturasi budaya-budaya tersebut pada masjid-masjid di Kabupaten Konawe Selatan. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karya arsitektur sebagai bagian dari sistem kebudayaan Hindu, Islam Tasawuf, dan Eropa berakulturasi sehingga terjadi dan tertampilkan dengan baik pada bentuk-bentuk atap masjid di Kabupaten Konawe Selatan. Bentuk akulturasi dari ketiga budaya tersebut adalah bentuk atap masjid tumpang yang bertingkat dua atau tiga (budaya Hindu dan prinsip-prinsip Islam Tasawuf) yang di atas atap ditutupi dengan mustaka yang berbentuk seperti bawang (budaya Eropa). Kata kunci : budaya, akulturasi, bentuk atap masjid
DUA BELAS TEKNIK IKAT KONSTRUKSI KAYU PADA RUMAH VERNAKULAR TOLAKI Putra Wijaya; Muhammad Zakaria Umar; Muhammad Arsyad
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 9 No 2 (2020): Volume 9 Nomor 2, Juni 2020
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v9i2.830

Abstract

The technique of binding wood construction in Tolaki vernacular houses tends to fade due to esotericism. This research is important as follows: (1) to uncover and preserve Tolaki's architectural identity in the form of wood-binding techniques; (2) to enrich the Southeast Sulawesi architecture literature in particular and Indonesian architecture in general. This research is intended to formulate the wood construction binding technique in Tolaki vernacular house. This research uses a case study method with a qualitative approach. Data sources consist of primary data and secondary data. This research uses triangulation data collection techniques. The method of data analysis is carried out by means of information organized, information and codefication studied, cases and contexts described, findings interpreted, and findings presented narratively. The study concluded that the construction of wood in the Tolaki vernacular house consisted of 12 (twelve) connective techniques as follows: first, peusu temomo, peusu kinalase, peusu pinewa’a, peusu pinepuhe, peusu niranggia, and peusu tundo ndowaea are included in the category of cross ties; second, peusu kinalili and peusu pinekalo are included in the category of dead cross ties; third, peusu pinepuhu, peusu sinemba, peusu mbekale, and peusu sinemba aso hara are included in the category of mobile cross ties.
Desain Mandi Cuci Kakus (MCK) Umum di Kampung Eks Suku Bajo Kelurahan Petoaha Kecamatan Nambo Kota Kendari Muhammad Zakaria Umar; Ishak Kadir; Satria Wibowo; Rony Rony
Jurnal Malige Arsitektur Vol 2, No 2 (2020): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Kota Kendari terdapat permukiman kampung eks suku Bajo yang didaratkan. Kampung ini terletak di Jalan Gaya Baru, RT 07, RW 03, Kelurahan Petoaha, Kecamatan Nambo, Kota Kendari. Pada pemukiman ini dibangun lima unit Mandi Cuci Kakus (MCK) umum. Namun, MCK umum tampak terbengkalai karena masyarakat lebih senang melakukan aktifitas MCK di laut atau di belakang rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain MCK umum yang sesuai dengan karakteristik masyarakat eks Suku Bajo dengan penerapan sistem pengelolaan limbah yang efektif dan efisien. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Sumber data primer terdiri dari bangunan MCK lama, data eksisting tapak, dan toilet cemplung warga. Data sekunder berasal dari SNI 03-2399-2002. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan triangulasi. Data dianalisis dengan data direduksi, data disajikan, dan data disimpulkan. Berdasarkan hasil desain penelitian ini disimpulkan bahwa desain MCK umum diadaptasi dari toilet cemplung seadanya dengan mencuplik dan memodifikasi beberapa bagian bangunan, serta menerapkan sistem pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.
PENERAPAN KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 519/MENKES/SK/VI/2008 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PASAR SEHAT TERHADAP DESAIN PANGKALAN PENDARATAN IKAN DI KOTA KENDARI Muhammad Zakaria Umar; Arman Faslih; Ainussalbi Al Ikhsan; Rommy Sutanto
Jurnal Malige Arsitektur Vol 2, No 1 (2020): Jurnal Malige Arsitektur
Publisher : Jurnal Malige Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di Kota Kendari mempunyai kondisi yang cenderung kurang baik. PPI di Kota Kendari penting untuk direncanakan sebagai berikut: (1) agar sesuai dengan standar pasar sehat berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519 Tahun 2008; (2) untuk mengantisipasi terjadi penyebaran dan penularan penyakit berpotensial wabah. Penelitian ini ditujukan untuk menerapkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 519/MENKES/SK/VI/2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat terhadap desain PPI di Kota Kendari. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Sumber data terdiri dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara triangulasi. Data dianalisis dengan cara data direduksi, data disajikan dan data disimpulkan. Berdasarkan hasil desain penelitian ini disimpulkan bahwa semua komponen-komponen pasar sehat terpenuhi dalam variabel situasi, denah tapak, denah, tampak, dan sanitasi pada desain PPI Kota Kendari kecuali lokasi yang rawan bencana alam.  
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Abdi Abdi Abdul Fattaah Mustafa Abdul Fattaah Mustafa Abdul Kadir Afifah Harisah Agus, Masfan Ali Fitrah Aminur Aminur Amirullah Amirullah Andi Fadli Anshari Nur, Muh. Nadzirin Ari Eka Prasetya Arief Saleh Sjamsu Arif Cahyadi Arman Faslih Arman Faslih Arman Faslih Arman Faslih Arman Faslih Arman Faslih Arman Faslih ARMAN FASLIH, ARMAN Baharuddin Balo, Asri Andrias Herman Dayuni, Arimbi Aulia Dedi Hadian Dimas Jaya Ningrat Fadel Muhammad, Fadel Fitriani Rahmawati Hadiputra, Muhammad Nuh Arifiandi Halim Halim Halim Halim, Halim Hamzah, Muhamad Hapsa Rianty Hapsa Rianty Hapsa Rianty, Hapsa Herisman, Herisman Hudi Sonta Ikhsan, Ainussalbi Al Imran, Al Ichlas Irma Amryana Suhartiwi Ishak Kadir Ishak Kadir Ishak kadir Ishak kadir Ishak Kadir, Ishak Iskandar Pattih Jaya, Siti Nawal Jaya, St. Nawal Juharsah, Juharsah Jumadil Nangi Kotta, Muhammad Husni Kurniati Ornam La Ode Abdul Rachmad Sabdin La Ode Abdul Rachmad Sabdin Andisiri La Ode Abdul Rachmad Sabdin Andisiri La Ode Abdul Rachmad Sabdin Andisiri Lilis Laome lisdayanti lisdayanti Ma’ruf, Annas Makkulau Makkulau Masfan Agus Masjidi, Luthfiyyah Moh. Saparun Mohammad Mochsen Sir, Mohammad Mochsen Muhammad Arsyad Muhammad Arsyad Muhammad Arsyad Muhammad Arsyad Muhammad Nuh Arifiandi Hadiputra Muhammad Rozi Musram Abadi Mustafa, Abdul Fattaah Nurdin Takdir Raden Rinova Sisworo Radja, Abdul Mufti Rahmawati, Fitriani ramadan, sachrul Ramadhan, Fahri Ramadhan, Sachrul Rommy Sutanto Rony Rony Sachrul Ramadan Sachrul Ramadan Said, Burhan Samhuddin Samhuddin, Samhuddin Samiel, Edi Santi Santi Santi Santi Saparun, Moh. Satria Wibowo Siti Helmyati Sitti Rosyidah Sitti Rosyidah SITTI ROSYIDAH, SITTI Sjamsu, Arief Saleh Sonta, Hudi Tahir, M. Arzal Takdir, Nurdin Umar, Mazhfia Wahyuni, Armila Inny Wirya Islami Bhakti Zamiul Zamiul Zubair, La Ode Muhammad