Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian Multi Drug Resistance Tuberkulosis (MDR-TB) Cynthia Devi Aristiana; Magdalena Wartono
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2018.v1.65-74

Abstract

LATAR BELAKANGBerdasarkan data WHO Global Report 2016, Indonesia berada diperingkat ke-8 dari 27 negara dengan beban MDR-TB terbanyak di dunia. Terdapat 5.100 kasus MDR-TB yang terjadi di Indonesia yaitu 2,8 % dari kasus baru dan 16 % dari kasus TB yang mendapatkan pengobatan ulang. Banyaknya jumlah kasus MDR-TB yang terjadi melibatkan berbagai faktor yang terkait. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor resiko yang berpengaruh dengan MDR-TB. METODEPenelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan disain potong lintang yang dilakukan bulan November 2017-Januari 2018. Subjek penelitian adalah 88 pasien TB yang berobat di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati, Kecamatan Makassar, Kecamatan Pasar Rebo, dan Kecamatan Ciracas. Pengambilan data menggunakan kuisioner dan status pasien TB. Analisis data dengan menggunakan uji chi-square dan uji fisher dengan nilai kemaknaan p<0,05 serta odd ratio untuk menentukan besar risiko antara variabel bebas dan variabel terikat. HASILMotivasi penderita (p=0,000; OR=47,500), kepatuhan minum obat (p=0,000; OR=10,733), konsumsi alkohol (p=0,000; OR=9,059), Kebiasaan merokok (p=0,000; OR=7,632), dan status gizi (p=0,005; OR=3,791) mempunyai hubungan yang bermakna dengan MDR-TB. KESIMPULANFaktor-faktor yang berhubungan dengan timbulnya MDR-TB antara lain kepatuhan minum obat, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok dan status gizi.
Hubungan antara shift kerja, kelelahan kerja dengan stres kerja pada perawat Indah Rhamdani; Magdalena Wartono
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 2 No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2019.v2.104-110

Abstract

LATAR BELAKANGStres kerja merupakan stres yang timbul akibat tuntutan kerja yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya sehingga menimbulkan berbagai macam reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Menurut PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia), pada tahun 2007 sebanyak 50.9% perawat di Indonesia mengalami stres kerja. Beberapa faktor penyebabnya adalah kelelahan dan waktu kerja yang berubah-ubah (shift kerja). Hasil penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa hubungan antara shift kerja maupun kelelahan kerja dengan stres kerja pada perawat masih diperdebatkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara shift kerja maupun kelelahan kerja dengan stres kerja pada perawat. METODEStudi ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional pada 102 perawat di RSUD Asy-Syifa Sumbawa Barat. Cara pengambilan sampel berupa consecutive non random sampling. Data primer diperoleh dengan kuesioner data diri Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan Kerja (KAUPK2) dan kuesioner stres kerja yang sudah divalidasi dengan nilai Alpha Cronbach antara 0.837-0.832 dan realibilitas 0.926. Analisis data menggunakan chi-square test dengan tingkat kemaknaan (p) <0.05. HASILTerdapat hubungan antara shift kerja (p=0.035), kelelahan kerja (p=0.022), jenis kelamin (0.037) dan status pernikahan (p=0.041) dengan stres kerja dan tidak ada hubungan antara usia dengan stres kerja (p=0.071). KESIMPULANTerdapat hubungan antara shift kerja, kelelahan kerja, jenis kelamin, dan status pernikahan dengan stres kerja pada perawat RSUD Asy-Syifa Sumbawa Barat. Akan tetapi usia tidak berkaitan dengan stres kerja.
Hubungan sikap tubuh saat bekerja dengan keluhan muskuloskeletal akibat kerja pada karyawan Queena Raihan Salsabila; Magdalena Wartono
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 3 No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2020.v3.169-175

Abstract

LATAR BELAKANG Gangguan muskuloskeletal akibat kerja adalah gangguan pada struktur muskuloskeletal pada leher, punggung, ekstremitas atas dan bawah yang disebabkan oleh mikro-trauma kumulatif akibat biomekanikal atau pajanan lain dari pekerjaan. Gangguan ini jarang mengancam jiwa, tetapi dapat meningkatkan absenteisme, menurunkan produktivitas kerja, menurunkan kualitas hidup, dan meningkatkan beban finansial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan risiko sikap tubuh saat bekerja dengan timbulnya keluhan muskuloskeletal. Selain itu penelitian juga melihat faktor lain seperti masa kerja dan karakteristik jenis kelamin serta hubungannya dengan keluhan muskuloskeletal. METODEPenelitian menggunakan studi observasional analitik cross-sectional dengan jumlah responden 60 pekerja kantor. Risiko sikap kerja dinilai dengan menggunakan Rapid Upper Limb Assessment (RULA) dan keluhan muskuloskeletal dinilai dengan menggunakan Nordic Body Map (NBM). Selain itu juga dikumpulkan data tentang jenis kelamin dan masa kerja. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan uji Fisher. HASILHampir sebagian besar pekerja (91.7%) mengalami keluhan muskuloskeletal dan sebagian besar di antaranya adalah pekerja laki-laki (96.9%). Keluhan muskuloskeletal yang tinggi didapatkan pada pekerja yang sudah bekerja lebih dari 4 tahun (96.7%) dan juga pada pekerja dengan sikap kerja berisiko tinggi (90%) namun berdasarkan hasil uji statistik tidak didapatkan hubungan antara jenis kelamin, masa kerja dan tingkat risiko sikap tubuh dengan keluhan muskuloskeletal (p> 0.005). KESIMPULANPrevalensi keluhan muskuloskeletal pada pekerja kantor sangat tinggi demikian juga dengan tingkat risiko sikap tubuh saat bekerja. Pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan antara risiko sikap tubuh, jenis kelamin dan masa kerja dengan keluhan muskuloskeletal. Dengan demikian perlu diteliti faktor-faktor lain yang mungkin menyebabkan keluhan ini. Walaupun tidak didapatkan hubungan yang bermakna, angka prevalensi yang tinggi ini perlu menjadi perhatian bagi perusahaan.
Hubungan antara beban kerja, besaran upah, dan stres kerja pada karyawan PT. HBSP Sarifa Sarifa; Magdalena Wartono
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.70-78

Abstract

LATAR BELAKANGPerkembangan dunia bisnis yang dinamis tentu berpengaruh terhadap tuntutan produktivitas kerja karyawan. Dalam menjalankan tugas mereka tidak jarang para karyawan mengalami stres kerja yang bisa diakibatkan oleh berbagai faktor antara lain beban kerja dan besaran upah kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara beban kerja, besaran upah dengan stres kerja pada karyawan perusahaan pengelolaan limbah. METODEStudi cross-sectional pada 95 karyawan perusahaan pengelolaan limbah. Data sosiodemografi, lama kerja dan besaran upah dikumpulkan dengan kuesioner. Kategori beban kerja didapatkan dengan menghitung rumus persentase beban kardiovaskuler dan penilaian stres dengan mengunakan survei Health and Safety Executive (HSE). Analisis hubungan antara variabel dilakukan dengan uji Chi-square dan Kolmogorov-smirnov. HASILResponden paling banyak yang berusia 26-45 tahun (62.1%) dan didominasi oleh laki-laki (74.7%). Responden yang telah bekerja <5 tahun adalah 55.8% dan yang sudah menikah sebanyak 69.5%. Sebanyak 78.9% responden tidak menerima besaran upah yang sesuai dengan Upah Minimum Kota. Dalam hal beban kerja, sebanyak 49 responden termasuk kategori diperlukan perbaikan. Mayoritas responden mengalami stres sedang (72.6%). Tidak terdapat hubungan bermakna antara beban kerja dan kejadian stres kerja (p=0.758), dan terdapat hubungan yang bermakna antara upah terhadap stres kerja pada karyawan perusahaan pengelolaan limbah di Karawang (p=0.000). KESIMPULANPenelitian menunjukkan banyak karyawan yang mengalami stres dan didapatkan hubungan yang bermakna dengan besara upah tetapi tidak dengan beban kerja. Dengan demikian perusahaan perlu melakukan kajian terhadap sistem perupahan dan manajemen stres di tempat kerja.
Berat badan lahir dan kejadian hipoglikemia pada neonatus Raisha Ochi Melinda; Magdalena Wartono
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 4 No 4 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2021.v4.164-169

Abstract

LATAR BELAKANGSalah satu penyebab kematian bayi baru lahir adalah kadar gula darah rendah (hipoglikemia) karena dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ seperti otak. Neonatus dengan berat badan lahir (BBL) ≥3800g atau <2500 g sering mengalami hipoglikemia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan antara berat badan lahir dengan hipoglikemia pada bayi baru lahir. METODEPenelitian menggunakan desain cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh kelahiran di RSAL dr. Mintohardjo periode Januari-Juli 2019 sebanyak 71 bayi. Sampel dipilih secara consecutive non-random sampling. Data kadar gula darah dan berat badan lahir bayi diambil dari rekam medis. Hubungan kedua variabel diuji dengan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0.005. HASILPenelitian menunjukkan sebanyak 16 bayi (22.5%) memiliki BBL rendah, 41 bayi (57.7%) memiliki BBL normal dan 14 bayi (19.7%) memiliki BBL lebih. Pada penelitian ini bayi yang mengalami hipoglikemia sebanyak 32 bayi (45.1%). Responden dengan berat badan lahir rendah dan mengalami hipoglikemia sebanyak 14 bayi (87.5%). Sedangkan responden dengan berat badan lahir normal dan mengalami hipoglikemia sebanyak 8 bayi (19.5%). Responden dengan berat badan lahir lebih dan mengalami hipoglikemia sebanyak 10 bayi (71.4). Hasil uji statistik menunjukkan nilai p=0.000. KESIMPULANTerdapat hubungan antara berat badan lahir bayi dan kejadian hipoglikemia pada bayi baru lahir.
PENYULUHAN: PENGENALAN FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN PENCEGAHANNYA Samara, Tjam Diana; Wartono, Magdalena; Mediana, Dian; Kosasih, Adrianus
Jurnal Pengabdian Masyarakat Trimedika Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/abdimastrimedika.v2i2.22889

Abstract

Kebersihan jalan raya tidak bisa dilepaskan dari petugas yang membersihkan. Jenis pekerjaan tersebut tidak terlepas dari risiko berbagai penyakit yang ditimbulkan akibat pekerjaan tersebut. Salah satu penyakit yang dimaksud adalah penyakit jantung koroner (PJK) masih menjadi penyebab tertinggi penyebab kematian di Indonesia. Oleh karena itu diperlukan pemahaman tentang faktor-faktor yang menyebabkan PJK bagi petugas pembersih sarana umum (PPSU) dalam hal ini penyapu jalan agar dapat mencegah timbulnya penyakit tersebut. Saat penyuluhan peserta diberikan pretest, dilanjutkan pemberian materi penyuluhan, dan diikuti dengan tanya jawab dan posttest. Hasil yang didapatkan adalah terjadi kenaikan pemahamana sebanyak 37.5%. Masih pelru dilakukan tindak lanjut penyluhan berikutnya agar peserta dapat lebih memahami bagaimana memelihara kesehatannya terkait sistem kardiovaskular
Peningkatan Pengetahuan dan Kesadaran Deteksi Dini Melalui Penyuluhan Sindrom Metabolik Pada Masyarakat Desa Ciangsana Yenny, Yenny; Rahmansyah, Mulia; Wartono, Magdalena; Setiawati, Lenny; Budihartanti, Patricia; Salma, Nabilla Maudy
Jurnal SOLMA Vol. 14 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v14i2.18927

Abstract

Pendahuluan: Sindrom metabolik masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, dengan prevalensi mencapai 39%. Kondisi ini dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup dan deteksi dini. Pengetahuan masyarakat mengenai gaya hidup sehat menjadi kunci dalam upaya pencegahan. Studi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat Desa Ciangsana, Bogor, Jawa Barat terhadap pentingnya deteksi dini dan gaya hidup yang tepat dalam mencegah sindrom metabolik. Metode: Kegiatan dilakukan melalui penyuluhan yang disertai pengisian kuesioner pre dan post penyuluhan untuk mengukur peningkatan pengetahuan. Pemeriksaan gula darah puasa dan pengukuran antropometrik juga dilakukan, dilanjutkan sesi konsultasi. Hasil: Seluruh responden adalah perempuan dengan rerata usia 42,4 tahun. Sebanyak 43,3% berpendidikan SMP, 73,3% mengalami obesitas, 80% obesitas sentral, 45,5% hipertensi, dan 60% memiliki gula darah puasa ≥ 100 mg/dL. Uji Wilcoxon signed rank menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah penyuluhan (p<0,001). Kesimpulan: Penyuluhan berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat. Kolaborasi tenaga kesehatan dan pemerintah daerah penting dalam penerapan kebijakan pencegahan sindrom metabolik.
HUBUNGAN DURASI DUDUK DAN INDEKS MASSA TUBUH TERHADAP RISIKO DEEP-VEIN THROMBOSIS KARYAWAN Shafia, Faiza; Wartono, Magdalena
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 5 No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2022.v5.82-88

Abstract

Relationship between Sitting Duration and Body Mass Index to Deep-Vein Thrombosis Risk on Employee BACKGROUND Deep vein thrombosis (DVT) is a condition where a blood clot forms in the deep venous circulation system, especially in the femoral and popliteal vein. This disease has various factors, including obesity and a sedentary lifestyle such as sitting for long period of time. Employees who spend most of their time sitting at work are at risk of developing this condition. Previous studies showed different results, thus further research is needed. METHOD An analytic observational study with a cross-sectional method conducted on 90 employees at Bank BTN Head Office Jakarta from October to November 2021. Data were collected by interview using the OSPAQ questionnaire to assess sitting duration, Wells criteria to assess DVT risk, and calculation of body mass index (BMI). Sample was done by simple random sampling technique and analysis using chi-square. RESULTS There are more male respondents (60%) than female respondents (36%). It was found that 4,4% of employees have a thin BMI, 52,2% of employees have a normal BMI, and 43,3% of employees have a fat BMI. The respondents’ average sitting duration was 2,6 hours/day without interruption. There was no relationship between sitting duration (p=0,903) and the risk of DVT. There was a relationship between BMI (p=0,008) and the risk of DVT. CONCLUSION A body mass index above normal is a risk for deep vein thrombosis, but the disease is not affected by long sitting duration. Keywords : Sitting duration, Body mass index, Deep vein thrombosis, Employee
Korelasi antara Profil Metabolik Laboratorium dan Tekanan Darah Samara, Diana; Wartono, Magdalena; Kosasih, Adrianus
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 7 No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2024.v7.61-70

Abstract

Background High blood glucose and cholesterol are risk factors for hypertension. This study aims to determine the correlation between blood glucose and cholesterol levels with blood pressure in the normal blood pressure (NBP), controlled hypertension (CHT), and uncontrolled hypertension groups (UHT). Methods The study used a cross-sectional design with analytic observations on subjects aged 36 years or older. Ninety-five subjects were divided into three groups: NBP, CHT, and UHT. Subjects were men and women, without chronic heart failure or chronic renal failure. Samples were taken by consecutive random sampling. Blood pressure, body mass index, random BG, and lipid profile (triglycerides, HDL, LDL, total cholesterol) were measured. Statistical test using Spearman correlation test with p-value <0.05 significantly. Results There were 95 subjects with a range age of 36-81 years old. There were 30 NBP subjects, 34 CHT subjects, and 31 UHT subjects. There was a weak positive correlation between HDL level and diastolic BP in the NBP group (r=0.391;p=0.032). There was no correlation between blood glucose and other lipid profiles with BP in the three groups. Conclusions The increase in HDL is accompanied by an increase in diastolic blood pressure in NT but not with random blood sugar and other lipid profiles in all three blood pressure groups.
Correlation between COHb, HIF-1α levels, and smoking habits with physical fatigue in online motorcycle taxi drivers Wartono, Magdalena; Tjam, Diana Samara; Lestari, Ade Dwi; Adrianus Kosasih; Novendy, Novendy
Indonesian Journal of Biomedicine and Clinical Sciences Vol 58 No 1 (2026)
Publisher : Published by Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/inajbcs.v58i1.23175

Abstract

Online motorcycle taxi drivers have varying working hours and rest periods which can influence the occurrence of fatigue among them. Additionally, working on the road made them exposed to air pollution, including carbon monoxide. Several studies have reported a relationship between carbon monoxide and fatigue levels in specific types of occupations. Therefore, the aim of this study is to determine the correlation between smoking habits, occupational factors, carboxyhemoglobin (COHb) levels, and work fatigue, as well as the correlation between hypoxia inducible factor 1-alpha (HIF-1α) and COHb levels. Demographic characteristics, smoking habits, and occupational factors were measured using a questionnaire. COHb and HIF-1α levels were measured through blood biomarker examinations, while fatigue levels were assessed using the IFRC questionnaire. Data analysis was conducted using Spearman correlation tests in the SPSS program. The results showed that majority of respondents were male (87%), with the highest age range being 19-44 yr (85.5%). More than 50% of respondents were classified as overweight or obese. The majority of them were light smokers (78.3%). Most respondents had normal COHb levels, and in terms of fatigue levels, a larger proportion experienced mild fatigue (66.7%). No correlation between COHb levels, smoking habits, occupational factors, and fatigue levels as well as between HIF-1α and COHb levels (p>0.05). In conclusion, no correlation is found between COHb levels, smoking habits, occupational factors, and fatigue levels. Similarly, there is no correlation between HIF-1α and COHb levels.