Rizka Aisyah
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Buleleng

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Efek Antibakteri Ekstrak Keladi Tikus (Typhonium Divaricatum (L.) Decne) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus Aureus Josephine Yessi; Hartono Pudjowibowo; Armelia Sari; Rizka Aisyah
Jurnal Farmasetis Vol 12 No 3 (2023): Jurnal Farmasetis: Agustus 2023
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/far.v12i3.1146

Abstract

Infeksi paska ekstraksi merupakan salah satu faktor risiko utama infeksi. Pasien biasanya mulai dengan dry socket, yang dapat mengakibatkan bakteremia, sehingga menimbulkan konsekuensi yang lebih serius, seperti alveolitis dan endokarditis. Typhonium divaricatum biasa disebut 'keladi tikus' merupakan tanaman dari keluarga Araceae. Secara tradisional, tanaman ini digunakan sebagai obat alternatif untuk kanker. Ini juga telah menunjukkan bahwa tanaman memiliki sifat tambahan, termasuk antibakteri dan aktivitas antioksidan. Tujuan: Dalam penelitian ini, kami meneliti efek dari ekstrak keladi tikus pada pertumbuhan Staphylococcus aureus, salah satu dari beberapa organisme diketahui berkontribusi untuk infeksi paska ekstraksi. Metode: Zat uji standar ekstrak dari keladi tikus dan kontrol kemudian ditambahkan ke piring Staphylococcus aureus lalu diinkubasi 48 jam, diikuti dengan konsentrasi hambat minimum (MIC) ditentukan dari zona yang jelas. Hasilnya: Pengamatan diameter zona hambatan yang terbentuk, diameter zona hambatan yang dihasilkan oleh ekstrak keladi tikus dengan konsentrasi 50% sebesar 22,46 mm diikuti dengan konsentrasi 25% sebesar 20,49 mm, konsentrasi 12,5% sebesar 14,83 mm, konsentrasi 6,25% sebesar 11,17 mm, konsentrasi 3.125% pada 11,13 mm. Kesimpulan: Data ini menunjukkan bahwa ekstrak keladi tikus memiliki efek antibakteri yang jelas pada Staphylococcus aureus. Semakin tinggi konsentrasi yang digunakan penghambatan aktivitas bakteri lebih tinggi, tetapi dibandingkan dengan aktivitas antibiotik, aktivitas antibakteri ekstrak keladi tikus masih di bawah aktivitas antibakteri antibiotik.
FORMULASI SEDIAAN GEL DENGAN KOMBINASI EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella asiatica L.) DAN LIDAH BUAYA (Aloe vera) SEBAGAI ANTI-JERAWAT TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus Nyoman Triana Sari; Rizka Aisyah; Luh Putu Desy Puspaningrat
Jurnal Kesehatan Sundaram Vol. 1 No. 1 (2024): JKS
Publisher : LPPM STIKes Buleleng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52073/8wj2r605

Abstract

Pegagan (Centella asiatica L.) dan lidah buaya memiliki manfaat yang sangat penting dalam pengembangan bidang farmasi terutama dalam bidang kosmetik karena kedua tumbuhan tersebut memiliki kandungan metabolit sekunder yang bermanfaat sebagai anti-inflamasi dan antimikroba, serta untuk mengurangi peradangan dan menghambat pertumbuhan bakteri pada kulit. Salah satu sediaan topikal yang banyak digunakan dalam pengobatan jerawat adalah sediaan gel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas sediaan gel dengan kombinasi ekstrak pegagan (Centella asiatica L.) dan lidah buaya sebagai anti-jerawat terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen laboratorium menggunakan bakteri Staphylococcus aureus dengan 5 perlakuan yang berbeda yaitu basis gel sebagai Kontrol Negatif, Erymed gel 2% sebagai Kontrol Positif, dan sediaan gel kombinasi ekstrak pegagan dan ekstrak lidah buaya dengan perbandingan 5%:5% (F1), 10%:10% (F2) dan 15%:15% (F3). Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji Shapiro-Wilk untuk uji normalitas dan uji Kruskal Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan gel dengan kombinasi ekstrak daun pagagan dan lidah buaya secara signifikan memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus (p<0,05) dimana pada sediaan gel F1, F2 dan F3 memiliki rata rata zona hambat sebesar 19 mm, 23 mm dan 25 mm, pada kontrol positif memiliki rata-rata zona hambat sebesar 42,4 mm, sedangkan pada kontrol negatif tidak terbentuk zona hambat. Jadi dapat disimpulkan bahwa sediaan gel dengan kombinasi ekstrak pegagan (Centella asiatica L.) dan lidah buaya memiliki efektivitas sebagai anti-jerawat terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN SPRAY GEL TABIR SURYA EKSTRAK ETANOLDAUN KERSEN (Mutingia calabura L .) Komang Eka Sari Darmini; Rizka Aisyah; Ni Made Raningsih
Jurnal Kesehatan Sundaram Vol. 2 No. 2 (2025): JKS
Publisher : LPPM STIKes Buleleng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52073/c4cw9p33

Abstract

Kerusakan kulit dapat disebabkan karena radikal bebas salah satunya paparan sinar uv yang dapat menyebabkan eritema jika kulit terpapar tanpa perlindungan. Daun Kersen (Muntingia calabura L.) memiliki khasiat sebagai tabir surya alami karena mengandung senyawa metabolit sekunder flavanoid, saponin, polifenol dan tannin yang dapat berperan sebagai antioksidan sekaligus tabir surya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perbedaan karakteristik sediaan spray gel dan aktivitas tabir surya dengan Spektrofotometri Uv-Vis pada konsentrasi Ekstrak Etanol Daun Kersen (EEDK). Ekstraksi daun kersen dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak kental yang diperoleh dilakukan uji antioksidan dengan metode DPPH. Aktivitas antioksidan menunjukkan nilai IC50 14,67 termasuk kedalam kategori sangat aktif. Ekstrak Kental juga dibuat sediaan spray gel dengan konsentrasi EEDK F1=2%, F2=4%, F3=6%. Sediaan spray gel EEDK dilakukan evaluasi sediaan, uji stabilitas, dan uji aktivitas tabir surya. Sediaan spray gel EEDK berwarna coklat, memiliki aroma khas ekstrak dan homogen. Perbedaan konsentrasi EEDK tidak mempengaruhi karakteristik spray gel kecuali viskositas yang hasilnya mengalami penurunan dengan peningkatan konsentrasi EEDK. Aktivitas tabir surya spray gel EEDK ditunjukkan dengan nilai SPF yaitu F1 (14,47) termasuk kategori proteksi maksimal, F2 (15,02) dan F3 (17,26) termasuk kategori proteksi ultra.
EFEKTIVITAS SEDIAAN KRIM EKSTRAK DAUN MANGGA MADU (Mangifera IndicaL.) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA BAKAR DERAJAT II PADA TIKUS PUTIHJANTAN (Rattus norvegicus L.) GALUR WISTAR Ni Luh Ayu Surya Dianti; Rizka Aisyah; Iyan Hardiana
Jurnal Kesehatan Sundaram Vol. 2 No. 2 (2025): JKS
Publisher : LPPM STIKes Buleleng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52073/r7sxmd47

Abstract

Luka Bakar adalah jenis cedera yang bersifat merusak jaringan kulit, kecacatan sementara,pemanen yang disebabkan oleh kontak dengan panas kering (api), panas lembab (uap atau cairan panas), kimiawi (seperti bahan korosif), barang elektrik (aliran listrik atau lampu, atau energi elektromagnetik dan radiasi). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah sediaan krim tipe M/A dengan kandungan zat aktif dari daun mangga madu memiliki efektifitas dalam penyembuhan luka bakar pada tikus. Pada penelitian ini digunakan 24 ekor tikus jantan dan dikelompokan menjadi empat kelompok besar yaitu kelompok kontrol positif, F1 (Basis Krim), kontrol perlakuan sebanyak dua kelompok F2 (10%), F3 (15%). Kelompok kontrol positif diberikan salep enbatik, kelompok negatif diberikan basis krim, kelompok F2 diberikan krim ekstrak etanol daun mangga madu (Mangifera Indica L.) dengan konsentrasi 10%, kelompok F3 diberikan krim ekstrak etanol daun mangga madu (Mangifera Indica L.) dengan konsentrasi 15%. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen laboratorium dengan uji one - way ANOVA. Hasil penelitian menunjukan Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol (p< 0,05). Sediaan krim dengan konsentrasi 15% menunjukan hasil paling efektif dalam penyembuhan luka bakar derajat II dengan rata – rata 0,41 ± 0,26 mm. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun mangga madu (Mangifera Indica L.) dapat menyembuhkan luka bakar pada tikus putih jantan (Rattus norvegicus) yang diinduksi dengan besi panas.
FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PADA HANDBODY LOTION EKSTRAK BUNGA KAMBOJA PUTIH(Plumeria Acuminata) Putu Rhisa Joy Nirvani; Rizka Aisyah; Reza Ismail Abdul Rahman
Jurnal Kesehatan Sundaram Vol. 3 No. 2 (2026): JKS
Publisher : LPPM STIKes Buleleng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52073/cz65pb85

Abstract

Paparan sinar ultraviolet (UV) secara berlebihan dapat menimbulkan berbagai permasalahan kulit seperti keriput, hiperpigmentasi, hingga penuaan dini. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah penggunaan produk perawatan kulit topikal yang mengandung senyawa antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengevaluasi formulasi handbody lotion berbahan dasar ekstrak bunga kamboja putih (Plumeria acuminata), serta menilai potensi aktivitas antioksidannya melalui metode DPPH. Ekstrak diperoleh melalui teknik maserasi menggunakan etanol 70%, dan diformulasikan dalam empat variasi konsentrasi : 0% (kontrol), 0,5%, 1%, dan 1,5%. Pengujian dilakukan terhadap karakteristik fisik (warna, bau, tekstur), homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, serta kestabilan produk selama penyimpanan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua formulasi memenuhi standar kualitas fisik yang baik. Uji antioksidan menunjukkan bahwa formulasi dengan konsentrasi 1,5% memiliki aktivitas yang cukup tinggi berdasarkan nilai IC₅₀, yang masuk dalam kategori antioksidan kuat. Dengan demikian, ekstrak bunga kamboja putih menunjukkan potensi sebagai bahan aktif alami dalam sediaan handbody lotion yang berfungsi melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas.
FORMULASI DAN UJI STABILITAS BODYSCRUB PADA EKSTRAK BUNGA KAMBOJA PUTIH (Plumeria acuminata) SEBAGAI EXFOLIANT Luh Putu Pira Sepianti; Rizka Aisyah; Luh Putu Desy Puspaningrat
Jurnal Kesehatan Sundaram Vol. 3 No. 2 (2026): JKS
Publisher : LPPM STIKes Buleleng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52073/rekbfg74

Abstract

Indonesia merupakan negara tropis dengan tingkat intensitas radiasi UV yang kuat, ditambah adanya polusi udara akibat asap pabrik dan kendaraan bermotor yang memperparah efek radikal bebas penyebab kerusakan kulit. Pengaruh lingkungan menyebabkan terganggunya keseimbangan pada kulit, sehingga kulit menjadi kering dan bersisik yang disebabkan oleh adanya penumpukan sel-sel kulit mati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak bunga kamboja putih dapat diformulasikan untuk sediaan bodyscrub. Juga bertujuan untuk mengetahui formulasi dan uji stabilitas pada sediaan bodyscrub ekstrak bunga kamboja putih serta untuk mengevaluasi pengujian sediaan bodyscrub pada ekstrak bunga kamboja. Ekstrak diperoleh melalui maserasi dengan etanol 70% dan diformulasikan dalam empat sediaan dengan konsentrasi F0 sebagai kontrol, 1,5%, 2,5%, dan 3,5%. Pengujian dilakukan dengan mengamati karakter fisik pada uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji daya lekat, uji daya sebar, dan uji stabilitas sediaan dalam penyimpanan. Hasil pengujian pada sediaan memenuhi kualitas fisik yang baik pada keempat formulasi sediaan. Hasil pengujian antioksidan menunjukkan hasil aktivitas antioksidan yang sangat tinggi pada konsentrasi 3,5% dengan nilai IC₅₀ sebesar 19,364 µg/mL. Hasil uji iritasi pada 8 responden sukarela wanita menunjukkan tidak adanya iritasi setelah dilakukan perlakuan selama 24 jam. Hal ini menunjukkan bahwa formulasi sediaan bodyscrub ekstrak bunga kamboja putih baik dan tidak mengiritasi kulit.
PENYULUHAN TANAMAN OBAT KELUARGA (TOGA) LIDAH BUAYA DI DESA GESING KECAMATAN BANJAR KABUPATEN BULELENG Rizka Aisyah; Ari Permana Putra; Luh Yesi Angga Natalia Dewi; Putu Cicillia Septipani
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sundaram Vol. 3 No. 1 (2025): JPMS
Publisher : LPPM STIKes Buleleng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52073/jpms.v3i1.66

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan warga Desa Gesing, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng dalam memanfaatkan tanaman obat keluarga (TOGA), khususnya lidahbuaya (Aloe vera), sebagai alternatif pengobatan tradisional yang mudah, murah, dan aman. Metode pelaksanaanmencakup pelatihan budidaya TOGA, penyuluhan khasiat ilmiah lidah buaya, serta praktik pembuatan jamu instan. Hasil kegiatan menunjukkan antusiasme tinggi dari warga, terlihat dari keaktifan dalam sesi diskusi dan praktik, serta adanyainisiatif untuk mengembangkan produk olahan lidah buaya dalam bentuk serbuk jamu. Program ini tidak hanyameningkatkan pengetahuan kesehatan masyarakat, tetapi juga membuka peluang usaha berbasis herbal lokal yang potensial dikembangkan secara berkelanjutan. Diharapkan, kegiatan ini mampu mendorong kemandirian masyarakat dalammenjaga kesehatan serta menjadi basis ekonomi keluarga yang baru.
DIVERSIFIKASI OLAHAN MANGGA MELALUI PEMBUATAN LILIN AROMATERAPI Rizka Aisyah; Iyan Hardiana; Ari Permana Putra; Luh Yesi Angga Natalia Dewi; Ni Komang Virginia Pradini
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sundaram Vol. 4 No. 1 (2026): JPMS
Publisher : LPPM STIKes Buleleng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52073/jpms.v4i1.91

Abstract

Diversifikasi olahan hasil pertanian merupakan strategi penting untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dan mengurangi ketergantungan pada produk pangan konvensional. Mangga (Mangifera indica L.) adalah buah tropis unggulan di Indonesia dengan produksi melimpah, namun pemanfaatannya masih didominasi oleh produk pangan seperti jus, manisan, dan selai. Kondisi ini menyebabkan potensi non-pangan mangga, khususnya kandungan senyawa aromatik alaminya, belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, diversifikasi olahan mangga melalui pembuatan lilin aromaterapi menjadi alternatif inovatif yang bernilai ekonomis dan fungsional. Mangga mengandung berbagai senyawa volatil, terutama pada daging dan kulit buah, seperti terpenoid, ester, dan aldehida, yang berkontribusi terhadap aroma khasnya. Senyawa-senyawa ini berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber aroma alami dalam produk aromaterapi. Aromaterapi merupakan terapi komplementer yang memanfaatkan aroma alami untuk memberikan efek relaksasi, meningkatkan kenyamanan psikologis, serta membantu mengurangi stres. Salah satu bentuk sediaan aromaterapi yang popular adalah lilin aromaterapi karena penggunaannya praktis, stabil, dan memiliki nilai estetika. Kegiatan PKM ini diberikan dalam bentuk diskusi dan pelatihan pembuatan lilin aromaterapi di Bajar Dinas Kelodan.