Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

DIFFERENCES OLD PERINEAL WOUND HEALING POST HECTING WITH ANESTHESIA AND WITHOUT ANESTHESIA IN POSTPARTUM MOTHERS IN BPM "Y" AND BPM "G" LUBUK ALUNG 2015 Septya, Angelia Rovina; Kustanto, Debby Ratno
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 9 No 1 (2018): Jurnal Kesehatan Prima Nusantara Bukittinggi
Publisher : LPPM Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v9i1.348

Abstract

Tailoring perineum is the effort to improve the function of the reproductive organs of women with rupture during childbirth. The use of anesthesia in suturing perineal laceration is dear mother's care. Practical experience in D-III of Midwifery, anesthetic administration before done throughout the midwife with the grounds for granting anesthesia can slow wound healing. This study aims to determine whether there are differences in wound healing post heating perineum between the mother given anesthesia before suturing the perineum with mothers who are not given anesthesia before suturing the perineum. This type of research is pre-experimentation, design research group intact comparison. research conducted on 1 October to 20 October 2015 in BPM "G" and BPM "Y" Lubuk Alung with a total sample of six people, the sampling technique accidental sampling. Data analysis was done by Independent T statistical test. The results showed long wound healing using anesthesia is 10 days while the healing of wounds that do not use anesthesia is 6 days. Bivariate analysis results can be concluded there is a difference in the rate of wound healing between the mother given anesthetic before action is taken by the mothers perineal suturing were not given anesthesia before action is taken perineal suturing with a P value of Value 0.013 (<0.05). Health workers must increase their skills and communication in case of normal delivery in order to rupture perineum reduced and teach patients how to wound care of perineal is good and right that wound healing is rapid and normal in hope of decreasing the risk of infection during childbirth.
ANALISIS EPIDEMIOLOGI PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE MELALUI PENDEKATAN TEMPORAL DAN HUBUNGANNYA DENGAN FAKTOR IKLIM DI KOTA PADANG TAHUN 2014-2017 Rahmi, Febria; Hadi, Dasman; Fransiska, Mellia; Kustanto, Debby Ratno
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 10 No 1 (2019): Jurnal Kesehatan : STIKes Prima Nusantara Bukittinggi
Publisher : LPPM Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v10i1.373

Abstract

Pada tahun 2013, di Indonesia jumlah penderita DBD yang dilaporkan sebanyak 112.511 kasus dengan jumlah kematian 871 orang (Incidence Rate / Angka kesakitan = 45,85 per 100.000 penduduk dan CFR / angka kematian = 0,77%). Kota Padang merupakan salah satu kota yang angka kejadian DBDnya tertinggi di Sumatera Barat. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya peningkatan kasus DBD, antara lain nyamuk sebagai vektor, faktor lingkungan, dan unsur iklim yang dapat ditinjau dari aspek temporal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan faktor iklim dengan kejadian penyakit demam berdarah dengue berdasarkan pendekatan temporal di Kota Padang Tahun 2014-2017. Penelitian ini menggunakan rancangan studi ekologi dengan jenis Times Series Study (Time Trend Study). Penelitian ini dilakukan di Kota Padang pada bulan Mei - Juli tahun 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita penyakit DBD yang berada di Kota Padang dan tercatat dalam register DBD Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2014-2017, yaitu berjumlah 3311 kasus. Seluruh populasi dijadikan sampel dalam penelitian ini. Pengolahan data (procesing) dilakukan dengan menggunakan program komputer. Hasil penelitian didapatkan Secara spasial, angka Insidence DBD tertinggi terjadi di Kecamatan Bungus yaitu 169 per 100.000 penduduk pada tahun 2015, selanjutnya Kecamatan Kuranji. Sedangkan insidence DBD terendah juga terjadi di Kecamatan Bungus yaitu 16 per 100.000 penduduk pada tahun 2014. Secara temporal, Kasus DBD tertinggi di Kota Padang tahun 2014-2017 terjadi pada Bulan November tahun 2015 sebesar 200 kasus dan yang terendah terjadi pada Bulan April tahun 2017 sebesar 14 kasus. Rata-rata kejadian kasus DBD tertinggi terjadi pada Bulan Desember sebesar 124 kasus dan yang terendah terjadi pada Bulan April sebesar 27 kasus. Hubungan curah hujan dengan jumlah kasus DBD di Kota Padang tahun 2014 – 2017 menunjukkan hubungan yang kuat (r = 0,607), berpola positif, dan ada hubungan yang signifikan (p = 0,036). Secara umum, Kecamatan di Kota Padang tergolong daerah yang endemis DBD.Disarankan kepada masyarakat untuk meningkatkan peran serta di dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit DBD seperti melakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus serta peningkatan health promotion seperti penyuluhan yang berkaitan dengan penyakit DBD kepada masyarakat oleh pihak atau instansi terkait terutama kepada Puskesmas yang tinggi Incidence DBD.
ANALISIS GEOSPASIAL SEBARAN STUNTING DI KOTA BUKITTINGGI Lubis, Kholilah; Kustanto, Debby Ratno; Fetrisia, Wiwit; Nataria, Desti
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 13 No 1 (2022): Jurnal Kesehatan
Publisher : LPPM Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v13i1.576

Abstract

Latar Belakang: Stunting atau severy stunting (pendek atau sangat pendek) merupakan salah satu bentuk permasalahan gizi yang mendunia yang terjadi di negara berkembang dan terbelakang dengan penghasilan rendah atau menengah. Stunting merupakan masalah yang berisiko dan mendapat perhatian ekstra World Health Organization (WHO) karena akibatnya dapat memperngaruhi dari jangka pendek hingga jangka panjang dimana prevalensi kasus stunting di Indonesia dari tahun 2005 - 2017 merupakan prevalensi kasus stunting tertinggi ketiga di kawasan Asia Tenggara dengan rata-rata 36,4%.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah memetakan sebaran stunting pada balita dengan metode Geographic Information System (GIS).Metode: Penelitian ini jenis cross sectional desktiptif dengan pengambilan data sekunder kasus stunting pada balita yang diperoleh dari Dinas Kesehatan kota Bukittinggi yaitu dari tahun 2017 - tahun 2018. Survei dan pemasangan titik koordinat menggunakan aplikasi GPS yang diolah dan diproyeksikan dalam bentuk peta sebaran stunting dengan aplikasi QGIS (Quantum Geographic Information System).Hasil: Hasil penelitian didapatkan, tahun 2017 kasus stunting tertinggi berada di Puskesmas Guguk Panjang sebanyak 70 balita (39,33%) dan kasus stunting terendah berada di wilayah kerja Puskesmas Gulai Bancah yaitu sebanyak 2 balita (1,11%). Di Puskesmas Plus Mandiangin dan Nilam Sari tidak terdapat kasus stunting (0%). Sedangkan tahun 2018 kasus stunting paling tinggi terdapat di Puskesmas Guguk Panjang yaitu sebanyak 241 balita (39,01%), sedangkan kasus stunting paling rendah terdapat di Puskesmas Plus Mandiangin yaitu sebanyak 11 balita (1,79%).Simpulan: Dapat disimpulkan bahwa dari tahun 2017 - 2018 kasus stunting pada balita mengalami peningkatan yang cukup signifikan sehingga diperlukan upaya pencegahan yang lebih agar kasus stunting di Kota Bukittinggi mengalami penurunan.
MAPPING GEOGRAPHICAL OF CHILDREN'S NUTRITIONAL DISORDERS IN BUKITTINGGI Lubis, Kholilah; Ramadhanti, Indah Putri; Kustanto, Debby Ratno
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 13 No 3 (2022): Jurnal Kesehatan
Publisher : LPPM Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v13i3.756

Abstract

Background: Children’s Nutritional Disorders (CND) are diseases that occur when childhood’s dietary intake doesn't contain the proper amount of nutrients for healthy functioning. In Indonesia, the prevalence of severely underweight is 1,4%, underweight is 6,7%, 1,1% were severely wasted and 4,3% of children were wasted. The prevalence of stunted has decreased from 27,7% in 2019 to 24,4% in 2020. However, this achievement is still far from the SDG’s targets.Objective: This study aims to determine the CND with a mapping geographical that can help the government to find the cause so the cases decrease faster.Methods: This study was descriptive with a cross-sectional design and conducted in Bukittinggi, West Sumatera, and used secondary data (Height and Weight Measurement Reports in 2020) from Public Health Office. To present the mapping geographical using QGIS 3.16 by taking the coordinate points of the Community Health Center in the Bukittinggi area.Results: Severely underweight, Guguk Panjang (7,55%) vs. Nilam Sari (0%). Underweight, Tigo Baleh (12,33%) vs Nilam Sari (1,55%). The risk of overweight, Tigo Baleh 23,33% vs. Gulai Bancah (4%). Severely stunted, Tigo Baleh (5,19%) vs. Gulai Bancah (3,60%), Nilam Sari (1,06%). Stunted, Guguk Panjang (15, 81%) vs. Gulai Bancah (14,75%). Severely wasted is very low in each Community health center (0,02% or 0,01%). Wasted, Tigo Baleh (0,91%) vs. Mandangin (0,08%). Overweight, Guguk Panjang (9,62%) vs. Gulai Bancah (6,12%).Conclusion: The risk of overweight is the most cases of CND in Bukittinggi, while severely wasted is the lowest case. The cases in 2020 increased associated with the Covid-19 pandemic.