Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Humanis untuk Membangun Kesadaran Sosial Mahasiswa STIKES Abdi Persada Banjarmasin Aulia Zahrah; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1501

Abstract

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan kesadaran sosial mahasiswa sebagai calon tenaga kesehatan yang profesional dan humanis. Namun, perkembangan teknologi, perubahan pola pergaulan, dan globalisasi nilai seringkali menurunkan sensitivitas sosial mahasiswa terhadap lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana penerapan pendekatan pembelajaran PAI humanis mampu menumbuhkan kesadaran sosial mahasiswa di STIKES Abdi Persada Banjarmasin. Pendekatan humanis menekankan pada penghargaan terhadap martabat manusia, aktualisasi diri, serta keterlibatan aktif mahasiswa dalam proses pembelajaran yang relevan dengan realitas sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran PAI humanis mampu meningkatkan empati, kepekaan sosial, sikap inklusif, dan partisipasi mahasiswa dalam kegiatan sosial. Selain itu, dosen memainkan peran penting sebagai fasilitator yang menciptakan suasana pembelajaran dialogis, reflektif, dan kolaboratif. Penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran PAI humanis efektif dalam membangun kesadaran sosial mahasiswa, khususnya dalam bidang kesehatan yang menuntut integritas moral dan kepekaan terhadap masalah kemanusiaan.
Penguatan Spiritualitas Mahasiswa Melalui Program Pendidikan Agama Islam Siti Alimah; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1502

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI) di perguruan tinggi memiliki fungsi strategis dalam membentuk karakter dan spiritualitas mahasiswa di tengah arus modernisasi, sekularisasi, serta dinamika sosial budaya yang semakin kompleks. Penelitian ini bertujuan menganalisis upaya penguatan spiritualitas mahasiswa melalui program PAI yang diimplementasikan dalam lingkungan kampus. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui kajian literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan spiritualitas mahasiswa tidak hanya bergantung pada materi perkuliahan, tetapi juga integrasi antara kurikulum, pembiasaan ibadah, mentoring keagamaan, kegiatan sosial, dan internalisasi nilai-nilai keislaman secara komprehensif. Selain itu, peran dosen PAI sebagai teladan moral, fasilitator, dan motivator sangat menentukan keberhasilan pembentukan spiritualitas mahasiswa. Lingkungan kampus yang religius, program keagamaan yang berkesinambungan, serta pemanfaatan media digital turut memperkuat kapasitas mahasiswa dalam mengembangkan kesadaran religius, literasi keagamaan, dan akhlak mulia. Penelitian ini menegaskan bahwa PAI mampu memperkuat spiritualitas mahasiswa melalui strategi sistematis yang melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kesimpulannya, PAI berperan signifikan dalam membangun pribadi mahasiswa yang beriman, berakhlak, dan mampu menghadapi tantangan era digital secara bijaksana.
Proses Pembentukan Iman: Sebuah Kajian Teoretis dan Praktis Maysarah; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1518

Abstract

Iman dalam Islam adalah keyakinan yang diyakini di dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diwujudkan dalam amal perbuatan. Makna ini lebih luas dari sekadar percaya; ia mencakup keyakinan yang kuat pada enam rukun iman, yang kemudian harus diwujudkan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari ibadah hingga akhlak mulia kepada sesama.bagaimana proses terbentuknya iman dalam diri manusia dari perspektif spiritual dan sosial. Iman tidak hadir secara tiba-tiba, tetapi melalui proses internalisasi nilai-nilai agama yang melibatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Iman merupakan unsur fundamental dalam kehidupan beragama yang menentukan sikap, perilaku, serta cara pandang seseorang terhadap Tuhan dan sesama manusia. Proses terbentuknya iman tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan yang melibatkan pengalaman pribadi, lingkungan sosial, pendidikan, dan pemahaman terhadap ajaran agama. Dalam proses ini, faktor internal seperti hati nurani, kesadaran spiritual, serta pencarian makna hidup berperan penting dalam memperkuat keyakinan seseorang. Sementara itu, faktor eksternal seperti keluarga, lingkungan pergaulan, serta bimbingan tokoh agama turut mempengaruhi pertumbuhan iman. Dengan demikian, iman terbentuk melalui perpaduan antara pengalaman batin dan interaksi sosial yang berkesinambungan. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan dinamika dan tahapan dalam pembentukan iman, serta menyoroti pentingnya peran pendidikan dan lingkungan religius dalam menjaga kestabilan iman seseorang di tengah tantangan kehidupan modern.
Status Nasab dan Hak Anak Angkat Menurut Syariah Islam Rizqi Akbar; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1519

Abstract

Penelitian ini mengkaji secara komprehensif status nasab dan hak‑anak angkat menurut syariah Islam, khususnya dalam kerangka konsep “kafalah” (pengasuhan) dan warisan. Studi ini menelaah dasar‑dalil Al‑Qur’an dan hadits, serta interpretasi para ulama dan ketentuan hukum nasional di Indonesia. Hasil menunjukkan bahwa dalam Islam anak angkat tidak memperoleh nasab orang tua angkatnya, sebab nasab hanya melekat pada ayah kandung; dan bahwa hak waris anak angkat dari orang tua angkatnya tidak otomatis seperti anak kandung, melainkan melalui wasiat (maksimum 1/3 harta warisan) atau hibah. Dalam konteks praktik, tantangan muncul terkait pemahaman masyarakat yang masih sering menisbatkan anak angkat kepada orang tua angkatnya, yang dapat menimbulkan implikasi hukum terhadap nasab, perkawinan, dan warisan. Kesimpulannya, pengangkatan anak dalam Islam diperbolehkan dalam bentuk pengasuhan dan nafkah (kafalah), tetapi harus dijalankan dengan menjaga ketentuan nasab dan hak‑hak sesuai syariah, serta dibarengi dengan kebijakan hukum nasional yang jelas.
Informed Consent dalam Kerangka Etik Islam: Tantangan Budaya dan Praktik Komunikasi antara Tenaga Medis Muslim dan Pasien Muhammad Ritaudin Noor; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1523

Abstract

Informed consent adalah pilar etika medis yang menjunjung hak pasien atas informasi dan otonomi keputusan. Dalam konteks Islam, prinsip-prinsip syariah seperti maqasid al-shariah, adab medik, dan makna menjaga kehormatan serta martabat pasien membentuk kerangka komunikasi antara tenaga medis Muslim dan pasien. Perbedaan budaya, keyakinan, dan nuansa hukum fiqh dapat mempengaruhi proses persetujuan, pemahaman informasi, serta kepercayaan terhadap institusi kesehatan. Beberapa kendala utama muncul meliputi variasi pemahaman mengenai hak informasi dan batas kedudukan keluarga dalam keputusan medis, interpretasi konsep keikhlasan, musyawah, dan wali/wali pasien mempengaruhi sejauh mana persetujuan bersifat independent, bahasa medis teknis yang kompleks serta penggunaan istilah yang tidak familier meningkatkan ketidakpastian pasien, kekhawatiran mengenai privasi, kerahasiaan, dan izin berbagi informasi di antara anggota tim multidisiplin, perbedaan pandangan terkait risiko dan manfaat intervensi yang dipahami secara berbeda antara nilai-nilai keagamaan dan bukti klinis. Strategi praktis yang disarankan meliputi penggunaan bahasa sederhana yang disesuaikan dengan konteks budaya, pelatihan komunikasi etika Islami bagi tenaga kesehatan, penyertaan unsur fiqh medik dalam prosedur informed consent, serta penggunaan media edukasi berbasis budaya (infografik dan video pendek) yang menekankan maqasid al-shariah berupa perlindungan nyawa, akal, keturunan, agama, dan harta.
Konsep Hakikat Manusia dalam Islam: Telaah Atas Potensi Fitrah dan Tanggung Jawab Khalifah Yulia Sari; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1524

Abstract

Hakikat manusia merupakan salah satu kajian fundamental dalam Islam yang mencakup pemahaman mengenai potensi, tujuan penciptaan, serta peran manusia di muka bumi. Artikel ini membahas konsep hakikat manusia berdasarkan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah, dengan fokus pada potensi fitrah sebagai kecenderungan alami menuju kebenaran dan peran manusia sebagai khalifah yang mengemban amanah untuk memakmurkan bumi. Melalui pendekatan teologis dan filosofis, kajian ini menegaskan bahwa manusia memiliki struktur eksistensial yang terdiri atas jasad dan ruh, diberkahi akal sebagai instrumen berpikir dan kebebasan memilih yang menjadikannya bertanggung jawab secara moral dan spiritual. Konsep manusia sebagai ‘abdullah menempatkan manusia sebagai makhluk yang harus tunduk dan mengabdi kepada Allah, sementara konsep khalifah memberikan tanggung jawab besar bagi manusia dalam menjaga keseimbangan alam dan membangun peradaban yang berkeadilan. Temuan kajian ini menunjukkan bahwa pemahaman komprehensif tentang hakikat manusia dalam Islam memiliki implikasi signifikan terhadap pembentukan karakter, arah pendidikan, dan strategi pembangunan sosial di era modern. Dengan demikian, Islam menawarkan paradigma kemanusiaan yang utuh dan harmonis untuk menjawab berbagai krisis moral dan spiritual global.
Dialektika Akal dan Wahyu: Pemikiran Filosofis Tentang Keimanan dan Ketuhanan dalam Islam Gt. Alfian; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1525

Abstract

Penelitian ini membahas dialektika akal dan wahyu dalam pemahaman keimanan dan ketuhanan berdasarkan pemikiran para filsuf Islam, khususnya Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, dan Mulla Sadra. Kajian dilakukan melalui metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat Islam tidak memposisikan akal dan wahyu sebagai dua sumber yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam memahami kebenaran ilahiah. Al-Farabi dan Ibn Sina menekankan peran akal sebagai instrumen rasional untuk mengenal Tuhan melalui pendekatan metafisik. Al-Ghazali memperlihatkan keterbatasan akal dan pentingnya wahyu serta pengalaman spiritual sebagai jalan ma’rifat. Ibn Rusyd menegaskan adanya harmoni akal dan wahyu karena keduanya berasal dari Tuhan yang sama. Mulla Sadra kemudian menawarkan sintesis yang lebih integratif melalui al-hikmah al-muta’aliyah, yang menggabungkan akal, spiritualitas, dan teks wahyu dalam pencarian kebenaran metafisik. Penelitian ini menegaskan bahwa dalam Islam, keimanan yang kukuh membutuhkan dukungan rasionalitas, dan rasionalitas sejati harus sejalan dengan kebenaran wahyu. Dialektika akal dan wahyu menjadi fondasi epistemologis yang memperkaya pemahaman teologis mengenai eksistensi Tuhan dan hakikat keimanan dalam tradisi intelektual Islam.
Memahami Hakikat dan Konsep Manusia Menurut Islam Susiama Putri Anjeli; Latifah
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025): Agustus-November 2025
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v3i3.1531

Abstract

Pemahaman tentang hakikat dan konsep manusia dalam Islam merupakan dasar utama dalam membangun paradigma kehidupan yang berlandaskan nilai ketuhanan. Islam menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki struktur multidimensional, terdiri dari unsur jasmani yang bersifat material dan unsur ruhani yang bersumber dari tiupan ruh Ilahi. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk terbaik (ahsani taqwīm), dibekali akal, fitrah, serta kebebasan berkehendak untuk mengenal dan mengabdi kepada Allah. Kedudukan manusia sebagai ‘abd (hamba Allah) dan khalīfah (pemakmur bumi) menunjukkan bahwa seluruh aktivitas hidup harus berorientasi pada ibadah dan tanggung jawab moral. Penelitian ini bertujuan memberikan pemahaman sistematis mengenai jati diri manusia menurut perspektif Islam, potensi yang dimiliki, serta implikasinya dalam membangun karakter dan arah kehidupan seorang Muslim. Dengan pendekatan deskriptif-analitis berbasis Al-Qur’an, hadis, dan pemikiran ulama, hasil kajian menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi mencapai derajat kemuliaan tertinggi ketika fitrah, akal, dan aspek spiritualnya digunakan sesuai tuntunan syariat. Konsep manusia dalam Islam tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga relevan dalam kehidupan sosial, pendidikan, dan pembentukan moralitas umat di era modern.
Pelaksanaan Continuity Of Care Pada Neonatus Dan Bayi Di Era Pandemi Covid-19 Di Wilayah Puskesmas Banjarmasin Indah Tahun 2022 Syahrida Wahyu Utami; Nur Cahyani Ari Lestari; Latifah
JPEMAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2022): JPEMAS : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/adc.v1i1.32

Abstract

Continuity of care merupakan hal yang mendasar dalam model praktik kebidanan untuk memberikan asuhan yang holistik, membangun kemitraan yang berkelanjutan untuk memberikan dukungan, dan membina hubungan saling percaya antara bidan dengan klien. Pelaksanaan asuhan Continuity of Care (COC) ini didalamnya secara tidak langsung akan memperkuat rasa kepercayaan antara bidan dan juga klien, karena asuhan yang diberikan berlangsung dalam waktu yang intens dan berkelanjutan. Selain itu, menurut berbagai penelitian yang telah dilakukan, asuhan Continuity of Care ini terbukti bermanfaat bagi wanita melalui pengurangan intervensi yang dilakukan dan penurunan angka morbiditas ibu dan bayi baru lahir. Dengan dilakukannya pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat mendeteksi secara dini gejala Covid-19 terhadap Neonatus dan Bayi melalui pelaksanaan Continuity Of Care dan meningkatkan angka derajat kesehatan yang lebih baik pada bayi, sehat fisik dan tumbuh serta berkembang secara normal di era pandemi covid-19.
Penyuluhan Hidup Sehat Mencegah Terjadinya Kembali Virus Covid 19 Pada Pembelajaran Tatap Muka Menurut Pandangan Islam Di SMA Islam Terpadu Martapura Latifah; Sri Purwanti; Azura Arisa; Rima Diaty
JPEMAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2023): JPEMAS : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/adc.v1i2.186

Abstract

Kegiatan penyuluhan ini dilakukan secara tatap muka selama 1 hari, yaitu pada tanggal 1 Februari 2023. Pelaksanaan kegiatan di SMA Islam Terpadu Martapura Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan dengan beranggotakan 4 orang yaitu, Latifah, Sri Purwanti, Azura Arisa, Rima Diaty yang merupakan Dosen Sekolah Tinggi Abdi Persada Banjarmasin dan dibantu oleh kepala sekolah serta dewan guru di SMA Islam Terpadu Martapura dengan sasaran dalam kegiatan inI adalah siswa kelas X/A yang berjumlah sebanyak 20 orang. Adapun metode yang digunakan adalah dengan metode ceramah selama 60 menit (1 Jam), dan dilanjutkan dengan diskusi tanya jawab. disimpulkan bahwa dengan penyuluhan hidup sehat mencegah terjadinya kembali virus covid 19 pada pembelajaran tatap muka menurut pandangan Islam di SMA Islam Terpadu Martapura mendapatkan apresiasi bagus dari siswa dan khususnya pihak sekolah dengan semakin memahami betapa pentingnya menjaga kesehatan berkaitan dengan kesadaran pencegahan penularan Kembali virus Covid-19 di lingkungan sekolah.