Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : KALANGWAN

Rejang Dewa Di Desa Sidetapa, Banjar, Buleleng, Bali (Keunikan Dan Fungsi) Trisnawati, Ida Ayu
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 2 No 1 (2016): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7815.794 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v2i1.121

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan tujuan mendapatkan uraian diskriptif analisis tentang Nilai estetis tari Rejang Dewa pada masyarakat Desa Sidetapa, Banjar, Buleleng, Bali. Hasil penelitian munjukkan bahwa Sejarah awal dari rejang dewa di desa pakraman Sidetapa tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan desa ini, yang mana desa ini sudah ada sejak tahun 785 saka atau 883 Masehi yang diperkirakan setelah kedatangan Maha Resi Markandya ke Bali dengan mendirikan Pura Besakih di lereng Gunung Agung. Tari rejang dewa ini adalah tari sakral yang dipersembabkan kepada Taksu (Ida Sang Hyang Widhi) yang ada di Pura Desa Sidetapa. Keunikan yang menjadi ciri khas dari tari rejang dewa Sidetapa yang membedakan dari tari rejang umumnya bisa dilihat dari beberapa aspek yaitu penari, pakaian dan aksesoris yang dipakai, tabuh dan gerakan penarinya, waktu dan tempat pementasan tari rejang dewa ini. Dari segi fungsi dan maknanya, fungsi tari rejang dewa bagi masyarakat Sidetapa bisa dilihat dalam beberapa aspek yaitu religius sebagai persembaban kepada Tuhan Yang Maba Esa, pelestarian kebudayaan dan adat Bali agar tetap ajeg, fungsi sosial sebagai pengikat antar masyarakat di desa ini, dan fungsi edukasi atau pendidikan seni dan juga etika bagi generasi muda di desa Sidetapa.
Transformasi Ritual Siat Sampian Dalam Tari Anggruwat Bumi Rani Franciska, Ni Luh Putu; Trisnawati, Ida Ayu; Suartini, Ni Wayan
Kalangwan : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4 No 1 (2018): Juni
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.072 KB) | DOI: 10.31091/kalangwan.v4i1.453

Abstract

Ritual dewasa ini banyak mengalami perkembangan baik digunakan sebagai pengobatan maupun pedoman hidup, namun banyak pula yang tetap menjadikan ritual sebagai sarana upacara untuk membersihkan segala sesuatu hal yang buruk menjadi suci. Sama halnya dengan tradisi siat sampian yang sekaligus merupakan ritual di Pura Samuantiga. Asumsi masyarakat khusunya di daerah setempat percaya bahwa ritual ini merupakan media pengobatan secara niskala, sejak berpuluh tahun lamanya kepercayaan terus dijadikan sebagai pedoman hidup oleh masyarakatnya, sehingga banyak pengkaji yang berusaha menelurusi jejak tentang ritual ini, apa penyebab dan siapa yang mengutarakan hal tersebut, apakah argumen tersebut benar atau tidak. Dengan adanya bukti bahwa ritual ini merupakan sebuah peninggalan sejak masa kekuasaan Raja Warmadewa. Sehingga pertanyaan yang muncul dapat dipertanggung jawabkan dan dijadikan sebuah pembelajaran. Kembali pada Pertunjukan tari yang erat berkaitan dengan ritual dimana pertunjukan sebagai pelengkap upacara dan sering kali pertunjukan bersumber dari ritual itu sendiri. Salah satu contoh adalah tari Angruwat Bumi yang merupakan karya tari yang mendapatkan inspirasi dari siat sampian yang di dalamnya mengupas tentang perjalanan ritual yang dilakukan pada saat berlangsungnya upacara di Pura Samuantiga diformuasikan dengan mengaplikasikan teori Cipta Seni oleh I Nyoman Sedana dengan menggunakan empat kerangka mencipta seni yaitu sumber cipta seni, sastra cipta seni, komposisi cipta seni, produk cipta seni. Bentuk dari karya adalah kreasi baru yang ditarikan oleh tujuh orang penari putri dan menggunakan empat bagian sebagai struktur dimana karya tari ini merupakan bentuk persembahan dimana kita terlahir untuk tuhan dan mati untuk tuhan, hanya saja tari ini terealisasikan dengan penyeimbangan keburukan dan kebaikan dan fungsi sendiri sebagai wujud bakti terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa.Today’s rituals have undergone many improvements both used as a treatment and life guide, but many still mantain as a ritual for the ceremonial means to clean up everything that is bad becomes scared. So with this tradition which is also a ritual in the temple. The assumption of the community, especially in the local area, believe that this ritual is a non-standard treatment medium. Since decades ago faith as has continued to serve as a guideline for life by its poeple, so many reviewers are trying to trace the ritual, what burden and ready to express it, whether the argument is true or not. With the evidence that this ritual is a legacy of the regin of the king of Warmadewa. So that question that appear can be justified and to be learning. Returning to dance performance that are closely related to the rituals of the performing performance are as a complement to the ceremony and are often sourched from the ritual itself. One example is the Angruwat Bumi dance which is dance work that get inspiration for the siat sampian in which peeled about the ritual journey that was done during the ceremony at the Samuantiga temple formulated with apply theory create of art by I Nyoman Sedana with to use four framework to create of art there are, the source to create of art, the literature to create of art, the composition to create of art, the product to create of art. The form of the creation is the new dance who to use seven girls dancers and used four part as structure where this creation is form of the offerings who we were born for god and die for god, only this creation is realized with balance of the kind and of the ugliness and than that function own as the form devotion the Ida Sang Hyang Widhi Wasa