Claim Missing Document
Check
Articles

POTRET PENDIDIKAN TOLERANSI DALAM MEME DI MEDIA SOSIAL SEBAGAI BAHAN LITERASI AGAMA Ni nyoman ayu suciartini; Ni Luh PT Putriyani Dewi; Kadek Jaya Wiguna
Jurnal Penjaminan Mutu Vol 9 No 01 (2023)
Publisher : UHN IGB Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/jpm.v9i01.2010

Abstract

The Educational Value of Tolerance in Meme as a Media of Religious Literacy. This Currently, memes are being used as a means to voice social criticism, especially on issues that are being discussed by netizens on social media. This includes memes used as an interpretation of the meaning of religious tolerance in Indonesia. The formulation of the problem in this study is how is the portrait of religious tolerance education in memes on social media? The method used in this study is a qualitative research method with the use of semiotic studies. The elements of semiotics studied in this study are signs (images, shapes, shapes and colors), objects (meanings) and interpreters (attitudes and thought patterns of meme creators. The results of this study conclude that of the 5 memes studied, religious tolerance is in the form of creation). memes on social media are represented by the selection of characters with their respective characteristics, with different clothes as symbols or certain religious identities, differences in religious holidays that fall on the same day, different calls or greetings, are signs made by creators to give the meaning of religious tolerance education is in his meme. This viral meme which contains values of tolerance education is also effectively used as a medium or material in religious literacy.
NARASI KIDUNG “TURUN TIRTA” SEBAGAI MEDIA LITERASI PEMULIAAN AIR Ni Nyoman Ayu Suciartini; Ida Ayu Diah Larasanthi
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 2 (2022): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasionar Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air bagi masyarakat Hindu di Bali bukan hanya tentang persoalan hidup, melepas dahaga, mencuci baju, membersihkan fisik, melainkan air adalah segala-galanya. Segala upacara di Bali, mulai dari kelahiran sampai kematian itu sendiri, semuanya berawal dan bermuasal dengan air. Begitu umat Hindu di Bali memuliakan air yang terus hidup dari generasi satu hingga generasi lainnya. Memuliakan air adalah keharusan bagi masyarakat Hindu di Bali, khususnya pada generasi muda. Dibutuhkan media literasi terkait pemuliaan air yang efektif dan konteksnya dalam mengenalkan dan memahami pemuliaan air ini. Salah satunya yaitu dengan sentuhan sastra, khususnya kidung “Turun Tirta”. Narasi kidung “Turun Tirta” ini memberi implikasi kepada umat atau masyarakat yang melantunkannya dan juga mendengarnya untuk dapat merasakan fungsi air bagi masyarakat Hindu di Bali. Air bukan hanya sebatas air, melainkan lebih dari itu, air bagi masyarakat di Bali fungsinya sangat kompleks. Air suci atau tirta bahkan bisa dikatakan sebgaai suatu hal yang vital kehadirannya di Bali.
VERBAL BULLYING DALAM MEDIA SOSIAL Ni Nyoman Ayu Suciartini; Ni Luh Putu Unix Sumartini
Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia Vol 6, No 2 (2018): Juli-Desember 2018
Publisher : PBSI, FKIP UNISSULA, Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/j.6.2.152-171

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan, 1) bentuk verbal bullying yang mengemuka di media sosial, 2) penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa pada kasus verbal bullying yang mengemuka di media sosial, dan 3) dampak verbal bullying yang mengemuka di media sosial. Dalam mencapai tujuan ini, peneliti menggunakan rancangan penelitian deskriptif-kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi, wawancara, dan kuesioner. Hasil penelitian ini memaparkan bahwa  (1) bentuk perilaku verbal bullying yang mengemuka di media sosial dinyatakan dalam bentuk menyindir, menghina, dan mengancam, (2) bentuk penyimpangan verbal bullying ditinjau dari prinsip kesantunan berbahasa menyalahi maksim kebijaksanaan, kesimpatian, pemufakatan (kecocokan), dan penghargaan, (3) Dampak verbal bullying yang mengemuka di media sosial dibedakan menjadi 2 yaitu dampak positif, seperti bisa menjadi motivator positif, keinginan kuat untuk berbenah, berani menghadapi tantangan hidup, namun, dampak negatifnya jauh lebih berat, seperti, kehilangan kepercayan diri, disfungsi sosial, penyalahgunaan masa depan, percobaan bunuh diri, dan menjadi pelaku verbal bullying.  Kata kunci : verbal bullying, prinsip kesantunan berbahasa
PILIHAN DIKSI DALAM KONTESTASI PILPRES 2024 DALAM PERSPEKTIF ANALISIS WACANA KRITIS SEBAGAI PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN LITERASI Ni nyoman ayu suciartini; Payuyasa, I Nyoman
Jurnal Penjaminan Mutu Vol 10 No 01 (2024)
Publisher : UHN IGB Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/jpm.v10i01.3575

Abstract

The diction or terms used in the 2024 presidential election battle are some deliberately coined, while others emerge inadvertently, which can lead to multiple interpretations and meanings. Candidate pairs and, on the other hand, can also decrease electability in the political atmosphere. This study aims to analyze popular diction in the 2024 presidential election, both from social media and the bustling reality in society. This research employs a qualitative descriptive research design with the assistance of data collection methods such as observation, documentation, and literature review. The analytical tool used is Discourse Analysis. The results of this study indicate that the most popular diction often contains meanings that, when dissected using critical discourse analysis, reveal several perspectives related to the significance of the diction. Terms such as "slepet", "samsul", "cawe-cawe", are the most popular diction that influences both social media and the real world. Many posts are inspired by the diction of the 2024 presidential election, which certainly contains certain political meanings. The choice of diction or language by a leader figure greatly determines the process of garnering votes. Recorded in the diction that emerges in the presidential election, this diction can become an advertisement in another form that contributes to increasing electability
LITERASI AGAMA DALAM NARASI RUANG VIRTUAL Suciartini, Ni Nyoman Ayu; Pratama, I Putu Wahyu
Sirok Bastra Vol 11, No 2 (2023): Sirok Bastra
Publisher : Kantor Bahasa Provinsi Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37671/sb.v11i2.480

Abstract

Literasi di ruang virtual dan media sosial perlu dikembangkan di tengah maraknya narasi-narasi berita bohong maupun konten digital yang kurang mendidik. Pemanfaatan ruang virtual dan media sosial seharusnya diisi dan dikembangkan dengan konten positif, mengedukasi, dan dapat memotivasi generasi muda untuk mengembangkan kebudayaan, ritual, adat istiadat, dan tradisi di dalamnya. Sepanjang apa pun sejarah dan sejauh apa pun peradaban melesat dengan perkembangan teknologi informasi di dalamnya, penanaman nilai toleransi, kerukunan, kecintaan terhadap kebudayaan, dan pendidikan karakter memang wajib dan harus dilakukan sebagai bagian dari roh pendidikan, baik di rumah, sekolah, maupun di masyarakat. Sebab, jika anak-anak atau generasi telah memiliki karakter yang kuat, mereka tidak akan mudah tercerabut dari akarnya. Tantangan era ini tentu berhadapan dengan adanya ruang virtual dan dunia digital yang beragam, lebih menarik, dan lebih menjangkau banyak khalayak. Hal inilah yang seharusnya dimanfaatkan dalam dunia pendidikan untuk menjadi media dalam pembelajaran apa pun, termasuk di dalamnya menjadi manusia yang moderat dan toleran demi keutuhan NKRI. Ruang virtual dan media digital perlu dianalisis untuk dapat menjadi media pembelajaran yang inovatif untuk mendukung hal-hal baik dan positif serta melibatkan generasi muda untuk ikut andil di dalamnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai pendidikan karakter dalam ruang virtual dan media digital sebagai media pembelajaran moderasi beragama. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dengan bantuan metode kajian pustaka, wawancara, dan kuesioner. Pisau analisis yang dipakai, yaitu Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ruang virtual dan media digital dengan narasi, bahasa, dan konteks yang mendukung sebuah wacana virtual dan digital dapat berdampak positif untuk mengedepankan konten agama, seni tradisi, dan budaya, memuat nilai-nilai pendidikan karakter, dan menjadi media penguatan perilaku moderat dan toleransi beragama.
RITUAL PEMULIAAN SAMUDRA DI RUANG VIRTUAL SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN LITERASI Suciartini, Ni Nyoman Ayu; Pratama, Putu Wahyu
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai-nilai pendidikan dan literasi budaya dalam ritual pemuliaan laut dan samudra yang dikemas dalam ruang virtual dan digital. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis sebagai kajian dalam analisis data. dapat digunakan sebagai media pendiidkan dan literasi budaya. Salah satu akun YouTube dalam akun Nusa Penida Destinations dalam ruang digital dan virtual mengabadikan atau mendokumentasikan prosesi, tahapan, pemaknaan, dan sejarah yang melatarbelakangi ritual nyepi segara ini diadakan. Banyak warganet mencari referensi terkait ritual ini melalui media digital dan ruang virtual. Masyarakat, tidak saja di Bali, melainkan masyarakat dalam teritorial yang lebih luas dapat memahami prosesi pemuliaan laut dan samudra khususnya yang ada di wilayah Nusa Penida. Dalam narasi di media digital yang disampaikan oleh tokoh agama, tokoh adat, maupun masyarakat sekitar dapat memberikan edukasi dan sosialisasi terkait kearifan lokal yang dimiliki oleh Bali dalam pemuliaan air. Generasi muda menjadi mengetahui dan memaknai bahwa adanya kearifan lokal ini patut didokumentasikan dan dapat dijadikan sebagai sumber atau media pembelajaran terkait makna dan filosofi nyepi segara. Keberadaan dan kecanggihan teknologi dan informasi, jika dimanfaatkan dengan bijak dan positif, mampu menjadi alat yang sangat ampuh untuk menjaga eksistensi kearifan lokal, budaya, seni tradisi bahkan ritual keagamaan yang sarat akan nilai-nilai pendidikan, nilai-nilai kehidupan, dan literasi budaya. Berdasarkan data transformasi ritual pemuliaan air, nyepi segara yang dikemas dalam format digital dan virtual ini tampak bahwa format sajian virtual dan digital ini dikemas lebih kreatif, inovatif, tidak monoton sehingga menjadi sumber belajar, media pembelajaran dan sumber motivasi untuk masyarakat Bali, khususnya dalam pelestarian budaya, seni tradisi, dan ritual itu sendiri. Media virtual dan digital yang mendokumentasikan budaya, ritual, adat tardisi secara utuh dan penuh dapat menjadi sumber belajar, media literasi, dan dapat pula membangun ekonomi kreatif bagi masyarakat desa dan memberdayakan desa sebagai sesuatu yang potensial.
LITERASI BUDAYA MELALUI FILM DOKUMENTER BRAHMAN CEREMONY Putra, I Made Denny Chrisna; Payuyasa, I Nyoman; Putra, Ida Bagus Hari Kayana; Suciartini, Ni Nyoman Ayu
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film dapat merefleksikan sebuah peradaban suatu negara atau bangsa. Melalui karya film, seseorang dapat melihat dengan jelas rangkaian sejarah, budaya, filosofi, fenomena, bahkan gejolak sosial yang pernah terjadi di suatu zaman menuju zaman lainnya. Film terutama film dokumenter juga menjadi media yang kuat untuk dapat menjaga eksistensi kebudayaan. Peran film di era globalisasi ini menjadi suatu kajian yang menarik untuk dapat menghadirkan tontonan yang sekaligus dapat menjadi tuntunan bagi masyarakat. Apalagi jika menilik situasi masyarakat kini yang hidup di antara gelimang arus budaya global yang tentu saja mengancam keudayaan yang dimiliki. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis nilai-nilai literasi budaya dalam film dokumenter Brahman Ceremony. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode pengumpulan data observasi dan wawancara. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan prosedur model interaktif Milles dengan tahapan tiga analisis data, yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) verifikasi atau penarikan simpulan. Hasil penelitian ini adalah film dokumenter berjudul Brahmana Ceremony ini merupakan film dokumenter yang digarap dengan tipe expository. Tipe ini berupa narasi (voice over) yang memaparkan/menjelaskan serangkaian fakta yang dikombinasikan bersamaan dengan gambar-gambar di film. Literasi budaya yang disajikan di antaranya ritus budaya ngaben yang seorang sulinggih mulai dari awal prosesi hingga akhir.
A, The PADAGINGAN DALAM TEKS DEWA TATWA (Perspektif Teologi Hindu): PADAGINGAN DALAM TEKS DEWA TATWA (Perspektif Teologi Hindu) Wedha, I Wayan Putu Artha; Harsananda, Hari; Suciartini, Ni Nyoman Ayu
Sphatika: Jurnal Teologi Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/sphatika.v15i2.4069

Abstract

Hinduism is such a complex religious teaching that has such a wide range of teachings to learn and will continue to grow with time. One that testifies to the rich teachings of Hinduism is the literary work of religious teachings that is the basis for the execution of every ceremony, behavior, and conduct of human life. One of the most published texts is the text of the god tattwa that contains the teaching of the mekiis ceremony, ngusaba nini, establishes a sanggar tawang, and padagingan at palinggih. The palinggih comes in various shapes to suit the purpose of its construction, but not all of the buildings constructed may be listed as the most palinggih. What might be called the most palinggih is the building that has gone through the sacred stage and given by the spirit into the building. The text of the dewa tattwa is a text that refers to earlier texts of widhitattwa and candi narmada tattwa. It explains how important the blending of the most sophisticated building is. Where the aggregate is a symbol of spirit and an incredible entity that provides a positive vibrational. In practice it isa given material element that can serve as a medium for connecting humans to god.Padagingan is itself composed of components that are wholly meaningful as a symbol of realities that will be intertwined. These symbols are incorporated into a single entity which symbolizes so many manifestations of God that all come from one unthinkable. The symbol provides a basis for confidence in the people who hold such beliefs. The padagingan existence of an outside alloy as a means that brings positive vibrations as well as a medium to increase belief and firmness in carrying out religious teaching.
ANALISIS WACANA KRITIS “SEMUA KARENA AHOK” PROGRAM MATA NAJWA METRO TV Ni Nyoman Ayu Suciartini
Aksara Vol 29, No 2 (2017): Aksara, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v29i2.54.267-282

Abstract

Analisis Wacana Kritis selalu menarik untuk dikaji lebih dalam. Kuasa media dan persepsi publik yang membuat penelitian wacana kritis terus tumbuh. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana analisis wacana kritis model Van Djik dalam program Mata Najwa episode “Semua karena Ahok”? Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan analisis wacana kritis model AWK Van Djik dikonstruksi Najwa Sihab selaku pembawa acara dalam program Mata Najwa “Semua karena Ahok”. Metode yang digunakan yaitu AWK model Van Djik. Teknik analisis datanya menggunakan teknik dokumentasi dan observasi. Teori yang digunakan yaitu analisis wacana kritis model Van Djik, teori media. Hasil dan pembahasan penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Struktur makro yang terdapat dalam wacana yaitu kebijakan Ahok, 1,5 tahun kepemimpinan Ahok, reklamasi Pulau G, penggusuran warga bantaran kali dan waduk, pembangunan rusunawa, melangkah menuju pilkada 2017 lewat jalur independen, kepemimpinan Ahok, (2) Superstruktur, bagian pendahuluan dibuka dengan narasi yang memukau, kemudian pembahasan ditonjolkan lewat fakta-fakta yang tersaji, baik melalui video, maupun wawancara secara langsung kepada warga DKI Jakarta yang ikut menilai 1,5 tahun kepemimpinan Ahok, yang paling ditonjolkan yaitu bagian penutup yang berisikan kritik-kritik untuk gaya kepemimpinan Ahok di masa depan untuk Jakarta yang lebih baik, (3) Dari struktur mikro, analisis semantik, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Najwa kesemuanya berisi analisis segala hal yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan Ahok untuk tetap menjadi pemimpin DKI Jakarta. Dari segi sintaksis, kalimat tanyalah yang mendominasi pernyataan Najwa untuk menggali informasi. Stilistik yang digunakan yaitu gaya bahasa tegas, lugas, apa adanya, dan transparan sesuai dengan semboyan yang diusung Metro Tv. Dari segi retoris, penekanan-penekanan yang dilakukan Najwa yaitu dengan beberapa pilihan kata dan ungkapan yang semakin mendukung pertanyaan. 
Calon Arang: From Oral Tradition to Text in Pramoedya Ananta Toer’s Narrative for the Advancement of Literary Education Ayu Suciartini, Ni Nyoman; Payuyasa, I Nyoman
Proceeding Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference Vol. 5 (2025): Proceedings Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/bbwp.v5i1.640

Abstract

This study examines the narrative transformation of Calon Arang, a Balinese folklore rich in mysticism and local ethics, into a modern literary text reinterpreted by Pramoedya Ananta Toer. The research assumes that Pramoedya did not merely adapt a folktale but carried out an ideological reconstruction of the character Calon Arang as a symbol of female resistance against structural injustice, gender stigma, and patriarchal epistemological hegemony. In Pramoedya's version, the elderly woman, long portrayed as an evil witch, is reimagined as an intelligent, courageous figure who subverts masculine power structures—both royal and religious. The study employs an intertextual approach and critical discourse analysis by comparing the oral narratives of Calon Arang in Balinese tradition—recorded in lontar manuscripts and dramatized in Calonarang performances—with Pramoedya’s literary text. Using postcolonial feminist theory and Paulo Freire’s critical pedagogy, this research explores the potential of Calon Arang as a teaching material that cultivates both local cultural literacy and critical gender awareness in the classroom. Findings show that the transformation of Calon Arang from oral folklore to modern literary text signifies a paradigmatic shift: from a myth of ostracism to a narrative of resistance. Pramoedya’s Calon Arang emerges not as an emblem of evil but as a metaphor for the educated woman oppressed for resisting sexist norms and unequal socio-religious power. The work is thus relevant for inclusion in secondary and higher education literary curricula as a progressive model of critical literacy rooted in local culture. The study concludes that integrating local folklore into modern literature not only enriches the Indonesian literary canon but also opens dialogic spaces across generations, between myth and social critique, and between education and emancipation. Within the context of the Merdeka Curriculum, this study offers a strategic contribution to the development of contextual, transformative, and gender-sensitive literary education.