Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : Prologia

Strategi Komunikasi Kampanye Budaya Sensor Mandiri Lembaga Sensor Film Republik Indonesia di Media Sosial TikTok Prasetya, Andinar Putri; Loisa, Riris
Prologia Vol. 9 No. 1 (2025): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v9i1.33211

Abstract

The Indonesian Film Censorship Board (LSF) plays a crucial role in educating the public about the importance of selecting age-appropriate content through the National Movement for Independent Censorship Culture. This study analyzes LSF's communication strategies in promoting this culture on the social media platform TikTok. Utilizing public communication theory, the research employs a qualitative approach, including in-depth interviews with LSF’s Public Relations team and direct observation. The findings indicate that LSF has successfully implemented an effective communication strategy. The campaign content, which provides information and knowledge about Independent Censorship Culture, has been effective in raising public awareness. Overall, the study concludes that LSF’s campaign on TikTok has made a positive contribution to enhancing the public's understanding of the importance of selecting age-appropriate content in line with classification standards. Lembaga Sensor Film (LSF) RI berperan penting dalam mengedukasi masyarakat mengenai pemilihan tontonan yang sesuai usia melalui Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri. Penelitian ini menganalisis strategi komunikasi LSF RI dalam mengkampanyekan budaya tersebut di media sosial TikTok. Menggunakan teori komunikasi publik, penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan wawancara mendalam bersama Tim Publikasi LSF RI dan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LSF RI berhasil menerapkan strategi komunikasi yang efektif, dengan konten kampanye yang menyajikan informasi dan pengetahuan mengenai Budaya Sensor Mandiri. Konten ini dianggap berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memilih tontonan yang sesuai dengan klasifikasi usia. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa kampanye LSF RI di TikTok memberikan kontribusi positif dalam memperluas pemahaman publik tentang pentingnya sensor film dan pengawasan tontonan berdasarkan usia.
Program Afiliasi Shopee pada Instagram Majalah Sunday Sandra, Marlene; Loisa, Riris
Prologia Vol. 9 No. 2 (2025): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v9i2.33413

Abstract

This study analyzes the content marketing strategy through Shopee's affiliate program implemented by the Instagram account @majalahsunday. Initially part of conventional media, this account transitioned to digital media, utilizing Shopee's affiliate program to support its operational sustainability. The research is grounded in the phenomenon of traditional media transitioning to digital formats, a process accelerated by the COVID-19 pandemic. Employing a qualitative approach and case study method, data were collected through in-depth interviews, observations, and document analysis. The findings reveal that Shopee's affiliate program serves as an effective alternative revenue stream for Majalah Sunday, leveraging Instagram as the primary promotional platform. The content strategy focuses on educational and entertaining themes tailored to a teenage audience, employing an engaging native advertising approach without being overly promotional. Additionally, this program successfully enhances audience interaction and drives sales conversions. These findings highlight the importance of innovation in digital marketing strategies to address the challenges of media industry transformation in the digital era while providing practical solutions for revenue diversification amidst technological advancements. Penelitian ini menganalisis strategi pemasaran konten melalui program afiliasi Shopee yang diimplementasikan oleh akun Instagram @majalahsunday. Akun ini sebelumnya merupakan bagian dari media konvensional yang kemudian beralih ke media digital, memanfaatkan program afiliasi Shopee untuk mendukung keberlanjutan operasionalnya. Penelitian ini berangkat dari fenomena transformasi media tradisional menjadi digital, yang semakin dipercepat oleh dampak pandemi COVID-19. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, serta analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program afiliasi Shopee merupakan sumber pendapatan alternatif yang efektif untuk Majalah Sunday, dengan memanfaatkan Instagram sebagai media promosi utama. Strategi konten yang digunakan menitikberatkan pada tema edukasi dan hiburan yang sesuai dengan target audiens remaja, melalui pendekatan native advertising yang menarik dan tidak terkesan memaksakan. Selain itu, program afiliasi ini berhasil meningkatkan interaksi dengan audiens sekaligus mendorong konversi penjualan. Temuan penelitian ini menegaskan pentingnya inovasi dalam strategi pemasaran digital sebagai respons terhadap tantangan transformasi industri media di era digital, sekaligus memberikan solusi praktis untuk diversifikasi pendapatan di tengah perubahan teknologi.
Pengaruh Terpaan Konten Media Sosial Promotor terhadap Minat Beli Tiket Konser Gunawan, Thio Audrey Fransisca; Loisa, Riris
Prologia Vol. 10 No. 1 (2026): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v10i1.36247

Abstract

The surge of the Korean Wave (Hallyu) in Indonesia has established social media as an essential instrument for concert promotion. This research investigates how exposure to Instagram content from @D, the organizer of the TDS 4 event,affects the purchase intentions of potential attendees. Grounded in Social Media Exposure theory and the AIDA marketing framework, the study utilized a survey-based approach. A sample of 100 dedicated fans and followers of @D was gathered through purposive sampling. Data analysis using simple linear regression confirms a statistically significant and positive correlation between social media engagement and the intent to buy tickets. Specifically, Instagram content exposure accounts for 58.3% of the variance in purchase intention. The results highlight that content relevance is the primary driver of consumer interest. Consequently, promoters are advised to refine the frequency and pertinence of their digital marketing strategies to further capitalize on the growing K-pop market.   Pesatnya tren Gelombang Korea (Hallyu) di Indonesia telah menempatkan media sosial sebagai instrumen promosi yang krusial bagi penyelenggaraan konser musik. Penelitian ini berupaya membedah sejauh mana paparan konten Instagram dari akun @D, selaku promotor TDS 4, memberikan dampak terhadap minat beli tiket calon penonton. Studi ini mengintegrasikan teori Terpaan Media Sosial dengan kerangka pemasaran AIDA. Melalui metode survei, data dihimpun dari 100 responden yang merupakan penggemar setia sekaligus pengikut @D yang dipilih menggunakan teknik pengumpulan data purposive sampling. Hasil analisis regresi linear sederhana membuktikan bahwa adanya pengaruh positif serta signifikan antara intensitas konten Instagram dengan keinginan membeli tiket. Temuan data menunjukkan bahwa paparan konten tersebut berkontribusi sebesar 58,3% terhadap fluktuasi minat beli tiket TDS 4. Faktor relevansi konten teridentifikasi sebagai elemen yang paling dominan dalam menarik perhatian audiens terhadap konten. Oleh karena itu, promotor disarankan untuk terus mengoptimalkan keterkaitan dan frekuensi publikasi digital guna memperkuat strategi pemasaran di masa mendatang.
Pemaknaan Publik terhadap Narasi Iklan dalam Platform Digital Christian, Charles; Loisa, Riris
Prologia Vol. 10 No. 1 (2026): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v10i1.36467

Abstract

Over the past decade, the development of digital technology has significantly transformed marketing communication practices, particularly through digital advertising. One increasingly adopted approach is narrative, as it is considered effective in building emotional connections and creating more relevant experiences for audiences. This study aims to analyze how audiences interpret the narrative presented in a digital advertisement for a UHT milk product that offers a different approach compared to conventional milk advertisements, which typically emphasize nutritional value and positive family imagery. The research employs the narrative paradigm theory, focusing on the concepts of coherence and fidelity. A qualitative case study method was applied through in-depth interviews with four informants who had watched the advertisement. The findings reveal that audience interpretations vary, yet generally converge on a central meaning related to self-restoration and maintaining balance, both physically and emotionally. These results confirm that the meaning of digital advertising is constructed through the interaction between narrative structure and the audience’s lived experiences, rather than solely through the explicit message conveyed by the advertiser. Perkembangan teknologi digital dalam satu dekade terakhir, telah membawa perubahan signifikan dalam praktik komunikasi pemasaran, khususnya melalui iklan digital. Salah satu pendekatan yang semakin sering digunakan adalah narasi, karena narasi diyakini mampu menghadirkan pengalaman yang lebih relevan bagi audiens. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana khalayak memaknai narasi dalam iklan digital produk susu UHT yang menghadirkan pendekatan berbeda dibandingkan iklan susu konvensional yang umumnya menekankan aspek gizi dan citra keluarga. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori paradigma naratif dengan menitikberatkan pada konsep koherensi dan fidelitas. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap empat informan yang telah menyaksikan iklan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan khalayak bersifat beragam, namun secara umum mengarah pada makna pemulihan dan penjagaan keseimbangan diri, baik secara fisik maupun emosional. Temuan ini menegaskan bahwa makna iklan digital terbentuk melalui interaksi antara struktur narasi dan pengalaman hidup audiens, bukan semata-mata dari pesan eksplisit yang disampaikan pembuat iklan.