Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Kiwari

Pergeseran Pola Komunikasi Keluarga di Kalangan Remaja akibat Telepon Pintar Jonathan, Vincentius Allerio; Loisa, Riris
Kiwari Vol. 4 No. 1 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i1.33679

Abstract

The development of digital technology, particularly smartphones, has brought significant changes to family communication patterns, especially among adolescents. Smartphones have become the primary tools for communication and entertainment, but their use often replaces deeper face-to-face interactions. Based on the theory of technological determinism, smartphones not only influence how humans interact but also shape communication patterns and social relationships. Teenagers begin to learn how to deal with complex emotions, including uncertainty, confusion, and the need to discover their identity. In addition, adolescents are in a phase where self-control and emotional regulation are greatly tested. This study aims to understand the communication patterns of adolescent smartphone users within families in the digital era. The findings indicate that family interactions tend to become more functional, with communication more frequently occurring through digital devices. Excessive smartphone use also has the potential to reduce the quality of emotional communication within families, although it allows adolescents to remain virtually connected. Technology management strategies to maintain the quality of interpersonal relationships in the digital era. Perkembangan teknologi digital, khususnya telepon pintar, telah membawa perubahan besar dalam pola komunikasi keluarga, terutama di kalangan remaja. Telepon pintar menjadi alat utama untuk komunikasi dan hiburan, tetapi penggunaannya sering kali menggantikan interaksi tatap muka yang lebih mendalam. Berdasarkan teori determinisme teknologi, telepon pintar tidak hanya memengaruhi cara manusia berinteraksi, tetapi juga membentuk pola komunikasi dan hubungan sosial. Remaja mulai belajar bagaimana menghadapi emosi kompleks, termasuk ketidakpastian, kebingungan, serta kebutuhan untuk menemukan jati diri. Selain itu, remaja berada dalam fase di mana kontrol diri dan regulasi emosi sangat diuji. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pola komunikasi remaja pengguna telepon pintar dalam keluarga di era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi keluarga cenderung berubah menjadi lebih fungsional, dengan komunikasi yang lebih sering terjadi melalui perangkat digital. Penggunaan telepon pintar secara berlebihan juga berpotensi mengurangi kualitas komunikasi emosional dalam keluarga, meskipun memungkinkan remaja tetap terhubung secara virtual. Strategi pengelolaan penggunaan teknologi untuk menjaga kualitas hubungan interpersonal di tengah era digital.
Analisis Komponen Iklan Digital dan Komponen Iklan Televisi Produk Olahan Susu Segar (Studi Kasus pada Produk X) Bagaskara, Johanes Vito Chandra; Loisa, Riris
Kiwari Vol. 4 No. 1 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i1.33748

Abstract

This research explores the comparison between digital and television advertising components in promoting x fresh milk products using a qualitative approach with a case study method. Data was collected through in-depth interviews with x marketing and creative teams and ad analysis. Digital advertising utilizes engaging visuals, quality videos, the use of hashtags, and campaigns with influencers, while television advertising prioritizes key messages, visual elements, background music, and endorser support. The results show that television advertising is effective at raising broad brand awareness, while digital advertising excels at building personalization, increasing audience engagement, and providing real-time performance measurement. Platforms such as Instagram and TikTok are key in driving sales and brand awareness through creative content and collaboration with influencers. These findings provide important insights for optimizing marketing strategies in the digital age. Penelitian ini berfokus pada penggunaan komponen iklan digital dan iklan televisi dalam meningkatkan pemasaran produk olahan susu di Indonesia. Studi ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas kedua jenis iklan serta dampaknya terhadap perilaku konsumen dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tim pemasaran dan kreatif, serta analisis terhadap iklan yang digunakan. Iklan digital memanfaatkan visual yang menarik, video berkualitas tinggi, penggunaan hashtag, dan kampanye dengan influencer, sementara iklan televisi lebih menekankan pesan utama, elemen visual, musik latar, serta dukungan dari endorser. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan televisi lebih efektif dalam meningkatkan kesadaran merek secara luas, sedangkan iklan digital unggul dalam membangun personalisasi, meningkatkan keterlibatan audiens, serta menyediakan pengukuran kinerja secara real-time. Platform seperti Instagram dan TikTok berperan penting dalam mendorong penjualan serta kesadaran merek melalui konten kreatif dan kolaborasi dengan influencer. Temuan ini memberikan wawasan penting bagi optimalisasi strategi pemasaran di era digital.
Komunikasi Interpersonal Generasi Z dalam Mencapai Kesepahaman pada Aplikasi Kencan Ivanka, Zevanya Sherren; Loisa, Riris
Kiwari Vol. 4 No. 2 (2025): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v4i2.35005

Abstract

Online dating apps are apps that help bring together people with similar interests in a romantic relationship. The OKCupid dating app is one of the platforms or spaces that many people use, especially Generation Z. This study aims to deeply analyze how Generation Z achieves mutual understanding through interactions on the OKCupid dating app to examine the use of text and how users manage their expectations in the context of online dating. Qualitative research tends to collect data from participants who experience problems in using OKCupid into a phenomenon that is researched using a phenomenological approach to explore Generation Z's experience in achieving understanding on dating apps in more depth. The participants were male or female, 18 years of age or older, and had been in a relationship that started on a dating app. In addition to interviews, observation, documentation and internet research to explore the experiences, barriers and strategies used in achieving understanding through communication on the application. However, the use of non-verbal language and communication styles also present challenges in achieving relationship understanding. This research recommends that it is important for Generation Z to maintain communication, build trust and understand each other's expectations. Aplikasi kencan online merupakan aplikasi yang membantu mempertemukan orang dengan ketertarikan yang sama dalam suatu hubungan romansa. Aplikasi kencan OKCupid menjadi salah satu wadah atau ruang yang digunakan banyak kalangan terutama Generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam bagaimana Generasi Z mencapai pemahaman bersama melalui interaksi di aplikasi kencan OKCupid untuk meneliti penggunaan teks dan bagaimana pengguna mengatur ekspektasi mereka dalam konteks kencan online. Penelitian kualitatif cenderung mengumpulkan data peserta yang mengalami masalah dalam penggunaan OKCupid menjadi sebuah fenomena yang diteliti dengan metode pendekatan fenomenologi untuk menggali pengalaman Generasi Z dalam mencapai kesepahaman di aplikasi kencan secara lebih mendalam. Dengan kriteria laki-laki atau perempuan, dengan usia 18 tahun ke atas dan sudah pernah menjalin hubungan berawal dari aplikasi kencan. Selain wawancara, observasi, dokumentasi dan penelusuran internet untuk menggali pengalaman, hambatan dan strategi yang digunakan dalam mencapai kesepahaman melalui komunikasi di aplikasi tersebut. OKCupid telah menjadi ruang virtual bagi Generasi Z di Indonesia untuk mengeksplorasi hubungan interpersonal. Namun, penggunaan bahasa nonverbal dan gaya komunikasi juga menghadirkan tantangan dalam mencapai kesepahaman hubungan. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya Generasi Z untuk menjaga komunikasi, membangun kepercayan dan memahami ekspektasi satu sama lain. Dengan demikian, mereka dapat meningkatkan kualitas interaksi dan mencapai kesepahaman dalam suatu hubungan.
Opini Remaja terhadap Album Jazz Pop (Studi terhadap Komunitas Penggemar Album Manusia dari Tulus) Fahrul Wibowo, Okta; Loisa, Riris
Kiwari Vol. 3 No. 1 (2024): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v3i1.29380

Abstract

Tulus is one of the Indonesian singers who is currently successful in performing jazz-pop songs. This study was raised because communication through song lyrics has an influence on young people who listen to jazz-pop music. This research seeks to understand and examine the views of Indonesian youth towards the pop jazz genre, especially in Tulus' album, "Manusia". This research uses the theory of public opinion and mass communication to identify opinions among young Indonesians in obtaining personal satisfaction. Using qualitative methods, this research collects and analyses data from questionnaires of young Indonesians aged 18-24 years in the Jabodetabek area regarding their opinions on the jazz-pop album on the album "Manusia" by Tulus. The results show that the album succeeded in communicating the message it wanted to convey through the song lyrics to young people. Therefore, this research highlights the importance of communication through song lyrics. Penyanyi Tulus merupakan salah satu penyanyi Indonesia yang hingga saat ini sukses membawakan lagu-lagu jazz-pop. Kajian ini diangkat karena komunikasi melalui lirik lagu memiliki pengaruh terhadap anak muda yang mendengarkan musik jazz-pop. Penelitian ini berupaya untuk memahami dan mengkaji pandangan pemuda Indonesia terhadap genre pop jazz khususnya dalam album milik Tulus, "Manusia". Penelitian ini menggunakan teori opini publik dan komunikasi massa untuk mengidentifikasi opini di kalangan anak muda Indonesia dalam memperoleh kepuasan pribadi. Dengan metode kualitatif, penelitian ini mengumpulkan dan menganalisis data dari kuesioner terhadap anak muda Indonesia berusia 18-24 tahun di wilayah Jabodetabek mengenai pendapat album jazz pop pada album “Manusia” karya Tulus. Hasilnya menunjukkan album berhasil mengkomunikasikan pesan yang ingin disampaikan melalui lirik lagu kepada anak muda. Oleh karena itu, penelitian ini menyoroti pentingnya komunikasi melalui lirik lagu.
Personal Branding Influencer @Angelillc melalui TikTok Angelica, Silvia Alverina; Loisa, Riris
Kiwari Vol. 3 No. 1 (2024): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v3i1.29386

Abstract

This research was conducted using a descriptive qualitative approach. Researchers conducted in-depth interviews and observations of one of the beauty & fashion influencers in Indonesia, namely Angelillc as a research subject. Interviews were conducted via online and voice recording. The purpose of this study is that researchers can find out the process of forming personal branding that occurs at Angelillc through the social media TikTok so that the public knows the characteristics that exist in an Angelillc. The results of this study are to find out the process of forming Angelillc's personal branding which was accidentally formed by editing content and mix & match clothes from e-commerce whose prices are fairly cheap but of high quality. In addition, Angelillc always creates content that is relevant to the needs of the public and always communicates with its followers. So that Angelillc's personal branding is increasingly recognized. Angelillc can also provide cheap beauty product recommendations by directly providing direct reviews in the content via social media TikTok. TikTok adalah media sosial yang banyak digunakan influencer untuk melakukan personal branding. Tak hanyak itu, media ini pun digunakan untuk memasarkan produk serta dan juga sebagai medium komunikasi dengan pelanggan. Begitu juga dengan Angelillc satu beauty & fashion influencer di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Tujuan dari penelitian ini adalah peneliti dapat mengetahui proses pembentukan personal branding yang terjadi pada Angelillc melalui media sosial TikTok sehingga publik mengetahui ke ciri khas an yang ada pada seorang Angelillc. Hasil dari penelitian ini adalah mengetahui proses pembentukan personal branding Angelillc yang secara tidak sengaja terbentuk dengan melakukan editing konten dan mix & match baju dari e-commerce yang harganya terbilang sangat murah tetapi berkualitas. Selain itu Angelillc selalu membuat konten yang relevan dengan kebutuhan publik dan selalu berkomunikasi dengan pengikutnya. Sehingga personal branding Angelillc semakin dikenal. Angelillc juga dapat memberikan rekomendasi produk kecantikan yang murah dengan langsung memberikan review langsung di dalam konten melalui media sosial TikTok.
Media Sosial Instagram Sebagai Sarana dalam Menciptakan Brand Image Bagi Klub Indonesia Muda Hariawati, Tresiana; Loisa, Riris
Kiwari Vol. 3 No. 1 (2024): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v3i1.29411

Abstract

The development of sports in Indonesia is growing rapidly, one of which is basketball. Currently there are many basketball clubs, one of which is the Indonesia Muda club which has been around for a long time. Every club should want to be known by the public to increase their popularity. To increase the popularity of young Indonesian basketball clubs, a brand image is needed as a reflection of society towards the club. The way for young Indonesian clubs to increase brand image by using social media in the form of Instagram. The problem raised is how sports clubs do brand image on Instagram social media to attract followers. Aims to find out how the basketball club does brand image on social media to attract public attention, especially on social media Instagram to get followers. The theory used is in the form of communication, brand image, and Instagram social media. This research method is a qualitative case study with interviews, observation, and documentation. Data processing and analysis techniques used Coding (open coding, axial coding, and selective coding) for validity using triangulation. The results of the study can be concluded that the way young Indonesian clubs do brand image by posting training schedules for age groups, documentation during training, achievements per age group when participating in matches, responding to an incident, also interacting with followers through stories containing QnA (question and answer). What the Indonesia Muda club is doing can attract people to follow the IM club's Instagram. Coupled with the statement by the IM club Instagram holder who said that every month there is an increase in followers. Perkembangan olahraga di Indonesia semakin berkembang pesat salah satunya adalah cabang olahraga basket. Saat ini sudah banyak klub basket yang ada, salah satunya klub Indonesia Muda yang sudah berdiri sejak lama. Setiap klub seharusnya ingin dikenal oleh masyarakat agar meningkatkan popularitas. Untuk meningkatkan popularitas klub basket Indonesia muda dibutuhkan brand image (citra merek) sebagai gambaran masyarakat terhadap klub. Cara klub Indonesia muda untuk meningkatkan brand image dengan menggunakan media sosial berupa instagram. Masalah yang diangkat adalah bagaimana klub olahraga melakukan brand image di media sosial instagram untuk menarik followers. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui cara klub basket melakukan brand image di media social untuk menarik perhatian masyarakat khususnya di media social Instagram agar memperoleh followers. Teori yang dipakai berupa komunikasi, citra merek (brand image), dan media sosial Instagram. Metode penelitian ini adalah kualitatif studi kasus dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian dapat disimpulkan, klub Indonesia muda melakukan branding di media sosial dengan memposting jadwal latihan kelompok umur, dokumentasi saat latihan berlangsung, prestasi per kelompok umur saat mengikuti pertandingan, merespon suatu kejadian juga berinteraksi dengan followers melalui story yang berisi QnA (tanya jawab).
Komunikasi Antara Pelatih dengan Pemain dalam Membangun Prestasi Tim Olahraga Bryan, Arron; Loisa, Riris
Kiwari Vol. 3 No. 2 (2024): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v3i2.30178

Abstract

This research examines the role of interpersonal communication in sports team dynamics, with a focus on the relationship between coaches and players. In the context of sports teams, interpersonal communication plays a key role in forming healthy relationships, strengthening collaboration, and improving performance. This research includes observations of how interpersonal communication influences players' motivation, self-confidence, and involvement in training and matches. Through a qualitative approach, this research explores players' experiences in receiving and giving feedback, verbal and non-verbal communication, as well as how coaches build effective interpersonal relationships. Research findings show that positive, open, and supportive communication from coaches has a significant impact on player motivation and self-confidence. In addition, it was found that coaches who apply an adaptive communication style, are sensitive to individual needs, and are able to manage conflict constructively can create a cooperative and motivating team environment. The results of this research show that openness, empathy, supportive attitudes, positive attitudes, will create equality between coaches and players. Here it means building good interpersonal communication between the two parties. If this continues to be built, good and mutually beneficial relationships will be established. Penelitian ini membahas peran komunikasi interpersonal dalam dinamika tim olahraga, dengan fokus pada hubungan antara pelatih dan pemain. Dalam konteks tim olahraga, komunikasi interpersonal memainkan peran kunci dalam membentuk hubungan yang sehat, memperkuat kolaborasi, dan meningkatkan kinerja. Penelitian ini mencakup pengamatan terhadap bagaimana komunikasi interpersonal memengaruhi motivasi, kepercayaan diri, dan keterlibatan pemain dalam latihan dan pertandingan. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini menggali pengalaman pemain dalam menerima dan memberikan umpan balik, komunikasi verbal dan non-verbal, serta cara pelatih membangun hubungan interpersonal yang efektif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang positif, terbuka, dan mendukung dari pelatih memiliki dampak signifikan terhadap motivasi dan kepercayaan diri pemain. Selain itu, ditemukan bahwa pelatih yang menerapkan gaya komunikasi yang adaptif, sensitif terhadap kebutuhan individu, dan mampu mengelola konflik dengan konstruktif dapat menciptakan lingkungan tim yang kooperatif dan memotivasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, akan mewujud kesetaraan antara pelatih dan pemain. Di sini artinya terbangun komunikasi interpersonal yang baik antara kedua bekah pihak. Jika ini terus dibangun maka maka akan terjalin hubungan yang baik dan saling menguntungkan.
Studi Etnografi pada Budaya Organisasi Rumah Ibadat Pasca Covid-19 Cherubim, Daniel Jehuda; Loisa, Riris
Kiwari Vol. 3 No. 2 (2024): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v3i2.30258

Abstract

When the covid-19 pandemic hit, synagogues had a hard time surviving. The ban on activities outside the home made the synagogue deserted and was forced to find ways to adapt to survive, one of which was the church. to adapt to survive, one of which is the church. The church management was forced to find ways for the congregation to be able to worship even though it is done at home. This gave birth to a new culture in the church organization that formed and became a post-covid-19 habit. This research uses a qualitative approach with ethnographic methods. Data collection techniques with using interview techniques. Culture in post-covid-19 church organizations is characterized by new habits that never existed before covid-19. that never existed before covid-19. Worship routines have changed due to online worship. The board's desire to communicate has changed slightly because communication during covid-19 is carried out online which is likely to cause minor conflicts. online which is likely to cause little conflict. In the leadership of church organizations In the leadership of church organizations, a culture of active leaders is formed to be able to maximize message delivery. As a result of the Covid-19 pandemic also requires church administrators to have new abilities in order to conduct church activities online. Cultural differences in the church that arise in The new management is a culture of communication that is more open to all administrators and congregations, culture that applies the habit of speaking according to valid data, as well as a mentoring culture that forms skills in church management. shaping skills in church management. Pandemi covid-19 melanda, rumah ibadat mengalami kesulitan untuk bertahan. Larangan untuk melakukan kegiatan di luar rumah membuat rumah ibadat sepi dan terpaksa harus bisa mencari cara agar beradaptasi untuk bertahan, salah satunya gereja. Pengurus gereja terpaksa harus mencari cara untuk jemaat tetap bisa beribadah walaupun dilakukan di rumah. Hal tersebut melahirkan budaya baru dalam organisasi gereja yang terbentuk dan menjadi kebiasaan pasca covid-19. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik wawancara. Budaya dalam organisasi gereja pasca covid-19 bercirikan kebiasaan baru yang tidak pernah ada sebelum covid-19. Rutinitas ibadah berubah karena adanya ibadah daring. Hasrat pengurus dalam berkomunikasi sedikit berubah karena komunikasi selama covid-19 dilakukan secara daring yang kemungkinan dapat menimbulkan konflik kecil. Dalam kepemimpinan organisasi gereja, budaya pemimpin aktif terbentuk untuk bisa memaksimalkan penyampaian pesan. Akibat pandemi Covid-19 juga menuntut pengurus gereja untuk memiliki kemampuan baru agar bisa melakukan kegiatan gereja secara daring. Perbedaan budaya dalam gereja yang timbul dalam kepengurusan baru yaitu budaya komunikasi yang lebih terbuka kepada seluruh pengurus dan jemaat,budaya yang menerapkan kebiasaan berbicara sesuai data yang valid, serta budaya mentoring yang membentuk keterampilan dalam kepengurusan gereja.