Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Koneksi

Gaya Komunikasi Pimpinan dalam Memotivasi Karyawan di Perusahaan Consumer Goods Ni, Chien; Oktavianti, Roswita
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.21365

Abstract

A company or organization needs a leader who is responsible for work motivation and employee performance. The right communication style will motivate someone to be able to excel, whether the employee is successful or not at work. PT XYZ is a consumer goods company that pays great attention to maintaining the motivation of its employees. This study uses several theories, namely communication theory, organizational communication, leadership communication style and motivation. This research uses a descriptive method. To complete this research, conducted in-depth interviews with three informants, namely the CEO of the learning & development division, the head of managerial leadership development and the head of functional development. And also the researcher conducted cross-interviews with triangulation of sources who were subordinates to the informants. This research concludes that the communication style applied in the Learning & Development Division of PT XYZ is a decentralized and democratic style. This communication style leads to The Equalitarian Style. Leaders in this division provide opportunities for every employee to express ideas and opinions in a relaxed manner. Suatu perusahaan atau organisasi membutuhkan seorang pemimpin yang bertanggung jawab dalam memberikan motivasi kerja dan menilai kinerja karyawan. Gaya komunikasi yang tepat akan memotivasi seseorang untuk dapat berprestasi, dan menentukan keberhasilan karyawan dalam bekerja. PT XYZ merupakan salah satu perusahaan consumer goods yang memiliki atensi tinggi dalam menjaga motivasi kayawannya. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi, komunikasi organisasi, gaya komunikasi pimpinan dan motivasi. Penelitian ini merupakan metode penelitian deskriptif. Peneliti melakukan wawancara mandalam kepada tiga narasumber yaitu CEO divisi learning & development, head of managerial leadership development, dan head of functional development. Peneliti melakukan wawancara silang dengan triangulasi sumber yang merupakan bawahan dari narasumber tersebut. Penelitian ini disimpulkan bahwa gaya komunikasi yang diterapkan di Divisi Learning & development PT XYZ adalah gaya desentralisasi dan demokrasi. Gaya komunikasi ini mengarah pada The Equalitarian Style. Pimpinan dalam divisi ini memberikan kesempatan kepada setiap karyawan dapat mengungkapkan ide dan pendapat secara rileks.
Komunikasi Antarbudaya dalam Proses Adaptasi Turis Asing di Pulau Bali, Indonesia Aprillia, Widya; Oktavianti, Roswita
Koneksi Vol. 8 No. 1 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i1.21644

Abstract

Culture shock is a common problem in intercultural communication or cultural differences. This also happens to tourists in Bali, Indonesia, one of the favourite destination islands for local and foreign tourists. Foreign tourists visiting Bali Island will initially experience discomfort with the environment due to different cultural backgrounds, especially Bali, which has powerful customs. Foreign tourists must make cultural adaptations to understand and accept new cultural values. This research wants to know the self-adjustment process of foreign tourists in dealing with culture shock on the island of Bali and the obstacles experienced during the adjustment process. This research uses a descriptive approach with primary and secondary data sources in the form of interviews, observation and documentation. Interviews were conducted with foreign tourists living on the island of Bali. Observations were made by going to the field and directly observing tourist interactions with residents. This research shows that each tourist experiences five stages of cultural adaptation: planning, frustration, honeymoon, readjustment, and resolution. Foreign travellers have a different adjustment process at each stage, depending on the country of origin. Culture shock usually occurs during the frustration phase, where travellers have to adapt to the language, food tastes, weather conditions, cost of living, and homesickness. Gegar budaya atau culture shock merupakan masalah umum dalam komunikasi antarbudaya atau perbedaan budaya. Hal ini juga terjadi pada wisatawan di Pulau Bali, Indonesia, sebagai salah satu pulau destinasi favorit turis lokal maupun mancanegara. Wisatawan luar negeri yang mengunjungi Pulau Bali, awalnya akan mengalami ketidaknyamanan terhadap lingkungan karena latar belakang budaya yang berbeda, terlebih Bali memiliki adat istiadat yang sangat kuat. Wisatawan mancanegara perlu melakukan adaptasi budaya untuk memahami dan menerima nilai-nilai budaya baru. Penelitian ini ingin mengetahui proses penyesuaian diri wisatawan mancanegara dalam menghadapi gegar budaya di pulau Bali dan kendala yang dialami selama proses penyesuaian tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan sumber data primer dan sekunder berupa wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan wisatawan mancanegara yang tinggal di Pulau Bali. Sementara observasi dilakukan dengan cara turun ke lapangan dan melakukan pengamatan langsung terhadap interaksi turis dengan penduduk setempat. Penelitian ini menunjukkan bahwa masing-masing wisatawan mengalami lima tahap adaptasi budaya yaitu fase perencanaan, frustrasi, bulan madu, penyesuaian, dan resolusi. Wisatawan mancanegara memiliki proses penyesuaian yang berbeda pada setiap tahapnya, tergantung pada negara asal. Gegar budaya atau culture shock biasanya muncul pada fase frustrasi, dimana wisatawan harus beradaptasi dengan bahasa, rasa makanan, kondisi cuaca, biaya hidup dan kerinduan dengan keluarga di rumah.
Analisis Budaya Organisasi dalam Menumbuhkan Motivasi Kerja di Masa Pandemi Covid-19 Putrawijaya, Nendi; Oktavianti, Roswita
Koneksi Vol. 6 No. 2 (2022): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v6i2.15579

Abstract

Work motivation is an important factor that must be owned by every employee and can grow through the introduction of the organizational culture of a particular company. This study aims to find out what things have been done by the Banking Information and Technology Division X in introducing organizational culture during the COVID-19 Pandemic so that it can grow employee work motivation. The theory used in this research is communication, organizational culture, organizational communication, and work motivation. The formulation of the problem in this study is how the organizational culture of the IT Banking X Division in growing employee work motivation during the COVID-19 Pandemic. In this study, the researcher used a qualitative research approach with a case study method. The case study was carried out at the IT Banking Division X, the data processing was sourced from data obtained from literature studies, interviewing sources and triangulation of data sources in the form of observations or documentation inserted into the research discussion. The results of this study show that several things were done in introducing the organizational culture of the IT Division in banking X to foster employee work motivation during the COVID-19 pandemic, such as holding internal events, having regular daily and weekly meetings conducted online, as  well as socializing adjustments. against the organizational structure of the X Banking IT Division during the COVID-19 Pandemic. Motivasi kerja menjadi faktor penting yang harus dimiliki oleh setiap karyawan dan dapat tumbuh lewat pengenalan budaya organisasi yang dimiliki oleh suatu perusahaan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang dilakukan Divisi Informasi dan Teknologi perbankan X dalam memperkenalkan budaya organisasi di masa pandemi Covid-19 sehingga dapat menumbuhkan motivasi kerja karyawan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah komunikasi, budaya organisasi, komunikasi organisasi, dan motivasi kerja. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana budaya organisasi Divisi IT perbankan X dalam menumbuhkan motivasi kerja karyawan di masa pandemi Covid-19. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Studi kasus dilakukan pada Divisi IT perbankan X, pengolahan data bersumber dari data-data yang diperoleh dari studi pustaka, wawancara narasumber serta triangulasi sumber data berupa hasil observasi atau dokumentasi yang disisipkan ke dalam pembahasan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukan beberapa hal yang dilakukan dalam memperkenalkan budaya organisasi Divisi IT di perbankan X untuk menumbuhkan motivasi kerja karyawan di masa pandemi Covid-19 seperti adanya penyelenggaraan acara-acara internal, pertemuan harian dan mingguan rutin yang dilakukan secara daring, serta sosialisasi penyesuaian terhadap stuktur organisasi yang dimiliki Divisi IT perbankan X selama pandemi Covid-19.  
Persepsi Anak Muda Kristen terhadap Ibadah Minggu Melalui Media Sosial YouTube Live Streaming di Masa Pandemi Covid-19 Herman, Wynne Margaretha; Oktavianti, Roswita
Koneksi Vol. 6 No. 2 (2022): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v6i2.15693

Abstract

Online service has been implemented since the issuance of a goverment to reduce various activities from outside the home. Online service forms a different perception for each congregation, especially Christian’s youth. Perception can be interpreted as a process of giving meaning or cognitive processes from a person that used to interpret and understand the world around him. This study raises the issue of the perception of young Christians congregations towards online worship carried out through YouTube live streaming social media during the Covid-19 pandemic. This research uses a qualitative approach with a case study method. This research case study was conducted at the Indonesian Bethel Church (GBI), Tanjung Duren, West Jakarta. The subject of this research is the young congregation of GBI Tanjung Duren, West Jakarta, and the object of the research is the perception of young people about online service through YouTube live streaming during the Covid-19 pandemic. This research used interview technique to collect data. The results show that the perception of young Christians congregations during the pandemic has been going well, online service also have advantages in terms of flexibility, this service has been running as expected by the young Christians. However, the young Christians, hopes that online service can be improvised, especially in terms of interaction. Ibadah secara daring mulai diberlakukan semenjak dikeluarkannya kebijakan untuk mengurangi berbagai aktivitas dari luar rumah. Ibadah daring kemudian membentuk persepsi yang berbeda bagi setiap jemaat, khususnya anak muda Kristen. Persepsi dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian arti atau proses kognitif dari seseorang yang dipergunakan untuk menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya. Penelitian ini mengangkat persoalan mengenai persepsi jemaat muda Kristen terhadap ibadah daring yang dilakukan melalui media sosial YouTube live streaming selama pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Studi kasus penelitian ini dilaksanakan di Gereja Bethel Indonesia (GBI), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Adapun subyek dari penelitian ini adalah jemaat muda GBI Tanjung Duren, Jakarta Barat, dan objek dari penelitian ini adalah persepsi anak muda mengenai ibadah daring melalui YouTube live streaming selama pandemi Covid-19. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi jemaat muda Kristen selama menjalani ibadah daring saat pandemi Covid-19 adalah bahwa ibadah daring sudah berjalan dengan baik, terlebih ibadah daring memiliki kelebihan dari segi fleksibilitas sehingga dapat dikatakan sudah sesuai dengan yang diharapkan oleh jemaat. Kendati demikian, jemaat khususnya anak muda berharap agar ibadah yang dilakukan secara daring mengalami improvisasi terutama dari segi interaksi.
Personal Branding Influencer pada Media Sosial Tiktok (Studi Kasus pada Akun @veliaveve) Octavianus, Abraham; Oktavianti, Roswita
Koneksi Vol. 6 No. 2 (2022): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v6i2.15779

Abstract

Tiktok is a social media platform where people can enjoy watching videos or content. People who work on making videos or this content are referred to as content creators or influencers. An influencer is not only always required to provide creative ideas in each content but also needs to build a good self-image in the eyes of the public, commonly called personal branding. It is the basis of this research, namely how an influencer creates personal branding. According to Peter Montoya, eight concepts make up personal branding: specialization, leadership, personality, difference, visibility, unity, constancy, and good name. Seeing the correlation between personal branding and influencers, the researcher chose Velia as the research subject. Velia herself manages the @veliaveve account, which is her account and now has 1.4 million followers on the Tiktok channel. The formulation of the problem in this study is how personal branding influencers on Tiktok social media are. Researchers tried to examine Velia's account using a qualitative case study method approach. The results of this study also state that it is essential to understand personal branding in terms of being an influencer. The exciting thing about these eight concepts is the concept of a good name. Influencers maintain a good name by building relationships with their followers by replying to comments or going live so they can communicate directly. Tiktok merupakan platform media sosial dimana pengguna menikmati tontonan berupa video. Orang yang bekerja membuat video atau konten ini disebut sebagai content creator atau influencer. Influencer dituntut memberikan ide-ide kreatif dalam tiap kontennya. Seorang influncer juga perlu membangun citra diri yang baik di mata masyarakat atau disebut personal branding. Hal ini yang menjadi dasar penelitian ini yaitu bagaimana cara seorang influencer menciptakan personal branding di media social Tiktok. Menurut Peter Montoya terdapat delapan konsep pembentuk personal branding yaitu, spesialisasi, kepemimpinan, kepribadian, perbedaan, terlihat, kesatuan, keteguhan, dan nama baik. Peneliti memilih Velia sebagai subjek penelitian. Velia sendiri mengelola akun @veliaveve di mana akun tersebut adalah akun pribadi miliknya yang sekarang memiliki 1,4 juta pengikut di kanal Tiktok. Peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa menjadi influencer perlu mengerti konsep personal branding. Hal yang menarik dari delapan konsep ini terdapat pada konsep nama baik. Cara influencer dalam menjaga nama baik yakni dengan membangun relasi dengan para pengikutnya seperti membalas komentar, dan melakukan live untuk berkomunikasi secara langsung dengan pengikut.