Claim Missing Document
Check
Articles

KARAKTERISTIK BIOFISIK LOKASI BERSARANG PENYU DI PANTAI LOANG, KABUPTEN LEMBATA Beto, Anastasia; Kangkan, Alexander L.; ., Yahyah
Jurnal Bahari Papadak Vol 3 No 2 (2022): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Penyu merupakan salah satu fauna yang dilindungi karena populasinya yang terancam punah. Reptil laut ini mampu bermigrasi dalam jarak yang jauh di sepanjang kawasan Samudera Hindia, Samudera Pasifik, dan Asia Tenggara. Pantai Loang merupakan salah satu pantai yang dipilih penyu secara naluriah untuk melakukan aktivitas peneluran dengan panjang pantai ± 2,5 km. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik biofisik Pantai Loang sebagai tempat peneluran penyu secara alami. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung di lapangan. Lebar intertidal berkisar antara 25-38,20 meter dengan rata-rata 32,87 meter dan lebar supratidal berkisar antara 3,70-14,70 meter, dengan rata-rata 7,37 meter. Rata-rata kemiringan pantai adalah 3,16° dengan dominasi tekstur substrat adalah pasir kasar. Posisi sarang berada pada zona supratidal dan zona vegetasi. Hasil pengamatan menunjukan sepanjang pantai ditumbuhi vegetasi yang membentuk formasi pescaprae dan formasi barringtonia. Vegetasi yang menyususn formasi pescaprae antara lain Spinifex littoreus, Ischaemum muticum, Ipoema pes-caprae. Vegetasi yang menyusun formasi barringtonia antara lain Pandanus tectorius, Gliricidia sepium. Hewan predator penyu yang ditemukan di lokasi peneluran yakni anjing (Canis lupus familiaris), burung gagak (Corvus enca), burung elang (Nisaetus floris), kepiting pantai (Ocypoda sp), biawak (Varanus salvator), semut (Formicdae). Aktivitas manusia yang terjadi di Pantai Loang antara lain, pengambilan pasir pantai berakibat pada perubahan topografi pantai yang dapat menyebabkan perubahan karakteristik pantai peneluran seperti perubahan kemiringan dan hilangnya vegetasi, aktivitas wisata pantai menyebabkan peningkatan jumlah sampah pantai. Timbunan sampah pada pasir pantai dapat menjadi penghalang bagi penyu betina yang menuju ke daerah / titik lokasi peneluran. Kata kunci: Penyu, Karakteristik Biofisik, Pantai Loang Abstract - Turtles are one of the protected fauna due to their endangered population. These marine reptiles are able to migrate over long distances along to the oceanic region the Indian Ocean, the Pasific Ocean, and Southeast Asia. Loang Beach is one of the beaches that turtles instinctively choose to carry out nesting activities, with the length of the beach is ± 2,5 km. This study aims to determine the biophysical characteristics of Loang Beach as a natural nesting places for turtles. The method used in this study is descriptive survey method. Data collection is done by direct observatio in field. The width of the intertidal zone ranges from 25-38,20 meters with an average of the intertidal zone is 32,87 meters, and supratidal width ranges from 3,70-14,70 meters with an average of the supratidal zone is 7,37 meters. The average of beach slope is 3,16°, with the dominance of substrate texture is coarse sand. The position of the nest is in the supratidal and vegetation zones. Observations show along the beach, overgrown with vegetation that forms the pescaprae formations and the barringtonia formations. Formations of pescaprae consists of Spinifex littoreus, Ischaemum muticum, Ipoema pes-caprae. Formations of barringtonia consists of Pandanus tectorius, Gliricidia sepium. Turtle predators found at the turtle nesting site are dogs (Canis lupus familiaris), crows (Corvus enca), eagles (Nisaetus floris), beach crabs (Ocypoda sp), lizard ((Varanus salvator), ant (Formicdae). Human activities in Loang Beach consists of the taking of beach sand resulted in changes in the topography of the beach that can cause changes in the characteristics of the beach such as changes in beach slope and loss of vegetation. Coastal tourism activities cause increase in the amount of beach litter. Landfills on beach sand can be barriers for female turtles heading to the area or point of location where turtles lay their eggs. Keywords: Turtle, Biophysical Characteristics, Loang Beach
ANALISIS PENDAPATAN ALAT TANGKAP MINI PURSE SEINE 9 GT DAN 12 GT DI PERAIRAN TELUK KUPANG Saunoah, Wilhelmus Y. L.; Paulus, Chaterina A.; Kangkan, Alexander L.
Jurnal Bahari Papadak Vol 3 No 2 (2022): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Pukat cincin mini merupakan alat tangkap yang efektif untuk menangkap ikan di sekitar permukaan air, namun masalah yang dihadapi nelayan dan pemilik kapal saat ini yaitu menurunnya kualitas ikan hasil tangkapan yang diakibatkan oleh lamanya waktu penangkapan ikan di laut. Meningkatnya lama trip penangkapan dapat mengakibatkan penambahan biaya dalam usaha penangkapan sehingga pendapatan menurun. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan biaya dalam usaha penangkapan mini purse seine untuk kapal ikan berukuran 9 GT dan 12 GT, serta membandingkan pendapatan kapal mini purse seine 9 GT dan 12 GT di perairanTeluk kupang. Metode pengumpulan data menggunakan kuisioner dan wawancara dengan jumlah sampel 16 nelayan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini dilkukan pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2019 di Perairan Teluk Kupang. Metode analisis data menggunakan Uji T dengan menganalisis rata-rata pendapatan kapal mini purse seine ukuran 9 GT dan 12 GT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan kapal ukuran 9 GT dan 12 GT berbeda yaitu 0,001 (P < 0,05) dengan nilai rata-rata pendapatan kapal ukuran 9 GT pertahun sebesar Rp.626.400.000 sedangkan kapaluk uran 12 GT sebesar Rp. 955.000.000. Kata Kunci: Pukat cincin, usaha penangkapan, perairan teluk. Abstract – A mini purse seine is an effective fishing tool for catching fish around the water surface, but the problem faced by fishermen and boat owners today is the decline in the quality of the fish they catch due to the length of time they catch fish at sea. Increasing the length of fishing trips can result in additional costs in the fishing effort so that income decreases.The purpose of this study was to analyze the difference in costs in the mini purse seine fishing business for fishing vessels measuring 9 GT and 12 GT and to compare the income of 9 GT and 12 GT mini purse seine vessels in the waters of Kupang bay. Methods of data collection using questionnaires and interviews with a sample of 16 fishermen using a purposive sampling technique. This research was conducted from July to August 2019 in the waters of Kupang bay.The data analysis method used the T-test by analyzing the average income of mini purse seine vessels of 9 GT and 12 GT sizes. The results showed that the average income of 9 GT and 12 GT vessels were different, namely 0.001 (P < 0.05) with an average annual income of 9 GT vessels of 626.400.000 IDR while 12 GT vessels were 955,000,000 IDR. Keywords: purse seine, fishing effort, bay waters.
PENDAPATAN NELAYAN HAND LINE DI DESA JENILU KECAMATAN KAKULUK MESAK KABUPATEN BELU Lau, Sabina Sofiana; Paulus, Chaterina A.; Kangkan, Alexander L.
Jurnal Bahari Papadak Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Pendapatan nelayan merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjang perekonomian rumah tangga nelayan. Tingkat pendapatan menjadi salah satu indikasi sosial ekonomi seseorang dalam masyarakat disamping pekerjaan, kekayaan dan pendidikan. Penelitian ini adalah bertujuan untuk mengetahui pendapatan nelayan Hand Line di Desa Jenilu Kecamatan Kakuluk Mesak Kabupaten Belu. Jenis penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan metode survey. Responden yang dijadikan sampel adalah nelayan pemilik unit usaha Hand Line yang berjumlah 26 orang. Hasil penelitian menunjukkan total penerimaan yang diperoleh dari 26 responden selama satu bulan sebesar Rp.217.035.000 sedangkan total biaya yang dikeluarkan selama satu bulan dari 26 responden sebesar Rp.103.390.000 dan total pendapatan yang diperoleh dari 26 responden sebesar Rp.113.645.000. Jika dirata-ratakan pendapatan 26 responden dalam satu bulan sebesar Rp.4.371.307. Kata Kunci: Pendapatan, Pancing Ulur, Nelayan, Desa Jenilu. Abstract – Fishermen’s income is a very important factor in supporting the fishermen’s household economy. Income level is an indication of a person's socio-economic status in society in addition to employment, wealth and education. This study aims to determine the income of Hand Line fishermen in Jenilu Village, Kakuluk Mesak Subdistrict, Belu Regency. The type of research used is to use the survey method. Respondents who were sampled were fishermen who owned the Hand Line business unit, totaling 26 people. The results showed that the total revenue received from 26 respondents for one month was Rp.217,035,000 while the total costs incurred for one month from 26 respondents amounted to Rp.103,390,000 and the total income earned from 26 respondents amounted to Rp.113,645,000. If the average income of 26 respondents in one month is Rp.4,371,307. Keywords : Income, Long Fishing Line, Fishermen, Jenilu Village.
ANALISIS PERUBAHAN LUASAN HUTAN MAGROVE MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 DI KABUPATEN BELU Ratuamkin, Selestina Ina D.; Kangkan, Alexander L.; Paulus, Chaterina A.
Jurnal Bahari Papadak Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Mangrove adalah tipe hutan yang khas hidup disepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut dengan rentang salinitas yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan luasan hutan mangrove yang ada di Kabupaten Belu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penginderaan jauh teknik interprestasi citra satelit digital yakni citra landsat 8 dengan menggunakan analisis NDVI. Hasil penelitian perubahan luasan hutan mangrove di Kabupaten Belu pada tahun 2016-2017 bertambah sebesar 8,19 Ha, pada tahun 2017-2018 berkurang sebesar 67,5 Ha, pada tahun 2018-2019 bertambah sebesar 23,4 Ha dan pada tahun 2019-2020 bertambah sebesar 44,28 Ha. Kondisi berkurangnya luas hutan mangrove 67,5 Ha, ini terjadi karena meningkatnya tekanan sosial ekonomi masyrakat yang mengkonversikan lahanya untuk dijadikan tambak, pemukiman dan penebangan pohon secara liar yang kayunya dijadikan bahan bagunan serta kayu api. Kata Kunci : Hutan mangrove, Kabupaten Belu, Landsat 8 Abstract - Mangroves are a type of forest that is typical of living along the coast or river estuaries that are affected by tides with a high salinity range. The purpose of this study was to determine the changes in the area of mangrove forests in Belu Regency. The method used in this study is a remote sensing method of digital satellite image interperformance technique, namely landsat 8 imagery using NDVI analysis. The results of the study on changes in the area of mangrove forests in Belu Regency in 2016-2017 increased by 8.19 Ha, in 2017-2018 it decreased by 67.5 Ha, in 2018-2019 it increased by 23.4 Ha and in 2019-2020 it increased by 44.28 Ha. The condition of reducing the area of mangrove forests by 67.5 ha, this occurs due to the increasing socioeconomic pressure of the community which converts their land to be used as ponds, settlements and illegal felling of trees whose wood is used as building material and firewood. Keywords : Mangrove forest, Belu Regency, Landsat 8
SEBARAN PANJANG KERANG KEPAH DI DESA TANAH MERAH KECAMATAN KUPANG TENGAH KABUPATEN KUPANG Mau, Antonius; Kangkan, Alexander L.; Al Ayubi, Aludin
Jurnal Bahari Papadak Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak- Kerang kepah (Polymesoda erosa) merupakan salah satu biota yang hidup di daerah pasang surut. Habitatnya sela-sela akar mangrove pada substrat lumpur, lumpur berpasir dan serasah mangrove (Wanimbo, 2016). Sebagai salah satu biota yang hidup di daerah pasang surut, kerang Kepah mempunyai karakteristik pertumbuhan dan pola pertumbuhan alami yang disesuaikan dengan pola adaptasi pada lingkungannya. Teknik pengumpulana data dalam penelitian ini adalah teknik observasi, yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan kegiatan pengamatan dan pencatatan langsung terhadap objek yang diamati, pengambilan sampel dilakukan secara acak sehingga dapat mewakili ukuran-ukuran kepah yang tertangkap. Sebaran morfometrik kerang kepah (Polymesoda erosa) yang tertangkap oleh nelayan Desa Tanah Merah, sebaran panjang cangkang tertinggi adalah 2,36-3,55 mm dengan jumlah kerang kepah sebanyak 110 individu dan presentase sebesar 37%, sebaran tinggi cangkang tertinggi adalah ukuran 1,05-1,84 cm dengan jumlah kerang kepah sebanyak 140 individu dan presentase sebesar 47%, sebaran lebar cangkang kerang kepah tertinggi ukuran 2,1 – 3,29 mm dengan jumlah kerang kepah sebanyak 121 individu dan presentase sebesar 40% dan berat kerang kepah (Polymesoda erosa) yang paling banyak tertangkap oleh nelayan di Desa Tanah Merah adalah ukuran 1,93 – 21,78 gr dengan jumlah sebanyak 189 individu dan presentase sebesar 63%. Ukuran kerang kepah yang ditangkap oleh nelayan di Desa Tanah Merah adalah berukuran kecil dan belum layak tangkap.Berdasarkan hasil dan pembahasan disimpulkan bahwa sebaran morfometrik kerang kepah (Polymesoda erosa) yang tertangkap oleh nelayan di Desa Tanah Merah yaitu ukuran panjang 2,36 – 8,35 mm, tinggi 1,05 – 4,24 mm, lebar 2,1 – 6,89 mm dan berat 1,93 – 101,31 gram. Kata Kunci : Morfometrik, Kerang Kepah, dan Nelayan di Desa Tanah Merah Abstract- Kepah Scallop (Polymesoda erosa) is one of the biotas that live in tidal areas. Its habitat is between mangrove roots on a substrate of mud, sandy mud, and mangrove litter (Wanimbo, 2016). As one of the biotas that live in tidal areas, Kepah clams have growth characteristics and natural growth patterns that are adapted to adaptation patterns to their environment. The method used in this study was the observation method, namely data collection was carried out by direct observation and recording of the observed object, and sampling was carried out randomly so that it could represent the sizes of the caught cockles. The morphometric distribution of shellfish (polymesoda erosa) caught by fishermen from Tanah Merah Village, the highest shell length distribution was 2.36-3.55 mm with a total of 110 individuals and a percentage of 37%, the highest shell height distribution was size 1, 05-1.84 cm with a total of 140 individuals and a percentage of 47%, the highest distribution of the width of the shells was 2.1 – 3.29 mm with a total of 121 individuals and a percentage of 40% and the weight of the shells (polymesoda erosa) which was mostly caught by fishermen in Tanah Merah Village was the size of 1.93 – 21.78 grams with a total of 189 individuals and a percentage of 63%. The results obtained show that the size of the mussels caught by fishermen in Tanah Merah Village is small and not yet suitable for catching. .36 – 8.35 mm, height 1.05 – 4.24 mm, width 2.1 – 6.89 mm and weighs 1.93 – 101.31 grams. Keywords : Morphometrics, Kepah Mussels, and Fishermen in Tanah Merah Village
STRATEGI PENGEMBANGAN WISATA MANGROVE MENGGUNAKAN ANALISIS SWOT DI TAMAN WISATA ALAM MENIPO KECAMATAN AMARASI TIMUR, KABUPATEN KUPANG Takumau, Welly Marse Yuliana; Paulus, Chaterina A.; Kangkan, Alexander L.
Jurnal Bahari Papadak Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Taman Wisata Alam Menipo, Desa Enoraen, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur menjadi tempat yang populer memiliki berbagai jenis flora dan fauna salah satunya adalah mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pengembangan wisata mangrove di taman wisata alam Menipo.Pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 23 orang. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan wawancara. Data dari hasil observasi dan wawancara dianalisis menggunakan analisis SWOT. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kemudian diketahui bahwa strategi dalam pengembangan wisata adalah meningkatkan promosi menjalin kerjasama dengan kelompok masyarakat untuk memperbaiki fasilitas wisata yang rusak. Kata Kunci : Strategi pengembangan, wisata mangrove, taman wisata alam Menipo, analisis SWOT. Abstract - Menipo Nature Park, Enoraen Village, East Amarasi Subdistrict, Kupang Regency, East Nusa Tenggara is a popular place that has various types of flora and fauna, one of which is mangrove. This study aims to determine the development strategy of mangrove tourism in Menipo nature tourism park. Sampling research using purposive sampling technique with a total of 23 respondents. Data collection used observation and interview techniques. Data from observations and interviews were analyzed using SWOT analysis. Based on the results of observations and interviews, it is known that the strategy in tourism development is increasing promotions and to establish cooperation with community groups to repair damaged tourist facilities. Keywords : Development strategy, mangrove tourism, Menipo nature park, SWOT analysis.
HASIL TANGKAPAN SAMPINGAN PADA ALAT TANGKAP LAMPARA DI DESA TABLOLONG KECAMATAN KUPANG BARAT Tolang, Diknas Yusuf; Kangkan, Alexander L.; Tallo, Ismawan
Jurnal Bahari Papadak Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Desa Tablolong Kampung Bahari Nusantara, dengan sebagian penduduk yang bekerja sahari-hari sebagai nelayan dan dengan kondisi perairan yang memiliki banyak potensi sumberdaya perairan, secara tidak langsung memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat. Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan Tablolong adalah lampara, atau biasa disebut dengan pukat cincin. Jenis ikan sasaran alat tangkap lampara adalah jenis-jenis ikan pelagis kecil, meski demikian kadang kala tertangkap spesies-spesies non-target yang tertangkap tanpa sengaja yang juga dikenal sebagai tangkapan sampingan (Bycatch) yang menyebabkan berkurangnya hasil tangkapan, dan tentu saja akan mengurangi jumlah penghasilan yang didapat setiap kali nelayan melaut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hasil tangkapan sampingan pada perairan di Desa Tablolong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei atau pengamatan langsung di lapangan (Nofrizal dkk., 2018). Metode survei dilakukan untuk mengetahui komposisi hasil tangkapan sampingan dan menghitung jumlah spesies yang ditangkap. Hasil penelitian menunjukan jenis hasil tangkapan sampingan pada alat tangkap lampara yang beroperasi di Perairan Tablolong, terdapat 6 spesies terdiri dari Cumi-cumi (Lolingidae), Ikan terbang (Exocoetidae), Lumba-lumba (Dhelphinidae), ikan layur (Clupeidae), ikan caroang (Belonidae) dan Ukuran panjang hasil tangkapan sampingan yang tertangkap pada alat tangkap lampara memiliki kisaran panjang antara 6-80 cm. Berat hasil tangkapan sampingan didominasi oleh Lumba-lumba (Dhelphinidae) yaitu sebesar 50 Kg dan hasil tangkapan sampinagn terendah adalah jenis ikan layur (Clupeidae) yaitu sebesar 0,00004 Kg. Kata Kunci : Tangkapan Sampingan, Alat tangkap Lampara Abstract - Tablolong Village, Kampung Bahari Nusantara, with some residents who work daily as fishermen and with water conditions that have a lot of potential for aquatic resources, indirectly provides economic opportunities for the community. The fishing gear used by Tablolong fishermen is lampara, commonly known as ring seine. The target fish species for lampara are small pelagic fish, however, non-target species are caught accidentally which is also known as bycatch which causes a reduction in the catch, and of course, reduces the number of fish caught. income earned every time a fisherman goes to sea. This study aims to determine the type of bycatch in the waters of Tablolong Village. The method used in this study is a survey method or direct observation in the field (Nofrizal et al., 2018). The survey method was conducted to determine the composition of the bycatch and to calculate the number of species caught. The results showed the types of bycatch on lampara fishing gear operating in Tablolong waters, there were 6 species consisting of squid (Lolingidae), flying fish (Exocoetidae), dolphins (Delphinidae), layur fish (Clupeidae), caroling fish (Belonidae) and the length of by-catch caught in lampara fishing gear has a long range of 6-80 cm. The weight of bycatch was dominated by dolphins (Delphinidae) which was 50 kg and the lowest bycatch was layur fish (Clupeidae) which was 0,00004 kg. Keywords: Bycatch, Lampara fishing gear
PENGENALAN DAN PENYADARAN SISWA/I PAUD GEREJA NASARET OESAPA TIMUR TENTANG KEBERSIHAN PESISIR Sine, Kiik G.; Kangkan, Alexander L.; Ayubi, Aludin Al
Jurnal Bahari Papadak Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Kegiatan ini bertujuan untuk memberi pengenalan dan penyadaran kepada siswa/i PAUD Gereja Nasaret Oesapa Timur tentang kebersihan pesisir. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini yaitu berupa metode dalam bentuk penyajian materi. Materi yang disajikan dalam kegiatan ini adalah dalan bentuk video ilustrasi yang bersumber dari youtube. Dalam proses penyajiannya peserta kegiatan (siswa/i) PAUD diarahkan untuk menyaksikan atau menonton video tersebut lalu setelah itu penyaji mengarahkan lagi kepada peserta untuk menceritakan kembali secara umum akan materi yang telah ditonton. Ketika selesai menyaksikan video, penyaji membuka ruang diskusi agar siswa/i PAUD dapat memberi pertanyaan kepada penyaji atas apa yang belum dipahami terkait materi yang ia saksiskan dari video tersebut. Seluruh pertanyaan yang diajukan kemudian dijawab oleh masing-masing pemateri pada kegiatan tersebut.. Hasil yang dicapai dalam kegiatan ini yaitu seluruh materi yang disajikan dapat diterima atau dipahami secara baik oleh peserta kegiatan dalam hal ini siswa/i PAUD yang dibuktikan melalui bentuk apresiasi yang sangat tinggi kepada Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas, Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana yang telah memberi kontribusi ilmu pengetahuan bagi mereka dan mereka juga sangat berharap agar kegiatan seperti ini harus terus berlanjut dan rutin untuk dilaksanakan. Kata Kunci : Pengenalan, Penyadaran, Kebersihan, Pesisir
KOMPOSISI JENIS IKAN HASIL TANGKAPAN RAWAI DASAR YANG DIOPERASIKAN NELAYAN DI DESA OENGGAE, KECAMATAN PANTAI BARU, KABUPATEN ROTE NDAO Lima, Yandres; Sine, Kiik G.; Kangkan, Alexander L.
Jurnal Bahari Papadak Vol 6 No 1 (2025): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak- Pancing Rawai Dasar merupakan salah satu alat tangkap ikan yang digunakan oleh nelayan di Desa Oenggae. Alat ini banyak digunakan karena memiliki keunggulan dari segi ekonomi, kemudahan dalam pengoperasian, serta biaya perawatan dan penanganan yang relatif murah dibandingkan dengan alat tangkap lainnya. Desa Oenggae sendiri terletak di Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao, dan merupakan salah satu dari 14 Desa serta 1 kelurahan yang ada di kecamatan tersebut. Mayoritas penduduk Desa ini bermata pencaharian sebagai nelayan, dan dalam kegiatan penangkapan ikan, merekan masih banyak mengandalkan alat tangkap tradisional, termasuk Rawai dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis ikan hasil tangkapan menggunakan Rawai Dasar. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap lima kapal nelayan yang menggunakan alat tangkap Rawai Dasar dalam periode Juli hingga Agustus 2024. Hasil penelitian menunjukan bahwa setiap kapal memiliki hasil tangkapan yang berbeda. Kapal 1 mencatat hasil tangkapan tertinggi pada ikan Tambak pasir dengan berat 34,9 kg (55,31%) dan terendah ikan Kerapu tertangkap 0,8 kg (1,27%). Kapal 2 didominasi oleh ikan Kerapu macan 18,9 kg (31,98%) dan terendah ikan Kerong-kerong 1,2 kg (2,03%). Kapal 3 Ikan Kwe tertinggi 18,4 kg (21,45%) dan terendah ikan tambak merah 1,2 kg (0,14%). Kapal 4 ikan Kakap tertinggi 37,3 kg (27,82%) dan terendah ikan Kerapu gunting 0,6 kg (0,43%). Kapal 5 ikan Kurisi tertinggi 30,82 kg (31,45% dan terendah ikan kerapu tutul 0,36 kg (0,37%). Kata kunci : Desa Oenggae, Pancing Rawai Dasar, Komposisi Jenis Ikan. Abstract- Abstract- Bottom longline is one of the fishing gears used by fishermen in Oenggae Village. This tool is widely used because it has advantages in terms of economy, ease of operation, and relatively low maintenance and handling costs compared to other fishing gear. Oenggae Village is located in Pantai Baru Sub-district, Rote Ndao Regency, and is one of 14 villages and 1 sub-district in the sub-district. The majority of the villagers are fishermen, and in their fishing activities, they still rely heavily on traditional fishing gear, including the basic Rawai. This study aims to determine the composition of fish species caught using Rawai Dasar. Data collection was conducted through observation, interview, and documentation of five fishing boats using Rawai Dasar fishing gear in the period July to August 2024. The results showed that each vessel had different catches. Vessel 1 recorded the highest catch of Sand Pond fish weighing 34.9 kg (55.31%) and the lowest Grouper fish caught 0.8 kg (1.27%). Vessel 2 was dominated by tiger grouper 18.9 kg (31.98%) and the lowest grouper 1.2 kg (2.03%). Vessel 3 had the highest Kwe fish at 18.4 kg (21.45%) and the lowest red pond fish at 1.2 kg (0.14%). Vessel 4 had the highest snapper of 37.3 kg (27.82%) and the lowest scissor grouper of 0.6 kg (0.43%). Vessel 5 had the highest Kurisi fish at 30.82 kg (31.45%) and the lowest spotted grouper at 0.36 kg (0.37%). Keywords: Oenggae Village, Longline Fishing, Fish Species Composition
MATA PENCAHARIAN ALTERNATIF KOMUNITAS NELAYAN DESA FAHILUKA (Studi Kasus Komunitas Nelayan di Desa Fahiluka, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka) Nahak, Febrianti Scolatika; Soewarlan, Lady Cindy; Kangkan, Alexander L.
Jurnal Bahari Papadak Vol 6 No 1 (2025): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Kehidupan nelayan tradisional telah jamak dikenal sebagai sebuah bentuk kondisi sosial yang memprihatinkan. Kabupaten Malaka menjadi salah satu kabupaten yang memiliki daerah pesir pantai yang luas, salah satunya yakni di Desa Fahiluka, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka. Posisi Desa Fahiluka dekat laut maka sebagian warga Desa Fahiluka berprofesi sebagai nelayan tradisioanal dan petani budidaya ikan tambak serta petani garam. Menurut Undang-undang No. 45 Tahun 2009 tentang perikanan di Indonesia bahwa nelayan tradisional merupakan nelayan kecil dengan ukuran kapal perikanan yang dimilikinya paling besar 5 grosstonase (GT). Nelayan tradisional terdiri dari perahu motor tempel dan perahu tanpa motor sedangkan nelayan modern adalah yang menggunakan kapal motor. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis mata pencaharian alternative dan faktor-faktor yang menyebab komunitas Nelayan di Desa Fahiluka, Kecamatan Malaka Tenggah, Kabupaten Malaka. Berdasarkan hasil penelitian Jenis mata pencaharian alternatif komunitas nelayan di Desa Fahiluka yaitu sebanyak 16 nelayan memiliki pekerjaan alternatif pedagang, 10 nelayan memiliki perjaan alternatif sebagai petani, perternak dan pedangang. Kemudian, untuk perkerjaan alternative peternak dan pedagang serta petani dan pedagang masing-masing 5 Nelayan. Untuk pekerjaan alternantif petani saja, usaha kios saja dan peternak saja masing-masing 3 Nelayan Nelayan yang memiliki pekerjaan alternatif petani-ojek-pedagang, peternak-ojek-pedagang, petani-peternak, petani-peternak-ojek, ojek-pedangan masing-masing 1 Nelayan. Faktor yang mempengaruhi pemilihan pekerjaan alternatif yaitu 51 dari 52 Nelayan atau 98% Nelayan atau memilih melakukan pekerjaan alternatif karena faktor pendapatan, dan hanya 1 Nelayan atau 2% Nelayan memilih melakukan pekerjaan alternatif karena faktor pendapatan dan cuaca. Faktor-faktor lain seperti ketrampilan, modal, sumber daya manusia dan usia tidak menjadi faktor penentu bagi nelayan di desa Fahiluka untuk melakukan pekerjaan alternatif. Dari hasil penelitian tersebut dapat di bendingkan penghasilan utama sebagai nelayan tidak cukup untuk kehidupan jangka Panjang. Kata Kunci : Variabel mata pencaharian alternatiif, Faktor yang mempengaruhi nelayan memilih pekerjaan alternative, Desa Fahiluka. Abstract - The life of traditional fishermen is widely known as a form of worrying social conditions. Malaka Regency is one of the regencies that has extensive coastal areas, one of which is in Fahiluka Village, Central Malaka District, Malacca Regency. The position of Fahiluka Village is near the sea, so some of the residents of Fahiluka Village work as traditional fishermen and pond fish farmers and salt farmers. According to Law no. 45 Year 2009 concerning fisheries in Indonesia that traditional fishermen are small fishermen with a maximum size of fishing vessels owned by 5 grosstonnage (GT). Traditional fishermen consist of outboard motorboats and boats without motors while modern fishermen are those who use motor boats. The purpose of this study is to determine the types of alternative livelihoods and factors that cause the fishing community in Fahiluka Village, Malacca Tenggah District, Malacca Regency. Based on the results of research on alternative livelihood types of fishing communities in Fahiluka Village, as many as 16 fishermen have alternative jobs as traders, 10 fishermen have alternative jobs as farmers, ranchers and swordmen. Then, for alternative work breeders and traders as well as farmers and traders each 5 fishermen. For alternative farmer work only, kiosk business only and breeders only 3 Fishermen each who have alternative jobs Farmer-Ojek-Trader, Farmer-Ojek-Trader, Farmer-rancher, Farmer-rancher-Ojek, ojek-swordman each 1 Fisherman. Factors that influence the selection of alternative jobs are 51 out of 52 Fishermen or 98% Fishermen or choose to do alternative work because of income factors, and only 1 Fisherman or 2% Fishermen choose to do alternative work because of income and weather factors. Other factors such as skills, capital, human resources and age are not determining factors for fishermen in Fahiluka village to do alternative work. From the results of this research, it can be reduced that the main income as a fisherman is not enough for long-term life. Keywords: Alternative livelihood variables, Factors that influence fishermen to choose alternative jobs, Fahiluka Village.