Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pengajaran Digital Audio Workstation (DAW) Cubase kepada Sanggar Tari Runtiq Bulau Vivian, Yofi Irvan; Arifin, M. Bahri; Wahyuni, Ian; Aprazaq, Fikri Yassaar
Pelita: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2023): Pelita: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Perkumpulan Kualitama Edukatika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.19 KB) | DOI: 10.51651/pjpm.v3i1.323

Abstract

The progress of the times in the realm of art, makes traditional art increasingly eliminated. This is because traditional music has not been able to take advantage of technological developments, one of which is digital recording using the DAW Cubase 5. The purpose of this study is that the Runtiq Bulau Dance Studio will be able to document and record music digitally. This is one way to maintain the traditional arts of the Dayak Benuaq Tribe. The method used by the implementation team is descriptive research. The implementation team uses lectures, question and answer, and experimental methods. The lecture and question-and-answer methods are used by the implementation team to provide material. The experimental method is used by students to apply the material that has been given. Students can record music digitally using DAW Cubase 5. The instruments recorded were Kelentangan, two Gimars, and Gong recorded on four tracks. The recorded music is plate dance accompaniment music. In the mixing process, VST maximizer and reverb are used. This is done to maintain the authenticity of the sound from the instrument of tradition. VST Ozone 8 is used to simplify and speed up the mastering process. Now Runtiq Bulau Dance Studio can produce digital music independently.
Kolaborasi asimetris antara negara dan masyarakat adat dalam perlindungan warisan budaya takbenda di Kutai Barat Vivian, Yofi Irvan; Mubarok, Ahmad
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v11i0.22672

Abstract

Program perlindungan Warisan Budaya Takbenda (HTN) di Indonesia terus mengungkap asimetri antara negara dan masyarakat adat. Studi ini mengkaji perlindungan HTN di Kutai Barat. Negara diwakili oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat, sementara masyarakat Dayak Benuaq mendefinisikan masyarakat adat. Pendekatan etnografi kualitatif digunakan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan analisis dokumen. Temuan menunjukkan bahwa kolaborasi pada dasarnya bersifat asimetris. Negara cenderung mendominasi melalui mekanisme administratif yang kaku, dokumentasi, dan kebijakan birokrasi, sementara masyarakat adat berupaya melestarikan warisan mereka melalui praktik-praktik organik. Meskipun negara bergantung pada masyarakat adat untuk melindungi HTN, masyarakat ini seringkali menjadi sasaran eksploitasi budaya dengan dalih perlindungan HTN. Asimetri ini menimbulkan beberapa polemik, termasuk klaim keaslian, persaingan antardaerah, dan terbatasnya partisipasi masyarakat adat dalam perumusan kebijakan. Studi ini menyoroti bahwa masih terdapat ruang yang cukup besar untuk negosiasi dan dialog antara negara dan masyarakat adat. Dinyatakan bahwa penguatan lembaga-lembaga Pribumi, desentralisasi pengambilan keputusan, dan pengakuan otoritas budaya lokal merupakan langkah-langkah penting menuju terciptanya kerangka kerja yang lebih adil dan berkelanjutan untuk menjaga ICH. 
Resistensi Sanggar Seni Bergulur Mapan dalam mempertahankan Rijoq di Kampung Linggang Mapan Kawulusan, Frans Rivaldo; Vivian, Yofi Irvan; Pratama, Zamrud Whidas
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 9 (2025): Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v9i3.23003

Abstract

Sanggar Seni Bergulur Mapan merupakan kelompok kesenian di Kampung Linggang Mapan yang masih mempertahankan Rijoq. Rijoq merupakan nyanyian vokal serupa pantun dan syair yang berbahasa Dayak Tunjung dan Benuaq. Seiring waktu, penampilan Rijoq dari Sanggar Seni Bergulur Mapan mengalami penurunan, akibat populernya lagu pop daerah yang menimbulkan kesalahan persepsi pemuda-pemudi Kampung Linggang Mapan terkait Rijoq. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui unsur musik pada Rijoq dan resistensi Sanggar Seni Bergulur Mapan dalam mempertahankan Rijoq. Penelitian ini menggunakan pendekatan Musikologi dari Jean Ferris untuk menganalisis unsur musik Rijoq dan pendekatan Sosiologi dari James C. Scott untuk menganalisis resistensi dalam mempertahankan Rijoq. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan dua bentuk Rijoq (jangan berpacaran dan janji dari kecil) yang memiliki unsur musik berupa tema, melodi, frase, skala, serta melismatis dan silabis. Rijoq yang masih dipertahankan melalui dua bentuk resistensi: resistensi tertutup (argumentasi dari pemerintah kampung dan adat, serta diskusi internal Sanggar Seni Bergulur Mapan) dan resistensi terbuka (pembelajaran Rijoq dan kegiatan workshop Rijoq).
Revitalisasi kesenian Mamanda Kutai oleh Sanggar Seni Budaya Kutai Bensamar dalam menguatkan branding Kampong Adat Tuha Andiansyah, Andiasnyah; Vivian, Yofi Irvan; Putra, Bayu Arsiadhi
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 9 (2025): Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v9i3.23017

Abstract

Penelitian ini membahas upaya revitalisasi kesenian Mamanda Kutai  oleh Sanggar Seni Budaya Kutai Bensamar sebagai bentuk pelestarian kesenian lokal di Dusun Bensamar, Kutai Kartanegara. Mamanda Kutai  merupakan seni pertunjukan teater klasik dengan iringan musik khas bernama Geduk yang dimainkan saat pelakon keluar dan masuk panggung. Kesenian ini mengalami stagnasi pada tahun 2020 hingga 2022 akibat minimnya minat generasi muda dan kurangnya regenerasi pelaku seni. Revitalisasi dimulai kembali pada tahun 2023 melalui pementasan pada Festival Kampong Adat Tuha Bensamar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnomusikologi, memanfaatkan teori unsur musik Bruce Benward untuk menganalisis struktur musik Geduk dan teori Revitalization Movements Anthony F. C. Wallace untuk mengkaji aspek non-musikal. Hasil penelitian menunjukkan musik Geduk memiliki struktur khas yang memperkuat suasana pertunjukan, sementara proses revitalisasi enam tahap Wallace berhasil mengembalikan eksistensi Mamanda Kutai  dan memperkuat branding Kampong Adat Tuha.
Hibriditas Damarwulan oleh Kelompok Keham Balai Tambek di Desa Lebak Cilong Saputra, Muhammad Iqbal; Vivian, Yofi Irvan; Gunawan, Asril
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 9 (2025): Special Issue "SESANTI 2025"
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v9i3.23025

Abstract

Pertunjukan teater tradisional Damarwulan oleh Kelompok Keham Balai Tambek di Desa Lebak Cilong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, merepresentasikan bentuk kesenian lokal yang memadukan unsur Mamanda Kutai. Fenomena ini mencerminkan proses hibriditas budaya sebagai hasil pertemuan dan percampuran dua identitas budaya berbeda. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis proses hibriditas dalam pertunjukan Damarwulandari aspek naratif, musikal, dan visual, dengan menggunakan perspektif teori hibriditas budaya Homi Kharshedji Bhabha. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan studi kasus, melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan adanya adaptasi naratif yang memasukkan elemen lokal Kutai, penggunaan instrumen tradisional seperti babon dan piul yang dipadukan dengan vokal, serta strategi visual yang memadukan unsur dua tradisi. Pertunjukan ini menjadi ruang negosiasi identitas budaya masyarakat Kutai sekaligus contoh seni pertunjukan tradisional yang membentuk identitas budaya secara dinamis dan dialogis di tengah masyarakat multikultural.