Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pengaruh Edukasi Basic Life Support Berbasis Simulasi Kebencanaan Terhadap Kesiapsiagaan dan Kemampuan Pertolongan Pertama Korban Bencana Pada Mahasiswa Keperawatan Tingkat II Poltekes TNI AU Ciumbuleuit Moch. Dera Fajar Septiano; Budiman Budiman; Lina Safarina; Nadirawati Nadirawati; Meivi Meivi
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.63215

Abstract

Kesiapsiagaan dan kemampuan pertolongan pertama merupakan kompetensi penting bagi mahasiswa keperawatan sebagai calon tenaga kesehatan dan first responder pada situasi bencana. Wilayah Bandung Raya memiliki potensi risiko gempa bumi tinggi akibat aktivitas Sesar Lembang, sehingga diperlukan penguatan kompetensi kebencanaan sejak masa pendidikan. Menganalisis pengaruh edukasi Basic Life Support (BLS) berbasis simulasi kebencanaan terhadap kesiapsiagaan dan kemampuan pertolongan pertama korban bencana pada mahasiswa keperawatan tingkat II. Penelitian menggunakan quasi-experimental pretest-posttest control group design pada 50 mahasiswa yang dibagi menjadi kelompok eksperimen (n=25) dan kelompok kontrol (n=25) dengan teknik total sampling. Kelompok eksperimen memperoleh edukasi BLS berbasis simulasi kebencanaan, sedangkan kelompok kontrol memperoleh modul BLS. Pengukuran kesiapsiagaan menggunakan kuesioner Disaster Preparedness Evaluation Tool (DPET) yang telah diadaptasi, sedangkan kemampuan pertolongan pertama diukur menggunakan lembar observasi keterampilan BLS. Analisis data menggunakan Paired Sample t-test, Wilcoxon Signed Rank Test, Independent Sample t-test, dan Mann-Whitney U Test. Kesiapsiagaan kelompok eksperimen meningkat dari 74,80 menjadi 92,16 (p=0,001), sedangkan kelompok kontrol dari 72,48 menjadi 83,32 (p=0,001). Kemampuan pertolongan pertama kelompok eksperimen meningkat dari 6,80 menjadi 15,68 (p=0,001) dan kelompok kontrol dari 5,36 menjadi 10,08 (p=0,001). Analisis antar kelompok menunjukkan kesiapsiagaan kelompok eksperimen lebih tinggi (92,16 vs 83,32; p=0,001) dan kemampuan pertolongan pertama lebih tinggi (mean rank 37,94 vs 13,06; p=0,001) dibandingkan kelompok kontrol. Edukasi Basic Life Support berbasis simulasi kebencanaan lebih efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan pertolongan pertama dibandingkan edukasi melalui modul pada mahasiswa keperawatan tingkat II.
Efektivitas Video Edukasi Pra Tindakan Terhadap Lama Waktu Pemberian Informed Consent Pada Pasien Stemi Dalam Pencapaian Door To Wire Time Tindakan Primary PCI di Ruang UGD RSUP Makassar Muhammad Hijaz; Budiman Budiman; Argi Virgona Bangun; Samuel Maju Simanjuntak; Susilawati Susilawati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.63387

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Infark Miokard Elevasi Segmen ST (STEMI) merupakan kegawatdaruratan yang membutuhkan reperfusi segera. Proses informed consent dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tertundanya tindakan intervensi koroner perkutan primer (Primary PCI). Video edukasi pra-tindakan yang berpotensi mempercepat proses pemahaman dan pengambilan keputusan. Tujuan: Menganalisis efektivitas video edukasi pra-tindakan terhadap lama waktu pemberian informed consent pada keluarga pasien STEMI yang menjalani Primary PCI di UGD RSUP Makassar. Metode: Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimen post-test only control group . Sampel terdiri dari 60 keluarga pasien STEMI yang dibagi menjadi kelompok video (n=30) dan perawatan standar (n=30) dengan konsekutif sampling . Kelompok intervensi memperoleh video edukasi berdurasi 3 menit 34 detik, sedangkan kelompok standar memperoleh edukasi lisan. Durasi informed consent diukur sejak edukasi dimulai hingga persetujuan ditandatangani. Analisis menggunakan uji Mann–Whitney U dengan p<0,05. Hasil: Rata-rata durasi video kelompok informed consent adalah 0,99 ± 1,06 menit, sedangkan kelompok standar 13,26 ± 7,53 menit, dengan selisih 12,27 menit dan perbedaan bermakna (p<0,001). Kesimpulan: Video edukasi pra-tindakan efektif memperpendek durasi informed consent dan berpotensi mendukung percepatan alur pelayanan PCI Primer. Kata kunci: STEMI; video edukasi; persetujuan berdasarkan informasi ; PCI primer; Intervensi Koroner Perkutan Abstrak Latar Belakang: Infark miokard elevasi segmen ST (STEMI) adalah keadaan darurat medis yang membutuhkan reperfusi segera. Proses persetujuan informed consent dapat berkontribusi pada keterlambatan pelaksanaan intervensi koroner perkutan primer (Primary PCI). Video edukasi pra-prosedur berpotensi mempercepat proses pemahaman dan pengambilan keputusan. Tujuan: Menganalisis efektivitas video edukasi pra-prosedur terhadap durasi proses informed consent untuk keluarga pasien STEMI yang menjalani Primary PCI di Unit Gawat Darurat RSUP Makassar. Metode: Studi ini menggunakan desain quasi-eksperimental, post-test-only control group. Sampel terdiri dari 60 keluarga pasien STEMI, dibagi menjadi kelompok video (n=30) dan kelompok perawatan standar (n=30) menggunakan pengambilan sampel berurutan. Kelompok intervensi menerima video edukasi selama 3 menit 34 detik, sedangkan kelompok standar menerima edukasi verbal. Durasi proses informed consent diukur dari awal edukasi hingga formulir persetujuan ditandatangani. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney U (p<0,05). Hasil: Durasi rata-rata proses persetujuan informed consent adalah 0,99 ± 1,06 menit untuk kelompok video dan 13,26 ± 7,53 menit untuk kelompok standar, yang menunjukkan perbedaan 12,27 menit yang signifikan secara statistik (p<0,001). Kesimpulan: Video edukasi pra-prosedur efektif dalam mempersingkat durasi proses persetujuan informed consent dan berpotensi untuk mempercepat alur kerja perawatan Primary PCI. Kata kunci: STEMI; video edukasi; informed consent; PCI primer; Intervensi Koroner Perkutan