Kesiapsiagaan dan kemampuan pertolongan pertama merupakan kompetensi penting bagi mahasiswa keperawatan sebagai calon tenaga kesehatan dan first responder pada situasi bencana. Wilayah Bandung Raya memiliki potensi risiko gempa bumi tinggi akibat aktivitas Sesar Lembang, sehingga diperlukan penguatan kompetensi kebencanaan sejak masa pendidikan. Menganalisis pengaruh edukasi Basic Life Support (BLS) berbasis simulasi kebencanaan terhadap kesiapsiagaan dan kemampuan pertolongan pertama korban bencana pada mahasiswa keperawatan tingkat II. Penelitian menggunakan quasi-experimental pretest-posttest control group design pada 50 mahasiswa yang dibagi menjadi kelompok eksperimen (n=25) dan kelompok kontrol (n=25) dengan teknik total sampling. Kelompok eksperimen memperoleh edukasi BLS berbasis simulasi kebencanaan, sedangkan kelompok kontrol memperoleh modul BLS. Pengukuran kesiapsiagaan menggunakan kuesioner Disaster Preparedness Evaluation Tool (DPET) yang telah diadaptasi, sedangkan kemampuan pertolongan pertama diukur menggunakan lembar observasi keterampilan BLS. Analisis data menggunakan Paired Sample t-test, Wilcoxon Signed Rank Test, Independent Sample t-test, dan Mann-Whitney U Test. Kesiapsiagaan kelompok eksperimen meningkat dari 74,80 menjadi 92,16 (p=0,001), sedangkan kelompok kontrol dari 72,48 menjadi 83,32 (p=0,001). Kemampuan pertolongan pertama kelompok eksperimen meningkat dari 6,80 menjadi 15,68 (p=0,001) dan kelompok kontrol dari 5,36 menjadi 10,08 (p=0,001). Analisis antar kelompok menunjukkan kesiapsiagaan kelompok eksperimen lebih tinggi (92,16 vs 83,32; p=0,001) dan kemampuan pertolongan pertama lebih tinggi (mean rank 37,94 vs 13,06; p=0,001) dibandingkan kelompok kontrol. Edukasi Basic Life Support berbasis simulasi kebencanaan lebih efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan pertolongan pertama dibandingkan edukasi melalui modul pada mahasiswa keperawatan tingkat II.