Articles
Accountability of The Government of The Republic of Indonesia For Illegal Migrant Workers
Amilatul Khoiriyah;
Didiek Wahju Indarta
Journal Equity of Law and Governance Vol. 6 No. 1
Publisher : Warmadewa Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55637/elg.6.1.10533.50-55
The accountability of the Indonesian government towards illegal migrant workers. This study examines how the government is accountable to illegal Indonesian migrant workers. This study aims to find out the causes, obstacles, and legal protection of illegal Indonesia migrant workers. This study uses a normative approach used to examine the protection of migrant workers in the context of government accountability for illegal migrant workers. The data sources used are primary data and secondary data and data analysis using qualitative descriptive analysis. The results of the study can be concluded that illegal Indonesian migrant workers do not receive strong legal protection and accountability from the government like legal migrant workers. This study recommends the need for stricter supervision of institutions that open service services to work abroad and for the public to be aware of false information about the rapid departure of Indonesia's migrant workers.
Kekuatan Pembuktian Surat Di Bawah Tangan Dalam Tindak Pidana Jual Beli Tanah: (Analisis Putusan Pengadilan Negeri Bojonegoro Nomor : 89/Pid B/2021/PN Bjn )
Eka Sari, Wulan;
Wahju Indarta, Didiek
JUSTITIABLE - Jurnal Hukum Vol. 5 No. 1 (2022): JUSTITIABLE - Jurnal Hukum
Publisher : Universitas Bojonegoro
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56071/justitiable.v5i1.406
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pidana terhadap pelaku penipuan jual beli tanah berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 378 Tentang Penipuan mengetahui pertimbangan hakim dalam memutus kasus perkara nomor 89/Pid B/2021/PN Bjn dan mengetahui analisis putusan perkara nomor 89/Pid B/2021/PN Bjn. Penelitian ini dilakukan di Pengadilan Negeri Bojonegoro dan tempat lain yang menyediakan bahan pustaka seperti Perpustakaan Universitas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah wawancara dengan Hakim Anggota Pengadilan Negeri Bojonegoro. Sedangkan untuk data sekunder menggunakan putusan Pengadilan Negeri Bojonegoro nomor 89/Pid B/2021/PN Bjn dan buku buku yang terkait. Hasil penelitian ini antara lain: penerapan pidana bagi pelaku penipuan jual beli tanah menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 378 Tentang Peniupuan. hampir sama seperti penerapan pidana pada umumnya yaitu pertama hakim melihat unsur unsur pidana yang sesuai dengan perbuatan terdakwa lalu melihat fakta dipersidangan dan hal yang memberatkan dan meringankan terdakwa sebelum memutus perkara. Dasar pertimbangan Hakim dalam memutus perkara nomor 89/Pid B/2021/PN Bjn. yaitu perbuatan Terdakwa telah meresahkan masyarakat, terdakwa bersikap sopan di persidangan, terdakwa mengakui perbuatannya dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya, Dan hasil analisis putusannya adalah sudah tepat karena dijerat dengan kitab undang undang hukum pidana tetang penipuan yang telah mengatur hal hal yang berkaitan dengan segala bentuk tipu daya penipuan sehingga mudah dalam hal pembuktian maupun pertimbangan.
Tinjauan Yuridis Resi Gudang Sebagai Instrumen Jaminan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2011 Tentang Sistem Resi Gudang
Didiek Wahju Indarta;
Lailatul Mutmainah
Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development Vol. 7 No. 2 (2025): Ranah Research : Journal Of Multidisciplinary Research and Development
Publisher : Dinasti Research
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.38035/rrj.v7i2.1315
A warehouse receipt is a document that proves the ownership and status of goods stored, regulated by Law Number 9 of 2011. Apart from being a means of proof, this receipt can also be used to obtain credit, supporting financial access for small and medium businesses. Law Number 9 of 2011 also regulates the responsibility of warehouse owners to maintain the security of goods and the validity of information in receipts, as well as demanding transparency and accountability. The debtor is obliged to maintain the condition of the goods pledged as collateral and fulfill debt payment obligations according to the agreement. The research method used is the Normative Juridical method. The results of research on the mechanism for using warehouse receipts as collateral in financing and credit show that legally, warehouse receipts function as legal financing instruments in accordance with Law Number 9 of 2011. Their use in financing refers to procedures involving the transfer of ownership rights to goods stored to creditors as collateral. The responsibility of the warehouse owner is to maintain the security and validity of the goods information contained in the receipt and to act transparently and accountably so that the warehouse receipt can be trusted by creditors. Meanwhile, debtors who use warehouse receipts as credit instruments have an obligation to maintain the condition of the goods guaranteed and fulfill debt payments according to the applicable agreement, so that the relationship between all parties in the financing process runs well.
HOLDING EMPLOYEE DIPLOMAS: LEGAL IMPLICATIONS AND WORKERS' RIGHTS CONCERNS
Indarta, Didiek Wahju;
Mutmainah, Lailatul;
Rahmania, Cindy Swastika
Jurnal Al-Dustur Vol 8 No 1 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Bone
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30863/aldustur.v8i1.9056
The detention of diplomas is carried out under the pretext that employees do not resign before the contract period ends. However, this action raises legal problems because it has the potential to violate the basic rights of workers, especially the right to private property and freedom of work. This is because every individual has the constitutional right to maintain ownership of the assets he or she legally acquires, including the results of work or income that are part of his or her personal property. If the policies or actions of the company, the government, or other parties limit or even confiscate part of the property without a clear and fair legal basis, then this can be considered a violation of the principle of non-deprivation of property without due process. This study aims to examine the practice of diploma retention from the perspective of employment law based on Law Number 13 of 2003 concerning Manpower, as well as examine its legal implications for companies and workers. The research method used is normative juridical, with a legislative approach. The results of the study show that there is no strict provision in Law Number 13 of 2003 that allows the retention of diplomas by companies. On the contrary, the practice is contrary to the principle of protection of workers' rights regulated in the law and contrary to the principles of legal certainty and justice. Workers have the right to be actively involved in the process of drafting employment agreements through joint deliberation with employers, as stipulated in Article 52 of the Manpower Law. Diploma detention can be categorized as a form of violation of the law and the company can be subject to administrative or criminal sanctions if proven to be detrimental to workers. To overcome this, stronger and integrated law enforcement mechanisms are also needed, such as increasing the capacity and authority of labor supervisors, the establishment of special units to deal with violations of workers' rights, and the application of strict administrative and criminal sanctions against violating companies.
Tanggung Jawab Hukum Penyelenggara Optik Terhadap Pelayanan Oleh Pegawai Tanpa Sertifikat Refraksionis Optisien
Wanda Dwi Safitri;
Didiek Wahju Indarta;
M. Abdim Munib
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 2: Februari 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56799/peshum.v4i2.7233
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tanggung jawab hukum penyelenggara optik terhadap pelayanan kesehtaan mata yang diberikan oleh pegawai tanpa sertifikat Refraksionis Optisien di Kabupaten Bojonegoro. Latar belakang penelitian ini berfokus pada tingginya praktik penggunaan kacamata yang tidak didukung oleh pemeriksaan profesional, dimana banyak optik mempekerjakan tenaga yang tidak memiliki sertifikat, berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi konsumen. Metode penelitian yang digunakan adalah hukum empiris dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, serta pengumpulan data melalui wawancara dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa rendahnya kepatuhan terhadap regulasi yang mengharuskan adanya tenaga bersertifikat di optik dapat menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat termasuk gangguan penglihatan jangka panjang. Selain itu, kurangnya pengawasan dan edukasi masyarakat tentang hak-hak mereka sebagai konsumen, serta perlunya kerjasama dengan lembaga pendidikan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja di bidang optik. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pembuat kebijakan dalam merumuskan strategi untuk melindungi konsumen dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan mata di Kabupaten Bojonegoro
Kewenangan Badan Pertanahan Nasional dalam Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum
Nurul Fajriyah;
Didiek Wahju Indarta;
M. Abdim Munib
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 2: Februari 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56799/peshum.v4i2.7304
Pembangunan merupakan salah satu aspek pendukung dalam penyelenggaraan pemerintahan yang baik, khususnya dalam menyediakan infrastruktur dan fasilitas umum yang memadai untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan jalan tol merupakan salah satu pembangunan untuk kepentingan umum. Pengadaan Tanah menjadi solusi dalam kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum. Penelitian ini mengkaji terkait Kewenangan Badan Pertanahan Nasional dalam Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum, yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Melalui pendekatan perundang-undangan dan konseptual, penelitian ini berfokus kepada analisis hukum dan kewenangan Lembaga Pertanahan dalam Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa Pengadaan Tanah dilakukan oleh Lembaga Pertanahan, Instansi yang memerlukan tanah mengajukan permohonan pengadaan tanah kepada Lembaga Pertanahan. Dalam hal Pengadaan Tanah, Kepala Kantor Wilayah dapat menugaskan kepala Kantor Pertanahan sebagai ketua pelaksana Pengadaan Tanah, selanjutnya Kepala Kantor Pertanahan membentuk pelaksana Pengadaan Tanah. Dalam penelitian ini menyarankan bahwa Pemerintah Daerah membuat Peraturan pelaksanaan pengadaan tanah, dan Pemerintah Daerah memberikan sosialisasi terkait pengadaan tanah untuk kepentingan Pembangunan jalan tol sehingga dalam pelaksanaannya Masyarakat dapat memahami hak dan kewajiban sosial mereka. Studi ini memberikan wawasan tentang pentingnya Kewenangan BPN dalam Pengadaan Tanah untuk Kepentingan umum, serta mekanisme pengadaan tanah untuk kepentingan umum.
Pemberlakuan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor Pm 45 Tahun 2023 Tentang Kustomisasi Kendaraan Terhadap Bengkel Dan Kendaraan Kustom
Mahendra, DWi Fana;
Didiek Wahju Indarta;
M. Abdim Munib
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 2: Februari 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56799/peshum.v4i2.7591
Kustomisasi kendaraan sering dipandang sebelah mata dikarenakan dianggap sebagai pelanggaran hukum karena mengubah bentuk asli dari kendaraan bermotor menjadi bentuk lain. Yang jelas itu tidak hanya mengalami perubahan pada sumbu roda tetapi juga perubahan pada struktur rangka kendaraan. Bagi beberapa pihak kustomisasi kendaraan ini adalah sebuah kreasi dan kreativitas karena bukan hanya mementingkan sisi fungsional saja tetapi juga dari sisi gaya hidup. Para pelaku dalam industri ini mempunyai pandangan bahwa gaya yang diaplikasikan terhadap sepeda motor kustom mereka adalah representasi dari diri mereka sendiri, maka kustomisasi kendaraan adalah perubahan pada struktur rangka dan roda serta mesin yang dilakukan untuk memberi kepuasan pada diri pribadi. Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum empiris (empricial research), seperti yang dijelaskan oleh Abdul Kadir Muhammad bahwa: “Penelitian empiris merupakan, penelitian yang dilakukan dengan meneliti data sekunder terlebih dahulu untuk kemudian dilanjutkan dengan mengadakan penelitian terhadap data premier di lapangan. Alasan salah satu bengkel kustomisasi kendaraan bermotor di Surabaya yaitu SPAWN GARAGE ini enggan atau belum mendaftarkan dan juga melakukan sertifikat bagi setiap karyawannya adalah dikarenakan ketidaktahuan bengkel kustomisasi kendaraan bermotor tersebut terhadap regulasi yang mengatur praktik kustomisasi kendaraan bermotor selama ini. Dalam hal ini pemerintah yang memiliki peran sebagai pemangku kebijakan untuk melaksanakan perannya dengan harapan semua bengkel yang melakukan pembalasan praktik kustomisasi kendaraan bermotor dapat mengetahui informasi-informasi penting yang terdapat pada regulasi yang ada. tigkat kesadaran hukum yang dimiliki oleh bengkel kustomisasi kendaraan bermotor ini bisa dikatakan masih kurang. Di dalam penerapannya dari peraturan ini bisa dikatakan masih belum mendapat pemahaman yang tegas dan baik dari bengkel kustomisasi kendaraan bermotor.
Pengawasan Hukum Platform E-Commerce Tiktok dan UMKM oleh KPPU Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1999
Andani, Debby Kusuma;
Indarta, Didiek Wahju
AL-MANHAJ: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial Islam Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Syariah INSURI Ponorogo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37680/almanhaj.v5i2.4003
E-commerce platforms in recent years have increased specifically, with the existence of e-commerce making an activity that has good prospects in the world of trade. Therefore, the existence of a platform used as e-commerce has an impact on MSME players, especially in the small business sectors in the market. KPPU as an institution has its duties and authorities in supervising this matter. The purpose of this study is to determine the Role and Effectiveness of KPPU in Supervising Tiktok and MSME E-commerce Platforms Based on Law Number 5 of 1999. This research uses the Normative Method by taking a statutory approach (statutes approach) to examine legal supervision of KPPU based on Law Number 5 of 1999, and also using the Concept Approach (Concep approuch) aims to provide linkage to the concept of business competition in Law Number 5 of 1999. KPPU plays an important role as a State institution given its duties and authorities. As the controller of power and position as laws and regulations related to unfair business competition and independent institutions, Related to the case of Tiktok merging its application into e-commerce, the new policy through the Minister of Trade Regulation Number 31 of 2023 which is an amendment to the Minister of Trade Regulation Number 50 of 2020 concerning Provisions for Business Licensing, Advertising, Coaching, and Supervision of Business Actors in Trade through the electronic system, It's official to close Tiktokshop and separate the application, it's just that those who get permission are social media but e-commerce. For this action, KPPU as the supervisor of business competition has not received a report related to allegations of Monopoly Practices and Unfair Business Competition.
The Regional Supervisory Assembly’s Role in the Submission Delaying of the Notary Protocol by Heirs to Notary Recipient Protocol
Indarta, Didiek Wahju;
Damayanti, Miranda
JURNAL AKTA Vol 11, No 3 (2024): September 2024
Publisher : Program Magister (S2) Kenotariatan, Fakultas Hukum, Universitas Islam Sultan Agung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30659/akta.v11i3.39464
This study aims to analyze the role of the Regional Supervisory Council (MPD) in overseeing the submission of the notary protocol by the heirs to the protocol recipient notary, as well as the impact of the delay in submission. The research method applied in the preparation of this research is normative legal research. Normative legal research is a method that focuses on the study of positive law, namely the law that applies at a certain time and place. Notarial protocols are important documents that function as state archives and legal evidence. In this context, MPD has the responsibility to ensure that heirs fulfill their legal obligations in submitting notarial protocols on time. This research identifies various factors that cause delays in submission, including heirs' lack of awareness and knowledge, complicated administrative processes, as well as indifference to legal obligations. In addition, the research also revealed the negative impact of the absence of effective sanctions against late submission of protocols, which can result in legal uncertainty, losses for related parties, and a decrease in the integrity of the legal system. The results show that to improve the effectiveness of MPD supervision, socialization efforts, strengthening regulations, and enforcement of clear sanctions are needed. Thus, this study provides recommendations to improve the notary protocol submission mechanism and increase heirs' compliance with their legal obligations.
Pemisahan Kepemilikan Tanah Dan Bangunan Dalam Perjanjian Jual Beli Ditinjau Dari Pasal 1320 Kuh Perdata
Wahju Indarta, Didiek;
Mangar, Irma;
Imelda Ristasaputra, Juventia
Jurnal Hukum Sasana Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Hukum Sasana: December 2025
Publisher : Faculty of Law, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31599/sasana.v11i2.4701
Penelitian ini membahas mengenai pemisahan kepemilikan tanah dan bangunan dalam perjanjian jual beli ditinjau dari ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Dalam hukum perdata, perjanjian dianggap sah apabila memenuhi empat syarat pokok, yaitu kesepakatan para pihak, kecakapan hukum, adanya objek yang jelas, serta causa yang halal. Selama syarat tersebut terpenuhi, perjanjian memiliki kekuatan mengikat bagi para pihak. Namun, dalam hukum agraria, keberlakuan asas pemisahan horizontal menyebabkan kepemilikan tanah tidak secara otomatis meliputi kepemilikan bangunan atau benda yang berada di atasnya. Oleh karena itu, perjanjian jual beli tanah yang juga memuat peralihan bangunan harus didukung dengan akta autentik yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) sebagaimana diwajibkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif melalui pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perjanjian jual beli tanah dan bangunan dapat dinyatakan sah berdasarkan syarat Pasal 1320 KUH Perdata, peralihan hak atas tanah baru diakui secara hukum apabila dituangkan dalam Akta Jual Beli (AJB) dan didaftarkan ke kantor pertanahan. Dengan demikian, penerapan asas pemisahan horizontal memiliki implikasi bahwa objek tanah dan bangunan dalam transaksi hukum harus dinyatakan secara tegas dan diproses sesuai prosedur agraria agar memiliki kekuatan hukum yang sempurna.