Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Persepsi Petani Padi Terhadap Dampak Perubahan Iklim Dan Potensi Strategi Adaptasi: Studi Kasus Di Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban Mustikaningrum, Dhina
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/

Abstract

Perubahan iklim diyakini telah berdampak terhadap aspek lingkungan, sosial dan ekonomi warga masyarakat, khsusunya petani. Meski pertanian diandalkan dalam konteks ketahanan pangan nasional, namun perubahan iklim mengancam keberlanjutan produksi pangan, khususnya padi. Oleh karen itu diperlukan strategi adaptasi yang spesifik lokal dan diterima oleh petani untuk kemudian diterapkan dalam praktik budidaya padi. Penggalian persepsi petani menjadi langkah awal memahami pola pikir petani terhadap perubahan iklim. Penelitian ini mengkaji persepsi petani terkait dampak perubahan iklim dan bagaimana strategi adaptasi yang telah diterapkan. Penelitian menggunakan metode survei terhadap 80 petani di sentra padi Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban. Hasil penelitian menemukan bahwa petani di wilayah tersebut menyadari adanya peningkatan suhu yang mempengaruhi pola budidaya tanaman padi. Sebanyak 60% dari mereka menjadikan berkurangnya penutupan lahan sebagai penyebab kenaikan suhu. Petani juga meyakini adanya perubahan pola curah hujan yang tidak jelas apakah curah hujan semakin tinggi atau semamin rendah sebagai “faktor alam” sehingga sulit diprediksi. Strategi adaptasi telah dilakukan sebagian besar petani, khususnya dalam aspek pengelolaan irigasi, penyesuaian benih dan pergeseran awal masa tanam. Kapasitas petani dalam menerapkan adaptasi perubahan iklim sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanah dan akses petani terhadap kredit, tingkat pendidikan dan akses terhadap penyuluhan.
Penyusunan Rencana Aksi Adaptasi Perubahan Iklim Secara Partisipatif Dhina Mustikaningrum; Suprayitno Suprayitno; Kristiawan Kristiawan
J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol 9, No 1 (2025): April 2025
Publisher : IKIP PGRI Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30734/j-abdipamas.v9i1.4657

Abstract

Adaptation to climate change by farmers is very urgent to reduce the risk of crop losses. In Tuban Regency, farmers face the problem of flooding which occurs routinely every year and changes in erratic rain patterns increasingly threaten rice production. Farmers need assistance in designing anticipatory steps for environmental changes, especially weather. This community service aims to assist farmers in preparing climate change adaptation action plans. The service partners are farmers who are members of the Bandungrejo Village Water User Farmers Association, Plumpang District, Tuban Regency. The method used is group discussion in a mini field school with a sustainable livelihood assessment (SLA) approach. The results of farmers' analysis of the potential and problems, institutions and capital owned by farmers and farmer organizations show that recurring flood events that occur every year are a priority problem that must be resolved. So farmers hope for collaboration with various parties to handle the Avor River flood which is located in the northern area of Bandungrejo Village. Farmers also plan activities for implementing climate change adaptive technology, extreme weather early warning systems and the need for mitigation through the application of renewable energy installation. Adaptasi perubahan iklim oleh petani sangat diperlukan untuk mengurangi resiko kerugian panen. Di Kabupaten Tuban, petani menghadapi persoalan banjir yang rutin terjadi setiap tahun dan perubahan pola hujan yang tidak menentu semakin mengancam produksi padi. Petani memerlukan pendampingan dalam merancang langkah-langkah antisipasi terhadap perubahan lingkungan, khususnya cuaca. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mendampingi petani menyusun rencana aksi adaptasi perubahan iklim. Mitra pengabdian adalah petani anggota Himpunan Petani Pemakai Air Desa Bandungrejo Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban. Metode yang digunakan adalah diskusi kelompok dalam sebuah mini sekolah lapang dengan pendekatan sustainable livelihood assessment (SLA). Hasil analisis petani terhadap potensi dan masalah, kelembagaan dan modal yang dimiliki petani maupun organisasi petani menunjukkan bahwa kejadian banjir yang berulang terjadi setiap tahun adalah persoalan prioritas yang harus dipecahkan. Sehingga petani mengharapkan kolaborasi dengan para pihak untuk penanganan banjir kali avour yang terletak di wilayah utara Desa Bandungrejo. Petani juga merencanakan kegiatan penerapan teknologi adaptif perubahan iklim, sistem peringatan dini cuaca ekstrim hingga kebutuhan akan mitigasi melalui penerapan energi terbarukan.
Pemenuhan Hak Lingkungan bagi Petani Terdampak Perubahan Iklim di Kabupaten Tuban Widodo, Teguh Endi; Mustikaningrum, Dhina; Mangkunegara, RM. Armaya
Bina Hukum Lingkungan Vol. 9 No. 3 (2025): Bina Hukum Lingkungan, Volume 9, Nomor 3, Juni 2025
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24970/bhl.v9i3.269

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, lingkungan yang baik dan sehat adalah hak asasi manusia. Namun fenomena perubahan iklim mengakibatkan kondisi lingkungan yang cenderung merugikan masyarakat, seperti kekeringan, banjir, kualitas udara yang buruk dan kenaikan muka air laut. Petani padi menjadi salah satu aktor yang merasakan dampak perubahan iklim. Kerugian yang dirasakan akibat kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan dan angin kencang adalah kegagalan panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana dampak perubahan iklim dirasakan petani dan bagaimana kebijakan daerah dapat menjamin tersedianya lingkungan yang baik agar panen padi masih dapat dinikmati petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani mengalami kesulitan mendapatkan akses informasi terkait prakiraan cuaca dan teknologi adaptif perubahan iklim. Di sisi lain, kebijakan daerah Kabupaten Tuban sejatinya telah mengatur perubahan iklim, namun terbatas pada pengendalian bencana alam, belum menyentuh dampak ekonomi petani akibat perubahan iklim. Beragam celah yang terdapat pada implementasi peraturan perundang-undangan khususnya di tingkat Kabupaten menyebabkan perlunya adanya Peratuan Bupati yang komprehensif mengatur tentang perubahan iklim. Mulai Rencana Aksi Daerah adaptasi perubahan iklim hingga pelaporannya dengan mempertimbangkan relevansinya dengan kebutuhan petani terdampak.Kata kunci: perubahan iklim; hak petani; undang-undang lingkungan. ABSTRACTBased on Law Number 32 of 2009 concerning Environmental Protection and Management, a good and healthy environment is a human right. However, the phenomenon of climate change results in environmental conditions that tend to be detrimental to society, such as drought, floods, poor air quality and rising sea levels. Rice farmers are one of the actors who feel the impact of climate change. The losses felt due to rising temperatures, changes in rainfall patterns and strong winds are crop failure. This research aims to find out to what extent the impact of climate change is felt by farmers and how regional policies can ensure the provision of a good environment so that farmers can still enjoy the rice harvest. The research results show that farmers have difficulty getting access to information related to weather forecasts and climate change adaptive technology. On the other hand, Tuban Regency's regional policy has actually regulated climate change, but is limited to controlling natural disasters, and has not yet touched on the economic impact on farmers caused by climate change. Various gaps in the implementation of laws and regulations, especially at the Regency level, have led to the need for special regulations, comprehensive Regent Regulations, that regulate climate change. Starting from the Regional Action Plan for climate change adaptation to its reporting by considering its relevance to the needs of affected farmers..Keywords: climate change; environmental law; farmers rights
Pengaruh Aplikasi Bio-slurry Terhadap Perbaikan Sifat Kimia Tanah Mustikaningrum, Dhina
RADIKULA: Jurnal Ilmu Pertanian Vol 2 No 2 (2023): RADIKULA - Desember 2023
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70609/radikula.v2i2.3698

Abstract

Pupuk organik menjadi salah satu upaya untuk mengembalikan kesuburan tanah yang mengalami degradasi. Salah satu pupuk organik yang berpotensi dimanfaatkan petani adalah bio-slurry. Bio-slurry terbukti bermanfaat sebagai sumber unsur hara bagi tanaman, baik unsur hara makro maupun mikro. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh aplikasi bio-slurry terhadap sifat kimia tanah, yakni derajat keasaman tanah, kadar C-organik, nitrogen, fosfor dan kalium tanah. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap, dan mengambil sampel tanah di Kebun Percobaan Universitas Sunan Bonang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi bio-slurry tidak berpengaruh signifikan terhadap derajat keasaman tanah (pH) tanah dan kandungan Nitrogen tanah. Namun aplikasi bio-slurry dapat meningkatkan kadar C-Organik tanah hingga dari 1,02% menjadi 2,46%. Bio-slurry dengan dosis 75 gr/polibag juga terbukti mampu meningkatkan kandungan kalium dan fosfor tanah. Fosfor tanah mengalami peningkatan hingga 72% akibat penambahan bio-slurry dan Kalium tanah meningkat hingga 180% dibandingkan tanpa bio-slurry.
Pemenuhan Hak Lingkungan bagi Petani Terdampak Perubahan Iklim di Kabupaten Tuban Widodo, Teguh Endi; Mustikaningrum, Dhina; Mangkunegara, RM. Armaya
Bina Hukum Lingkungan Vol. 9 No. 3 (2025): Bina Hukum Lingkungan, Volume 9, Nomor 3, Juni 2025
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24970/bhl.v9i3.269

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, lingkungan yang baik dan sehat adalah hak asasi manusia. Namun fenomena perubahan iklim mengakibatkan kondisi lingkungan yang cenderung merugikan masyarakat, seperti kekeringan, banjir, kualitas udara yang buruk dan kenaikan muka air laut. Petani padi menjadi salah satu aktor yang merasakan dampak perubahan iklim. Kerugian yang dirasakan akibat kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan dan angin kencang adalah kegagalan panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana dampak perubahan iklim dirasakan petani dan bagaimana kebijakan daerah dapat menjamin tersedianya lingkungan yang baik agar panen padi masih dapat dinikmati petani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani mengalami kesulitan mendapatkan akses informasi terkait prakiraan cuaca dan teknologi adaptif perubahan iklim. Di sisi lain, kebijakan daerah Kabupaten Tuban sejatinya telah mengatur perubahan iklim, namun terbatas pada pengendalian bencana alam, belum menyentuh dampak ekonomi petani akibat perubahan iklim. Beragam celah yang terdapat pada implementasi peraturan perundang-undangan khususnya di tingkat Kabupaten menyebabkan perlunya adanya Peratuan Bupati yang komprehensif mengatur tentang perubahan iklim. Mulai Rencana Aksi Daerah adaptasi perubahan iklim hingga pelaporannya dengan mempertimbangkan relevansinya dengan kebutuhan petani terdampak.Kata kunci: perubahan iklim; hak petani; undang-undang lingkungan. ABSTRACTBased on Law Number 32 of 2009 concerning Environmental Protection and Management, a good and healthy environment is a human right. However, the phenomenon of climate change results in environmental conditions that tend to be detrimental to society, such as drought, floods, poor air quality and rising sea levels. Rice farmers are one of the actors who feel the impact of climate change. The losses felt due to rising temperatures, changes in rainfall patterns and strong winds are crop failure. This research aims to find out to what extent the impact of climate change is felt by farmers and how regional policies can ensure the provision of a good environment so that farmers can still enjoy the rice harvest. The research results show that farmers have difficulty getting access to information related to weather forecasts and climate change adaptive technology. On the other hand, Tuban Regency's regional policy has actually regulated climate change, but is limited to controlling natural disasters, and has not yet touched on the economic impact on farmers caused by climate change. Various gaps in the implementation of laws and regulations, especially at the Regency level, have led to the need for special regulations, comprehensive Regent Regulations, that regulate climate change. Starting from the Regional Action Plan for climate change adaptation to its reporting by considering its relevance to the needs of affected farmers..Keywords: climate change; environmental law; farmers rights
Estimasi Cadangan Karbon Tanaman Tahunan di Lingkungan Kampus Universitas Sunan Bonang dalam Mengurangi Dampak Pemanasan Global di Kota Tuban Suprayitno, Suprayitno; Mustikaningrum, Dhina; Firlandiana, Maulidi; Prasetyo, Herry; Kristiawan, Kristiawan
Produksi Tanaman Vol. 12 No. 1 (2024): Januari
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dampak perubahan iklim terhadap berbagai aspek kehidupan telah dirasakan oleh masyarakat global, termasuk Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Dalam hal ini, kontribusi sektor pertanian terhadap emisi gas rumah kaca sebagai penyumbang perubahan iklim di Kabupaten Tuban cukup besar. Jika tidak diimbangi dengan upaya mitigasi, maka emisi gas rumah kaca akan semakin meningkat setiap tahunnya. Memperbanyak vegetasi, terutama pohon yang berfungsi sebagai penyerap karbon di atmosfer, merupakan salah satu upaya mitigasi yang dapat dilakukan. Namun, Kabupaten Tuban justru kehilangan beberapa lahan hutan. Universitas Sunan Bonang Tuban terletak di daerah perkotaan, namun spesies pohon di area kampus masih tetap dipertahankan. Hal ini merupakan salah satu upaya pelestarian lingkungan yang dilakukan oleh pihak kampus. Sebagai bentuk partisipasi kampus dalam mengurangi pemanasan global, maka perlu dilakukan identifikasi jenis pohon yang ada di dalam kampus, stok karbon, maupun jumlah karbon yang diserap dari atmosfer. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei hingga Juli 2022 di area kampus Universitas Sunan Bonang Tuban. Semua jenis spesies pohon akan dievaluasi berdasarkan biomassa per diameter pohon dan estimasi jumlah karbon yang diserap oleh tegakan. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat sebanyak 66 pohon jati di kampus Universitas Sunan Bonang. Pohon mimba menyumbangkan cadangan karbon paling banyak, yaitu 239,34 kg atau 41 persen dari total cadangan karbon di Universitas Sunan Bonang, yaitu 581,27 kg atau 2,1 ton CO2 yang diserap dari atmosfer.
Potensi Bakteri Pelarut Fosfat pada Lahan Tegakan Hutan dan Perkebunan Singkong di Kawasan Kampus IPB Dramaga Bogor Firlandiana, Maulidi; Khairiyah, Yaumil; Perala, Iwan; Mustikaningrum, Dhina; Kristiawan, Kristiawan; Maimunah, Maimunah; Suprayitno, Suprayitno; Prasetya, Herry; Dewi Setyana, Abdi; Subiyanto, Subiyanto
Produksi Tanaman Vol. 12 No. 7 (2024): Juli
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.protan.2024.012.07.04

Abstract

Tanaman memerlukan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan, salah satunya yaitu fosfor (P). Namun tanaman hanya dapat menyerap P dari tanah dalam bentuk ion fosfat (H2PO4- dan HPO42-). Tantangan besar yang dilakukan untuk menyediakan P terlarut atau tersedia, terjawab oleh penemuan Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). Mikrob ini menghasilkan asam-asam organik yang dapat melarutkan senyawa fosfat kompleks dan atau mengikat kation dari ion (PO43-) untuk melepaskan P tersedia dalam tanah. Areal rhizosfer tanah memiliki potensi keragaman mikrob yang tinggi karena menyediakan sumber makanan (eksudat) yang dikeluarkan dari akar tanaman. Penelitian ini bertujuan menentukan kualitas isolat BPF dari ekosistem perkebunan singkong dan hutan Kampus IPB Dramaga dengan Indeks Pelarut Fosfat (IPF) tertinggi pada berbagai sumber P dan variasi pH serta menentukan isolat BPF yang bersifat non-patogenik terhadap manusia, hewan, dan tanaman. Penelitian ini diawali dengan mengisolasi BPF dari areal rhizosfer, menumbuhkannya pada media selektif Pikovskaya, identifikasi morfologi koloni secara makroskopis, seleksi koloni BPF yang menghasilkan halozone (zona bening), mengukur IPF, dan mengujinya pada media Pikovskaya dengan berbagai sumber P dan tingkatan pH. Hasil isolasi menunjukkan adanya 9 isolat 2 diantaranya dari tegakan hutan dan 7 dari perkebunan singkong yang menghasilkan halozone. Isolat 6P dan 7P dari tegakan hutan memiliki IPF tertinggi berturut-turut sebesar 3,10 dan 3,33. Adapun isolat BPF hanya dapat mengasilkan halozone pada media sumber P dari kompleks Ca-P dengan kondisi pH basa dan pH tanah. Dari 9 isolat terpilih, 6 diantaranya yaitu isolat 1P, 3P, 4P, 6P, 7P, dan 9P teruji bersifat non-patogen terhadap sel manusia, hewan, maupun tanaman.
Penerapan Sustainable Livelihood Asssessment (SLA) dalam Menyusun Rencana Aksi Perhutanan Sosial: Studi Kasus di Desa Sidorejo, Kenduruan, Tuban Mustikaningrum, Dhina; Eka Lestari, Sulistyani; Prasetyo S, Hery; Maimunah; Kristiawan
Jurnal Hutan dan Masyarakat VOLUME 15 NO 2, DESEMBER 2023
Publisher : Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24259/jhm.v12i2.28460

Abstract

The forest management system in Tuban Regency refers to government forestry regulations which aim to achieve equity and development based on social justice for all Indonesian people. One of the programs in the forestry sector that supports this goal is the Social Forestry program. This research took place in Sidorejo Village, Kenduruan, Tuban Regency. To develop social forestry action plan, this research used Sustainable Livelihood Assessment (approach) as a tool. During SLA process, LMDH members analyze forest areas, institutions, owned capital, problems and action plans. SLA topics related to community life can be an entry point for LMDH Wonorejo, Sidorejo Village, Tuban Regency to understand the problems of implementing forestry partnerships in their area. The results of the SLA show that issues related to members' human and financial resources are two basic things that must be accommodated in the preparation of a social forestry action plan. Therefore, LMDH proposed the Nganget Warm Water Baths tourism development program as a priority for the social forestry action plan.
Inovasi Manisan Tomat (Solanum lycopersicum) sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Petani di Kecamatan Widang, Tuban Suprayitno, Suprayitno; Prasetyo, Hery; Mustikaningrum, Dhina; Kristiawan, Kristiawan; Maimunah, Maimunah; Setyana, Abdi Dewi; Subiyanto, Subiyanto; Firlandiana, Maulidi
Abdibaraya Vol 2 No 02 (2023): Abdibaraya: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Universitas Ma'arif Nahdlatul Ulama Kebumen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53863/abdibaraya.v2i02.992

Abstract

Tomatoes are one of the most widely cultivated horticultural crops in the region Tuban Regency. One of the women farmer groups that often cultivate tomatoes is the Farmers Women’s Group in is the Farmers Women’s Group in Widang Subdistrict. The Farmers Women’s Group has tomato plants with high yields. But sometimes the price of tomatoes is very low causing the Farmers Women’s Group to experience significant losses. The author sees this condition as an opportunity to increase the use value of tomatoes so that they have a higher price. One of the efforts that can be done is by using tomatoes as raw material for making candied dried tomatoes. Candied dried tomatoes are a very popular food and have wide market opportunities. This has been proven by the high sales of candied dried tomatoes in several regions in Indonesia. The author sincerely hopes that this community service activity will be able to increase the income of the Farmers Women’s Group in Widang District. The Farmer Women's Group is able to make candied dried tomatoes into one of the foods and souvenirs that are in demand by tourists visiting the Tuban Regency area. Community service activities were carried out at the Agricultural Extension Center of Widang District, Tuban Regency, which was attended by around 15 farm women. This activity contains counseling related to the innovation of candied tomatoes, followed by planning and implementing activities to make sweets made from tomato fruit. Armed with knowledge and practice, participants from the Widang District Women Farmers Group were interested and planned to apply the idea and innovation of candied dried tomatoes during the next harvest season. Keywords: farmer women's group ,sweets, tomatoes