Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Respon Pertumbuhan Protocorm Like Bodies (PLB) Anggrek Tebu (Grammatophyllum scriptum Blume) terhadap Modifikasi Media Murashige and Skoog (MS) secara In Vitro Ratna Kusuma; Samsurianto Samsurianto; Wafif Azizah; Ervinda Yuliatin
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol 11, No 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35138/paspalum.v11i1.538

Abstract

Anggrek Tebu (Grammatophyllum scriptum) propagation can be improved optimally by adding plant growth regulators such as BAP and NAA through in vitro technique. Murashige and Skoog (MS) medium is an essential medium for plant tissue growth that needs another complex mineral and vitamin to develop the protocorm-like bodies (PBL) of Anggrek Tebu. Hence, this study aimed to gain the appropriate composition of modified MS by adding BAP and various coconut water concentrations and to evaluate their effect on PBL of Anggrek Tebu growth (budding time, number of buds, and leaves). The research was conducted using a completely randomized design with two factorials such as modified MS medium (MS (M1), ½ MS (M2), and ¼ MS (M3))and coconut water concentration (0 ml/L (C0), 100 ml/L (C1), 200 ml /L (C2), and 300 ml/L (C3)) with triplication. The result showed that the fastest budding time was remarkable growth from M2C1 offered the bud at three weeks after planting (WAP). In the number of budding, M3C2 showed excellent results and significantly increased the budding growth at 8.33 ± 0.88  in 10 WAP. Meanwhile, the highest leave number was M2C1 at 23.00 ± 3.60, followed by M2C2 and M3C2, respectively, at 20.67 ± 1.45 and 20.67 ± 1.33. This result indicated that modifying MS medium composition by adding the coconut water could assist the PBL of Anggrek Tebu growth in a specific concentration. 
Respon Pertumbuhan Protocorm Like Bodies (PLB) Anggrek Tebu (Grammatophyllum scriptum Blume) terhadap Modifikasi Media Murashige and Skoog (MS) secara In Vitro Ratna Kusuma; Samsurianto Samsurianto; Wafif Azizah; Ervinda Yuliatin
Paspalum: Jurnal Ilmiah Pertanian Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35138/paspalum.v11i1.538

Abstract

Anggrek Tebu (Grammatophyllum scriptum) propagation can be improved optimally by adding plant growth regulators such as BAP and NAA through in vitro technique. Murashige and Skoog (MS) medium is an essential medium for plant tissue growth that needs another complex mineral and vitamin to develop the protocorm-like bodies (PBL) of Anggrek Tebu. Hence, this study aimed to gain the appropriate composition of modified MS by adding BAP and various coconut water concentrations and to evaluate their effect on PBL of Anggrek Tebu growth (budding time, number of buds, and leaves). The research was conducted using a completely randomized design with two factorials such as modified MS medium (MS (M1), ½ MS (M2), and ¼ MS (M3))and coconut water concentration (0 ml/L (C0), 100 ml/L (C1), 200 ml /L (C2), and 300 ml/L (C3)) with triplication. The result showed that the fastest budding time was remarkable growth from M2C1 offered the bud at three weeks after planting (WAP). In the number of budding, M3C2 showed excellent results and significantly increased the budding growth at 8.33 ± 0.88  in 10 WAP. Meanwhile, the highest leave number was M2C1 at 23.00 ± 3.60, followed by M2C2 and M3C2, respectively, at 20.67 ± 1.45 and 20.67 ± 1.33. This result indicated that modifying MS medium composition by adding the coconut water could assist the PBL of Anggrek Tebu growth in a specific concentration. 
Pengembangan Vertikultur Solusi Budidaya Tanaman Vertikal Di Lahan Sempit (Upaya Pemberdayaan Ibu-Ibu Rumah Tangga Di Kelurahan Gunung Kelua-Samarinda) Hetty Manurung; Ratna Kusuma; Samsurianto Samsurianto; Lariman Lariman; Dwi Susanto
ABDIKU: Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Mulawarman Vol. 2 No. 1 (2023): ABDIKU : Jurnal Pengabdian Masyarakat Universitas Mulawarman
Publisher : Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/abdiku.v2i1.535

Abstract

ABSTRAK Wilayah Kelurahan Gunung Kelua Samarinda merupakan wilayah dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin meningkat setiap tahunnya. Kebutuhan lahan pemukiman semakin meningkat pula dan mengakibatkan terjadinya alih fungsi lahan dari lahan pertanian menjadi lahan pemukiman guna memenuhi kebutuhan primer yaitu papan (rumah). Kebutuhan akan pangan otomatis semakin meningkat pula, dan minim nya ketersediaan lahan terbuka menjadi pemikiran dalam mengupayakan pemanfaatan area sempit menjadi lahan tanam untuk bercocok tanam, melalui salah satu cara yang dapat diterapkan yaitu Vertikultur. Pelatihan Vertikultur Tanaman ini bertujuan membekali peserta dengan pengetahuan dasar yang sederhana dan mudah dipahami melalui bagaimana memperbanyak tanaman dengan memanfaatkan lahan yang tersisa dari halaman rumah tempat tinggal. Dalam upaya meningkatkan keterampilan, ibu ibu di lingkungan kelurahan Gunung Kelua samarinda diberikan materi, dengan berbagai praktek di lapangan mengenai teknik vertikultur tanaman. Program pengabdian masyarakat ini berlangsung dengan baik dan efektif, meliputi teori dan praktik lapangan dengan persentase 25% teori dan 75% praktik. Kegiatan diikuti oleh 30 orang ibu ibu yang tergabung dalan kegiatan PKK dan kampong KB Suwandi Mandiri. Hasil pelatihan tersebut peserta dapat mempraktekkan dan mengaplikasikan teknik vertikultur pada budidaya bahan pangan sehari hari di sekitar tempat tinggal masing-masing.
Intervention on the impact of exposure to PM2.5 air pollution on airway clearance of asthma sufferers through chest physiotherapy Sholichin Sholichin; Endang Sawitri; Eva Rachmi; Sri Wahyuningsih; Krispinus Duma; Ratna Kusuma; Ika Fikriah; Daniel Tarigan
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol. 9 No. 3 (2026): Volume 9 Number 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v9i3.2807

Abstract

Background: Exposure to PM2.5 air pollution is a major risk factor for exacerbations and decreased lung function in asthmatics. The World Health Organization has declared air pollution a global health emergency. Fine PM2.5 particles trigger oxidative stress, chronic inflammation, and impaired airway clearance, which exacerbate airway obstruction. Purpose: Analyzing the effectiveness of chest physiotherapy in improving airway clearance in asthma patients exposed to PM2.5. Method: Using a pretest-posttest design, this study compared Peak Expiratory Flow (PEF) values ​​in the first week as a baseline, with values ​​recorded in the second and third weeks after chest physiotherapy intervention. The Wilcoxon test was used to analyze differences in PEF values ​​over time. Results: Analysis showed a significant increase in PEF values ​​between the first and second weeks (Z = -6.88, p < 0.00) and between the first and third weeks (Z = -7.51, p < 0.00). The majority of participants showed an increase in PEF, with positive ratings of 72 in the second week and 75 in the third week, indicating improved airway clearance after the intervention. Conclusion: Chest physiotherapy effectively improves airway clearance and ventilation function in asthma sufferers exposed to PM2.5, thus having the potential to become an applicable and sustainable non-pharmacological, environmentally based nursing intervention.
Diseminasi Kombucha Bunga Telang dan Kombucha Teh sebagai Upaya Pemberdayaan Pangan Fungsional Ibu Rumah Tangga di Desa Semayang, Kutai Kartanegara: Pengabdian Aloysia Sri Pujiyanti; Natasha Florenika; Ratna Kusuma; Rudy Agung Nugroho; Hetty Manurung; Retno Aryani
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 5 Nomor 1 (Juli 2026 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v5i1.7374

Abstract

Kegiatan pemberdayaan masyarakat di daerah pedesaan membutuhkan pendekatan berbasis inovasi terhadap sumber daya pangan lokal. Kegiatan ini bertujuan mendiseminasikan kombucha bunga telang (Clitoria ternatea) dan kombucha teh sebagai pangan fungsional sekaligus menganalisis preferensi masyarakat di Desa Semayang, Kabupaten Kutai Kartanegara. Metode yang digunakan bersifat edukatif dan partisipatif, melibatkan 20 ibu rumah tangga yang dipilih secara purposif sebagai peserta sekaligus responden. Uji organoleptik dilakukan terhadap enam atribut sensori menggunakan skala hedonik lima poin. Hasil menunjukkan kedua varian dapat diterima. Kombucha teh memperoleh respons positif dominan pada seluruh parameter, dengan keasaman tertinggi (70% menyukai), sedangkan kombucha bunga telang unggul pada warna (45% sangat menyukai, 50% menyukai) dan rasa (70% menyukai). Secara keseluruhan, 55% responden lebih menyukai kombucha teh dan 35% kombucha bunga telang. Temuan ini menunjukkan keseimbangan sensori rasa manis-asam menjadi penentu penerimaan utama. Kegiatan ini meningkatkan pengetahuan mitra dan memberikan dasar pengembangan usaha kombucha bunga telang berbasis sumber daya lokal.
Aklimatisasi Anggrek Spesies Hasil Kultur Jaringan melalui Pemberdayaan Mahasiswa Tingkat Akhir Program Studi Biologi Universitas Mulawarman Samsurianto; Ratna Kusuma; Yanti Puspita Sari; Dwi Susanto; Hetty Manurung; Bodhi Dharma; Eko Kusumawati; Budiman; Jusmaldi; Ervinda Yuliatin; Aloysia Sri Pujiyanti; Febry Rahmadhani Hasibuan
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 10 No. 3 (2026): Jurnal Panrita Abdi - Juli 2026
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/pa.v10i3.48712

Abstract

Student empowerment through the acclimatization of tissue culture–derived orchids represents a strategic approach that integrates biodiversity conservation efforts with the enhancement of human resource capacity. This community service program aimed to improve the knowledge and skills of final-year Biology students in acclimatizing two orchid species of high conservation and economic value, namely Coelogyne pandurata and Phalaenopsis gigantea. The program employed a combination of theoretical instruction, demonstrations of acclimatization techniques, hands-on training, and interactive discussions on business opportunities in orchid cultivation. A total of 15 students participated in the program, which was preceded by a pre-test and concluded with a post-test to assess improvements in participants’ understanding. The evaluation results showed a significant increase in post-test scores (85.33%) compared to pre-test scores (58.67%), with an average N-Gain value of 0.65, classified as moderate. In addition, participants were able to independently perform all stages of the acclimatization process, including the removal of plantlets from culture bottles, washing off residual media, planting in sterile substrates, and the covering process. Questionnaire results indicated a high level of participant satisfaction with the materials, methods, and overall benefits of the program. Overall, this community service activity successfully enhanced students’ knowledge and technical skills in the acclimatization of tissue culture–derived orchids, supported the conservation of high-value orchid species, and strengthened students’ capacity in horticulture and bioresource-based entrepreneurial development. Pemberdayaan mahasiswa melalui kegiatan aklimatisasi anggrek hasil kultur jaringan merupakan pendekatan strategis yang mengintegrasikan upaya konservasi keanekaragaman hayati dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa tingkat akhir Program Studi Biologi dalam melakukan aklimatisasi dua spesies anggrek bernilai konservasi dan ekonomi tinggi, yaitu Coelogyne pandurata dan Phalaenopsis gigantea. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi pemberian materi teoritis, demonstrasi teknik aklimatisasi, praktik langsung (hands-on training), serta diskusi interaktif terkait peluang usaha budidaya anggrek. Kegiatan diikuti oleh 15 mahasiswa dan diawali dengan pre-test serta diakhiri dengan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan nilai post-test sebesar 85,33% dibandingkan nilai pre-test sebesar 58,67%, dengan nilai rata-rata N-Gain sebesar 0,65 yang tergolong dalam kategori sedang. Selain itu, peserta mampu melaksanakan seluruh tahapan aklimatisasi secara mandiri, mulai dari pelepasan planlet dari botol kultur, pencucian sisa media, penanaman pada media steril, hingga proses penyungkupan. Hasil angket menunjukkan tingkat kepuasan peserta yang tinggi terhadap materi, metode, dan manfaat kegiatan. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini berhasil meningkatkan kompetensi pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam aklimatisasi anggrek hasil kultur jaringan, mendukung upaya konservasi anggrek bernilai tinggi, serta memperkuat kapasitas mahasiswa dalam bidang hortikultura dan pengembangan kewirausahaan berbasis sumber daya hayati.