Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Family educational patterns in strengthening teenager's character generation z: a literature review Fransiskus Markus Pereto Keraf; Marsianus Falo; Ody Wolfrit Matoneng; Fredik Lambertus Kollo; N. Nurlailah
Inovasi Kurikulum Vol 21, No 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.68978

Abstract

Generation Z teenagers were born in the internet and technological automation era. The negative impact of technological developments causes violations of applicable norms. Teenagers who are involved in juvenile delinquency are caused by a lack of assistance and family control. This study aims to identify appropriate educational patterns for integrating positive moral habits and norms in the family. The writing method uses a literature review. The data collection process through a literature review is supported by a comprehensive analysis of publications from academic journals in the last 5 (five) years, focusing on educational patterns in the family to strengthen the character of Generation Z teenagers. The study results show that there are 3 (three) patterns of education in the family to develop the character of Generation Z teenagers. The three education patterns are family education patterns based on example, monitoring, and understanding psychology. Parents must integrate these three educational patterns in the family to create a golden generation with positive, quality characters. Character development formed through family educational patterns can be collaborated with other character education models, such as in the school or community environment. AbstrakRemaja generasi Z lahir di era internet serta otomatisasi teknologi. Dampak negatif perkembangan teknologi menyebabkan terjadinya pelangaran norma yang berlaku. Remaja yang terlibat kenakalan remaja disebabkan kurangnya pendampingan serta kontrol keluarga. Kajian ini bertujuan mengidentifikasi pola pendidikan yang tepat dalam mengintegrasikan pembiasaan moral dan norma yang positif dalam keluarga. Adapun metode penulisan menggunakan kajian pustaka. Proses pengumpulan data melalui tinjauan literatur ini didukung oleh analisis publikasi yang komprehensif dari jurnal akademik pada 5 (lima) tahun terakhir, berfokus pada pola pendidikan dalam keluarga untuk menguatkan karakter remaja generasi z. Hasil kajian menunjukan bahwa terdapat 3 (tiga) pola pendidikan dalam keluarga untuk mengembangkan karakter remaja generasi z. Ketiga pola pendidikan tersebut yakni pola pendidikan keluarga melalui keteladanan, pemantauan dan pemahaman psikologi. Orangtua harus mampu mengintegrasikan ketiga pola pendidikan dalam keluarga tersebut untuk mewujudkan generasi emas yang memiliki karakter positif berkualitas. Pengembangan karakter yang dibentuk melalui pola pendidikan dalam keluarga dapat dikolaborasikan dengan model pendidikan karakter lainnya, seperti di lingkungan sekolah maupun masyarakat.Kata Kunci: generasi z; karakter remaja; pendidikan keluarga
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PADA MATA PELAJARAN PPKN DI KELAS VII SMPK SANTA MARIA ASSUMPTA Yustina Anaet; Fredik Lambertus Kollo; Dorkas Yufice Ariyanti Kale
Haumeni Journal of Education Vol 5 No 1 (2025): Edisi Juni 2025
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/haumeni.v5i1.21175

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya minat belajar peserta didik yang berdampak pada proses pembelajaran yang kurang optimal, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VII di SMPK Santa Maria Assumpta. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan strategi pembelajaran berdiferensiasi yang disesuaikan dengan kebutuhan, minat, dan kemampuan peserta didik memberikan dampak positif terhadap peningkatan motivasi belajar. Siswa menunjukkan keterlibatan aktif, antusiasme yang lebih tinggi, serta pemahaman materi yang lebih baik. Dengan demikian, pembelajaran berdiferensiasi terbukti efektif sebagai pendekatan yang mampu mendorong partisipasi belajar yang lebih bermakna dalam konteks pembelajaran PPKn di tingkat SMP.
Inovasi Metode Pembelajaran Inquiry untuk Penguatan Nilai-Nilai Karakter Kewarganegaraan pada Siswa Sekolah Menengah Pertama Anjulin Yonathan Kamlasi; Fredik Lambertus Kollo; Thomas Kemil Masi; Dorkas Yufice Aryanti Kale; Melinda Ratu Radja; Fadil Mas'ud; Makarius Erwin Bria; Kevi Listiana Fransisca Taneo
Haumeni Journal of Education Vol 5 No 3 (2025): Edisi Desember 2025
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/haumeni.v5i3.25982

Abstract

Pendidikan karakter merupakan fondasi utama dalam pembentukan warga negara yang berkepribadian, berintegritas, dan memiliki kesadaran moral tinggi. Namun, dalam praktik pembelajaran di sekolah, penanaman nilai-nilai karakter kewarganegaraan sering kali masih bersifat teoritis dan kurang menyentuh aspek pengalaman belajar siswa secara langsung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis inovasi metode pembelajaran inquiry sebagai strategi efektif dalam penguatan nilai-nilai karakter kewarganegaraan pada siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka (library research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran inquiry mampu menumbuhkan nilai-nilai karakter seperti tanggung jawab, kejujuran, rasa ingin tahu, kerja sama, dan kepedulian sosial melalui kegiatan penyelidikan aktif terhadap masalah-masalah sosial yang relevan dengan kehidupan nyata. Inovasi pembelajaran ini juga memperkuat kemampuan berpikir kritis, reflektif, serta meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Oleh karena itu, metode inquiry terbukti relevan sebagai pendekatan pedagogis yang mendorong transformasi nilai karakter kewarganegaraan secara kontekstual dan bermakna.
Strategies for Strengthening Civic Responsibility Among Students Through Pancasila and Civic Education Anjulin Yonathan Kamlasi; Taufiqurrahman Taufiqurrahman; Fredik Lambertus Kollo; Thomas Kemil Masi; Melinda Ratu Radja; Tri Utami
Jurnal Pendidikan Terapan Vol 4, No 2 May (2026)
Publisher : Sakura Digital Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61255/jupiter.v4i2.838

Abstract

Strengthening civic responsibility is one of the important objectives of civic education in higher education, particularly in shaping students as active, participatory, and responsible citizens in democratic life. This study aims to analyse strategies for strengthening students' civic responsibility through Civic Education learning in the Pancasila and Civic Education Study Programme, Faculty of Teacher Training and Education, Nusa Cendana University. The research uses a qualitative approach. The research informants consist of lecturers teaching Civic Education courses and students of the Civic Education Study Programme, Faculty of Teacher Training and Education, Nusa Cendana University, who were selected purposively. Research data were collected through in-depth interviews, observation of the learning process, and analysis of documentation in the form of Semester Learning Plans (RPS), teaching materials, and student academic activities. Data analysis techniques used data reduction, data presentation, and conclusion drawing techniques. The results of the study show that several key strategies in strengthening civic responsibility for students through Civic Education are project-based learning, integrated service learning, deliberative pedagogy (structured discussions, debates, and simulated public forums), strengthening the role of student organisations and practical leadership, as well as digital literacy and the use of media for civic participation (digital citizenship). Strengthening civic responsibility through PPKn must be integrative, contextual, and sustainable with adequate institutional support, facilities, and habits in campus and community life. This research contributes scientifically to the development of civic education studies in higher education by offering a conceptual model for strengthening student civic responsibility based on an integrative PPKn learning strategy that combines classroom learning, social experiences, and digital participation. The findings of this study also enrich the literature on relevant civic pedagogy practices to strengthen students' civic competencies in facing contemporary democratic challenges.
Implementasi Deep Learning dalam Penguatan Karakter Murid pada Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kupang Yuvenalis Peka; Meryana Micselen Doko; Daud Yefkanius Nassa; Fredik Lambertus Kollo; Anif Istianah
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/decive.v5i6.4310

Abstract

Penelitian ini bertujuan menerapkan deep learning sebagai pendekatan pembelajaran mendalam berbasis (student-centered, higher-order thinking) melalui inquiry-based learning dan problem-based learning yang berfokus pada isu sosial lokal dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Menengah Atas. Menggunakan metode kualitatif desain studi kasus, subjek penelitian adalah guru dan murid dan data diperoleh dari observasi partisipatif, wawancara mendalam, serta analisis dokumen, dengan pengukuran pemahaman konseptual murid melalui rubrik kualitatif yang dikonversi menjadi persentase. Pendekatan teacher-centered konvensional yang hafalan-oriented memperlemah internalisasi nilai Pancasila, menyebabkan rendahnya disiplin, intoleransi, dan berpikir kritis. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman konseptual dari 78% (deskriptif surface learning) ke 82% (holistik sintetik), partisipasi murid dari 20-30% menjadi 70-80%, serta penguatan karakter integritas, disiplin, tanggung jawab, dan toleransi lewat kerangka deep learning. Kendala meliputi keterbatasan internet, kesiapan guru, ketergantungan pada Artificial Intelligence, dan variasi motivasi. Deep learning terbukti transformatif untuk Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka, dengan rekomendasi pelatihan guru, infrastruktur, dan kolaborasi sekolah-orang tua.