Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Legal Drafting Training for Creating Students' Ability to Make Agreements Attas, Nasrah Hasmiati; Nasir, Citra; Saputra, Tri Eka; Abbas; Ibbank
Journal of Indonesian Scholars for Social Research Vol. 2 No. 2 (2022): JISSR
Publisher : Cendekiawan Indonesia Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59065/jissr.v2i2.146

Abstract

Legal drafting is an essential element in legal practice. Legal drafting relates to legal drafting made by legal subjects, both individuals and legal entities (authorized institutions), namely in the form of MoUs, cooperation agreements, and agreements/contracts. A complete understanding of legal drafting is essential for practitioners in various fields and agencies. Legal practitioners must often prepare legal drafts for their interests, clients, or institutions. Likewise, government agencies, state institutions, institutions, bodies, and commissions other than state institutions are interested in preparing legal drafting. Preparing legal drafting must consider the theories, principles, and rules regulated by statutory regulations and universal legal norms, standards, and practices. In this way, the validity of the agreed legal drafting product and the legal interests of the parties who drafted the legal drafting can be legally protected. However, many still need to understand how to prepare legal drafting correctly and legally. This training aims to help and provide students with understanding regarding making agreements. The output of this activity is 1) increasing students' legal awareness; 2) students can agree.
Sosialisasi Peraturan Perundang-Undangan Terkait Dengan Kegiatan Usaha Budidaya Rumput Laut Attas, Nasrah Hasmiati; Saputra, Tri Eka; Nasir, Citra; Ichsan, Nursyamsi
Celebes Journal of Community Services Vol. 3 No. 1 (2024): December - May
Publisher : STIE Amkop Makassar, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/celeb.v3i1.1163

Abstract

Peraturan perundang-undangan di bidang usaha budidaya rumput laut memiliki peran yang penting dalam meningkatkan usaha para pelaku budidaya rumput laut. Peraturan ini mencakup izin usaha, prosedur pengelolaan perairan, dan aspek-aspek lain yang berkaitan dengan keberlanjutan usaha dan keberlanjutan lingkungan. Kegiatan sosialisasi peraturan perundang-undangan merupakan pendekatan proaktif untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan pelaku usaha dalam kegiatan budidaya rumput laut. Kegiatan ini bertujuan untuk menyelidiki dampak dari kegiatan sosialisasi tersebut terhadap pemahaman peraturan, kepatuhan, dan keberlanjutan ekonomi dan lingkungan dalam sektor budidaya rumput laut. Hasil temuan dari pelaksanaan kegiatan yaitu: Peranan dari pemerintah meliputi pemberian kerbijakan berupa memberikan bantuan modal, mempermudah masyarakat untuk mendapatkan izin usaha serta mendapatkan bantuan bibit unggul dari pemerintahan setempat
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP TINDAKAN KEKERASAN PANAH WAYER YANG DILAKUKAN OLEH ANAK DI KOTA GORONTALO Attas, Nasrah Hasmiati; Sari, Dewi Arnita
Jurnal Ar-Risalah Vol 3, No 1 (2023): Volume 3 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/arrisalah.v3i1.5284

Abstract

Abstract Nasrah Hasmiati Attas and Dewi Arnita Sari TITLE "JURIDICAL REVIEW OF PANAH WAYER  ACTS CONDUCTED BY CHILD IN GORONTALO CITY.This study aims to (1) To find out the rule of law against the crime of panah wayer committed by children in the city of Gorontalo (2) To find out the factors that influence the law enforcement by the municipal police resort of Gorontalo against the crime of panah wayer violence committed by children in Gorontalo city.This research is an empirical study, the type of empirical approach is used to study or analyze primary data in the form of data in the field of research, the results of direct interviews are then linked to secondary data in the form of book materials.The results of this study indicate that the rule of law that becomes a reference in the crime of panah wayer committed by children is the provisions in the Criminal Code and the Criminal Procedure Code and the special rules of the child, namely undang-undang perlindungan anak and undang-undang sistem peradilan pidana anak. Apart from that, the factors that influence law enforcement by the police are legal factors, apparatus, facilities and facilities, society and cultureThe recommendation of this research is that it is suggested that the integration of existing legal instruments especially relating to children as well as encouragement so that the community can play an active role in preventing the occurrence of criminal acts, especially  the crime of panah wayer  in Gorontalo.Keywords: Crime, Panah Wayer, ChildABSTRAK Nasrah Hasmiati Attas dan Dewi Arnita Sari Judul “Tinjauan yuridis Terhadap Tindakan Kekerasan Panah Wayer yang Dilakukan oleh Anak di Kota Gorontalo”.Penelitian ini bertujuan untuk (1) Untuk mengetahui aturan hukum terhadap tindakan pidana kekerasan panah wayer yang dilakukan oleh anak di kota gorontalo (2) Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi penegakan hukum oleh kepolisian resor gorontalo kota terhadap tindak pidana kekerasan panah wayer yang dilakukan oleh anak di kota gorontalo.Penelitian ini merupakan penelitian empiris, tipe pendekatan empirik digunakan untuk mengkaji atau menganalisis data primer yang berupa data-data dilapangan tempat penelitian, hasil wawancara langsung kemudian dihubungkan dengan data-data sekunder berupa bahan-bahan buku.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa aturan hukum yang menjdai rujukan dalam tindak pidana kekerasan panah wayer yang dilakukan oleh anak ialah ketentuan dalam KUHP dan KUHAP serta peraturan khusus anak, yakni undanag perlindungan anak dan undang-undang sistem peradilan pidana anak. Selain daripada itu adapun faktor yang mempengaruhi penegakan hukum oleh kepolisisan ialah faktor hukum, aparat, sarana dan fasilitas, masyarakat dan kebudayaanRekomendasi penelitian ini yakni disarankan adanya pengintegrasian instrumen hukum yang ada khususnya yang berkaitan dengan anak serta dorongan agar masyarakat dapat berperan aktif dalam melakukan pencegahan terjadinya tindak pidana khususnya tindak pidana panah wayer dikota gorontalo.  Kata kunci : Tindak Pidana, Panah Wayer, Anak
PEMIDANAAN TERHADAP KORBAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN NARKOTIKA DI KABUPATEN GORONTALO Attas, Nasrah Hasmiati
Jurnal Ar-Risalah Vol 2, No 2 (2022): Volume 2 Nomor 2, 2022
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/arrisalah.v2i2.4165

Abstract

This study aims to (1) To find out how the implementation of punishment for victims of narcotics abuse in Gorontalo Regency. (2) To find out the effectiveness of criminal punishment for narcotics abuse in narcotics prevention in Gorontalo Regency.This research uses descriptive research with an empirical juridical approach. The research method used was a method using primary and secondary data with data collection techniques namely interviews and literature from various libraries. The population of this research is all Bawaslu employees and the community. The sample in this study were 10 people using purposive sampling technique.The results of this study indicate that: 1.) Narcotics in Gorontalo Regency are narcotics users who are caught red-handed using narcotics, will be put into police cells or state detention centers (detention centers). Then the police will develop an investigation process, during the process, victims of narcotics abuse remain in the detention cell. If corroboration of evidence has been found, the Examination Document (BAP) will be sent to the prosecutor. The Prosecutors' Office will form a public prosecutor who will produce an indictment, and then submit it to the district court. When the indictment arrived at the head of the court, a panel of judges was formed to summon the defendant. The case will be tried in the Limboto District Court, if the case has been dismissed in the form of a prison sentence, then the convict will undergo the process of punishment in a prison. 2.) Criminalization of narcotics abuse in narcotics prevention in Gorontalo District is very ineffective because in detention there is no treatment or treatment for narcotics users, other than that the place provided in the penitentiary does not support healing for prisoners who have become addicted to narcotics.
STATUS ANAK ZINA MENURUT MAZHAB SYAFI'I DAN HAMBALI Attas, Nasrah Hasmiati
Jurnal Ar-Risalah Vol. 4 No. 2 (2024): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/arrisalah.v4i2.5812

Abstract

AbstractThis study examines the legal status of illegitimate children (anak zina) according to the Syafi'i and Hambali schools of thought, a complex issue in Islamic law. An illegitimate child is defined as one born out of wedlock, as recognized by Sharia. The Syafi'i school acknowledges the lineage (nasab) of such children only from their mothers, while the Hambali school offers a more flexible approach in certain social contexts. The legal derivation methods employed by both schools include the Quran, Hadith, Ijma’, and Qiyas, differing in the acceptance of weak hadiths and the flexibility of analogies. This research emphasizes the importance of social justice and safeguarding the rights of illegitimate children, regardless of their lineage status, prioritizing public welfare (maslahah) and social equity as core principles.AbstrakPenelitian ini membahas status hukum anak zina menurut Mazhab Syafi’i dan Hambali, yang merupakan isu kompleks dalam hukum Islam. Anak zina didefinisikan sebagai anak yang lahir dari hubungan di luar pernikahan yang sah menurut syariat. Dalam Mazhab Syafi’i, nasab anak zina hanya diakui dari ibu, sedangkan Mazhab Hambali memiliki pandangan yang lebih fleksibel dalam beberapa aspek sosial. Metode istimbat hukum yang digunakan kedua mazhab meliputi Al-Qur’an, Hadis, Ijma’, dan Qiyas, dengan perbedaan pada penerimaan hadis dha’if dan fleksibilitas qiyas. Penelitian ini menyoroti pentingnya keadilan sosial dan perlindungan hak-hak anak zina tanpa memandang status nasabnya, mengedepankan kemaslahatan dan keadilan sosial sebagai prinsip utama.
PENDEKATAN MAQĀṢID AL-SYARĪ‘AH TERHADAP PERNIKAHAN WANITA HAMIL DALAM PERSPEKTIF ISLAM KONTEMPORER Nasrah Hasmiati Attas; Hamzah Hasan; Abdul Wahid Haddade
El-Iqthisadi Vol 7 No 1 (2025): Juni
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/el-iqthisady.v7i1.58976

Abstract

Abstrak Pernikahan wanita hamil di luar nikah merupakan isu multidimensional yang mencakup aspek sosial, moral, dan hukum dalam masyarakat Muslim kontemporer. Wacana ini telah lama menjadi perhatian dalam literatur fikih klasik, yang menunjukkan adanya perbedaan pandangan ulama mengenai kebolehan menikahi wanita yang tengah mengandung akibat hubungan nonmarital. Namun, perkembangan sosial dan transformasi nilai dalam masyarakat modern menuntut adanya pembacaan ulang terhadap konstruksi hukum Islam yang lebih kontekstual, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan. Studi ini bertujuan untuk mengkaji respons hukum Islam kontemporer terhadap praktik pernikahan wanita hamil melalui pendekatan maqāṣid al-syarī‘ah, yaitu suatu kerangka normatif yang menekankan pada pemeliharaan tujuan-tujuan syariat sebagai fondasi pengambilan hukum. Penelitian ini menggunakan metode normatif-yuridis dengan cara menelaah sumber-sumber hukum Islam klasik dan kontemporer, termasuk pendapat ulama, fatwa institusional, serta regulasi hukum Islam di Indonesia seperti Kompilasi Hukum Islam (KHI). Studi ini menunjukkan bahwa pendekatan maqāṣid al-syarī‘ah, terutama dalam dimensi perlindungan terhadap nasab (hifẓ al-nasl), kehormatan (hifẓ al- ‘irḍ), jiwa (hifẓ al-nafs), dan agama (hifẓ al-dīn), memberikan justifikasi normatif atas kebolehan pernikahan wanita hamil dalam kondisi tertentu. Legalitas ini tetap mensyaratkan adanya pertobatan, kesediaan untuk bertanggung jawab dari pihak pria, serta komitmen memperbaiki kondisi sosial-hukum anak yang dikandung. Dengan demikian, aktualisasi maqāṣid menjadi strategi penting dalam merespons dinamika sosial umat Islam secara bijak dan solutif Kata Kunci: Pernikahan Wanita Hamil, Maqāṣid Al-Syarī‘Ah, Hukum Islam Kontemporer   Abstract The marriage of pregnant women outside of wedlock constitutes a multidimensional issue encompassing social, moral, and legal aspects within contemporary Muslim societies. This discourse has long been a subject of attention in classical Islamic jurisprudence, which reveals differing opinions among scholars regarding the permissibility of marrying a woman who is pregnant due to extramarital relations. However, ongoing social changes and value transformations in modern society demand a renewed interpretation of Islamic legal constructions that is more contextual, inclusive, and oriented toward public welfare (maṣlaḥah). This study aims to examine contemporary Islamic legal responses to the practice of marrying pregnant women through the lens of maqāṣid al-sharī‘ah, a normative framework that emphasizes the preservation of the objectives of Islamic law as the foundation for legal reasoning. This research employs a normative-juridical method by analyzing both classical and contemporary Islamic legal sources, including the opinions of scholars, institutional fatwas, and relevant legal regulations in Indonesia such as the Compilation of Islamic Law (KHI). The findings indicate that the maqāṣid al-sharī‘ah approach—particularly in relation to the protection of lineage (ḥifẓ al-nasl), honor (ḥifẓ al-‘irḍ), life (ḥifẓ al-nafs), and religion (ḥifẓ al-dīn)—provides normative justification for the permissibility of marrying pregnant women under specific conditions. This permissibility requires sincere repentance, willingness to assume responsibility by the male partner, and a commitment to improve the legal and social status of the unborn child. Therefore, the actualization of maqāṣid becomes a strategic tool in responding to contemporary social realities among Muslims with wisdom and solution-oriented insights. Keywords: Marriage of Pregnant Women, Maqāṣid al-Sharī‘ah, Contemporary Islamic Law
INTEGRASI HUKUM ISLAM DAN NEGARA DALAM SERTIFIKASI HALAL: ANALISIS NORMATIF ATAS UNDANG-UNDANG JAMINAN PRODUK HALAL (JPH) DAN IMPLIKASINYA TERHADAP EPISTEMOLOGI FIKIH KONTEMPORER Nasrah Hasmiati Attas; Andi Akmal
Iqtishaduna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah Vol 6 No 4 (2025): Juli
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/iqtishaduna.v6i4.58977

Abstract

AbstrakJaminan atas kehalalan produk merupakan kebutuhan esensial bagi umat Islam yang kini memperoleh legitimasi dalam sistem hukum nasional melalui Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (UU JPH). Regulasi ini menandai keterlibatan aktif negara dalam pengelolaan aspek keagamaan melalui pembentukan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) sebagai otoritas administratif, sementara Majelis Ulama Indonesia (MUI) tetap memegang kewenangan normatif dalam menetapkan fatwa kehalalan. Dalam konteks tersebut, penting untuk menelaah bagaimana integrasi antara hukum Islam dan negara dalam sistem sertifikasi halal berlangsung, serta dampaknya terhadap konfigurasi epistemologi fikih kontemporer. Dengan menggunakan metode hukum normatif dan pendekatan konseptual-reflektif, tulisan ini menganalisis data sekunder berupa regulasi, fatwa, dan literatur akademik terkait. Hasil analisis menunjukkan bahwa hubungan antara negara dan lembaga keagamaan bersifat simbiotik tetapi menyisakan ketegangan epistemologis. Proses formalisasi fikih dalam sistem hukum negara menggeser locus otoritas keagamaan, membatasi fleksibilitas metode istinbāṭ, dan menyederhanakan pendekatan maqāṣid al-syarī‘ah menjadi kerangka legal-formal. Untuk merespons kondisi ini, diperlukan pembaruan epistemologi fikih yang mengedepankan maqāṣid sebagai prinsip metodologis, menjaga independensi otoritas keilmuan ulama, serta mendorong dialog kritis dan konstruktif antara aktor negara dan institusi keagamaan. Kata Kunci: Sertifikasi Halal, Hukum Islam, Epistemologi Fikih   Abstract The assurance of halal products is an essential need for Muslims, which has now gained formal recognition within Indonesia's national legal system through Law Number 33 of 2014 concerning Halal Product Assurance (UU JPH). This regulation signifies the state's active involvement in managing religious affairs through the establishment of the Halal Product Assurance Agency (BPJPH) as the administrative authority, while the Indonesian Ulema Council (MUI) retains normative authority in issuing halal fatwas. Within this context, it is important to examine how the integration between Islamic law and the state functions within the halal certification system, and how it impacts the configuration of contemporary Islamic legal epistemology. Using a normative legal method and a conceptual-reflective approach, this study analyzes secondary data including regulations, fatwas, and relevant academic literature. The findings indicate that the relationship between the state and religious institutions is symbiotic but not free from epistemological tensions. The formalization of fiqh within the legal framework of the state has shifted the locus of religious authority, constrained the flexibility of istinbāṭ methods, and simplified the maqāṣid al-sharī‘ah approach into a legal-formal structure. To respond to this condition, a renewal of Islamic legal epistemology is necessary—one that emphasizes maqāṣid as a methodological foundation, upholds the scholarly independence of religious authorities, and promotes critical and constructive dialogue between state actors and religious institutions. Keywords: Halal Certification, Islamic Law, Fiqh Epistemology
ANALISIS KEBIJAKAN HUKUM TATA RUANG, ALIH FUNGSI KAWASAN MANGROVE MENJADI JALAN LINGKAR DI KOTA PALOPO Ichsan Ashari Achmad; Nasrah Hasmiati Attas; Sabrina Rahmah Ihsan; Nurfadilla; Virgi Ramadhan; Isnul Al Ridha
Iqtishaduna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah Vol 6 No 4 (2025): Juli
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/iqtishaduna.v6i4.59215

Abstract

Abstrak Pembangunan jalan lingkar di Palopo yang melewati kawasan mangrove menimbulkan pertanyaan tentang kesesuaian tata ruang dan legalitas alih fungsi lahan.Menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyatakan kawasan mangrove termasuk kawasan lindung yang harus dilestarikan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami regulasi yang mengatur kawasan lindung dan batasan alih fungsi lahan, khususnya hutan mangrove yang ada di Jalan Lingkar kota Palopo. Adapun metode penelitian ini ialah metode yuridis empiris dengan pendekatan deskriptif kualitatif, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, studi dokumentasi dan kajian pustaka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan adanya pembangunan Jalan Lingkar tersebut memberikan banyak dampak positif kepada masyarakat, khususnya para UMKM yang mendirikan usahanya. Selain itu, dengan adanya Jalan Lingkar ini, juga memberikan sebagian dampak negatif karena mengalih fungsikan kawan mangrove menjadi jalan lingkar ini akan membuat terganggunya fungsi ekologis hutan mangrove terhadap lingkungan fisik biologis. Kata Kunci : Jalan Lingkar;Kawasan Mangrove;Yuridis Empiris;Alih Fungsi Lahan   Abstract The construction of a ring road in Palopo, which passes through a mangrove area, raises questions about the suitability of spatial planning and the legality of land conversion. Law No. 26 of 2007 concerning Spatial Planning states that mangrove areas are protected areas that must be preserved. This study aims to understand the regulations governing protected areas and the boundaries of land conversion, specifically the mangrove forest along the Palopo Ring Road. The research method is empirical-legal with a qualitative descriptive approach. Data were obtained through in-depth interviews, observations, documentation studies, and literature reviews. The results indicate that the construction of the Ring Road has had many positive impacts on the community, particularly the MSMEs establishing their businesses. Furthermore, the construction of the Ring Road also has some negative impacts, as converting mangrove areas into a ring road will disrupt the ecological function of the mangrove forest and its impact on the physical and biological environment. Keywords: Ring Road; Mangrove Area; Empirical-Legal; Land Conversion
PENINGKATAN KESADARAN HUKUM MASYARAKAT TERHADAP BAHAYA DEFORESTASI MELALUI KEGIATAN SOSIALISASI DI KAWASAN KONSERVASI Nasrah Hasmiati Attas
Iqtishaduna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah Vol 6 No 3 (2025): April
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/iqtishaduna.v6i3.60029

Abstract

Abstrak: Deforestasi merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang berdampak langsung terhadap keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan. Desa Kalotok, yang terletak di wilayah kerja KPH Rongkong, menghadapi tantangan serius akibat meningkatnya konversi hutan lindung menjadi lahan pertanian. Rendahnya kesadaran hukum masyarakat menjadi faktor utama yang mempercepat laju deforestasi dan lemahnya perlindungan kawasan konservasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman hukum masyarakat mengenai regulasi kehutanan, serta mengembangkan strategi penyuluhan hukum yang partisipatif dan kontekstual. Metode pelaksanaan dilakukan melalui penyuluhan langsung, diskusi kelompok, distribusi materi informasi hukum, dan pemanfaatan media sosial komunitas lokal. Kegiatan ini melibatkan tokoh masyarakat, petani, pemuda, dan aparat desa sebagai mitra strategis. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan partisipasi masyarakat dalam diskusi hukum serta munculnya minat terhadap akses legal seperti perizinan PBPH. Strategi yang paling efektif terbukti melalui pendekatan diskusi kelompok kecil, yang membangun rasa memiliki dan keterlibatan warga. Meskipun masih terdapat kendala seperti literasi hukum rendah dan tumpang tindih regulasi, kegiatan ini memberikan dampak awal yang positif dan dapat dijadikan dasar bagi program pendampingan hukum lanjutan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Kata kunci: Penyuluhan Hukum, Devorestasi, Kawasan Konservasi   Abstract Deforestation is one of the most pressing environmental issues, directly impacting ecosystem sustainability and the welfare of communities living near forest areas. Kalotok Village, located within the working area of the Rongkong Forest Management Unit (KPH Rongkong), faces serious challenges due to the increasing conversion of protected forests into agricultural land. The low level of legal awareness among the community has become a major factor accelerating deforestation and weakening conservation efforts. This community service activity aimed to enhance public understanding of forestry regulations and to develop participatory and contextual legal outreach strategies. The implementation methods included direct legal counseling, group discussions, distribution of legal information materials, and the use of local community social media. The activity involved community leaders, farmers, youth, and village officials as strategic partners. The results showed increased community participation in legal discussions and a growing interest in legal access mechanisms such as PBPH licensing. The most effective strategy was found to be small group discussions, which fostered a sense of ownership and community engagement. Despite challenges such as low legal literacy and regulatory inconsistencies, this activity had a positive initial impact and can serve as a foundation for more structured and sustainable legal assistance programs. Keywords: Legal Counseling, Deforestation, Conservation Area
IMPLEMENTASI PENYULUHAN HUKUM SEBAGAI UPAYA PENGUATAN KESADARAN MASYARAKAT TERHADAP PENCEGAHAN DEFORESTASI DI DAERAH KONSERVASI (STUDI PENELITIAN KPH RONGKONG) Adrian Riski Hermawan; Ugie Adirestu; Andi Almunir; Nasrah Hasmiati Attas
Iqtishaduna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah Vol 7 No 1 (2025): Oktober
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/iqtishaduna.v7i1.60823

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penyuluhan hukum dalam pencegahan deforestasi di Desa Kalotok, Kecamatan Sabbang Selatan, Kabupaten Luwu Utara, yang merupakan bagian dari kawasan hutan lindung yang dikelola oleh Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Rongkong. Konversi lahan hutan menjadi area pertanian, khususnya budidaya padi, menyebabkan deforestasi dan degradasi lingkungan yang mengancam keberlanjutan ekosistem. Di sisi lain, penyuluhan hukum bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak lingkungan dan hukum dari praktik konversi lahan hutan yang tidak terkendali. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun penyuluhan hukum oleh KPH Rongkong telah dilakukan dengan berbagai metode, tingkat kesadaran hukum masyarakat masih tergolong rendah, terutama di kalangan kelompok usia produktif. Faktor penghambat utama dalam implementasi penyuluhan hukum mencakup ketidaksesuaian peraturan perundang-undangan, sikap apatis masyarakat, dan keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh KPH Rongkong. Meskipun demikian, terdapat perkembangan positif dalam hal penurunan tingkat pelanggaran, meskipun praktik konversi lahan masih tetap terjadi. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pendekatan penyuluhan hukum yang lebih interaktif, partisipatif, serta dukungan lebih lanjut dari pemerintah daerah untuk memperkuat implementasi kebijakan perlindungan hutan yang berkelanjutan. Kata Kunci : Penyuluhan Hukum, Deforestasi, KPH Rongkong   Abstract This study aims to evaluate the effectiveness of legal counseling in preventing deforestation in Kalotok Village, Sabbang Selatan District, North Luwu Regency, which is part of the protected forest area managed by the Forest Management Unit (KPH) Rongkong. The conversion of forest land into agricultural areas, particularly for rice cultivation, has led to deforestation and environmental degradation, threatening the sustainability of the ecosystem. On the other hand, legal counseling seeks to raise community awareness of the environmental and legal impacts of uncontrolled forest land conversion practices. The method used in this study is a descriptive qualitative approach, with data collection through semi-structured interviews and documentation. The results show that although legal counseling by KPH Rongkong has been conducted using various methods, the level of legal awareness in the community remains low, particularly among the productive age group. The main obstacles to the implementation of legal counseling include the inconsistency of regulations, community apathy, and the limited resources available to KPH Rongkong. Nevertheless, there has been positive progress in terms of the reduction of violations, although land conversion practices still persist. This study recommends the need for a more interactive and participatory approach to legal counseling, as well as further support from the local government to strengthen the implementation of sustainable forest protection policies. Keywords: Legal Counseling, Deforestation, KPH Rongkong